Showing posts with label PUISI PRADONO. Show all posts
Showing posts with label PUISI PRADONO. Show all posts

Thursday, August 16, 2007

MERDEKA

by: PRADONO
Merdeka adalah burung burung terbang tinggi
Merdeka adalah kicau satwa di hutan rindang
Merdeka adalah gemericik air mengalir
Merdeka adalah bocah manis pipis di ranjang
Merdeka adalah ..................................................
terangkat bongkah dari dada Bilal bin Rabbah

Merdeka adalah bebas lepas dan bahagia
Merdeka adalah milik sekalian makhluk
Merdeka adalah milik semua negeri
Merdeka adalah milik segala bangsa
Merdeka adalah hak asasi manusia
Merdeka untuk berkata dan bicara
Merdeka untuk berbuat dan bertanggung jawab

Berabad-abad negeri ini menanggung beban yang berat
menabur benih demi perut si tuan gendut
memetik pala demi kehangatan penyembah berhala
negeri ini mendaki dengan susah payah
demi selembar merah putih

Semua bicara tentang merdeka
semua menuntut kemerdekaan
negeri ini menuntut kemerdekaan
kemerdekaan yang terang benderang
kemerdekaan yang terjepit di batu karang penjajahan
kemerdekaan yang tertindas cadas keserakahan
kemerdekaan yang berderak di ketiak para perompak

Negeri ini menuntut kemerdekaan
kemerdekaan yang disekap para penjilat
kemerdekaan yang didekap para kolonial berambut gelap
kaum kerabat berjiwa khianat sanak saudara bermuka dua

Merdeka adalah kebebasan negeri ini
dari belenggu penjajah serakah
merdeka adalah kepuasan tiada tara
sorak sorai para jelata pekik bahagia para nestapa
merdeka adalah gegap gempita persada nusantara
merdeka adalah tembok kokoh bergeming
merdeka adalah kehidupan

Kita adalah anak anak merdeka
yang terlahir tanpa dosa
yang bergulir tanpa paksa
yang berpikir tanpa merasa

Semua bicara tentang merdeka
semua ingin hidup merdeka
bebas bercerita kepada sesama
bebas melangkah ke segala arah

Merdeka adalah desah napas tanpa lelah
merdeka adalah kebebasan keluar masuk markas
para pemeras dan penguras
merdeka adalah kebebasan menumpuk dasi
sementara para jelata kehilangan nasi

Merdeka adalah denting piring di gubuk miring
merdeka adalah tumpukan daging di tanah genting
merdeka adalah paduan suara melengking nyaring
Kemerdekaan adalah keletihan yang berkepanjangan
kemerdekaan tak lebih dari menunggu waktu kematian
kemerdekaan adalah kerelaan diam seribu bahasa
demi senyum para penguasa

Kita adalah anak anak merdeka
anak anak pelaku zaman
anak anak yang terancam kematian
anak anak yang menjadi maling budiman
anak anak yang menguras tuntas rumah mewah penjajah serakah

Merdeka adalah kepuasan tiada tara
merdeka adalah tonggak kebenaran tanpa bayang bayang penjara
merdeka adalah tanggung jawab yang tersangga di pundak manusia

Merdeka bukanlah kuda liar tanpa dokar
merdeka bukanlah perahu tanpa teraju
merdeka bukanlah kerja tanpa lelah
merdeka adalah titipan kehidupan dari Allah
merdeka adalah rahmat dari Allah
Merdeka dari segala merdeka

Negeri ini telah merdeka
terbebas dari napsu angkara murka
terlepas dari sanak saudara bermuka dua

Kita telah merdeka
kita bebas bersuara lepas tawa dalam cengkrama
tawa renyah bocah bocah dekap sayang ibu dan ayah
merdeka adalah cinta kasih umat manusia
merdeka adalah bahagia tanpa kata kata
bahagia berkat rahmat sang maha pencipta

