<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419</id><updated>2011-11-27T16:15:56.731-08:00</updated><category term='Cerpen M.Saifun salakim'/><category term='PUISI ADI MOCHTAR'/><category term='CERPEN Pradono'/><category term='Puisi M. Saifun salakim'/><category term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><category term='CERPEN'/><category term='PUISI'/><category term='PUISI deki triadi'/><category term='sejarah KIPRAH Pradono'/><category term='PUISI PRADONO'/><category term='Catatan Harian Seorang Penulis'/><category term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><category term='ESAI PRADONO'/><category term='Sajak Wisnu Pamungkas'/><title type='text'>Sanggar Kiprah</title><subtitle type='html'>Pram: Menulis adalah bekerja untuk keabadian</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>84</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4804423490545330396</id><published>2008-03-18T21:53:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T21:55:57.127-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Harian Seorang Penulis'/><title type='text'>Pontianak, Kamis, 3 Januari 2008</title><content type='html'>Oleh: M.Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar mentimun di Pulau Keramba. &lt;br /&gt;Dimana letak pulau itu tidak ada yang tahu. Kalau Pagar Mentimun, aku tahu. Daerah Pagar Mentimun terdapat di Kabupaten Ketapang. Letaknya yang tepat adalah di antara Pesaguan dan Kendawangan. Pagar Mentimun merupakan salah satu objek wisata pantai terkenal di Kabupaten Ketapang. &lt;br /&gt;Selain nama Pagar Mentimun. &lt;br /&gt;Aku juga mengetahui sebuah pulau yang tak pernah dijamah orang. Pulau itu adalah Pulau Gelanggang. Pulau Gelanggang bukanlah termasuk pulau yang dijadikan objek wisata laut. &lt;br /&gt;Pulau Gelanggang ini kuangkat karena keunikan namanya dan kemenarikannya. &lt;br /&gt;Jika sekiranya ada orang-orang yang memiliki jiwa bisnis dan mau mengelola pulau itu. Tidak menutup kemungkinan akan mendatangkan keuntungan yang besar dengan menjadikan pulau itu sebagai objek wisata yang digemari banyak pelancong atau turis untuk menikmati keindahan pulau itu. Pulau Gelanggang merupakan suatu pulau di tengah Sungai Kapuas yang terdapat dekat Batam-nya Pontianak. Pulau Gelanggang menurut cerita orang tua adalah tempat orang-orang yang mempunyai ilmu kesaktian yang diadu lanun dalam suatu pertarungan untuk menentukan siapa yang terkuat dan terhebat. Bahkan pertarungan itu harus berakhir dengan sebuah kematian. &lt;br /&gt;Orang yang menjadi pemenang dalam pertarungan itu akan diambil lanun menjadi teman seperjuangannya dalam merompak kapal-kapal yang melintasi perairan yang menjadi daerah kekuasaannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang pulau itu masih ada. Pulau itu tidak ada penghuninya. Karena di pulau itu masih tersisa tengkorak-tengkorak manusia yang mati dalam pertarungan. Pulau itu adalah sebuah pulau yang terlupakan. Pulau itu yang merupakan sebuah bukti sejarah bahwa Batam Pontianak memiliki tempat lanun bercokol. &lt;br /&gt;Kalau penasaran ingin tahu pulau itu datang saja ke sana.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4804423490545330396?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4804423490545330396/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4804423490545330396' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4804423490545330396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4804423490545330396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2008/03/pontianak-kamis-3-januari-2008.html' title='Pontianak, Kamis, 3 Januari 2008'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-2863294440562729495</id><published>2008-03-18T21:50:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T21:53:11.732-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Harian Seorang Penulis'/><title type='text'>Pontianak, Selasa, 1 Januari 2008</title><content type='html'>Oleh: M.Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari bersinar di atas kepala. &lt;br /&gt;Menyadarkan kita untuk mengevaluasi diri. Membuat rencana ke depan. Bahwa tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Segala kekurangan di tahun yang lalu harus diperbaiki di tahun ini. &lt;br /&gt;Mentari bersinar di atas bahu. &lt;br /&gt;Menggerakkan kita untuk mengedikkan bahu. Menempatkan bahu pada kegiatan yang bermanfaat. Kegiatan untuk mencerahkan kehidupan kita. Memikul tanggung jawab yang belum terselesaikan di tahun lalu yang harus dapat diselesaikan di tahun ini. Biar bahu kita tidak menjadi lelah dan bongkok. Karena beban kehidupan semakin berkurang dan kita bisa menikmati sebuah kesegaran tubuh.&lt;br /&gt;Mentari bersinar di kedua belah tangan. &lt;br /&gt;Memberikan penyadaran pada kita untuk dapat meraih atau menggapai sesuatu yang selalu kita idam-idamkan di tahun yang lalu pada tahun ini. Sesuatu yang kita idamkan itu membuat kita bahagia dan sentosa. Sesuatu yang membuat hidup kita selalu berarti. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mentari bersinar di kedua belah kaki. &lt;br /&gt;Memberikan kepercayaan pada kita untuk dapat melangkah ke depan dalam berbuat hal-hal yang positif. Meniadakan langkah kembali mundur kepada perbuatan yang tidak baik di tahun sebelumnya. Langkah untuk menatap kecerahan dan kesenangan di ujung akhir tujuan hidup kita.&lt;br /&gt;Mentari bersinar di kedalaman hati.&lt;br /&gt;Memberikan kepedulian pada kita untuk membersihkan hati dari kekotoran tahun sebelumnya agar hati menjadi bersih. Bila hati sudah bersih maka segala perbuatan akan menjadi mulia dan tulus. &lt;br /&gt;Kalau ketulusan hati yang akan terpancar maka kesejahteraan dan kebahagiaan dunia akhirat akan tercapai.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-2863294440562729495?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/2863294440562729495/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=2863294440562729495' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2863294440562729495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2863294440562729495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2008/03/pontianak-selasa-1-januari-2008.html' title='Pontianak, Selasa, 1 Januari 2008'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-2348762304092572832</id><published>2008-03-18T21:39:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T21:40:44.449-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>K e r e t a</title><content type='html'>Oleh: M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjerit peluit kereta menghampiri&lt;br /&gt;Seakan kereta ingin membawa diri &lt;br /&gt;Ke penjuru kereta-kereta untuk sampai ke stasiun&lt;br /&gt;Akhirnya perhentian kereta di sana &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kereta pun rusak di tengah jalan&lt;br /&gt;Membawa diri kepada kelaparan berkepanjangan&lt;br /&gt;Mengantarkan jiwa kepada kehausan yang maha hebat&lt;br /&gt;Menyisakan rel yang terlantar sendiri &lt;br /&gt;Akhirnya kereta pun menutup jalan masuk diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Kantor (Balber), 06032008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-2348762304092572832?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/2348762304092572832/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=2348762304092572832' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2348762304092572832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2348762304092572832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2008/03/k-e-r-e-t.html' title='K e r e t a'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-853093214736737781</id><published>2008-03-18T21:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T21:39:31.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Menerjemahkan Rindu</title><content type='html'>Oleh: M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kutahu&lt;br /&gt;Bahasa air yang mengalir ke muara&lt;br /&gt;Sudah ribuan rindu mampu kuterjemahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu ingin terbang seperti burung merpati&lt;br /&gt;Dengan kesetiaannya &lt;br /&gt;Mengantarkan amanat pengirimnya&lt;br /&gt;Kepada orang yang ditujunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindunya Leuser mengarungi laut luas&lt;br /&gt;Menemui bidadari di ujung pulau impian itu&lt;br /&gt;Menantang ombak dan badai yang mengganas&lt;br /&gt;Untuk sampai di sana&lt;br /&gt;Berbagi perasaan yang telah melepas sauh di hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kutahu &lt;br /&gt;Bahasa bintang menerangi malam&lt;br /&gt;Sudah ribuan rindu mampu kuterjemahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balber, 04032008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-853093214736737781?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/853093214736737781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=853093214736737781' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/853093214736737781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/853093214736737781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2008/03/menerjemahkan-rindu.html' title='Menerjemahkan Rindu'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4313478652288900738</id><published>2007-12-29T07:44:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T07:47:04.898-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Pergolakan luka dan Patah Hati Serta Munazat Doa Pada Tuhan</title><content type='html'>Buat: Rie-Rie di Hongkong&lt;br /&gt;Oleh: M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus ada luka&lt;br /&gt;Kalau darah saja masih memerah&lt;br /&gt;Kalau butiran getah bening masih mengkilap&lt;br /&gt;Mengalirkannya  ke jantung kehidupan &lt;br /&gt;Ada sedikit harapan &lt;br /&gt;Mengalirkannya ke hati kenikmatan&lt;br /&gt;Ada sejuta kelezatan&lt;br /&gt;Mengalirkannya ke ginjal hidayat&lt;br /&gt;Ada seribu kebersamaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt;Biarkan dia lancar mengalir seperti air&lt;br /&gt;Setiap saat selalu menuju muara&lt;br /&gt;Mengangkut sampah-sampah yang menghalangi jalan baktinya&lt;br /&gt;Dibenamkannya tak berbentuk rupa&lt;br /&gt;Pada kedalaman muara hidupnya&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus ada patah hati&lt;br /&gt;Kalau pohonnya yang ada &lt;br /&gt;Masih mempunyai cabang-cabang yang kokoh&lt;br /&gt;Merekahkan cabang pohon itu cepat bersedekah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus ada kecewa &lt;br /&gt;Kalau urat-urat pohonnya&lt;br /&gt;Masih mendapatkan nutrisi setiap hari &lt;br /&gt;Dalam derma pada setiap wajah sumber air perigi&lt;br /&gt;Melayukan urat-urat itu membusuk sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan &lt;br /&gt;Berikanlah cabang-cabang baru yang segar menghijau&lt;br /&gt;Tak akan pernah patah dilanda apapun&lt;br /&gt;Lengkapi urat-urat pohonnya besar mengembul&lt;br /&gt;Selalu berkecukupan makanannya setiap saat&lt;br /&gt;Tak akan membusuk lagi untuk selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan&lt;br /&gt;Jadikan dia angin yang mengalir&lt;br /&gt;Tak pernah menampakkan wajahnya&lt;br /&gt;Hanya selalu setia merasakan kehadiran-Mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan &lt;br /&gt;Manusiakanlah dia menjadi manusia seutuhnya&lt;br /&gt;Yang tak pernah peduli lagi &lt;br /&gt;Dengan pergolakan luka dan patah hati&lt;br /&gt;Hanya hakiki menjadi pecinta yang merindui&lt;br /&gt;Kemulusan gugusan awan-awan-Mu yang tak bertepian &lt;br /&gt;Di kasih yang suci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depan Laptop (PTK), 29122207&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4313478652288900738?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4313478652288900738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4313478652288900738' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4313478652288900738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4313478652288900738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/12/pergolakan-luka-dan-patah-hati-serta.html' title='Pergolakan luka dan Patah Hati Serta Munazat Doa Pada Tuhan'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-2085337287688469935</id><published>2007-12-29T07:41:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T07:44:47.645-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Luka dan Janji Allah</title><content type='html'>Buat: Rie-Rie di Hongkong&lt;br /&gt;Oleh: M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutadah lukamu dalam gelisah, teman&lt;br /&gt;Meresahkan doaku basah di hati&lt;br /&gt;Menantikan janji Allah yang telah tersurat pasti&lt;br /&gt;Memberikan hidayah kejernihan hati padamu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengkaji dan bertindak dalam kehidupan ini&lt;br /&gt;Bahwa luka adalah segelintir ujian&lt;br /&gt;Di banyak kenikmatan yang diberikan padamu&lt;br /&gt;Anggaplah sebagai bukti kasih sayang-Nya untukmu&lt;br /&gt;Agar dapat bersabar dan bersyukur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasau Jaya, 29122007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-2085337287688469935?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/2085337287688469935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=2085337287688469935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2085337287688469935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2085337287688469935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/12/luka-dan-janji-allah.html' title='Luka dan Janji Allah'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8169094481458435329</id><published>2007-12-29T07:39:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T07:41:22.233-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Titip Cinta</title><content type='html'>Buat: Rie-Rie di Hongkong&lt;br /&gt;Oleh: M.Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titip cinta pada DIA&lt;br /&gt;Bila langit sudah tak bermata&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Rasau Jaya, 29122007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8169094481458435329?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8169094481458435329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8169094481458435329' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8169094481458435329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8169094481458435329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/12/titip-cinta.html' title='Titip Cinta'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-97091448142112950</id><published>2007-12-29T07:38:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T07:39:39.246-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Baik Memaknai</title><content type='html'>Oleh: M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengagumi emas di lautan &lt;br /&gt;Sungguh terlalu&lt;br /&gt;Lebih baik memaknai mutiara jadi cemerlang&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Daripada duduk sunyi menekuri diri&lt;br /&gt;Dari kecurangan hari&lt;br /&gt;Selalu mengotori hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor Klotok, 27122007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-97091448142112950?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/97091448142112950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=97091448142112950' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/97091448142112950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/97091448142112950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/12/baik-memaknai.html' title='Baik Memaknai'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3780032762022130362</id><published>2007-12-29T07:31:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T07:36:55.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Bulan di Dalam Hujan Gerimis</title><content type='html'>Oleh: M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahadat jiwa menggelepar dalam kegelimangan&lt;br /&gt;Bulan yang terbit di dalam hujan gerimis&lt;br /&gt;Memfasihkan kekasihnya dalam belahan roti zaman&lt;br /&gt;Untuk dimakan dengan kekenyangan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahadat perasaan menggenang dalam kenyamanan&lt;br /&gt;Bulan yang terbit di dalam hujan gerimis&lt;br /&gt;Mengentalkan kekasihnya dalam botol sirup musim&lt;br /&gt;Untuk diminum dengan kepuasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian Sebatang, 26122007 – (14.25)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3780032762022130362?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3780032762022130362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3780032762022130362' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3780032762022130362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3780032762022130362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/12/bulan-di-dalam-hujan-gerimis.html' title='Bulan di Dalam Hujan Gerimis'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1756112238328368830</id><published>2007-10-20T09:30:00.000-07:00</published><updated>2007-10-20T09:31:10.502-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>DO’AKU DILALAP SEPI</title><content type='html'>by Yophie Tiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kemarin;&lt;br /&gt;- masih terus kuingkari &lt;br /&gt;  bahwasanya jiwaku tak kunjung henti&lt;br /&gt;  mencari atas kuasa diri -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar, tentunya&lt;br /&gt;matahari dan bulan sepotong itu&lt;br /&gt;tidakkah berjalan atas kemauannya sendiri&lt;br /&gt;tapi satu kebulatan penuh lagi utuh&lt;br /&gt;yang asik menyelaraskan hakiki&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku saja yang malu mengaca diri&lt;br /&gt;kemudian menemukan wajahku retak&lt;br /&gt;dalam kepingin tak menentu&lt;br /&gt;seperti rinduku yang belum jua rampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti dengan sebaik-baiknya itu&lt;br /&gt;aku rindu….mau…..&lt;br /&gt;dan juga jemu&lt;br /&gt;berperang antara rindu dan malu&lt;br /&gt;bahkan takut dengan jemuku sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kemarin;&lt;br /&gt;- kurasa doa hanya sia-sia &lt;br /&gt;manakala mendapati seluruh hidup&lt;br /&gt;hanya berupa kepenatan semata&lt;br /&gt;sebab dosa tak jua beranjak sepi –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah aku pulang saat ini, Tuhan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 5 Juli 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1756112238328368830?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1756112238328368830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1756112238328368830' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1756112238328368830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1756112238328368830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/doaku-dilalap-sepi.html' title='DO’AKU DILALAP SEPI'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8013990507681001379</id><published>2007-10-20T09:29:00.001-07:00</published><updated>2007-10-20T09:29:52.435-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Tarian Drupadi</title><content type='html'>by Yophie Tiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merogoh saku. Kasar&lt;br /&gt;Dilemparnya kepingan nyawaku&lt;br /&gt;Berhamburan di atas lantai kusam&lt;br /&gt;Tanpa ratap kupungut penuh harap&lt;br /&gt;Kancing baju terbuka satu-satu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“cepatlah sedikit!” bentaknya sambil meludah&lt;br /&gt;Di atas lantai kusam semakin buram&lt;br /&gt;“Lekaslah!Aku tak pnya banyak waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayang raut sendu kekasih&lt;br /&gt;Dan kuyu mata anakku&lt;br /&gt;Mengiris hati&lt;br /&gt;Tipis-tipis&lt;br /&gt;“Hari ini di balai kota. Aku mau pidato tentang kesetaraan&lt;br /&gt;Adam dan Hawa. Akh, mana mengerti kau! Kerjamu hanya menjual surat pada setiap lelaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjilati tiap lekuk tubuh&lt;br /&gt;Bau amis mulutnya menebar ke hati&lt;br /&gt;Tak kuasa tolak segala mau&lt;br /&gt;Ternyata duniaku hanya berakhir sampai di sini&lt;br /&gt;Di lantai kusam yang semakin buram&lt;br /&gt;Di bawah ketiak penuh borok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayang raut wajah sendu kekasih&lt;br /&gt;Dan kuyu mata anakku&lt;br /&gt;Mengiris hati tipis-tipis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Maret 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8013990507681001379?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8013990507681001379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8013990507681001379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8013990507681001379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8013990507681001379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/tarian-drupadi.html' title='Tarian Drupadi'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8488732377047922036</id><published>2007-10-20T09:28:00.002-07:00</published><updated>2007-10-20T09:29:13.029-07:00</updated><title type='text'>UPACARA</title><content type='html'>by Yophie Tiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor gagak tersenyum rawan&lt;br /&gt;Dan melati membalas senyum itu&lt;br /&gt;Tak kalah rawannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling menjaga diri&lt;br /&gt;Tak bertegur sapa&lt;br /&gt;Di tengah nyanyian penuh&lt;br /&gt;Teta-teki&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak yang mengudara&lt;br /&gt;Berputar-putar &lt;br /&gt;Menunggu lengah mangsanya&lt;br /&gt;Sedang melati tiada henti &lt;br /&gt;Terus menebar aroma&lt;br /&gt;Membuat sepi kian sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagak tersenyum kian rawan&lt;br /&gt;Dan melati menebar aroma&lt;br /&gt;Tersendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menanti &lt;br /&gt;Dalam bekunya udara&lt;br /&gt;Sampai upacara berakhir&lt;br /&gt;Sambil membaca Epitaf sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oktober ‘93&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8488732377047922036?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8488732377047922036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8488732377047922036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8488732377047922036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8488732377047922036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/upacara.html' title='UPACARA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-613049671703471619</id><published>2007-10-20T09:28:00.001-07:00</published><updated>2007-10-20T09:28:29.342-07:00</updated><title type='text'>GUNDAH</title><content type='html'>by Yophie Tiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus dengan apa kunyatakan rindu&lt;br /&gt;agar kau paham bahwa betapa sukar&lt;br /&gt;membingkai kenangan manis&lt;br /&gt;yang berjejalan di benak gundah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku mengecut&lt;br /&gt;keburu takut digasak kabar kabur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;harus bagaimana kutahan rindu&lt;br /&gt;janji perjumpaan bergulir lambat&lt;br /&gt;tersendat urusan birokrat&lt;br /&gt;senangnya bicara bilamana waktu setempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus berapa lama rindu kan bertaut&lt;br /&gt;hingga kebersamaan kita tak lagi berjarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 4 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-613049671703471619?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/613049671703471619/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=613049671703471619' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/613049671703471619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/613049671703471619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/gundah.html' title='GUNDAH'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8565379077292956320</id><published>2007-10-20T09:25:00.001-07:00</published><updated>2007-10-20T09:27:48.021-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>NISKALA</title><content type='html'>by Yophie Tiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada calon kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kutangkap rautan cahya&lt;br /&gt;di wajahmu yang dingin beku&lt;br /&gt;kutahu ada hasrat menggeliat&lt;br /&gt;yang menyadarkan aku tentang cinta&lt;br /&gt;dan kepura-puraan pemiliknya&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap keindahan yang tercekam di mata&lt;br /&gt;adalah karena kau penyebabnya&lt;br /&gt;yang merasuk jiwaku dengan kasih&lt;br /&gt;yang menghangat di ujung hari&lt;br /&gt;kau semakin menggairahkan&lt;br /&gt;untuk diselidiki dan dimengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah bentangan Kapuas Raya&lt;br /&gt;belum lagi kuhapal lekuknya&lt;br /&gt;kutahu hidupku tak kan pernah sempurna&lt;br /&gt;dari selain kedinginan&lt;br /&gt;untuk selalu berada di sisimu&lt;br /&gt;sepanjang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan pengharapanku akan pengertianmu&lt;br /&gt;terasa mengekalkan usia&lt;br /&gt;dalam bahagia yang tak lagi utuh&lt;br /&gt;lantaran karunia ini menyiksaku&lt;br /&gt;perlahan hingga tiba pada kepastian&lt;br /&gt;bahwa kau tak lagi menghendaki&lt;br /&gt;kehadiran dan luapan kasih sayangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Januari 1988&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8565379077292956320?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8565379077292956320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8565379077292956320' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8565379077292956320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8565379077292956320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/niskala_20.html' title='NISKALA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4007771869692222138</id><published>2007-10-20T09:25:00.000-07:00</published><updated>2007-10-20T09:27:37.376-07:00</updated><title type='text'>NISKALA</title><content type='html'>by Yophie Tiara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada calon kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama kutangkap rautan cahya&lt;br /&gt;di wajahmu yang dingin beku&lt;br /&gt;kutahu ada hasrat menggeliat&lt;br /&gt;yang menyadarkan aku tentang cinta&lt;br /&gt;dan kepura-puraan pemiliknya&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap keindahan yang tercekam di mata&lt;br /&gt;adalah karena kau penyebabnya&lt;br /&gt;yang merasuk jiwaku dengan kasih&lt;br /&gt;yang menghangat di ujung hari&lt;br /&gt;kau semakin menggairahkan&lt;br /&gt;untuk diselidiki dan dimengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah bentangan Kapuas Raya&lt;br /&gt;belum lagi kuhapal lekuknya&lt;br /&gt;kutahu hidupku tak kan pernah sempurna&lt;br /&gt;dari selain kedinginan&lt;br /&gt;untuk selalu berada di sisimu&lt;br /&gt;sepanjang waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan pengharapanku akan pengertianmu&lt;br /&gt;terasa mengekalkan usia&lt;br /&gt;dalam bahagia yang tak lagi utuh&lt;br /&gt;lantaran karunia ini menyiksaku&lt;br /&gt;perlahan hingga tiba pada kepastian&lt;br /&gt;bahwa kau tak lagi menghendaki&lt;br /&gt;kehadiran dan luapan kasih sayangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Januari 1988&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4007771869692222138?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4007771869692222138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4007771869692222138' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4007771869692222138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4007771869692222138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/niskala.html' title='NISKALA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4182063737834179320</id><published>2007-10-08T10:00:00.000-07:00</published><updated>2007-10-08T10:02:22.346-07:00</updated><title type='text'>In Memoriam Bulan</title><content type='html'>by: M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muharam, kemuliaan dalam selimut tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muharam pesonamu terhampar. Memancarkan cahaya keindahan dan kemuliaan di awal bulan ini. Merasuki sekujur tubuh insan, penuh dengan kegemilangan seperti terangnya lampu phillip berkekuatan 10 watt yang bisa menerangi seantero ruangan yang berukuran 12 X 33 meter, &lt;span class="fullpost"&gt;di mana saya sedang asyik merenungi begitu banyaknya taburan bintang bergumul dengan cahaya purnama mengimbas kesepian ini. Sampai-sampai cicak terlena dengan buaianmu. Lupa untuk pulang ke rumahnya. Sampai-sampai dia tertidur di kehalusan dinding atas kamar.&lt;br /&gt;Bulan Muharam adalah bulan pertama dalam hitungan tahun hijriyah. Bulan ini adalah bulan saling kenal-mengenal, saling mengetahui antara satu dengan yang lain. Bulan kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah kemauan yang sedang lagi kasmaran. Mau dijadikan apa? Perkedel, roti tawar, sirup manis atau purnama mengimbas kemulusan kembang wangi memekar? Selalu dirasakan nikmat oleh mereka.&lt;br /&gt;Pada bulan ini kamu datang dengan wajah purnama berseri membawakan saya oleh-oleh berupa setangkai bunga mawar putih. Memang melambangkan ketulusan dan keikhlasan jiwa untuk saling mengikat diri dalam hubungan yang lebih akrab. Intim. Bunga mawar putih adalah bunga mawar kesukaan dan kesenangan saya.&lt;br /&gt;Bunga mawar yang kamu berikan masih segar dalam genggaman hari. Mekarnya dedaunannya terlihat begitu nyentrik dan memancarkan keharuman yang menyengat. Bunga mawar yang kamu berikan mengembang pesona setiap hari menjelang sehingga memunculkan ketenangan dan kedamaian dalam jiwa saya. Membuat saya tidak kesepian, ada teman yang mengingatkan tentang keromantisanmu. Setiap jengkalan koridor waktu yang terus berlari semakin jauh. Bila saya memandangnya.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safar, keagungan dalam pemujaan oreon pulau idaman yang terindah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah memasuki dua bulan hubungan kita berlanjut. Tetap terikat erat. Saya berpikir, mungkin saja di bulan kedua hijriyah ini, kamu akan membawakan saya oleh-oleh atau buah tangan, tetapi entah berwujud apa? Saya tak bisa menebaknya dengan pasti. Namun saya mengira-ngiranya, biasanya kamu akan membawakan hadiah sesuai dengan kejadian istimewa di bulan ini. &lt;br /&gt;Bulan safar menurut orang-orang adalah bulan pemujaan untuk meminta sebuah keberkahan. Bisa juga bulan safar merupakan bulan untuk melakukan pembersihan kampung supaya dapat terhindar dari segala malapetaka dan bencana. Kegiatan pemujaan itu bermacam-macam, seperti kalau daerah Kakap, orang menamakannya Robok-Robok yang juga dipakai oleh orang Mempawah dan sekitarnya. Kalau di kampung saya, Kabupaten Ketapang dinamakan Mandi Safar dan yang pembersihan kampungnya dinamakan Caboh-Caboh Kampung. Setiap daerah pasti melakukan pemujaan itu walau dalam bentunk berbeda-beda, intinya tetap sama, yaitu mengharapkan keridhoan dan keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa atau Allah SWT.&lt;br /&gt;Kegelisahan saya menantikan kemunculanmu. Akhirnya terja-wabkan di keindahan senja saat ini. Saat benar-benar lukisan kanvas Ilahi mengguratkan warni-warni di lingkaran langitnya yang begitu orisinilnya. Apalagi ditambah seruling kerinduan si ombak yang mendayu-dayu, dengan tangan mulusnya menjamah dan menggulung kebiruan air laut saat menuju kemolekan si pantai. Berbagi kemesraan, kehangatan, dan kesyahduan kasih sayang yang mempesona. Canda ria dan sukacita tidak terkirakan.&lt;br /&gt;Saya melihat dari kejauhan kamu datang dengan mengendarai sayap malaikat Jibril membawakan sesuatu di tangan kanan dan tangan kirimu, dengan mukamu yang menampilkan kecemerlangan wajah pepsodent. Saya belum bisa memastikan oleh-oleh apa yang kamu bawa itu, karena jaraknya terlalu jauh. Saya yakin bahwa oleh-oleh yang kamu bawa sungguh berharga buat saya. Saya pun merasa senang dan bahagia menyambut kedatanganmu.&lt;br /&gt;Saya begitu terkejutnya menerima oleh-oleh darimu yang hanya berupa air dan daun andong yang bertuliskan huruf alquran, meminta sebuah keberkahan keselamatan hidup, dalam menjalani kehidupan di dunia maupun menikmati kehidupan di akhirat. &lt;br /&gt;“Kalau seperti ini saya sudah punya,” kata saya menerima hadiah darimu dengan kerut kekesalan. Karena hadiah yang kamu berikan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan atau impikan. Kamu dapat menangkap keganjilan sikap saya.&lt;br /&gt;“Bulan, kamu tidak boleh kesal seperti ini. Saya tahu bahwa barang ini tidak berharga di matamu. Kamu jangan melihat bentuk barangnya tapi lihatlah ketulusan hati orang yang memberikannya. Selain itu hayatilah makna pemberian hadiah sederhana ini. Apa maksudnya?” katamu dengan kesejukan rembulan bersinar di tengah malam.&lt;br /&gt;Saya hanya dapat terdiam . Mencerna omonganmu. Saya mulai mengaitkan hadiah pemberianmu dengan bulan ini sehingga saya dapat memaknainya.&lt;br /&gt;Arti tersiratnya kejernihan dan kebeningan air bahwa saya dianjurkan atau diingatkan harus selalu berbuat sabar, tawakal, dan menjernihkan hati dengan melakukan atau melaksanakan kewajiban saya pada Tuhan Yang Maha Esa atau Allah SWT sebagai tanda syukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya. Begitu banyaknya. Sebanyak taburan bintang di langit yang jumlahnya tidak bisa diketahui oleh siapapun yang ingin mencoba menghitungnya. Allah SWT tetap melimpahkan sumber kehidupannya buat kita. Daun andong yang bertuliskan huruf alquran berisikan tentang keselamatan dan keberkahan dan ridho Allah SWT mengandung makna bahwa kita harus selalu memegang teguh kalimah Allah dalam mengarungi terjal dan berlikunya jalan sebuah kehidupan ini agar mendapatkan keberkahan dan kemuliaan hidup. Jangan sampai dilepaskan karena akan mengakibatkan kerugian besar. Orang yang selalu merugi untuk selamanya.&lt;br /&gt;“Sungguh cerdas pemikirannya dan mulia sekali dia memberikan hadiah seperti ini pada saya,” ujar hati saya memujinya. &lt;br /&gt;Saya menaburkan kembang-kembang purnama padanya yang dibalasnya dengan semprotan bau wangi kesturi sehingga kemilau dan keharumannya berpadu satu. Menebar. Menembang. Menyapa lembut mekarnya bunga melati dan mawar di taman kecantikan bumi hari ini. Meresap dalamnya pada intinya. Membentuk segumpal mutiara terindah berkilauan bianglala dengan menampilkan Kalbu Sebening Kaca, yang merupakan tembakan goresan tinta emas yang diukir oleh Imam Al Ghazali pada daun papirus yang selalu berkasih sunyi pada-Mu. Memusat dan membulat sebesar butir telur burung puyuh. Betul-betul berharga dan mahal!