Merdeka menghantar negeri ini menjadi bangsa yang mandiri
bebas mengatur rumah sendiri
rumah yang telah dirampok para pendatang berhati binatang
rumah yang dulu dihisap para benalu
rumah yang padat para penjilat dan saudara berjiwa khianat

Kita telah merdeka
negeri ini telah merdeka
merdeka negeri ini dengan merdeka atau mati
merdeka negeri ini dengan proklamasi
proklamasi yang menggugah diri untuk bercermin kembali
bahwa negeri ini berdiri di atas persatuan dan kesatuan
proklamasi sebagai pernyataan kemerdekaan yang dituntut
kemerdekaan yang menjadi hak semua negeri segala bangsa
kemerdekaan yang menjadi hak asasi manusia
hak untuk menjadi tuan di negeri sendiri
hak untuk hidup di tanah sendiri

Merdeka dari segala merdeka
adalah Allahu Akbar
ptk, 15885

Tuesday, July 17, 2007

SEBELUM LUPA

by: Pradono
Sebelum lupa
hingga hari hanya hampa
terimalah kata kata:
nista
hina
dosa
duka
dia
Sebelum lupa
ucapkan selamat tinggal
gali kenangan kubangan dosa tanpa kata kata!
Butakan mata
Tulikan telinga
Lumpuhkan raga
Hilangkan rasa
Matikan jiwa
sebelum lupa
apa
di mana
siapa
ke mana
tanpa kata kata
tanpa jiwa
tanpa dia;
siapa
di mana
singkirkan tanya
sebelum lupa
lupa
lupa
lupa
siapa luka
siapa luka
siapa duka
siapa dosa
tanya
sebelum lupa.

Pontianak, 10/92

BILA HATI YANG BICARA

by:Pradono
Wahai Anak Negeri
Tegarlah terus berkreasi
Bangunkan bangsamu lewat seni

Walau ia selalu tak peduli
Walau ia sibuk menguras uang negeri

Jangan jadikan dirimu kelinci percobaan
Jangan harga dirimu kaugadaikan
Masih banyak jalan untuk menjadi manusia

Wahai Anak Negeri
Tekadkan jiwa kembali ke hati
Demi eratkan jabat tangan
Demi satukan persaudaraan

Tiada kata tanpa makna bila hati yang bicara
Satukan langkah rapatkan barisan
Padamkan dendam ulaskan senyuman

Sebab Tuhan Maha Penyayang
Kenapa nyawa harus melayang
Sebab Tuhan Maha Penyabar
Kenapa kita jadi gusar

Allahu Akbar
Selamatkan jiwa yang hanya selembar
Siramlah amarah yang berkobar
Padamkan dendam dengan cahaya sabar

(Rekatkan Indonesia, Damaikan Bumi Kalbar)

Wahai Negeri
Jangan cerai beraikan anakmu
Dengan saling benci dan caci maki
Wahai Pertiwi
Jangan asahkan pedang dan belati
Merampas hidup sesama kami
Hingga jiwa tak berharga lagi

Wahai Indonesia
Masih bisakah kita saling bicara
Masih sanggupkah kita jadi manusia

Lantaran negeri ini milik kita
Kenapa harus dihancurkan
Ke mana lagi kaki berdiri
Bila pijakan menjadi bara api

Wahai manusia yang bernama manusia
Haruskah airmata tercurahkan
Untuk sesuatu yang tak terpahamkan
Sudah berhentikah manusia sebagai manusia

Apakah arti kehidupan bila hati tak lagi manusia

Wahai Khatulistiwa
Jalin kembali zamrud
yang tercerabut dari leher Enggangmu

(Suarakanlah Merdu Etikamu)

tanah gambut, 27 maret 2001

*) Puisi ini dibacakan pertama kali sebagai "Orasi Kampanye Anti Kekerasan lewat Seni oleh SERAK (Seni Rakyat Anak Kapuas) Pontianak, di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak, Sabtu, 31 Maret 2001.