&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabiul Awal, kejernihan memancar lewat benih yang ditanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak perlu repot-repot menantimu di awal bulan ini seperti bulan lainnya. Selama menunggu dua belas hari. Saya lewati koridor hari ini dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat dan berguna seperti bercocok tanam ubi, pepaya, tomat, labu perenggi, dan jagung. Selain itu saya juga menanam beraneka rupa bunga dari kembang sepatu, mawar, melati, matahari, edelwise sampai bunga samin harum kesturi. Hanya bersemi di dalam kepasrahan dan keikhlasan kalbu menerima segala sesuatu dengan mengharapkan ridho ilahi.&lt;br /&gt;Benar apa yang terucap dari bibirmu saat itu. Kamu datang tepat pada tanggal dua belas di bulan ini. Kamu adalah orang yang tepat janji, penjaga amanah jiwa. Kamu membawakan saya oleh-oleh berupa butiran kalung mutiara yang berukiran huruf “M” yang indah dan apik. Kali ini saya sangat puas dengan pemberianmu. Langsung saja oleh-oleh pemberianmu, saya pakai di leher, namun kamu melarangnya.&lt;br /&gt;“Kamu jangan memakai kalung itu di lehermu tetapi gunakanlah sebagai tasbih.”&lt;br /&gt;“Digunakan sebagai tasbih. Aneh sekali...” pikir saya. Untuk mengetahui keanehan yang kamu buat maka saya meminta penjelasanumu. &lt;br /&gt;“Mengapa kalung ini tidak boleh dipakai di leher, Cay? Padahal kamu tahu yang namanya kalung harus dipakai di leher, bukan dijadikan untaian tasbih. Itu namanya aneh.”&lt;br /&gt;“Memang benar apa yang kamu katakan. Namanya kalung pasti dipakai di leher. Tapi untuk kalung yang satu ini lain pemakaiannya dari kalung yang lain. Kalung ini harus digunakan sebagai untaian tasbih, bukan dikalungkan di leher sebagaimana kalung biasanya. Karena kalung ini memiliki kemuliaannya, Bulan.”&lt;br /&gt;“Oh begitu. Jadi apa kemuliaan kalung ini?”&lt;br /&gt;“Kalung ini bisa dijadikan obat penenang kegelisahan dan kegundahgulanaan hati kita. Kalung ini bisa memberikan sebuah kedamaian dan ketenteraman lahir batin. Semua itu bisa didapatkan jika kalung ini kita gunakan sebagai untaian mutiara zikir. Tetapi kalung ini tidak akan memberikan reaksi apa-apa jika kalung ini dikalungkan di leher. Bahkan kalung ini akan bertambah suram sinarnya, yang lamban laun akan memudar dan tidak punya sinar cemerlang seperti sekarang ini. Jadilah kalung ini menjadi kalung biasa saja, bukan lagi kalung yang luar biasa khasiatnya,” jelasmu begitu panjang lebar sehingga membuat saya jadi mengerti. Saya membatalkan niat saya untuk memakai kalung itu di leher.&lt;br /&gt;Ada yang masih membuat penasaran dalam hati saya. Selama ini dia belum pernah sepatah katapun mengucapkan kata cintanya pada saya. Apakah kata cinta itu tak perlu diucapkan? Apakah cinta hanya bisa diperlihatkan lewat ucapan dan tingkah laku? &lt;br /&gt;Zaman sekarang ini cinta perlu sebuah penegasan. Kalau tidak, maka orang yang kita cintai akan lari dari kita. Karena dia menganggap bahwa kita tidak memiliki perasaan cinta itu. Saya akan menanyakan kata cinta itu padanya. Saya memberanikan diri. Saya tanyakan hal itu padanya.&lt;br /&gt;“Cay, apakah kamu mencintai saya?”&lt;br /&gt;“Bulan, saya menyukaimu.”&lt;br /&gt;“Yang saya tanyakan bukan suka tetapi cinta,” seru saya sedikit cemberut.&lt;br /&gt;“Bulan, kalau masalah mengenai cinta yang kamu minta dari saya. Untuk saat ini saya belum bisa menjawabnya. Suatu saat saya akan menjawab pertanyaanmu itu dengan tuntas dan jelas.”&lt;br /&gt;“Kapan Cay?”&lt;br /&gt;“Tenang saja Bulan, waktu itu pasti tiba.”&lt;br /&gt;“Oh ya Bulan, nampaknya senja sudah meredup di bulan ini. Sebentar lagi teja akan mengimbaskan fajar di kemuliaan singsingan tangan rembulan pagi menjelang. Saya harus meninggalkanmu lagi. Saya akan datang pada bulan Rabiul Akhir. Sampai jumpa Bulan. Semoga saja sinarmu tetap cemerlang dan kalbumu tetap putih dalam menantikan saya hadir di hadapanmu,” kata saya. &lt;br /&gt;Lalu saya membentangkan sayap Malaikat Jibril dan mulai meninggi menuju langit biru.&lt;br /&gt;“Tunggu dulu, Cay. Kamu belum menjawab soal saya dengan tuntas. Kapan kata cinta itu kamu utarakan?” &lt;br /&gt;Bulan berteriak melengking-lengking. Mengalahkan deburan ombak Pulau Datuk, Sukadana. Kamu tidak mendengarkan seruan saya lagi. Karena kamu sudah masuk dalam lingkaran persemayaman jalanan tirakat langit. Saya hanya kesal sendiri.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabiul Akhir, sketsa pendek keemasan dalam penuntun arah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak repot-repot saya menunggumu begitu lamanya seperti bulan biasanya. Tanggal satu bulan ini kamu sudah hadir di hadapan saya. Saya melihat dari kejauhan kamu tidak membawakan oleh-oleh yang selalu kamu berikan pada saya sebagai kesan memori kita di bulan ini.&lt;br /&gt;Dalam batok otak yang keras ini, saya berpikir lain. Mungkinkah kamu menyembunyikan oleh-oleh itu supaya saya jadi gregetan dan penasaran. Kira-kira hadiah apa ya yang kamu berikan pada saya? Biasanya kamu selalu memberikan hadiah istimewa buat saya sebagai bukti kasih sayangmu. Saya menunggu dengan sabar sampai kamu berada di hadapan saya. &lt;br /&gt;Menggunakan tilikan mata yang lebih tajam setajam mata elang, saya mencoba menerka lebih cepat oleh-oleh apa yang kamu berikan pada saya biar tidak menjadi suatu yang surprise lagi. Tapi saya tidak menemukan itu. &lt;br /&gt;Sama dengan bulan sebelumnya. Kamu selalu membawa kendaraanmu berupa sayap Malaikat Jibril, keramahtamahan gaya bahasa Mikail, dan sinar kejelian mata untaian zikir indah Israfil serta kamu menggunakan tongkat Nabi Musa sebagai penuntun arah langkahmu. Oleh-oleh yang kamu berikan adalah tongkat Nabi Musa. Saya kaget tak percaya. Bukan kaget karena senang diberi hadiah seperti itu tetapi karena timbul rasa kecewa yang meruak dalam jiwa. Kesal!&lt;br /&gt;Pikiran saya menerawang jauh dan melambungkan angan-angan yang tinggi dalam menghantarkan pada sebuah kesimpulan. Kesimpulannya bahwa pemberian tongkat Nabi Musa ini menunjukkan jalan pikiranmu yang menganggap saya sudah tuaan. Kalau saya sudah tuaan kemungkinan besar kamu tidak suka lagi dengan saya. Hal ini menyiratkan hubungan kasih sayang yang kita bina hanya sampai di sini saja. Kalau sekiranya ada maksud lain dari pemberian hadiah ini, maksud apaan? Apa untungnya buat saya? Saya belum juga mengambil tongkat Nabi Musa pemberianmu.&lt;br /&gt;“Bulan, kamu tidak suka dengan pemberian saya ini ya?” katamu lembut.&lt;br /&gt;“A...a..pa...? Apa Cay?” sahut saya tergeragap setelah saya sadar dari khayalan panjang di lautan tak kelihatan tepiannya.&lt;br /&gt;“Melamun ya?”&lt;br /&gt;“Ehemmmm...” angguk saya pelan.&lt;br /&gt;“Begitu rupanya. Bulan, saya mengerti apa yang kamu lamunkan barusan. Dengan pemberian tongkat Nabi Musa ini, kamu mengira saya mengatakan kamu sudah tuaan dan menyiratkan hubungan kita akan berakhir. Kamu juga menanyakan apa manfaat atau gunanya tongkat ini buatmu.”&lt;br /&gt;“Kok kamu tahu jalan pikiran saya, Cay?” kejut saya. &lt;br /&gt;Dia bisa membaca alam pikiran saya. &lt;br /&gt;Kalau begitu saya harus berhati-hati dalam berpikir dan bertindak. Jangan sampai alam pikiran dan tindakan saya membuat dia tersinggung dan marah. Kalau dia marah, bisa berabe dan kapiran urusannya. Hubungan indah antara kami yang sudah dijalin erat akan terlerai. Semua itu tidak saya inginkan. Rugi besar jika saya sampai berpisah dengannya.&lt;br /&gt;“Bulan, pemberian tongkat Nabi Musa yang saya berikan ini bukan menunjukkan saya menganggap kamu tuaan. Bukan. Itu adalah pemikiranmu yang keliru, harus diluruskan. Sebenarnya tongkat Nabi Musa ini saya berikan padamu karena dia bisa dijadikan penuntun arah langkah kakimu dalam melangkah ke depan. Mengarungi duri-duri kehidupan yang berserakan ini agar terasa manis. Di samping itu banyak kemuliaannya yang akan kamu dapatkan dari tongkat Nabi Musa ini.” &lt;br /&gt;Terhenti suaramu tersendat. Kamu batuk-batuk kecil, sepertinya ada sesuatu yang mengakibatkan kesalahan teknis pada jalan pernapasanmu.&lt;br /&gt;“Sebentar Cay, saya ambilkan air putih untuk menghilangkan ketersendatanmu,” sahut saya dengan bersemangat. Semangat 45. &lt;br /&gt;Sebentar saja saya sudah muncul dengan membawa secangkir air putih. Kemudian air putih itu saya sodorkan padanya. Kamu menyambutnya dan mereguk air putih di dalam cangkir itu demi melancarkan tenggorokanmu yang sempat tersendat. Cangkir air putih itu kamu letakan di atas meja. Suaramu mulai lancar mengalir lagi.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Bulan.”&lt;br /&gt;“Ya Cay. Jadi kemuliaan tongkat Nabi Musa yang lainnya apa Cay?” pinta saya ingin tahu lebih jelas.&lt;br /&gt;“Pertama Bulan, tongkat Nabi Musa ini dapat digunakan sebagai pemberantas kemudaratan. Baik yang ditimbulkan oleh orang lain maupun dirimu sendiri. Tongkat Nabi Musa ini juga dapat menghindarkan dirimu dari kejahatan apa saja yang bercokol di bumi dan tongkat Nabi Musa ini selalu mendorongmu untuk berbuat kebajikan dan kebenaran. &lt;br /&gt;Kedua, bila kamu sedang mengalami kehausan di tengah perjalanan yang daerahnya gersang, tandus, dan kemarau menyengat sedangkan di daerah tersebut tidak menunjukkan adanya setitik mata air pun yang dapat digunakan menghilangkan kehausan tersebut, maka kamu cukup memukulkan tongkat Nabi Musa ini ke tempat mana yang kamu sukai. Seketika itu akan terpancar mata air jernih dan bening dari bekas pukulan tongkat itu. Air itu sungguh bersih untuk kamu minum dalam menghilangkan kehausanmu.&lt;br /&gt;Ketiga, bila kamu tidak menemukan transportasi atau angkutan laut untuk menyeberang. Padahal kamu ingin cepat sampai ke suatu tempat maka kamu cukup memukulkan tongkat Nabi Musa ini pada lautan. Seketika itu lautan tersebut akan membentangkan sebuah jalan untuk kamu lewati dengan jalan kaki atau berkendaraan darat. Kamu dapat ke tempat tujuanmu dengan cepat. Semua ini akan terjadi dengan izin Allah,” ungkapmu dengan panjang lebar dan penuh kesabaran serta ketawakalan yang menempati puncak kasihnya.&lt;br /&gt;“Wow, begitu besar sekali khasiatnya, Cay?”&lt;br /&gt;“Begitulah, Bulan.”&lt;br /&gt;“Tapi, Cay...?”&lt;br /&gt;“Tapiannya apa lagi, Bulan?”&lt;br /&gt;“Tapinya adalah bagaimana caranya saya ingin mengembalikan air tidak mengalir lagi seperti biasanya dan lautan menjadi lautan seperti semula.”&lt;br /&gt;“Itu adalah hal yang gampang dan sepele, Bulan. Kamu cukup memukulkan tongkatnya sekali lagi ke tempat itu maka apa yang sudah berubah itu menjadi berubah ke bentuk asalnya lagi. Tapi saya berpesan padamu: janganlah sekali-kali kamu gunakan tongkat Nabi Musa ini untuk berbuat kemudaratan, karena akan menimbulkan bencana besar yang akan menimpa dirimu sendiri. Ini ambillah tongkatnya,” katamu menyodorkan tongkat nabi musa sekali lagi. &lt;br /&gt;Saya ambil tongkatnya dari tanganmu dengan menampilkan wajah close up keceriaan. Seiring bibir saya bergetar mengucap rasa puji syukur pada-Nya karena telah memberikan anugerah dan hidayah terbesar untuk saya. Alamiah.&lt;br /&gt;“Terimakasih, Allah. Maha Suci dan Maha Besar bagi-Mu .”&lt;br /&gt;Saya simpan baik-baik tongkat Nabi Musa pemberianmu supaya tidak di ketahui orang lain yang akan menyababkan kedengkian dengan kemuliaan ini. Biarkanlah selama mereka tidak tahu dengan khasiat besar tongkat Nabi Musa. Biarlah saya sendiri yang mengetahui khasiat besarnya ini.&lt;br /&gt;Kebenaran apa yang kamu utarakan, terpamerkan dalam realita ini. Setelah saya mengalami kejadian sendiri. Semakin kuatlah tertanam kepercayaan dan kemurnian kasih sayang saya padamu. Kamu benar-benar orang penebar kasih sayang sejati. Mengharumkan semua daerah sekitarnya. Di samping itu, rasa keimanan saya pada Allah makin bertambah erat dan kokoh. Begitu tertanam ketal seperti akar kelapa yang erat dan kokoh menancap mesra di kelembutan tanah merangai butiran embun yang menempel indah di lobang pori-pori pernafasannya.&lt;br /&gt;Bersama-sama. Kita merajut hari demi hari di bulan ini dengan buih deburan busa kasih sayang. Menampilkan atraksi atristik pada kemolekan alam bahari. Dalam menghabiskan embun kesegaran terlezat pada putaran koridor waktu di bulan ini dengn kesadaran tinggi. Sama-sama memahami kedalaman dan kesadaran hati dan batin masing-masing untuk saling mengisi kekurangan dan memberi segala kelebihan, berpadu erat bersatu. Memunculkan keputihan sinar cemerlang yang menziarahi tempat yang selalu merindukan kehangatan dan kelembutannya. Berbagi rata sama sisi. Balans!&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumadil Awal, tembang syahdu di jalin ikatan kembang mewangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak banyak menghadirkan prasangka yang negatif padamu. Apapun yang kamu berikan pada saya akan saya terima dengan keikhlasan agar menghasilkan nilai ibadah. Walau barang yang kamu berikan tidak masuk hitungan dalam akal sehat atau rasional saya. Saya tetap menganggap apa yang kamu berikan sangt besar artinya dan sesuatu yang dapat dibanggakan. Spektakuler dan esentrik di mata cermin kesenian yang terpampang di alam keindahan harumnya kembang memekar di taman salju kehidupan.&lt;br /&gt;Oleh-oleh yang kamu berikan di bulan ini adalah keramahtamahan gaya bahasa Mikail yang sangat banyak faedah dan manfaatnya dalam hubungan bermasyarakat. Karena dengan keramahtamahan gaya bahasa Mikail membuat sebuah hubungan yang damai, sejahtera, dan harmonis. Semuanya akan tercipta jika dibumbui dengan senyum pepsodent yang begitu segarnya. Putih melepah penuh panorama memukau.&lt;br /&gt;Dengan keramahtamahan gaya bahasa Mikail, saya merasakan diri saya adalah orang nomor satu yang beruntung dalam kehidupan bermasyarakat. Karena setiap ada kegiatan untuk berbuat kebajikan dalam masyarakat, saya selalu diikutsertakan dan ditempatkan pada tempat yang utama. Rasa hati ini begitu bangganya. Semua ini saya dapatkan tak terlepas dari andil oleh-oleh darimu.&lt;br /&gt;Cay. Cay. You is my life too in the world or justice day!&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumadil Akhir, tabuhan rebana mengimbas kemurnian itikaf jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelangi terlihat begitu eksotiknya di lintasan langit yang sedang mengadakan kenduri. Harum semerbaknya menghampar dan mengendusi hidung sanubari untuk mengekorinya. Apalagi ditambah pakaiannya yang berkembang warna-warni. Sungguh indah dipandang mata. Membuat pusatan cahaya mata tidak berbias ke lain arah mata angin. Semua terimbaskan di bulan ini.&lt;br /&gt;Tetes-tetes air kepedulian mega putih yang membentuk tasik berdanau jernih yang dihuni oleh ribuan ikan kebanggan hati. Sungguh mempesona indera. Danau itu juga dihiasi keunikan tumbuhan karang dan rumput laut yang membuat suasana menjadi semarak dan ceria. Danau itu juga ditaburi oleh dengusan kecemerlangan mega komulus yang jadi ambal permadaninya. Diiringi lagi tanjidor dan tabuhan rebana menyanyikan tembang-tembang mesra kasih sayang dalam percumbuan kasihnya untuk mencapai zenitnya yang abadi dan teratas. Supertop. Ngetren dari semuanya yang ada di dunia.&lt;br /&gt;Kamu sudah awal hadir di pangkuan saya. Selalu menantimu dengan kesetiaan yang tidak diragukan. &lt;br /&gt;Terlihat di bulan ini kamu tidak membawa oleh-oleh apa-apa selain kepakan sayap Malaikat Jibiril dan kejelian mata Israfil, yang tidak pernah terlena mengalunkan untaian zikir dan doa pada sang khaliknya. Saya tetap tersenyum dan tidak akan bertanya apa-apa tentang oleh-oleh yang akan kamu berikan kepada saya. Karena saya telah yakin dan mengerti bahwa kamu akan memberikan oleh-oleh yang terbaik untuk saya.&lt;br /&gt;Prakiraan saya tidak meleset. Benar. Kamu memberikan saya oleh-oleh berupa kejelian mata Israfil, yang tidak pernah lalai dalam melantunkan zamrud zikir dan doa pada sang khalik. Oleh-olehmu langsung saja saya terima dengan tidak bertanya tentang manfaatnya. Karena saya sudah tahu dan mengerti bahwa oleh-oleh yang kamu berikan selalu ada manfaatnya buat saya.&lt;br /&gt;Kamu segera saja menjelaskan besarnya manfaat kejelian mata Israfil yang tidak pernah lelah melantunkan mutiara zikir dan doa pada sang khalik.&lt;br /&gt;“Pertama, kejelian mata Israfil dapat melihat dengan saksama, jeli, dan akurat orang-orang yang akan berbuat jahat kepada kita lewat pantulannya yang cemerlang. Membuat kita dapat mempersiapkan diri untuk mengantisipasi hal tersebut agar tidak menciptakan kemudaratan pada diri kita. Kita akan selamat selamanya. Maksum.&lt;br /&gt;Kedua, kejelian mata Israfil dapat bekerja secara otomatis mengingatkan dan menyadarkan kita apabila kita berbuat mudarat atau lalai dalam menjalankan kewajiban pada Allah. Kejelian mata Israfil adalah remote kontrol kita untuk berbuat dan melangkah sesuai dengan jalur yang ditentukan Allah. Tidak akan melenceng sedikitpun.&lt;br /&gt;Ketiga, kejelian mata Israfil selalu membersihkan hati kita dari pikiran yang menyesatkan dan selalu mengarahkan perbuatan hati kita pada tindakan yang terpuji dan termulia dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Keempat, kejelian mata Israfil dengan pesonanya yang memancar gemilang mengalahkan keputihan dan kebenderangan sinar lampu neon dan phillip serta kecerahan rembulan tengah malam di malam sunyi kelam akan memberikan dan menampilkan sikap dan perilaku yang selalu berwibawa, punya martabat mulia, dan dapat menyenangkan hati setiap orang dalam hubungan pergaulan di masyarakat. Kita selalu menjadi suri tauladan dan panutan orang banyak dalam bertindak dan berbuat.&lt;br /&gt;Kelima, kejelian mata Israfil dapat memberikan kita sebuah kado istimewa berupa ketenangan, kedamaian, keserasian, kerukunan, dan kesejahteraan yang tidak akan habis-habisnya sampai hari penghabisan mencorongkan hawa lembutnya untuk menyapa kita.”&lt;br /&gt;Saya manggut-manggut tanda mengerti mendengarkan penjelasan manfaatnya kejelian mata Israfil yang kamu paparkan. Seketika saya merasa menjadi orang yang beruntung dalam lintasan kerikil kehidupan ini. Karena mempunyai kekasih hati yang setia dan selalu memberikan hadiah istimewa.&lt;br /&gt;Kamu menggenggam erat jemari saya yang halus dengan membisikkan kata-kata yang indah dengan menggunakan gaya bahasa Mikail. Membuat hati saya berbunga-bunga menaburkan kembang melati dalam hati. Menghamparkan keharumannya begitu intens. Meresapi jiwa saya yang terdalam. Saya menanggapi bisikan mesramu dengan gaya bahasa keramahtamahan Mikail pula. Sehingga komunikasi kasih sayang kemesraan ini berjalan baik dan lancar.&lt;br /&gt;Rembangan kasih sayang yang kita nikmati terus bergulir segar di kemulusan lantai keramik. Tidak pernah meninggalkan duli dipertuan agung. Asli. Paten. Tidak aspal. Tanpa terasa menghantarkam kamu kembali ke tempat peristirahatanmu yang agung. Tempat peristirahatan yang kamu gunakan dalam melepaskan lelah dan letih. Saya melepaskan kepergianmu dengan sunggingan bibir rembulan berarti. Saya berjanji tetap setia menantimu hadir di bulan berikutnya.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajab, kisah coklat dalam goresan tembang langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecoklatan di bulan ketiga ini masih memancar walaupun liputi dengan halimun yang sering menyungkupi kalbu saya, selalu setia menanti kedatanganmu. Tidak pernah terbetik mau berpaling arah ke lain tiupan angin. Karena keyakinan saya berkata bahwa kamulah orang cocok dan sepadan buat saya. Walaupun kekesalan sering menjamah jiwa, namun saya tetap meneguhkannya supaya tidak membiaskan sinar yang berpencaran.&lt;br /&gt;Sudah hari kelima belas di bulan ini, kamu belum menampakan wajahmu yang penuh rembulan. Memberikan cahaya pada kehidupan saya. Kalbu saya berintrospeksi diri.&lt;br /&gt;Ada apa denganmu?&lt;br /&gt;Terkaan negatif a menghambur menghantui rongga batok kepala saya. &lt;br /&gt;Jangan-jangan telah terjadi sesuatu padamu? Kejadian apa? Tapi saya mentahkan lagi dengan alasan yang saya buat sendiri. Tidak mungkin. Kalau terjadi sesuatu padamu. Biasanya kamu akan memberi kabar. Mungkin saja kamu datang pada saya agak terlambat, karena kamu kebingungan mencari oleh-oleh yang tepat bulan ini. Saya tetap bersabar menantimu.&lt;br /&gt;Di hari kedua puluh tujuh di bulan ini, kamu datang masih dengan menggunakan sayap malaikat Jibril. Namun bawaan pada tubuhmu seakan ada penambahan. Kamu membawa tongkat Nabi Musa dan keramahtamahan gaya bahasa Mikail serta sinar mata kejelian Israfil, tidak lengah setiap saat berlalu. Selalu terjaga dan tetap berbakti memuliakan Asma Allah yang bergantung di arsy, menghiasi kemulusan bibirnya.&lt;br /&gt;“Maaf ya Bulan, saya datang terlambat. Kamu tidak marahkan?” ujarmu simpel. &lt;br /&gt;Senyuman mentari dari bibirmu tidak pernah pupus. Saya tidak menanggapinya. Diam saja. Saya memperhatikanmu. Seakan kalbu saya berkata.&lt;br /&gt;Wahai pujaan jiwa saya, cobalah kamu mengerti diri saya. Jangan siksa saya seperti ini. Biasanya kamu tidak pernah melakukan hal seperti begini.&lt;br /&gt;“Tidak Cay. Hanya sedikit kesal saja,” kata saya apa adanya.&lt;br /&gt;“Oh begitu,” katamu bulat.&lt;br /&gt;“Untuk penebus kekesalanmu pada saya. Saya ada membawakan kamu oleh-oleh istimewa di bulan ini. Oleh-oleh ini tidaklah seperti biasanya yang berwujud barang….”&lt;br /&gt;“Jadi berbentuk apa?” kata saya ingin tahu dan terkesan tergesa-gesa.&lt;br /&gt;“Sebuah cerita unik,” sahutmu sabar.&lt;br /&gt;“Cerita unik seperti apa sih? Apakah sama dengan cerita atau dongeng yang pernah saya dengar, seperti kancil dan buaya, setanggok, ketam batu dan lang buana, asal mula kerajaan tanjungpura atau putri junjung buih?”&lt;br /&gt;“Bukan. Ini benar-benar cerita unik. Lain dari cerita yang lain.” &lt;br /&gt;“Kalau begitu boleh juga. Coba kamu ceritakan,” kata saya mulai tertarik.&lt;br /&gt;Kekesalan saya padanya mulai memudar berganti dengan keceriaan. Karena pandainya dia mengambil kalbu saya. Dia mulai bercerita.&lt;br /&gt;Ada sebua oreon yang merasa sedih karena ditinggalkan oleh Venus dan zahro. Padahal sinar Orion sudah sangat terangnya. Bisa menerangi kegulitaan malam di Planet bumi. Namun, dia selalu merasa kurang sempurna bercahaya. Sejak Venus dan Zahro tidak memadukan cahayanya dengan Orion. Untuk membuat sinar yang teramat terang menerangi jagat ini yang selalu kegelapan. Rupanya Venus dan Zohro ditelan cahaya maha cahaya, karena masa perjanjian untuk menyatu dengan Cahaya Maha Cahaya sudah tiba.&lt;br /&gt;Melihat Orion bersedih di rundung duka nestapa. Cahaya Maha Cahaya kasihan. Maka Cahaya Maha Cahaya menghiburnya dengan menyuruh Orion menyucikan diri dan mengerjakan kesucian ibadah agar dapat menemukan Venus yang bisa menambah cahaya Orion bertambah terang, seterang lampu phillip. Orion menurut saja sehingga dia menemukan Venus baru yang lebih cemerlang sinarnya. Berada di padang rembulan lintasan kembang lazuardi pelangi yang menaawan. Orion bisa menyebarkan senyumannya lagi. Setiap masa selalu bersenda gurau dan memadukan sinarnya dengan Venus tersebut dalam menerangi kehidupan yang ada di Planet bumi sampai dia ditelan Cahaya Maha Cahaya, seperti Venus dan Zahro yang menunggunya ceria di lintasan lain.&lt;br /&gt;“Seru juga ceritanya ya...,” kata saya memujinya.&lt;br /&gt;“Masih ada lagi cerita yang lain?” tanya saya kemudian. &lt;br /&gt;“Cerita yng lain tidak ada lagi untuk sementara ini. Entahlah nanti,” jawabmu polosnya. &lt;br /&gt;Sebelum saya menyela lagi dengan obrolan lain. Kamu sudah duluan membuka gelombang suara yang lemah lembut mendayu kalbu.&lt;br /&gt;“Bulan, saya pamit dulu! Insya allah, bulan depan saya datang sekitar tanggal dua belas,” katamu langsung pergi dengan menggunakan kepakan sayap Malaikat Jibril. &lt;br /&gt;Saya tidak bisa mencegahmu. Saya hanya memperhatikanmu yang menghilang di balik kumpulan mega berjejeran indah menembus langit.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syakban, lingkaran kenikmatan dalam kembang wangi tersaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada terlejatnya kue kenikmatan di bulan ini. Kamu datang tiga kali dalam sebulan. Kamu hadir di awal bulannya. Kedua, kamu hadir di pertengahan bulannya, yaitu tanggal lima belas. Ketiga, kamu hadir di tiga hari menjelang penutup bulan ini.&lt;br /&gt;Di awal bulan ini, hadirnya kamu hanya menyempatkan memberikan oleh-oleh berupa daging, sayuran, dan segala aneka masakan untuk melakukan selamatan. Kalau dalam ikatan Suku Melayu lebih dikenal dengan beroah, yang memanggil orang-orang untuk diajak makan bersama di rumahnya sambil melakukan pujaan dan pujian pada Allah swt. Doa tersebut diperuntukan untuk sanak keluarganya yang meninggal dunia agar diberi berkah oleh Allah swt. Kalau tidak ada sanak keluarganya yang meninggal maka doa dikirim untuk kaum kerabatanya yang seagama dan seakidah dengannya. Agar mereka di alam sana juga merasakan kebahagiaan ini. Selain itu kegiatan beroah dilakukan untuk meminta keselamatan hidup dalam mengarungi kehidupan agar diberikan kebahagiaan hakiki.&lt;br /&gt;Di pertengahan bulan ini, hadirnya kamu hanya memberikan secil untaian senandung doa nifsu syaban. Harus dibacakan setiap pertengahan bulan. Kegunaannya untuk meminta keberkahan dan ridho Allah swt supaya diberikan kemudahan dalam mencari rezeki, kelapangan dalam menjalankan pekerjaan dengan tidak adanya hambatan yang dapat memfatalkan jiwa dan selalu diberikan keselamatan diri serta meminta kemudahan dan keselamatan dalam menjalani rel-rel kehidupan untuk mendapatkan arti kehidupan sebenarnya dan menemukan jati diri yang hakiki. Itulah kebahagiaan yang sebenarnya. Dicari semua insan di dunia ini.&lt;br /&gt;Di tanggal dua puluh tujuh bulan ini. Hadirnya kamu hanya memberikan untaian makna alquran dan hadist Nabi Muhammad SAW. Menyuruh saya mempersiapkan diri untuk melakukan puasa agar dapat diberikan sebuah kemuliaan hidup. Petuahnya itu akan saya lakukan dengan kesadaran tinggi yang murni dan tulus dari kalbu saya. Sehingga menghantarkan kamu untuk pamit kembali pada peraduanmu yang mulia. Diiringi kecerahan wajah saya yang menampilkan kejelian mata israfil.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadan, kesucian perawan dan keharumanan nabi serta kemuliaan Allah SWT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan dan keharuman memancar di seluruh ke molekan tubuhmu pada panjangnya lintasan langit yang berjalan menemui jasad kasihnya. Kamu memang selalu membawa kebenaran setiap jengkal koridor waktu. Dari denyutan nafas bila beramal di bulan ini sampai berhenti denyut nadi akan diganjar dengan pahala yang besar oleh Allah SWT. Kemuliaan di bulan ini ditunggu-tunggu oleh umat Nabi Muhammad SAW dari dua belas bulan yang ada. Bulan ini adalah bulan yang penuh maghfirahnya.&lt;br /&gt;Saya sangat senang dan gembira pada kemolekan bulan ini. Karena kamu menemani saya selama sebulan penuh. Dari permulaan bulan sampai akhir bulan. Walau kamu tidak membawa oleh-oleh berarti, yang selalu kamu berikan pada saya. Ditemani olehmu selama sebulan ini sudah merupakan oleh-oleh yang paling terbesar dalam kehidupan saya.&lt;br /&gt;Di kesucian bulan ini. Kamu selalu memberikan fatwamu yang menggetarkan sukma saya sehingga saya merasakan kesejukan dan menemukan kesucian yang sebenarnya. Kesucian yang benar-benar bersumber dari kalbu yang paling dalam. Selama ini, saya hanya merasakan kesucian yang absurd. Serba berlapiskan kemunafikan yang terselubung atau kamuflase jiwa. Selain itu kamu juga menghangati jiwa saya dengan keharuman kesturimu yang serba memukau. Sehingga keharuman itu meresak dalam sanubari dan tubuh saya. Tidak pernah akan hilang dalam tembang goresan kerikil kehidupan berapa episode yang akan dijalani atau tercerabut akarnya dari tajuk mahkota.&lt;br /&gt;Hidayah selalu berlimpahan pada saya berkat kepiawaianmu mengajari saya beraneka kesabaran dan ketulusan agar dapat bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan-Nya. Selalu tetap tawakal. Tidak mengeluh bila ditimpa musibah dan selalu melafazkan asma Allah dalam setiap waktu. Tidak boleh melalaikannya. Sepertinya saya telah kamu berikan sebuah kesadaran yang sebenar-benarnya. Bukan bohongan. Benar-benar menghayati hakikat kehidupan ini dan kematian nanti lewat keberkahan bulan suci Ramadan. &lt;br /&gt;Kamu juga mengajari saya memaknai hari turunnya Alquran dengan sebetul penghayataan hakiki. Sehingga hal tersebut dirasakan lebih bermakna. Diperingati setiap tanggal 17 Ramadan. Dengan tetap menjunjung tinggi Alquran selamanya dan tetap menjadikannya pedoman dan arah dalam kehidupan serta mengambil mutiara hikmahnya untuk diterapkan dalam kehidupan. Agar mencapai ke muliaan hidup. Jangan menjadikannya hanya sebagai hiasan rumah atau ornamen rumah biar kelihatan apik dan mentereng.&lt;br /&gt;Tiada terasa sudah setengah bulan lebih dua hari kamu menemani saya.&lt;br /&gt;Di malam dua puluh satu sampai tiga puluh di kesucian bulan ini yang menampilkan keharuman Nabi dan kemuliaan Allah SWT. Kamu mengajarkan saya suatu tirakat agar memperoleh kemanisan anggur bulan ini. Belum pernah diperoleh orang di muka bumi ini, yaitu mendapatkan malam Lailatul Qadar. Malam yang penuh kebaikan dari seribu malam yang ada. Malam yang penuh uswatun hasanah. Saya tercengang dan tidak dapat berkata sepatah katapun.&lt;br /&gt;Aduh, begitu besarnya perolehan saya di bulan ini.&lt;br /&gt;Cay, kamu memang dambaan hati saya yang mengerti semuanya tentang diri saya. Kamu memang pujaan hati saya yang terbaik, gumam saya dalam relung terdalam lautan kalbu. Ia bergelora mengombal ombak Tanjung Batu, Kendawangan. Ia menembusi keterjalan tebing-tebing batu di tepian pantai yang tajam serta mencuat ganas. Ia mengamblaskan nyawa bila terjatuh di tempat empuk tersebut.&lt;br /&gt;“Bulan, cara memperoleh atau mendapatkan malam Lailatul Qadar sudah saya ajarkan kepadamu. Saya berdoa semoga kamu diberikan keberkahan-Nya untuk mendapatkan malam itu. Karena malam itu adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh semua orang yang melaksanakan puasa. Mereka menunggu dari sekian malam di bulan puasa ini. Karena bila kita bermunajat atau menghaturkan doa di malam itu maka akan dikabulkan Allah.” &lt;br /&gt;Suaramu lembut menerangkan hal tersebut. Saya mendapatkan kesejukan dari bicaramu. Ia merasuki tabung bambu perasaan saya. Ia menimbulkan sebuah kedamaian dan ketenteraman.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Cay,” sahut saya.&lt;br /&gt;“Cay, boleh saya menanyakan sesuatu yang berharga padamu di kemuliaan bulan ini?” lanjut suara saya.&lt;br /&gt;“Silakan, Bulan. Kalau memang ada sesuatu hal yang ingin kamu tanyakan. Katakanlah. Utarakanlah. Insya allah, saya siap menjawabnya dengan sejujur-jujurnya,” jawabnya.&lt;br /&gt;Air mukanya menampakan kebijaksanaan. Ia menggunakan gaya bahasa Mikail yang mendayu kalbu. Penuh keramahtamahan.&lt;br /&gt;“Cay, di bulan lalu saya pernah menanyakan hal itu. Mengenai cinta. Karena saya masih penasaran. Waktu itu kamu hanya menjawabnya suka saja. Kamu akan menjelaskannya nanti saja. Sekarang saya ingin minta ketegasan darimu. Apakah kamu betul-betul mencintai saya?” ujar saya.&lt;br /&gt;Bola mata saya langsung menatap bola matanya yang penuh cahaya kejelian. Indah dan cemerlang.&lt;br /&gt;“Maaf Bulan, kalau ditanya soal cinta saya tidak bisa menjawabnya.”&lt;br /&gt;“Mengapa? Apakah kamu tidak mencintai saya?” potong saya.&lt;br /&gt;Saya kesal. Kambuh lagi penyakit lama. Suka tidak sabaran. Gara-gara ia juga. Ia yang selalu membuat saya penasaran. Saya tidak sadar. Jangan-jangan ia menguji kesabaran saya. Tapi sudah telanjur terjadi. Hal itu tak dapat ditarik kemabali. &lt;br /&gt;“Saya tidak dapat memberikan jawabannya sekarang.”&lt;br /&gt;“Kamu hanya ingin memainkan perasaan hati saya ya, Cay?” kata saya.&lt;br /&gt;Saya mulai emosi. Lupalah dengan puasa yang sedang saya jalani. Bahwa dalam berpuasa saya tidak boleh marah.&lt;br /&gt;“Tidak, Bulan. Saya malah salut dengan keteguhan hatimu. Saya tetap suka padamu.”&lt;br /&gt;“Bukan itu yang saya inginkan. Kata cinta, Cay! Apakah kamu tidak mengerti?”&lt;br /&gt;“Saya mengerti, Bulan.”&lt;br /&gt;“Kalau kamu mengerti. Mengapa kamu tidak mau mengatakan cinta? Kalau kamu memang mencintai saya, Cay?”&lt;br /&gt;“Tidak susah, Bulan. Tapi waktunya belum tepat untuk saya ungkapkan.”&lt;br /&gt;“Mengapa belum tepat?”&lt;br /&gt;“Alasannya tidak dapat saya katakan sekarang.”&lt;br /&gt;“Kapan lagi, Cay? Nanti saya tidak betah menunggumu. Jangan-jangan kamu menganggap saya hanya sebagai sahabatmu saja.”&lt;br /&gt;Terlontar kata itu dari mulut saya. Seharusnya kata itu tidak boleh saya ucapkan. Kamu tersentak pelan. Tapi kamu masih bisa tersenyum.&lt;br /&gt;“Subhanallah, Bulan. Sadarlah. Sangkaanmu sudah terlalu jauh. Sepertinya kamu sudah dikendalikan setan. Istighfar Bulan. Ucapkan asma Allah Bulan.”&lt;br /&gt;Katamu masih lembut menasihati saya. Tidak sedikit pun terpancar rasa marah di matamu yang indah dan cemerlang.&lt;br /&gt;Saya tersadar dari kekhilafan ini. Saya beristighfar. Bertobat. Mengakui kesalahan yang barusan saya lakukan tadi. Kamu memegang bahu saya dengan penuh kearifan dan afeksis. Menyalurkan sebuah hawa murni ketenangan dan kedamaian.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, Bulan. Kamu sudah dapat menguasai keadaanmu. Baiklah Bulan, agar kamu tidak gregetan terus dengan kata cinta itu. Saya akan memberitahukannya padamu. Kata cinta itu akan saya utarakan di akhir bulan dalam hitungan tahun ini. Jadi saya harap, kamu bisa bersabar menantinya. Di akhir bulan itu, saya ungkapkan dengan sejelas-jelasnya kata cinta itu beserta alasannya,” katamu lemah lembut.&lt;br /&gt;Saya hanya terdiam. &lt;br /&gt;Dalam hati saya merutuk. Mengapa saya belum mampu bersabar seperti yang kamu lakukan? Tapi saya berikrar dalam hati. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat bersabar sepertimu.&lt;br /&gt;“Maafkan perkataan saya tadi, Cay?” &lt;br /&gt;Mata saya berkaca menunjukkan tanda penyesalan yang tulus.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Bulan. Kesalahanmu sudah saya maafkan. Saya mengerti dengan apa kamu lakukan tadi. Yang kamu lakukan adalah sebuah kewajaran. Tapi kamu harus ingat. Dalam melakukan sesuatu harus diperhitungkan dampaknya,” jawabmu.&lt;br /&gt;Saya mengangguk tanda mengerti.&lt;br /&gt;“Bulan, saya harus pamit meninggalkanmu. Karena getaran dentingan jiwa kenangan harumnya keabadian sudah memanggil nyaring dalam sukma saya untuk pulang ke peristirahatan saya yang berada di atas sana,” tunjukmu dengan keyakinan mantap.&lt;br /&gt;“Yalah, Cay,” jawab saya.&lt;br /&gt;Saya akan berbuat tegar ditinggalkannya lagi. Tidak mengapa. Inikan cuma sementara saja.&lt;br /&gt;“Begitu dong baru teman sejati kehidupan saya yang hakiki,” pujimu dengan kesadaran yang tulus.&lt;br /&gt;Saya hanya bisa tersenyum bahagia. &lt;br /&gt;Lalu dengan kepakan sayap Malaikat Jibril yang bergemuruh seperti gemuruh gelombang ombak Tanjung Batu, Kendawangan yang menghempas tebing batu tajam, kamu meninggalkan saya menembus kemolekan taburan awan kepurihan menuju langit permadani peraduanmu.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syawal, gong kemenangan di lintasan langit cerah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tiga puluh Ramadan adalah malam terakhir berpuasa atau malam menyambut lebaran. Idul Fitri. Suara goncangan badai tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bergema mengumandang keras membahana. Terdengar di seluruh penjuru dan pelosok negeri ini. &lt;br /&gt;Gema suara tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir itu berisi puji-pujian tentang kemahabesaran Allah dan kesenangan untuk menyambut hari lebaran.&lt;br /&gt;Hari lebaran akan diadakan besok pagi untuk semua umat Nabi Muhammad saw. Khususnya hari lebaran untuk orang-orang yang sebenarnya telah mencapai kemenangannya dalam menjalankan puasanya sebulan penuh.&lt;br /&gt;Saya asyik bermain dengan cahaya rembulan di malam terakhir puasa ini sambilan tak henti-hentinya kecantikan mulut saya melafazkan asma yang memuja dan memuji keagungan dan kemahabesaran Allah. Saya lakukan itu dari malam sampai esok harinya.&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali kamu sudah hadir di hadapan saya dengan tampilan yang tidak pernah berubah. Sederhana.&lt;br /&gt;“Maaf ya Bulan, di kecemerlangan bulan ini saya tidak dapat memberikan kamu oleh-oleh yang berwujud barang atau benda. Tetapi saya hanya dapat memberikan kamu oleh-oleh yang berupa ketulusan jiwa dan keikhlasan penuh,” ujarmu.&lt;br /&gt;Keningmu sedikit berkerut menandakan ketaksegaran seperti hari biasanya. Karena kamu merasa bersalah tidak bisa memberikan saya oleh-oleh berupa barang atau benda seperti bulan-bulan sebelumnya.&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, Cay. Saya tak pernah berharap berlebihan untuk dapat diberikan oleh-oleh berupa barang atau benda. Kamu ada di samping saya saja sudah merupakan oleh-oleh terbesar yang saya dapatkan. Janganlah kamu merasa tak enak hati. Kalau tak ada oleh-olehnya pun, saya tidak berkecil hati.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Bulan atas pengertianmu ini. Untuk itu pejamkanlah matamu dan pusatkanlah pikiranmu hanya tertuju pada Allah SWT. Semoga oleh-oleh yang saya berikan ini yang ditransfer lewat batin akan berjalan dengan baik dan lancar. Sebelum saya menyuruhmu membuka mata. Janganlah kamu membuka matamu. Karena hal itu akan menghilangkan pentransferan ini. Kalau hal itu sampai terjadi berarti selamanya ketulusan jiwa dan rasa keikhlasan penuh, tidak akan dapat diberikan padamu. Kamu tetap tidak memiliki hal itu. Disamping itu, gejala seperti ini adalah sebuah isyarat atau pertanda bahwa hubungan kita semakin kabur dan selanjutnya akan terputus dan tercerai berai. Bisakah kamu memahami apa yang saya katakan?”&lt;br /&gt;“Bisa, Cay.”&lt;br /&gt;“Kamu sudah siap Bulan menerima oleh-oleh ini?”&lt;br /&gt;“Insya allah, Cay. Saya sudah siap sepenuh hati untuk menerimanya.”&lt;br /&gt;“Baiklah, Bulan. Kita lakukan sekarang,” katamu lirih penuh kewibawaan. &lt;br /&gt;Saya menjalankan apa yang telah kamu perintahkan. Mata saya terpejam. Konsentrasi saya mantapkan. Kalbu saya menggemakan zikir dan doa untuk memohon keberkahan dan ridho dari Allah SWT. Semoga apa yang saya minta dapat dikabulkan-Nya. &lt;br /&gt;Seketika itu saya merasakan ada hawa murni yang merembes masuk dalam tubuh saya. Sejuknya. Awalnya hanya perlahan demi perlahan. Berikutnya semakin banyak. Membuat badan saya menggigil merambah dingin. Beku. Saya tetap bertahan menguatkan jiwa. Saya berhasil melakukan itu. Saya tidak merasakan apa-apa lagi. Jasad saya sudah membeku karena hawa murni itu. Kamu hanya tersenyum melihat kebekuan jasad saya.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, cukup tabah dan tegar. Dia berhasil melakukannya.”&lt;br /&gt;Kamu membangunkan saya dengan memberikan hawa panas yang penuh kehangatan untuk mengusir kedinginan dan kebekuan itu. Saya terjaga.&lt;br /&gt;“Bulan, pentransferannya sudah selesai. Kamu telah berhasil,” ujarmu dengan senangnya. &lt;br /&gt;“Alhamdulillah, Cay,” sahut saya lirih. &lt;br /&gt;Rasa terima kasih dan puji syukur saya panjatkan juga pada Allah SWT. Karena dia telah meluruskan jalan pentransferan ini yang dapat berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan diinginkan.&lt;br /&gt;“Bulan, mari kita rayakan kemenangan ini” &lt;br /&gt;“Mari Cay,” sahut saya dengan penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;Kita sama-sama menghabiskan hari kecemerlangan bulan ini dengan mengakrabkan tali silaturrahmi pada tetangga dalam tujuan untuk saling maaf memaafkan atas kesalahan yang dilakukan supaya kembali suci lagi. Nirmala. Kalis tak bernila sepercik dosa seperti layaknya anak bayi dilahirkan ke dunia. &lt;br /&gt;Kamu kembali lagi ke peristirahatanmu dengan gebrakan kepakan sayap Malaikat Jibril. Akan datang lagi pada bulan Dzulkaedah. Saya bangga melepaskan kepergianmu dan selalu setia menantimu hadir lagi di hadapan saya.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzulkaedah, risalah akan sedikit lagi bersembunyi di lemari jati keistimewaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ini hanya bulan yang biasa saja. Kamu hanya datang sebentar. Hanya sekedar untuk melepaskan kerinduan. Satu kali saja. Hanya membagi kekangenan. Biar bisa tersalurkan dengan baik. Di bulan ini tidak ada hadiah istimewa yang kamu bawakan setiap bulan biasanya. Walaupun begitu, saya tetap menyayangimu. Setia menunggumu di bulan berikutnya.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dzulhijjah, bening kalbu di kaca tanpa debu dan risalah mendekam di pintu emas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal delapan bulan ini, kamu sudah menampakan batang hidungmu. Namun, bawaan dalam tampilan pakaianmu sedikit berubah. Kamu mengenakan pakaian putih yang hanya diselempangkan saja, tidak ada jahitannya. Saya kaget menyaksikannya. Saya menanyakan keganjilan itu padamu.&lt;br /&gt;“Cay mengapa kamu berpakaian seperti ini? Ada kematian ya?” &lt;br /&gt;“Tidak ada. Tapi, saya mengenakan pakaian ini untuk mengajakmu menyucikan kalbu supaya bersih bening. Ini ambillah pakaian dan kenakanlah. Kita akan berangkat ke suatu tempat untuk menyucikan kalbu,” jawabmu seraya menyerahkan selembar pakaian mihrab. &lt;br /&gt;Saya tidak bertanya dan mengambil pakaian itu dan mengenakannya di tubuh saya. Kemudian kamu sudah menggenggam jemari tangan saya dan menuntunnya menaiki sayap Malaikat Jibril. Walaupun di kepakan sayap Malaikat Jibril saya merasa gemetar, namun saya coba atasi hal tersebut hingga saya bisa tenang. &lt;br /&gt;Dengan kegemuruhan yang berwibawa kepakan sayap Malaikat Jibril membawa saya bersama Cay ke sebuah tempat yang telah dipadati jutaan manusia. Kami diturunkan di terowongan Mina. Lalu melanjutkan safari ke Muzdalifah. Singgah di Madinah di masjid Nabawi. Kami juga menyambangi Safa dan Marwa dengan melemparkan buah kerikil sebanyak tujuh kali. &lt;br /&gt;Selama perjalanan, saya tidak pernah menanyakan apa-apa. Terpenting apa yang kamu suruh selalu saya lakukan dengan rasa ikhlas dan penuh ketenangan jiwa. &lt;br /&gt;Akhirnya sampailah kita di kerumunan orang banyak yang beragam kulitnya. Ada yang berwarna putih. Ada yang berwarna kuning. Ada yang berwarna merah, dan lain sebagainya. Lagi melakukan puja dan puji syukur pada Allah SWT sambilan mengitari batu hitam tergantung di tengah angkasa. Kami masuk dalam lingkaran itu dan melakukan pula apa yang mereka kerjakan.&lt;br /&gt;Di situ saya diberi pelajaran atas semua kesalahan yang pernah saya lakukan sehingga menyadarkan saya bahwa kesalahan itu benar-benar menyusahkan diri saya. Di situ kamu juga menerangkan bahwa ini adalah tempat penyucian jiwa dan kalbu. Di situ saya merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian yang begitu alamiahnya. Begitu sejuk dan intensnya. Merasuki seluruh pori-pori pembuluh darah saya. Sehingga pembuluh darah saya merasakan kenikmatan tersebut.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah. Puji syukur pada-Mu, Yaa Allah SWT. Kamu telah memberikan anugerah terbesar dalam hidup saya,” lirih gelombang kalbu kepasrahan saya mengempas pantai keikhlasan. Begitu mesra deburannya yang tidak pernah saya lupakan seumur hidup saya. Sweet memory. Beatiful day.&lt;br /&gt;Setelah selesai penyucian itu, kamu pun mengantarkan saya kembali ke tempat kediaman saya dan memberitahukan suatu hal bahwa kamu akan menjelaskan cinta yang pernah saya tanyakan sebelumnya. Saya hanya bisa tersenyum. Tidak banyak meminta seperti dulu. Hanya bisa menganggukkan kepala dengan pelan tanda mengerti dan menyetujui apa yang kamu utarakan. &lt;br /&gt;Sekilas. Sedetik. Sempat pula saya termenung. Memikirkan kamu. Kamu yang selalu menghadirkan mawar kemerahan kalbu saya. Kamu selalu menghiasi oreon bersinarkan kejora dalam sanubari saya. Membuat saya sempat terlena. Seakan saya hidup di surgaloka. Penuh dengan ketenangan. Air sungainya mengalir jernihnya melintasi aluran sungai demi sungai serta memberikan kecerahan hidup pada pematang sawah penduduk yang memang memerlukan air tersebut. Pepohonannya segar menghampar dan buahnya ranum-ranum. Sudah siap untuk dinikmati dengan penuh kebanggaan. Penduduk semuanya ramah-tamah dan bersahabat serta menghiasi cerianya rembulan di pelupuk bibir. Saya terkejut saat tangan halusmu menyentuh putihnya bahu lembut saya.&lt;br /&gt;“Bulan, janganlah engkau terlalu larut dalam perenunganmu. Apa yang kamu renungkan itu Insya Allah akan kamu peroleh?”&lt;br /&gt;“Betul Cay!” pelotot mata saya membesar.&lt;br /&gt;“Betul Bulan. Karena kamu sudah lulus mengatasi rintangan itu. Cuma tinggal satu saja, yaitu mengenai cinta yang kamu tanyakan pada saya. Bila kamu juga lulus mengerti tentang cinta itu, maka kamu akan terus bersama saya menikmati apa yang kamu lakukan. Bulan, hari ini saya akan memberitahukan kamu tentang cinta tersebut. Apa kamu sudah siap mendengarnya?”&lt;br /&gt;“Sudah siap Cay!” jawab saya berbunga-bunga mengembangkan keharuman.&lt;br /&gt;“Bulan. Sesungguhnya saya sangat sayang dan kasih terlalu padamu. Karena sayang dan kasihlah yang bisa saya berikan. Itu semua sudah melebihi yang namanya cinta. Sedangkan cinta saya tidak bisa diberikan padamu?”&lt;br /&gt;“Ah?” kelu bibir saya sebentar. &lt;br /&gt;Sebenarnya apa bedanya kasih sayang dan cinta. Cay, rupanya kamu tidak mencintai saya. Menimbulkan penasaran juga. Dia sayang dan kasih sama saya, tapi tidak cinta. Sebenarnya cinta dia itu kemana… Saya ingin tau juga.&lt;br /&gt;“Cay, mengapa kasih dan sayang saja yang dapat kamu berikann pada saya? Cintamu, kamu berikan pada siapa?” kata saya penasaran. &lt;br /&gt;Mulai lagi preseden buruk bermain dalam logika. Dengan sanubari yang sudah dibeningkan dan kalbu sudah dibersihkan, saya mentahkan preseden buruk itu.&lt;br /&gt;“Cinta saya sepenuhnya sudah saya berikan pada DIA yang begitu mulia, yang berada di atas sana.”&lt;br /&gt;“Cay, yang ada di atas sana kan banyak. Mega putih, pelangi indah, bintang orion bersama temannya, lingkaran lazuardi, cakrawala megah, tingkatan langit, dan lain sebagainya. Jadi mereka yang mana yang telah kamu berikan cinta?”&lt;br /&gt;“Yang Maha Segalanya. Yang menciptakan kita.”&lt;br /&gt;“Oh………….” &lt;br /&gt;Saya mulai mengerti.&lt;br /&gt;“Oleh karena itulah Bulan, saya tidak mau mengatakan cinta padamu. Malahan saya mengatakan suka, kasih, dan sayang padamu. Sebab saya tidak mau berbuat curang atau tidak jujur pada-Nya dan padamu. Sebab cinta saya sudah sepenuhnya pada-Nya. Sebenarnya tidak hanya cinta saya, cinta kamu juga seyogyanya teristimewa untuk-Nya. Jangan mengistimewakan yang lain. Itu adalah perbuatan yang keliru dan salah. Perbuatan yang hanya menyesatkan kita. Akan membuat penyesalan dalam diri kita. Jikalau kita sudah mengerti hakikat cinta itu sebenarnya. Sedangkan supaya terjalin hubungan mesra antarsesama kita maka diberikan-Nya yang namanya kasih sayang, hampir sama dengan cinta. Supaya kita dapat merasakan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan yang tiada terkirakan.&lt;br /&gt;“Begitu ya Cay?” &lt;br /&gt;“Begitulah Bulan. Nampaknya kerutan waktu kita untuk berpisah sudah membisikan sesuatu yang aduhai dalam jiwa saya. Dia sudah memanggil-manggil. Di sini untuk terakhir kalinya, saya akan meminta ketulusan jiwa dan kebersihan kalbumu agar rela atau tidak dalam menyatukan semua yang ada padamu bersama saya untuk beristirahat bersama di peraduan mahligai di atas sana. Menemui renunganmu dan segala yang kamu impikan. Jikalau kamu tidak rela, jangan dipaksakan. Saya tidak ingin menerima sesuatu yang terpaksa,” katamu dengan tatapan kesegaran, kerlingan mata cemerlang, dan goresan kanvas kalbu yang begitu apa adanya dan bernilai artistik. &lt;br /&gt;Saya tidak menimbangnya lagi langsung saja menerima keputusanmu. Karena itulah yang saya inginkan selama ini, agar bisa bersatu selamanya denganmu.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah Bulan, kamu cepat mengerti!” &lt;br /&gt;“Marilah kita bersama-sama ke sana,” ujarmu &lt;br /&gt;Kemudian kamu memegang jemari kehalusan tangan saya untuk menaiki kepakan sayap Malaikat Jibril. Saya menurut saja. Kepakan sayap Malaikat Jibril mengembang lebar, memudahkan kami duduk dengan leluasanya. &lt;br /&gt;Di atas sana. Hawa ketenangan dan kedamaian menghampar. Merasuki tubuh kami. Saling memberikan kehangatan ikhlas yang begitu kentalnya. Saling memberikan ketulusan begitu mempesonanya. Terdengarnya tetabuhan berencah pesona gemilang. Merdu terdengar di telinga. Lantunan seninya yang hakiki, menyambut kedatangan kami. Memang sudah mereka tunggu-tunggu. Sama-sama bergabung dengan mereka untuk memeriahkan kesenangan dan kedamaian yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rantau Panjang, Oktober 2003&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4182063737834179320?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4182063737834179320/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4182063737834179320' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4182063737834179320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4182063737834179320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/10/in-memoriam-bulan.html' title='In Memoriam Bulan'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-481778014217529489</id><published>2007-09-23T07:35:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T05:29:55.041-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Putri Pajangan</title><content type='html'>Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona menghampar. Pemandangan artistik terpampang jelas. Puluhan orang memadati kursi yang telah disediakan.&lt;span class="fullpost"&gt;.  Bukan puluhan orang, bahkan bisa jadi ratusan orang. Berjubel. BerdesakanSaling kepanasan. Keringat mengucur mengelusi bahu, pipi, dan wajah bagian atas. Lampu pentas yang memiliki seribu pesona berkejaran lincahnya dari kiri ke kanan serta melakukan gaya sentripugal, teratur, dan kontinuitas. Kadangkala lampu pentas menyorot ke satu arah yang dituju. Membentuk bulatan atau lingkaran bulat penuh. Tentulah yang jadi sasaran atau mangsanya adalah para pemain teater yang memerankan naskah malam ini.&lt;br /&gt;Pementasan malam ini dihadiri tamu kehormatan provinsi, yaitu Pak Gubernur beserta rombongannya. Mereka terlihat asyik bercengkerama dengan para kroninya. Membicarakan masalah kemajuan provinsi di masa mendatang. Langkah-langkah apa saja yang harus diambil? Bagaimana caranya mengatasi kendala apabila ada?&lt;br /&gt;Terlihat dari sekian undangan. Ada yang tertawa-tawa berbau lisong politik ular. Ada yang berkomentar bersangitkan kelicikan tikus. Ada yang larak-lirik mencari gaetan dengan dibumbui mata liar sang kancil. Ada yang ngomong slebor, ngalor ngidul, harmoko! Pokoknya beraneka ragamlah gaya. Politis!&lt;br /&gt;Pementasan ini digarap tiga sanggar terkenal di kota ini. Dengan mengirimkan para pemain terbaiknya dalam melakukan kolaborasi mementaskan naskah ASAL MULA KERAJAAN PONTIANAK. Dengan melakukan kolaborasi itu diharapkan dapat menciptakan tampilan yang serasi, selaras, seimbang, apik, dan menarik membuat penonton berdecak kagum. Bila perlu kekaguman itu mereka keluarkan sampai terkentut-kentut atau berair mata keindahan. Hebat! Hebat! Hebat!&lt;br /&gt;Pementasan naskah ASAL MULA KERAJAAN PONTIANAK berjalan lancar, tidak ada halangan sedikit pun, dengan perahu lancang kuningnya melancar membawa orang-orang yang menonton pada pulau kekaguman yang maha dahsyat. Terpana. Bengong ayam. Karena belum pernah mereka melihat pementasan yang semenarik dan sebaik pementasan saat malam tenang meniduri embun kali ini. Sampai-sampai Pak Gubernur melontarkan harumnya kembang mewangi, terutama pada aktor pria yang diperankan saya dan aktor wanita yang diperankan wanita cantik molek anak asuhan Sanggar Bangsawan.&lt;br /&gt;“Kerja kalian sukses sekali,” tepuk Pak Gubernur pada bahu ketua panitia pementasan.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah Pak!” sahut ketua panitia pementasan dengan wajah berseri-seri.&lt;br /&gt;“Kalau ada pertunjukan hiburan di instansi saya. Bolehkan saya dihibur lagi pemain-pemain bagus malam ini? Apik sekali mereka bermain. Improvisasi yang bagus. Ini ada sedikit uang untuk sekadar pembinaan supaya kesenian ini bisa dikembangkan lebih baik lagi,” lanjut Pak Gubernur menyerahkan segepok uang dalam amplop tertutup pada ketua panitia pementasan.&lt;br /&gt;“Terima kasih Pak atas semuanya ini. Mengenai keinginan Bapak, nanti saya konfirmasikan dengan mereka,” jawab ketua panitia lalu mengambil amplop tersebut.&lt;br /&gt;Pak Gubernur menyalami semua panitia pementasan. Tak terkecuali para pemain malam ini. Saya dan dia dapat tepukan hangat tanda kepuasan. Apa yang dilakukan Pak Gubernur diikuti oleh rombongan yang lain. Selanjutnya tempat pementasan tinggal sunyi mematung bisu. Cuma tinggal kami yang asyik berganti pakaian.&lt;br /&gt;“Kamu bermain sangat bagus,” puji saya padanya.&lt;br /&gt;“Kamu juga main sangat bagus. Saya betul-betul senang malam ini mendapatkan pasangan main yang klop seperti kamu. Biasanya pasangan main saya grogi, tidak bagus memerankan aktingnya. Padahal kalau dipikir sudah lama dia berlatih sebelum ini. Kok bisa kagok ya? Alasannya simpel saja. Katanya, dia tidak mampu berhadapan secara terbuka dengan saya. Saya punya mata setajam elang yang meluluhlantakan keberaniannya. Saya punya pesona yang menyilaukan pandangan matanya sehingga kekagokan terjadi. Gombal! Bau hipokrit! Seharusnya dia bisa menguasai diri. Jangan membawa terlalu dalam perasaan hati atau persoalan kalbu kalau kita sedang main peran. Persoalan peranlah yang seharusnya diatastinggikan. Kamu tidak kok. Kamu malah santai dan rileks. Itu baru penghayatan yang apik dan gentleman. Itulah intinya bermain peran,” rendahnya suaramu mengumbarkan sayup-sayup mendayu buluh perindu.&lt;br /&gt;“Yang betul?”&lt;br /&gt;“Betul deh. Asli tidak adanya dilandasi unsur politis. Murni.”&lt;br /&gt;“Kalau begitu, terima kasih ya atas komentarnya.”&lt;br /&gt;“Kalau sekiranya saya mengajak kamu main bareng lagi. Bersediakah kamu memenuhi ajakan ini?”&lt;br /&gt;Saya membesarkan dada. Banggalah! Karena mendapat pujian manis darinya yang hanya segelintir buih busa di lautan terbuka. Sudah kegedean rasa. Dasar pendeknya pikiran! Dasar tumpulnya pertimbangan! Setan lebih banyak berperan pada kesempatan ini. Wow, sombonglah! Sombongkan tidak boleh karena sombong penghancur tatanan kehidupan yang dibina dengan baik.&lt;br /&gt;“Tidak mau ah.”&lt;br /&gt;“Kenapa?”&lt;br /&gt;“Karena kamu sudah kegedean rasa. Sudah membanggakan diri. Itu yang saya tidak suka.”&lt;br /&gt;“Ha……Ha……,”&lt;br /&gt;Tawa saya berderai memecahkan meja kaca. Serpihan beling-belingnya amblas menembus lantai. Tidak menimbulkan jejak sedikit pun. Raib. Kamu kaget, bingung, dan merasa aneh. Terpikir oleh otakmu dengan kata penolakan ini saya akan marah dan cemberut. Tapi saya malahan tertawa. Sungguh aneh bin sinting.&lt;br /&gt;“Samaaaaaaakkkkkkkkkk.”&lt;br /&gt;Saya mulai serius lagi. Lempang.&lt;br /&gt;Ini pasti kerjaan seniman. Improvisasi. Bermain peran lagi, kajimu dalam hati.&lt;br /&gt;“Akting ya?”&lt;br /&gt;Saya hanya memunculkan sedikit rembulan di kelangitan bibir yang gersang. Maklum belum meneguk air putih. Kehausan. Sebab suara sudah tersalurkan begitu banyak selama bermain peran dalam pementasan tadi. Sedikit sinar rembulan yang dilemparkan dengan granat waktunya sejuk menghampar dan mengimbas sekujur dirimu sehingga tubuh dan wajahmu memantulkan kilauan air emas yang menyepuh. Sungguh indah di kaca seni mata. Saya kaget.&lt;br /&gt;“Wow, pelangi artistik. Akting ya?” balik saya yang mendepaknya.&lt;br /&gt;Kamu langsung tertawa renyah, serenyah kacang garuda cap dua kelinci. Melepaskan uneg-unegmu yang menyangkut di selokan perasaan. Memuntaskan kejanggalan di jiwa. Melahirkan keceriaan di sanubari dan kalbu terdalam.&lt;br /&gt;“Aneh ya?”&lt;br /&gt;“Tentu dong. Kalau tidak aneh mana mungkin saya ketawa. Kalau sekiranya penyebabnya tidak ada, saya ketawa. Nanti dikira sinting lagi.”&lt;br /&gt;Memang sinting, mengumpat saya pada kalbu.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kehidupan seorang seniman. Selalu merasuki dunia kegilaan tetapi dengan pikiran yang tidak gila, waras. Walaupun hal itu dilihat orang adalah kegilaan. Orang yang memandang pekerjaan seniman adalah gila, orang yang tidak tahu menahu atau paham dengan jiwa seni. Kalau kiranya dia paham atau mengerti dengan jiwa seni maka dia juga akan merasakan kegilaan itu. Kegilaan yang menimbulkan sebuah kenikmatan. Layaknya sebuah makanan lezat yang terhidangkan di setiap pesta, pesta apa saja baik pesta pantai, pesta perkawinan, pesta ulang tahun, dan masih banyak lagi pestanya. Sebab kegilaan ini menuntun orang untuk meraih setitik sinar rembulan berpelukan erat dengan sinar matahari dalam tabung terdalam perasaan sanubari. Kebahagiaan alamiah. Tidak pernah ada yang mencemarinya. Murni hadir menghiasi kehidupannya. Kegilaan itu juga membuat kita menemukan hakikat jati diri kita yang hakiki.&lt;br /&gt;“Dari tadi kita asyik berhaha…hihi…saja dan glunoran terus. Nanti bisa kebablasan dan bocor.”&lt;br /&gt;“Ember kali.”&lt;br /&gt;“Bisa jadi. Betul. Tapi itukan bumbu kehidupan biar enak begitu.”&lt;br /&gt;“Shiiippppppp…………………”&lt;br /&gt;“Namun, jangan terlalu berlebihan nanti rasanya tidak enak.”&lt;br /&gt;“Betul.”&lt;br /&gt;“Oh ya Man, kamu anak Sanggar Topeng atau anak Sanggar Kiprah?”&lt;br /&gt;“Anak asuhan Sanggar Kiprah. Kamu, kalau saya coba menerka dengan melihat wajahmu yang cantik dan pernik dandananmu yang apik dan modis soo pasti tidak meleset lagi, pasti kamu anak asuhan Sanggar Bangsawan. Ya, kan?”&lt;br /&gt;“Tepat sekali. Peramal ya?”&lt;br /&gt;“Tidak cuma sedikit. Kalau banyak nanti mabuk.”&lt;br /&gt;“Kayak minuman beralkohol saja. Bikin mabuk segala.”&lt;br /&gt;“Bisa sajakan…?”&lt;br /&gt;“Ya, deh…….”&lt;br /&gt;“Girl. All right. Introduce. My name is Maksum.”&lt;br /&gt;“Saya Puput Trinarwangsih, cukup dipanggil keren Putri.”&lt;br /&gt;“Putri pemukau penuh aneka warna asri.”&lt;br /&gt;“Hust, gombal melulu. Baru saja kenalan sudah pandai gombal gede. Apalagi kalau sudah akraban. Bisa-bisa gombalnya setinggi Gunung Kinibalu.”&lt;br /&gt;“Tinggi amat…… tidak kecapaian. Kamu juga harus tahu bahwa gombal adalah bagian dari bumbu seniman dalam berkelakar.”&lt;br /&gt;“Ah, bisa saja kamu.”&lt;br /&gt;“Ya, dong. Sayakan seniman.”&lt;br /&gt;“Memuji ni ye…….”&lt;br /&gt;“Yalah. Lebih baik memuji diri sendiri dulu, sebelum dipuji orang lain. Tahu diri. Kan ada manfaatnya. Tambah kepercayaan diri dan memantapkan keyakinan. Bisa saja pujian ini menebal setebal ban mobil Cantona, kalau orang lain juga melakukan pujiannya. Kalau pun tidak, tidak rugi-rugi amat. He….he….”&lt;br /&gt;“Ya, deh. Kreatif…….”&lt;br /&gt;Saling berjabat tangan juga kami. Mengikrarkan sebuah persahabatan yang nirmala.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The art is your life. Kesenian adalah kehidupanmu.&lt;br /&gt;Setiap ada perlombaan atau pementasan seni, kamu selalu hadir dan tampil. Begitu juga saya. Sama-sama mempunyai kegemaran atau hobi yang mirip atau serupa. Sama-sama menyukai kesenian. Tanpa terasa keintiman merajut jalinan kehidupan kita sehingga teman-teman hanya bisa mengiaskan kita bagaikan Romeo dan Juliett. Benarkah itu semua? Tidak pernah ada jawaban yang diberikan. Yes or no. Semuanya dibiarkan saja berlalu.&lt;br /&gt;Sebenarnya kalau ingin tahu bahwa Romeo dan Juliett adalah sebuah tampilan kanvas lukisan percintaan muda-mudi di masa depan yang dilukiskan William Shakespeare. Imajinasi. Hanya berupa fantasi. Sampai kini karya emas William Shakespeare masih dijadikan amulet masyarakat umum.&lt;br /&gt;Kalau sekiranya ada dari mereka menyaksikan atau mengalami percintaan yang selalu tidak ingin dipisahkan, cinta Romeo dan Juliettlah. Busyet! Pemanis mulut dalam bicara saja. Eufimisme. Adat timur selalu dipakai. Selalu mengembangkan sikap tabularasa. Kasihan deh. Tidak pernah mengatakan yang sejujurnya. Politis!&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir talk show MEMBIDIK MASA DEPAN OLEH DERAP SASTRAWAN, salah satu pembicaranya adalah saya. Kamu menghadirinya dengan antusias sampai selesai. Dilanjutkan dengan acara hiburan berupa pementasan baca puisi, pantomim, tablo, dan kegiatan seni yang lainnya.&lt;br /&gt;Putri. Kamu menjadi MCnya. Anggun tampilanmu. Makin memantapkan keyakinan saya bahwa kamu adalah sosok mahluk Allah yang terbaik dari kecantikanmu, yang memancar indahnya.&lt;br /&gt;Saya tersentak seperti disengat beribu bahkan berjuta kalajengking. Linglung. Bingung. Mendengari teman-teman menggelari kamu putri pajangan. Apa penyebabnya?&lt;br /&gt;Padahal kalau saya perhatikan kehidupanmu. Kamu bukanlah merpati yang terkurung dalam sangkar emas, tetapi kutilang yang melanglang buana mengitari dunia dengan kesenanganmu untuk menggenggam matahari. Padahal kamu bukanlah ilalang di padang gersang atau kaktus di gurun pasir tetapi kamu adalah bunga bakung di tepian aluran pantai atau air terjun di Gunung Palong.&lt;br /&gt;Aneh? Ada misteri dirimu yang belum tersingkap di balik kabut kehidupan ini. Mungkin masih ditutupi oleh halimun tanah berputar ligat menerbangkan angin. Masih tertutup dalam ketidakmengertian. Saya membulatkan tekad untuk menyingkap kemisteriusan dirimu dengan cahaya terang kemengertian untuk melahirkan kebenaran absah. Wujud nyata dari sesuatu yang ingin diketahui. Puas! Bangga!&lt;br /&gt;Saya tahu bahwa mereka yang menggelari kamu sebagai putri pajangan adalah orang-orang yang pernah mencoba mendekatimu. Selalu kandas. Gatot. Putus dayung sampan di tengah lautan sehingga sampannya terombang-ambing terbawa arus lautan. Entah kemana. Linglung. Kamu sepertinya tidak pernah ada tanggapan, selalu menghindar. Ice Cream. Tidak tepat istilah tersebut. Mungkin sedikit mengena adalah Cedin. Cool Girl, keren dikitlah. Semuanya adalah istilah diberikan mereka untukmu selain putri pajangan. Sudah semakin keren dan melangit di lambung awan kehidupan. Dengan alasan, kamu adalah sebuah barang atau benda yang hanya bisa dilihat, dikagumi, dan disanjung-sanjung sepuas hati tentang keindahannya, tapi tidak bisa dimiliki. Alasan kamu melakukan itu, mereka tidak tahu.&lt;br /&gt;Walau maraknya rumor sumbang yang menyudutkanmu, telah beredar terang-terangan tapi saya tetap try continue mengungkapkan kepajanganmu selalu membuat geregetan dengan trik sendiri. Biar puas dan bangga. Kalau berhasil kan menjadi the best. Menjadi orang nomor satu menundukan kebekuan dan kemisterianmu.&lt;br /&gt;Wow, semuanya akan menjadi spektakuler di dunia fantasi. Eksotis di dunia imajinasi. Fantastis di dunia khayalan. Kodok pun ikut menyanyikan dendang bhagawat gita menandakan telah menang perang. Perang menundukanmu.&lt;br /&gt;Malam ini begitu indah apalagi suasana lengang dengan kesunyian menghentak. Menghambur dalam jiwa ini. Ingin mengorek kebenaran dari gayamu, sikapmu, tingkah lakumu, dan kecantikanmu yang begitu penuh pesona.&lt;br /&gt;Salah satu cara yang saya lakukan adalah pendekatan represif. Anehnya setiap kali berbicara tentang kedalaman mawar kalbu mewangi kamu selalu mengindar. Seakan mengisyaratkan penghambatan terhadap lajunya sampan saya ke arah pantai impian rembulan. Mengapa putri? Kamu menutupi hal itu. Pasti ada alasan lain di balik ini.&lt;br /&gt;Saya tidak surut dan gentar dengan alasan yang selalu kamu buat-buat. Malahan saya terus merangsek maju. Keras kepala. Spirit pantang menyerah tidak pernah padam dalam langkah ini walaupun langkah sudah terseok-seok tapi tetap menerjang. Sampai menemukan tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;Saya mengajak kamu menikmati suasana indah di Kafe Olah Seni Taman Budaya Pontianak. Mengambil tempat agak dipojok. Biar leluasa berbicaranya. Memesan sirup advokat dan makanan ringan seala kadarnya. Saya mulai memasang kuda-kuda. Mengeluarkan jurus untuk menaklukanmu. Kalau pun tidak dapat mengorek alasanmu selalu mengindar dari kehidupan berumah tangga dan punya pendamping hidup, diinginkan semua wanita. Berteman akrab saja denganmu sudah lebih sedari cukup.&lt;br /&gt;“Putri, kamu tahu yang dimaksud teman sejati?”&lt;br /&gt;“Tahu Sum.”&lt;br /&gt;“Seperti apaan?”&lt;br /&gt;“Teman sejati adalah teman yang selalu bersama menangis dalam duka dan tertawa dalam kegembiraan. Selalu dekat dalam kehidupan. Tapi sulit nian mendapatkannya. Kalau dalam seribu mungkin hanya satu atau tiga orang saja.”&lt;br /&gt;“Langka sekali ya?”&lt;br /&gt;“Memang begitulah kenyataannya. Karena orang dalam berteman lebih senang berpura-pura serta selalu memakai topeng setiap kala. Topeng monyet, topeng tikus, topeng buaya, dan lebih sadis lagi topeng singa.”&lt;br /&gt;“Kalau teman sejati kehidupan, bagaimana pendapatmu?”&lt;br /&gt;“Teman sejati kehidupan adalah teman selalu bersama kita dalam mengarungi rumah tangga sampai perceraian memisahkan, tidak mungkin kita lepaskan. Setiap kala mendampingi kita karena dia sudah disahkan oleh tali perkawinan.”&lt;br /&gt;“Ada terbetik tidak kamu memiliki teman sejati seperti itu?”&lt;br /&gt;“Ada. Setiap manusia normal pasti mendambakannya. Hanya keterbatasan saya yang menghalangi semuanya ini.”&lt;br /&gt;Terperangkap pula Putri oleh pembicaraan saya. Mulailah saya dapat berlega hati karena tidak lama lagi saya akan dapat menyingkap kabut misteri dalam dirinya.&lt;br /&gt;“Keterbatasanmu seperti apa? Mungkin sebagai temanmu, saya bisa membantu dalam menyelesaikan masalah ini.”&lt;br /&gt;“Ahhhhhhhhhhhhh…… Uhhhhhhhhhhhhhhh……,” lenguhan napasmu keluar menerobos cerobong tanker minyak kafe. Asapnya membulat menembus lubang atap kafe langsung mendekam di langit kepurihan. Kamu tertunduk sekilas. Menekuri dirimu. Hening sejenak yang bersenandung. Terdengar merdu tingkah suara jam beker kafe masih hangat berdentang nyaring. Gemuruh gelombang perasaan saya memuncak teratas di gulungan tertinggi sedang mengganas kala ini.&lt;br /&gt;Cepatlah!!! Cepatlah ungkapkan biar saya mengerti.&lt;br /&gt;Saat mengangkat wajahmu yang terkilau sinar purnama, terlihatlah mendung bergelayut di rona keindahan wajahmu ditambah dengan melelehnya cairan bening air hujan salju merembes perlahan. Pandanganmu sayu.&lt;br /&gt;“Lho mengapa musti menangis? Apakah salah saya bertanya seperti itu?”&lt;br /&gt;Kamu tetap diam membisu. Hanya sinar mata bening peslahmu terus kuyu di balik retina mata indah itu. Cairan bening salju tetap mengalir sejuk perlahan-lahan ke aliran sungai lalu menghilang menembus lantai kafe.&lt;br /&gt;“Maaf ya mas? Sebentar lagi kafenya tutup!” tegur pelayan kafe dengan keramahtamahannya.&lt;br /&gt;“Jam berapa sekarang ya Mbak?”&lt;br /&gt;“Sudah jam 12.00 malam mas.”&lt;br /&gt;“Sudah malam rupanya. Tidak terasa juga ya? Sampai terlupakan untuk pulang.”&lt;br /&gt;“Sum, kita pula saja ya?” lirih bibirmu juga angkat bicara walau dalam kesenduan.&lt;br /&gt;“Yalah, Putri. Karena waktunya sudah menyuruh kita pergi padahal saya ingin berlama-lama denganmu. Tapi tidak apalah untuk kali ini. Masih ada waktu tersisa untuk hari yang lain. Baiklah Putri. Saya pesanannya dulu. Kamu tunggu saja disini.”&lt;br /&gt;“Ehem……,” anggukmu dengan pelan sambil menunggu.&lt;br /&gt;Saya pun membayar pesanan ke kasir. Seterusnya saya mengantarkanmu ke peraduan sunyi.&lt;br /&gt;Gagal lagi saya menyingkap kabut misteri dirimu yang hampir terbuka. Masih belum beruntung! Masih belum mujur! Busyet. Kesal mengumpat-ngumpat dalam hati. Jangan takut dan kecewa sobat, masih ada kesempatan selanjutnya yang tersisa.&lt;br /&gt;Biar tambah semarak. Biar tambah syahdu. Saat ini saya telah jadi detektif mengungkapkan kabut misteri dirimu. Saya memilih lokasi tenang untuk menghabiskan hari denganmu. Penuh obrolan-obrolan segar. Nanti dari obrolan itu akan saya jebak ia agar mengungkapkan keterbatasannya tidak mau kawin atau memiliki pendamping hidup untuk selama-lamanya. Dengan pendamping hidup bisa menjaga dan merawat serta melindungi kita dari segala halangan dan rintangan kehidupan.&lt;br /&gt;Jujur saja. Saya salah satu orang yang telah mencalonkan diri untuk jadi pendamping hidupnya secara blak-blakan saja. Kayak anggota legislatif partai politik saja. Secara terang-terangan mencalonkan diri. Itu perlu. Karena zaman sudah membuatnya seperti begini. Ikuti saja kemauan zaman. Biar tidak dikatakan primitif tapi modernis. Pengikut arus kehidupan zaman.&lt;br /&gt;Sebuah catatan yang perlu diketahui, mengikuti zaman harus disesuaikan dengan kultur dan budaya kita, bangsa Indonesia. Yang memiliki beraneka ragam suku bangsa dan tradisi budaya. Unik untuk dilestarikan. Mencirikhaskan bangsa Indonesia. Yang sekiranya kalau dilihat dari kaca mata internasional mempunyai suatu jati diri yang instan, membedakannya dengan bangsa lain yang ada di dunia ini.&lt;br /&gt;Kafe Tanggui yang berada di Jalan Ahmad Yani II jadi lokasinya. Seperti biasa, kita memesan makanan kecil sekadar untuk menemani dalam mengobrol segar atau mengukir sebuah memori serta nostalgia yang bisa jadi berkesan. Dikenang untuk seumur hayat.&lt;br /&gt;Dipesan adalah dua gelas sirup pepaya dan dua hidangan nasi goreng serta penganan pendukung. Sambil makan kita saling bertukar pikiran dan mengasah kemapuan di dunia seni agar mencapai yang terbaik. Bosan bicara tentang kesenian dan kebudayaan. Saya menyelitkan pembicaraan untuk menyingkap kabut dirimu, belum tuntas seperti pil tuntas saat itu.&lt;br /&gt;“Putri, sepertinya kamu menganggap saya sebagai teman sejatimu hanya dalam tanda kutip.”&lt;br /&gt;“Apa maksudmu dengan tanda kutip, Sum? Apakah kamu sudah punya pikiran bosan berteman dengan saya?”&lt;br /&gt;“Tidak, Putri. Bukan begitu maksud saya. Tapi… maksudnya adalah bahwa kamu baru menganggap saya teman sejati kehidupanmu belum seratus persen diterima. Saya tidak enakan hati sehingga menimbulkan pradugaan yang tidak-tidak. Jangan-jangan…… Jangan-jangan itu saya tidak tahu. Sebenarnya Putri, apa sih alasanmu selalu mengindar dari kenyataan ini? Apakah saya tidak pantas untukmu? Apakah saya bukan tipe teman sejati kehidupan yang masuk dalam daftar kriteriamu?” kata saya.&lt;br /&gt;Kamu terdiam. Tefekur. Merenungkan sesuatu dengan wajah tertunduk. Untung kalau jadi filsuf terkenal seperti Aristoteles, Plato, dan Socrates. Dapat menyumbangkan gagasan pikirannya untuk kemajuan kehidupan orang banyak. Hingga namanya jadi harum semerbak sepanjang zaman berputar di porosnya. Kalau kamu sih paling jadi pilsut. Pikiran selalu kusut. Mengapa musti kusut? Kalau kamu mau berterus terang tentang kekurangan itu maka hal itu bukanlah sebuah kekusutan lagi malahan jadi keterbukaan. Sayangnya kamu masih introvert.&lt;br /&gt;“Putri, kalau selamanya kamu tidak memberitahukannya. Selamanya hidupmu dalam kemisterian dan tertekan selalu,” kata saya lagi.&lt;br /&gt;“Saya sudah terbiasa seperti itu, Sum. Bahkan dari dulunya memang sudah begitu?”&lt;br /&gt;“Dari dulu? Kok bisa begitu. Berarti kamu adalah orang yang pesimistis pada kehidupan. Tidak bisakah kamu optimis menatap rembulan kehidupan ini, Putri!” saya berikan kekuatan padanya agar tegar menjalani kehidupan ini.&lt;br /&gt;“Optimisnya sudah terkubur, Sum. Sudah mati. Sudah jadi arang tidak bisa lagi jadi berlian.”&lt;br /&gt;“Kenapa bisa terjadi begitu?”&lt;br /&gt;“Karena saya adalah wanita yang cacat jiwa.”&lt;br /&gt;“Cacat jiwa bagaimana yang kamu maksud?”&lt;br /&gt;“Cacat jiwa yang begitu dahsyat perihnya untuk diungkapkan oleh seorang wanita. Cacat jiwa yang merupakan cikal bakal pembunuh karakter wanita. Dialah pembunuh sadis bagi wanita. Bibir saya tidak bisa mengatakannya. Begitu berat nian.”&lt;br /&gt;“Mengapa bisa berat?”&lt;br /&gt;“Yang penting beratlah, Sum.”&lt;br /&gt;“Tapi masalahmu bisa saja menjadi ringan, kalau saja kamu mau berterus terang. Sedikit banyak kalau saya sudah tahu masalahmu, sayakan bisa membantu kamu menyelesaikan masalah itu.”&lt;br /&gt;“Tidak bisa, Sum. Saya tidak bisa mengungkapkannya. Sulitlah.”&lt;br /&gt;“Sulit. Sulitlah. Itu hanya alasanmu saja. Sebenarnya kamu adalah wanita abnormal terhadap kehidupan.”&lt;br /&gt;“Tidak……!!!!!!!”&lt;br /&gt;“Kamu wanita hiperlife. Wanita egois. Wanita sombong. Bisa jadi kamu adalah wanita tak punya hati. Otak batu. Mungkin saja kamu hanya memiliki perasaan yang berupa buah kedondong atau sebuah bola nyala api neraka. Selalu hangus membakar orang lain, sakit hati, dan merana.”&lt;br /&gt;“Bukan……!!! Cukupkan katamu, Sum. Saya tidak tahan lagi mendengarnya. Kamu keterlaluan. Kejam sekali kamu menuduh saya seperti itu?”&lt;br /&gt;“Memang begitu kenyataannya,” ketus Maksum berbicara.&lt;br /&gt;“Bukan, Sum. Kenyataannya. Saya adalah wanita yang kurang dalam keberadaan. Karena saya adalah wanita yang tidak memiliki kelamin dan rahim!”&lt;br /&gt;“Hah……? Apa……?” terperanjat saya. Terhenyak di kursi dengan mata melotot tak percaya.&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah alasannya lagi untuk penghindaran. Mana mungkin manusia bernama wanita diciptakan Tuhan tanpa ada kelamin dan rahim. Mustahil. Impossible. Aneh bin ajaib. Kalau tidak punya tangan dan kaki, saya masih bisa terima dan percaya. Kalau ini rasanya saya tidak percaya ah!&lt;br /&gt;“Bohong! Tidak mungkin Putri……………”&lt;br /&gt;“Benar, Sum. Itulah rahasia selama ini saya tutupi,” derai tangismu berhamburan serampangan. Cairannya meleleh dari pipi mungil turun ke bawah. Menempel di kursi dan hilang dalam lantai unik kafe Tanggui.&lt;br /&gt;Tidak! Saya belum bisa terima kenyataan ini. Namun dengan tatapanmu dan pengakuanmu yang jarang berbohong, saya mengiyakan. Kepala saya berputar-putar. Puziiiiiiinggggg……… ! Pikiran kusut membuncah. Terawangannya berkejar-kejaran dengan angin ganas mengombal buih, berderu menghantam kertas-kertas layu gersang. Beterbangan di bawa angin entah kemana. Tidak mungkin lagi saya punya pacar dia? Tidak mungkin lagi.&lt;br /&gt;Ah………pendarnya kehidupan ini. Masam juga lalap makanannya. Uh…………! Bukannya menenangkan kegelisahan dan kesedihan Putri, malahan saya meninggalkannya.&lt;br /&gt;“ Sum, tunggu dulu ! Jangan tinggalkan saya! Saya butuh teman ! Saya butuh kamu !” kejarmu. Saya terus cepat menghindar. Starter vega menderu-deru. Tancap gas kabur meninggalkannya. Sekilas terlihat hanya lambaian tangannya tergapai-gapai memanggil saya kembali. Tinggal bayangan semu.&lt;br /&gt;Setelah menyadari kesalahan saya. Meninggalkannya sendiri dalam kesedihan dan kekalutan. Menunjukan ketidakbijaksanaan saya dalam menanggapi persoalan atau masalah.&lt;br /&gt;Seharusnya, teman sejatikan bisa menenangkan pasangannya bila pasangannya bersedih. Saya justru sebaliknya. Meninggalkannya. Saya salah. Saya sudah bersalah besar padanya. Untuk memperbaiki kesalahan itu, saya harus menemuinya. Tapikan…………! Dia wanita?………Akh, sudahlah. Saya jauhkan dulu konsep yang salah. Sebagai teman saya harus bisa membantu dia dulu. Sungguh kasihan dia !&lt;br /&gt;Tidak !!! Saya tidak boleh membawa nama kasihan dalam membantunya. Tapi benar-benar rasa menolong yang tulus murni. Sebagai teman sejatinya dalam pergaulan. Saya teguhkan ikrar itu. Logis!!!!!!!!!!!!!!!!!&lt;br /&gt;Rumahnya saya datangi. Nampak sepi-sepi saja.&lt;br /&gt;“Assalamualaikum wr. Wb,” seruan saya bergema. Diam sebentar.&lt;br /&gt;Saya pencet bel pintu. Belnya berdering-dering. Suara tawon beribuan mengaung-ngaung. Tidak ada terdengar derap langkah mendekati pintu. Hati pun sudah kebat-kebit. Bosan mulai menjamah dengan senangnya. Hilir mudik berjalan dilaksanakan di depan pintu dengan jarak 10 meter. Kemana ya dia? Coba lagi ah. Belnya saya pencet lagi. Sama seperti semula. Sunyi dan hening dalam kebisuan. Dia tidak ada. Lain kali sajalah.&lt;br /&gt;Waktu ingin meninggalkan rumahnya. Angin berhembus dengan perkasanya mencium pintu rumah terber-ber. Pintunya tidak terkunci. Rupanya sengaja dibuka. Berarti ia mempersilahkan saya untuk masuk. Berarti ia ada di dalam. Ia sudah menunggu saya sedari tadi. Berbalik lagi arah langkah saya memasuki rumahnya dengan pintu yang sudah terbuka dicium lembut sang angin.&lt;br /&gt;Terperanjat saya. Melihat dalam rumahnya ada lautan maha luas. Putri menaiki gondola kencana dengan memakai pakaian kebesaran putri kayangan yang berkerlap-kerlip intan permata keemasan. Menebarkan cahaya memenuhi semua ruangan. Terang benderang keemasan. Senyumanmu bak rembulan terkembang menyilaukan jiwa saya yang berdiri di ujung dermaga penantian.&lt;br /&gt;“Putri kesinilah. Saya ingin bicara denganmu. Merapatlah. Dekatkanlah gondolamu kesini,” lambai saya dengan rasa kebahagiaan meluap dan gembira.&lt;br /&gt;Acuh tak acuh. Apatisme. Kamu tidak pedulikan saya. Malahan bibir rembulanmu mengembang sekali lagi. sejuk meruak di perasaan ini.&lt;br /&gt;“ Maaf Sum, Selamat tinggal………………………!”&lt;br /&gt;Gondola kencanamu melaju merencah kebeningan dan keluasan air lautan maha luas. Menjauh dari diri ini. Dengan gagah terus berlarung tiada hentinya menuju hamparan permadani lukisan seni awan kepurihan.&lt;br /&gt;“Jangan begitu Putri. Jangan tinggalkan saya sendirian. Saya memang bersalah. Meninggalkan kamu sendirian waktu itu.” Sejenak saya terdiam.&lt;br /&gt;“Putri, saya datang hari ini untuk memohon maaf atas kesalahan saya waktu itu. Moga saja kamu bisa memaafkannya. Putri, saya tidak mau kamu tinggalkan sendirian disini. Saya mau ikut kamu. Saya cinta dan sayang kamu. Putriiiiiiiiiii……,” kejar saya memburumu. Tidak sadar dan terpikirkan lagi, dimana saat ini saya berada.&lt;br /&gt;Bbbbbyyyyyyyyuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrr…………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rantau Panjang, 5 Desember 2003&lt;br /&gt;~~~&amp;amp;&amp;amp;&amp;amp;~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Tanjungpura Post jadi cerita bersambung)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-481778014217529489?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/481778014217529489/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=481778014217529489' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/481778014217529489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/481778014217529489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/putri-pajangan.html' title='Putri Pajangan'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6401873354404584954</id><published>2007-09-23T07:33:00.000-07:00</published><updated>2007-09-24T05:32:31.844-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>Hadiah Istimewa Buat Sang Pacar</title><content type='html'>Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devianita, Kalam terindah di Bukit Oreon&lt;br /&gt;Ada sekelumit serakan kerang yang terlampar di pasir putih yang akan saya berikan padamu &lt;span class="fullpost"&gt; agar dapat ditata apik dan indah menjadi mahligai disaput keemasan  yang terkilau sinar mentari. Kalau saja kamu masih di tanah kemuliaan kenangan ini. Selain itu banyak tambo purnama yang bersinar gemilang dan selalu hadir menghiasi kelam, mengental bersama dengan kecerahan bintang dalam menerangi jagat yang ingin saya sampaikan padamu, kalau saja kamu masih ada di kesejukan bumi yang saya pijak ini.&lt;br /&gt;Di saat itu kita masih selalu seiring sejalan menaiki sepeda kumbang meniti rel-rel jalanan kehidupan yang melekang-lekang panas dengan mengikuti koridor waktu yang terus berlomba dengan ketegaran kita menuju zenit kasih abadinya. Sampai dia kembali ke pangkuan ibunda untuk menutup matanya. Masih tersisa mutiara laut bianglala berhamburan kembang-kembang mawar kesturi, memang kembang kegemaranmu yang akan saya haturkan ikhlas di haribaanmu, yang sudah memang menyebarkan keharuman. Biar tetap melekat dan tak pernah hilang, walaupun dilibas usia zaman yang semakin garang memangsanya. Enak dipandang mata dan sedap diendus hidung. Sekiranya kamu masih menjadi taman mewangi dalam inspirasi saya. Walaupun gugusan pulau yang membentang sudah menghambat tegur sapa kita berlanjut. Walaupun kedalaman dan kepanjangan luas lautan tak bertepian sudah beku tersenyum di dalam memori-memori karang yang berserakan di kerikil-kerikil pada tumbuhan biota di kedamaian laut mengikrarkan kasih sayang kita berbekas. Masih ada semuanya dalam kesan saya. Walaupun jaraknya jauh mengambang, saya tetap kirimkan kerinduan rembulan dengan mentari yang rindu pada kehangatan pelangi dengan hadirnya sekali-kali di permukaan bumi ini lewat puisi-puisi lusuh - kencangnya kereta masa kesana, yang terkaver dalam buku putih yang saya layangkan padamu agar kamu selalu ceria dan periang. Tersenyum sumringah dengan lesung pipit membuka, very Sweet and beatiful.&lt;br /&gt;In memoriam sungai kapuas jadi ilham dan inspirasi saya. Sewaktu kita berdayung sampan berdua. Yang menimbulkan rasa senangnya untuk menuju tepian cinderamata sambil menikmati kemolekan tubuh senja, memunculkan seluruh wajahnya yang mulus, fantastik, eksotik, spektakuler, dan tangan dinginnya selalu menaburkan kasih sayangnya, mencumbu perawan-perawan laut yang asyik berdekam diri dengan ketenangannya di luas lamparan permadaninya.&lt;br /&gt;“Nit, wow begitu indahnya senja hari ini. Bagaimana menurutmu?”&lt;br /&gt;“Sungguh indah, Saif. Seumur hidup saya, belum pernah saya melihat dan memandang senja seindah saat ini. Walaupun saya pernah melihat senja sebelumnya. Senja ini menghantarkan keindahan, ketenangan, dan kedamaian pada jiwa saya yang datang secara alamiah. Terima kasih ya Saif, kamu telah membawa saya menikmati senja seindah ini !”&lt;br /&gt;“Nit, kalau kamu senang dan enjoy dengan senja ini, saya bisa mengambilkannya untukmu agar kesenanganmu semakin bertambah.”&lt;br /&gt;“Ah, jangan bergurau dan membikin guyonan, Saif. Mana bisa kamu dapat mengambil senja yang ada di lintasan lazuardi biru. Karena selama ini belum pernah ada orang yang bisa mengambil senja. Saya mengerti maksudmu bahwa kamu ingin membuat saya senang dan selalu menikmati kebahagiaan. Untuk tidak mengecilkan keinginan hatimu, terserahlah padamu!”&lt;br /&gt;“Okelah, kalau begitu Nit. Tunggu saya sebentar di sini. Saya akan mengambilkan senja untukmu.” &lt;br /&gt;Saya pun berusaha mengambilkan senja itu dengan susah payah. Menikmati jalanan yang penuh lika-liku dan kerikil tajam yang sempat menggoreskan sepercik luka di badan, namun semua itu dapat saya atasi dengan mulus dan lancar. &lt;br /&gt;Devianita merasa kagum dan takjub bahwa saya bisa mengambil senja untuknya. Yang sangat sulit dilakukan oleh orang lain. Kegirangannya terpancar kontras dengan mendapatkan senja yang membuat hatinya semakin tambah bahagia. Dia pegang senja itu di kemulusan tangan kanannya dan senyumnya membentuk sekuntum rembulan, menyeruak dan terukir indah di bibirnya.&lt;br /&gt;Keasyikannya memandang senja di tangan kanannya, terbuyarkan. Dikejutkan suara ribut-ribut dan ramai menuju ke arahnya.&lt;br /&gt;“Itu orangnya. Saya melihatnya dengan jelas. Dialah yang telah mengambil senja itu. Dialah malingnya. Mari kita sama-sama merebut kembali senja yang telah diambilnya.”&lt;br /&gt;“Nit, mari kita cepat tinggalkan tempat ini, sebelum orang-orang ramai sampai ke sini dan merampas senja yang telah saya ambilkan untukmu,” seru saya.&lt;br /&gt;Kamu hanya mematung bisu. Tak bergerak sedikitpun. Malahan kamu perhatikan saya dengan pandangan mata saksama, menyiratkan sebuah kemasgulan. Dari tatapanmu seolah-olah kamu menyudutkan saya pada kenyataan atau keadaan yang bersalah. Macam terdakwa di hadapan sang hakim, pemberi segala keputusan hukum.&lt;br /&gt;Suara gemuruh orang ramai seperti air bah, terus menderu-deru menghampiri kami. &lt;br /&gt;“Nit, mari kita tinggalkan tempat ini. Jangan pedulikan orang-orang itu yang hanya mengusik kebahagiaanmu,” tarik saya pada tangannya dan tangan sebelah lagi mengayuh dayung sampan supaya dapat melaju dengan maksimal. Meninggalkan orang-orang ramai yang terus mengejar. &lt;br /&gt;Orang-orang ramai tidak kalah semangatnya. Mereka terus berteriak-teriak riuh rendah sambil mengejar kami. Lontaran bunyinya memedaskan jiwa dan memanaskan daun telinga.&lt;br /&gt;“Saif, daripada membuat orang ramai ribut-ribut dan terus mengejar kita, lebih baik kamu kembalikan saja senja ini pada tempatnya. Saya rela melepaskannya demi kepentingan orang banyak.”&lt;br /&gt;“Apa?” kejut saya. &lt;br /&gt;“Tapi Nit?”&lt;br /&gt;“Tidak pakai tapi-tapian.”&lt;br /&gt;“Nit, kamu juga harus mikir bahwa saya sudah susah payah mengambilkan senja ini untukmu. Bahkan dengan perjuangan yang melelahkan dan menyakitkan. Semua itu terus saya jalani. Semuanya demi kamu. Saya ingin melihat kamu terus ceria dan selalu merasakan kebahagiaan. Hanya karena ocehan orang ramai, kamu sudah jadi down dan lemah semangat serta menyuruh saya mengembalikan senja yang telah diambil pada tempatnya. Nit, kamu harus tegar dan mantap. Kamu jangan terpengaruh dengan ocehan orang ramai itu. Anggap saja ocehan itu seperti anjing menggonggong kafilah berlalu. Terpenting kita tetap enjoy dan indehoi. Orang lain terserahlah.”&lt;br /&gt;“Tidak bisa begitu, Saif. Egois namanya.”&lt;br /&gt;“Bukan egois Nit, tapi kewajaran demi kepentingan pribadi.”&lt;br /&gt;“Sudahlah Saif, saya tidak mau berdebat lagi. Maafkanlah saya. Saya tidak bisa memenuhi apa yang kamu inginkan. Karena saya tidak bisa merusak keinginan atau kebahagiaan orang banyak yang menginginkan senja ini, agar selalu memberikan cahaya keindahan pada mereka. Hanya untuk memenuhi kesenangan dan kebahagiaan saya yang berupa segelintir buih busa di lautan terbuka. Saya tidak tega sama mereka, Saif. Bukan berarti dengan pembangkangan ini, saya tidak menghargai ketulusan dan kebaikan kamu, yang susah payah mengambilkan senja demi membuat saya senang dan bahagia. Bukan begitu maksudnya. Malahan saya sangat berterima kasih dengan perjuanganmu. Kekaguman saya padamu makin bertambah lagi jika sekiranya kamu dapat mengembalikan senja ini pada tempatnya,” ucapmu sambil menyerahkan senja pada saya. Saya mengambilnya.&lt;br /&gt;“Baiklah Nit, kalau memang itu keinginanmu. Saya akan mengembalikan senja ini pada tempatnya,” jawab saya pelan. &lt;br /&gt;Senja itu saya kembalikan lagi pada porosnya. Orang-orang ramai menghentikan pengejarannya. Teriakannya yang beraroma cabe rawit terhenti seketika. Berganti dengan senyuman keceriaan yang terpancar indah.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, dia telah mengembalikan senja itu. Kita akan menikmati keindahan senja lagi.” &lt;br /&gt;Mereka bersorak sorai kegirangan dengan menaburkan genderangnya, yang berencah buana. Ribut. &lt;br /&gt;Kamu mengulaskan senyuman termanis melihat mereka, dan saya juga menurutimu supaya tidak dikatakan pahlawan kesiangan atau ketinggalan.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devianita, rembulan bergayung dalam selimut ketebalan purnama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat dan terkesan manis, in memoriam saat kita sama-sama memakan rembulan tengah malam. &lt;br /&gt;Waktu itu kita sedang rileksasi dari kejenuhan perkuliahan yang banyak menguras dan menyita pemikiran. Bertumpuk-tumpuknya pekerjaan makalah dan tugas lainnya yang diberikan dosen. Harus diselesaikan dengan tepat waktu. Kalau tidak akan berakibat fatal, yaitu tidak lulus mata kuliah. Menyebabkan mengulang lagi pada semester berikutnya. Itu yang tidak kita inginkan. Walaupun berat tugas dari dosen tetap kita kerjakan dengan baik agar selesai dengan cepat.&lt;br /&gt;Di korem, halaman Alun-Alun Kapuas dekat Kafe Lancang Kuning, kita duduk santai dan rileksnya sambil berkelakar menikmati kelezatan malam yang indah. Saya menawarkan sesuatu padamu.&lt;br /&gt;“Kamu mau makan bakso, Nit?”&lt;br /&gt;“Terserah kamu, Saif !”&lt;br /&gt;“Okelah, kalau begitu. Kita makan bakso dulu sambil minum es campur dan ngobrol ngalor ngidul.” &lt;br /&gt;Saya memanggil pelayan untuk menyiapkan pesanan, yaitu dua mangkok bakso dan es campur.&lt;br /&gt;Malam terus bertambah pekat dan kenyal dalam lintasan kelembutan lazuardi, berselimutkan kehangatan langit. Bintang bertaburan menghiasi rona malam biru yang memancarkan cahayanya pada sekujur kemolekan dan kemulusan tubuh bumi tercinta. Tetapi malam ini terasa ada kekurangannya, yaitu belum nampaknya dewi rembulan. Entah mengapa dia belum memunculkan dirinya. Apakah dia lagi sedang bersolek? Apakah dia lagi mempercantik dirinya? Biar dapat tampil dengan wajah berseri-seri lewat kedipan matanya yang sangat disukai oleh tua muda, kecil besar, peok segar, dan energik renta. Mereka adalah pengagum dan penggemar sejatinya.&lt;br /&gt;Malam ini sangat ramai pengunjungnya. Rata-rata didominasi muda-mudi yang berpasang-pasangan. Sama seperti kami menikmati kelezatan malam  sambil menghirup segar sinar kuning merkuri yang muncul dari Kafe Lancang Kuning. Menambah keindahan malam ini begitu orisinilnya.&lt;br /&gt;Pesanan bakso dan es campur telah terhidangkan si pelayan. Asapnya terlihat berpuisi menembus kepekatan malam yang kepulannya melebar dan masih hangat membaui hidung untuk dicicipi.&lt;br /&gt;“Nit, mari dicicipi baksonya selagi masih hangat?” kata saya.&lt;br /&gt;“Ya… Saif ! Mari kita cicipi sama-sama,” jawabmu. &lt;br /&gt;Kamu mulai menarik sendok dan garpu yang telah disediakan untuk memasukan bakso ke dalam mulutmu. Saya juga melakukan hal sama dengan yang kamu lakukan. Nikmat sekali baksonya. Sehingga kita makan begitu lahapnya. Hanya meninggalkan sebutir bakso yang besar, belum disantap. Ludes.&lt;br /&gt;Dewi rembulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Akhirnya memunculkan dirinya. Pantulan senyumannya putih melepah, tersebar berkuah-kuah. Menyapa lembut mahluk yang ada di permukaan bumi, terutama mahluk yang menikmati malam di dekat Kafe Lancang Kuning dan sekitarnya. Sehingga menampilkan semua wajah mahluk tersebut berseri-seri dan menambahkan keceriaan yang gemilang.&lt;br /&gt;Sedetik memberikan kehangatan pantulan senyuman putihnya. Dewi rembulan menukik cepat ke arah kami yang sedang menghabiskan sebutir bakso besar. Kami terkejut. Semua orang memandang kami. Dewi rembulan berbentuk sebesar telur burung puyuh. Pantulan senyuman dan sekujur tubuhnya yang putih melepah menyilaukan wajah kami. Saya memberanikan diri memegang dewi rembulan. Terasa lembut dan empuk. Lalu saya permisi padanya. Saya membelahnya dengan garpu bakso hingga menjadi dua bagian. &lt;br /&gt;“Ambillah Nit, dewi rembulan ini dan makanlah supaya dewi rembulan bisa menyatu dalam tubuhmu,” kata saya. &lt;br /&gt;Kamu ragu-ragu. Seketika dengan gemetar kamu terima sebagian dewi rembulan itu. Namun kamu masih terpaku, belum melaksanakan apa yang saya suruh. Seakan kamu tak percaya dengan kejadian ajaib seperti ini.&lt;br /&gt;“Makanlah Nit,” kata saya untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;Barulah kamu mau memakannya.&lt;br /&gt;“Gurih……,” katamu.&lt;br /&gt;Setelah memakan dewi rembulan, tubuh kita menjadi cahaya putih melepah dan terus berseri-seri. Semua orang di taman Alun-Alun Kapuas menggerutu dan mengucapkan kekesalannya. Karena mereka tidak dapat menikmati dewi rembulan. Anugerah terindah dari Sang Maha Pencipta.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devianita, oreon bersembulan merah dadu di selimut kepekatan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah malam berbekas kembang-kembang wangi kerinduan. Saya menikmati kelezatan malam tanpa hadirnya dewi rembulan yang telah kita makan bersama-sama. Saya hanya bertemankan bintang kegelisahan di ambal langit mengerutkan dirinya. Saya tersentak melihat sebuah bintang yang bersinar terang gemilang bak pamor senyuman kesegaran dewi rembulan. Orang-orang menamakannya orion. Saya terus saja memperhatikannya. Lekat-lekat dan saksama. &lt;br /&gt;Pukul satu berdentang-dentang. Menandakan kepekatan malam mencapai zenit percumbuan kasihnya. Waktu inilah para orang-orang pengabdi setia Allah  melakukan kekhusukan salat lailnya. &lt;br /&gt;Waktu semua orang terlena terbuai keindahan mimpinya. Mereka bermunajat. Mereka mengintrospeksi diri dari kesalahan dan kesilafan serta dosa yang pernah dilakukan dengan cucuran air mata susu kemanisan demi mendapatkan ridho dan berkah Allah berupa sebuah kemuliaan hidup.&lt;br /&gt;Saya masih masyuk menatap si orion tak berkedip. Sehingga menimbulkan keinginan dalam hati saya untuk memilikinya. Rencananya, orion akan saya hadiah untukmu. Apalagi orion dapat mengumandangkan suara azan mendayu-dayu kalbu, bergema pada setiap jam salat. Pasti kamu senang menerimanya.&lt;br /&gt;Saat orang asyik dalam salat lailnya, saya mengambil orion. Dia saya masukan dalam saku baju tebal agar tidak ketahuan orang bahwa sayalah yang mengambil orion di langit. &lt;br /&gt;Sehabis salat. Orang-orang ribut. Karena tidak melihat orion lagi bersinar di jaluran langit dengan taburan semaraknya bintang gumintang. Mereka bertanya-tanya dalam hati. &lt;br /&gt;Kemanakah gerangannya orion menghilang? Jangan-jangan dicuri mahluk raksasa di langit. Tidak mungkin. Bukankah selama ini belum terjadi hal semacam itu. Jangan-jangan… Ini pasti kerjaan orang usil atau orang gila cinta. Dengan mengambil orion untuk dipersembahkannya pada si pacarnya. Siapa orangnya? Biar bagaimanapun caranya untuk mendapatkannya, orion harus dikembalikan pada tampuk mahkotanya. Orion harus ditemukan lagi. &lt;br /&gt;Mereka yang merasa kehilangan orion melaporkan perkara itu pada pihak kepolisian agar pihak kepolisian membantu mereka dalam menemukan orang yang telah mengambil orion. Tapi laporan mereka tidak digubris sama sekali dan dianggap mengada-ngada serta merekayasa suatu kejadian. Malahan mereka dianggap orang gila. Lebih menyedihkan lagi, mereka dianjurkan pihak kepolisian untuk melaporkan masalah tersebut pada spesialis penyakit jiwa. Psikiater. Memang edan !&lt;br /&gt;Jalanan gugusan pelangi membentang lurus menuju daerah di mana kamu berada. Saya berkemas-kemas menyiapkan akomodasi perjalanan ini. Orion saya simpan rapi dalam tas kulit, yang tergantung indah di bahu, tidak pernah dilepaskan. Saya naik ekpres Cinta dan menyinggahkan saya pada pelabuhan Suka Bangun. Menggunakan oplet saya menuju tempat tinggalmu yang berada di Pesaguan Kiri.&lt;br /&gt;“Assalamualaikum,” ketuk saya pada daun pintu.&lt;br /&gt;“Waalaikum salam wr.wb,” sahutmu. &lt;br /&gt;Seraut wajah manismu menyembul dari balik pintu.&lt;br /&gt;“Hei Saif, masuklah dan silakan duduk,” serumu kegirangan. &lt;br /&gt;Saya masuk dan duduk di bangku tamu melepaskan kepenatan sehabis perjalanan jauh.&lt;br /&gt;“Bagaimana kabarmu, Saif?” &lt;br /&gt;“Baik-baik saja Nit seperti yang kamu lihatlah. Kabarmu bagaimana Nit?”&lt;br /&gt;“Baik-baik juga, Saif.”&lt;br /&gt;“Kamu dalam rangka tugas ya ke sini?”&lt;br /&gt;“Tidak Nit. Cuma ada keperluan khusus saja.”&lt;br /&gt;“Keperluan khusus apaan?”&lt;br /&gt;“Menjumpaimu. Melepaskan rasa rindu ini yang sudah bergelora seperti besarnya ombak Narai Kapuas,” tunjuk saya pada kalbu.&lt;br /&gt;“Kamu masih seperti dulu saja. Suka sekali bercanda,” cubitmu pada lengan saya sehingga saya mengaduh kesakitan.&lt;br /&gt;“Kalau menyubit kira-kira dong. Jangan sampai mengelupas seperti ini,” kata saya mengelus cubitanmu supaya rasa sakitnya berkurang.&lt;br /&gt;“Ya.. deh. Oh ya Saif, kelihatannya kamu capek. Istirahatlah. Istirahat saja di kamar sebelah,” ucapmu kemudian.&lt;br /&gt;“Ya… Nit ! Terima kasih atas pengertianmu,” jawab saya.&lt;br /&gt;Saya masuk ke kamar sebelah yang tidak berjauhan dengan kamarnya.&lt;br /&gt;Sayup-sayup suara orang bertadarus masih terdengar. Malam ini rupanya malam menyambut lebaran. Besok akan berdentang gong kemenangan bagi umat Islam. Hari yang penuh dengan suka cita. Hari yang memang ditunggu-tunggu umat Islam untuk kembali pada fitrah.&lt;br /&gt;Keesokan harinya saya memberikan orion sebagai hadiah padanya. Dia menerimanya dengan rasa bahagia mendalam. Sebuah kecupan kemesraan mendarat di pipi saya.&lt;br /&gt;“Terima kasih Saif atas oleh-oleh yang diberikan.”&lt;br /&gt;“Sure…… All this is just special to you.”&lt;br /&gt;“Lagaknya bicara bahasa Inggris segala. Padahal bahasa Inggrisnya cedokan.” &lt;br /&gt;Saya hanya tertawa mendengar gurauanmu.&lt;br /&gt;Si orion terdengar melantunkan lafaz tasbih, tahmid, dan takbir. Menyuruh kami segera pergi ke masjid untuk merayakan hari kemenangan umat Islam, lebaran. &lt;br /&gt;Dengan berpakaian rapi dan semprotan bau harum parfum kesturi selalu menyebar kemana-mana, kami melangkah bersama-sama penuh keyakinan mantap.&lt;br /&gt;Di depan pintu rumah. Kami melihat serakan pelangi di lintasan cakrawala biru. Tercerai berai. Tidak menyatu dalam satu aluran lurus panjang. Selalu memberikan keindahan. &lt;br /&gt;Kami saling termangu. Lalu saling tatap dan melemparkan cahaya rembulan yang sudah kami miliki. Cahaya terang dewi rembulan berbagi rata sama sisi. &lt;br /&gt;Kami saling mengikrarkan janji mega putih bahwa sepulang dari merayakan hari kemenangan umat Islam. Kami akan menyatukan serpihan pelangi menjadi utuh seperti sedia kala, agar dapat memberikan keindahan dan kebahagiaan pada umat manusia. &lt;br /&gt;Maket mahligai abadi dengan berhiaskan kencana yang cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rantau Panjang, September 2003&lt;br /&gt;~oOo~&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6401873354404584954?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6401873354404584954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=6401873354404584954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6401873354404584954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6401873354404584954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/hadiah-istimewa-buat-sang-pacar.html' title='Hadiah Istimewa Buat Sang Pacar'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5417098541906804904</id><published>2007-09-15T07:47:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T03:25:54.750-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Judul : Meminta Sebuah Pertolongan&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang gerah. Celana berjalan mengangkang. Seperti telah terjadi sesuatu pada alat kelaminnya. Dia terus saja berjalan. Semua sunyi. Hari-hari biasanya jalanan sangat ramai. Kali ini jalanan tak ada tanda-tanda kehidupan. Dia bingung. Padahal dia ingin minta tolong pada siapapun yang dijumpainya hari ini agar dapat membantunya menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Semua bisu. Sunyi-senyap.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika celana ingin memanjat perut manusia. Barulah dia menemukan denyut-denyut kehidupan.&lt;br /&gt;Pusat cekung menegurnya.&lt;br /&gt;”Kamu diperkosa ya?”&lt;br /&gt;”Gak. Aku dianiaya. Kelaminku dibaluri orang dengan bakteri.”&lt;br /&gt;”Mengapa sampai begitu?”&lt;br /&gt;”Karena aku menolak keinginannya. Dia memintaku jadi bandar togel. Dia memintaku jadi bandar narkoba. Dia memintaku mengumpulkan virus-virus mematikan mahluk hidup yang ada di dunia ini. Dia memintaku mengubah bintang menjadi rembulan. Dia memintaku mengubah langit menjadi awan. Dia memintaku mengubah lautan menjadi daratan. Dia memintaku agar menciptakan nyawa. Biar dia bisa hidup abadi.”&lt;br /&gt;”Sungguh kejam perbuatan orang itu. Kalau bertemu akan kubunuh dia.” Pusat cekung ikut bersimpati.&lt;br /&gt;”Sudahlah tak perlu kita mendendam padanya.”&lt;br /&gt;”Tak bisa begitu teman.”&lt;br /&gt;”Daripada mengurusi dia. Lebih baik kamu membantu mengobati penyakitku.”&lt;br /&gt;”Bagaimana caranya menyembuhkan penyakitmu?”&lt;br /&gt;”Gampang. Kamukan punya lesung. Tolong lesungmu itu kamu tutupkan pada kelaminku. Kemudian lesung itu kamu hancurkan dengan timah panas berkekuatan tujuh kandela.”&lt;br /&gt;”Lesungku? Tidak bisa.”&lt;br /&gt;”Tolonglah teman.”&lt;br /&gt;”Kamu nih bodoh atau tolol sih. Kalau aku berikan lesungku sama saja aku bunuh diri. Maaf teman, aku tidak bisa membantumu kali ini. Selamat tinggal teman.” Pusat cekung lalu masuk ke dalam perut seorang manusia.&lt;br /&gt;”Teman..... Sungguh teganya dirimu padaku.”&lt;br /&gt;Celana menangis.&lt;br /&gt;Mengapa kehidupan yang dialaminya begitu sengsaranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 15092007&lt;br /&gt;~&amp;amp;&amp;amp;&amp;amp;~&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5417098541906804904?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5417098541906804904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5417098541906804904' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5417098541906804904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5417098541906804904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim_15.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1857036948626813636</id><published>2007-09-15T07:42:00.001-07:00</published><updated>2007-09-21T03:26:46.449-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Dua Ribu Dua Ratus Dua Puluh Satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal lantunan telah mampu membuka&lt;br /&gt;halaman demi halaman buku jiwa yang bergaris merah.&lt;br /&gt;Not-not keinsafan membaca apa yang tertulis di sana.&lt;br /&gt;Tak ada tanda pembehentian.&lt;br /&gt;Hanya rangkaian kata dalam doa&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal buku itu penuh lajuran sulit&lt;br /&gt;Tak bisa dikompres dalam detak-detak&lt;br /&gt;Kehidupan yang pernah dilaluinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari kecil bermain di sudut ranjang&lt;br /&gt;Pelupuk mata mengajaknya bercinta&lt;br /&gt;Membuai impian yang jauh terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal lantunan semakin serik&lt;br /&gt;Tak mampu lagi membuka halaman terakhir buku itu&lt;br /&gt;Halaman dua ribu dua ratus dua puluh satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia hanya memahami suatu hal&lt;br /&gt;Dua ribu mempunyai nol tiga&lt;br /&gt;Dua ratus mempunyai nol dua&lt;br /&gt;Dua puluh mempunyai nol satu&lt;br /&gt;Nol satu adalah bulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 15092007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1857036948626813636?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1857036948626813636/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1857036948626813636' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1857036948626813636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1857036948626813636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_15.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-7786908587793905665</id><published>2007-09-14T00:32:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T03:28:11.915-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Bilang Bukan Dibilang&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dibilang plakat, dia bukanlah plakat. Kalau plakat. Dia dapat berarti tulisan yang menggugah dan mendorong diri yang ditempelkan di dinding. &lt;br /&gt;Dibilang teguran, dia juga bukan teguran. Karena kalau teguran biasanya disampaikan kalau ada sesuatu yang diganjalkan.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kalau dikatakan nasihat, mungkin juga. Tapi masih samar-samar. Bolehkan aku menegaskan bahwa ini adalah pelajaran untukku. Menyadarkanku untuk mengoreksi diri. Betapa rapuhnya pondasiku kapalku untuk berlayar disaat terlena. Menggerakkan hidupku untuk bersujud. Bahkan untuk menangisi sisa-sisa kesilafan yang sudah tercecer-cecer di samudera luas, lautan tenang, dan gelombang bergendang merdu. Memainkan irama musik syahdu.&lt;br /&gt;Satu hasratku. Aku harus mencari dan memaknaiku. Dimana aku? Siapa aku? Kemana aku harus mencarinya?&lt;br /&gt;Apakah dalam gelak tawa yang telah kulalui? Apakah dalam bualan-bualan yang memabukanku? Entahlah. Saat ini aku belum bisa menerka dan menebak. Dimana ia berada?&lt;br /&gt;Masih kuingat gendang suaramu. Mengalun lembut.&lt;br /&gt;“Dirimu harus menjadi dirimu. Menjadikan dirimu harus menyelami keluasan hati.”&lt;br /&gt;Dimana keluasan hati itu bersemayam? Apakah dalam gemaan azan saat orang menunaikan salat sepanjang waktu sebagai tanda menjalankan kewajiban? Apakah dalam itikaf kesunyian di padang rembulan? Rembulan yang mana lagi. Apakah rembulan yang pernah kulihat selama ini secara visual atau ada rembulan lain. Sebaliknya. Atau dia ada dalam sejuk dan segarnya guyuran wudu menghiasi kepala dalam membawakan kebahagiaan dan kedamaian. Tak pernah bisa kulihat wujudnya.&lt;br /&gt;Dibilang cinta, dia bukanlah cinta. Cintaku hanya milikmu. Tidak akan pernah kubagi dengan orang lain.&lt;br /&gt;~&amp;&amp;&amp;~&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-7786908587793905665?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/7786908587793905665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=7786908587793905665' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7786908587793905665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7786908587793905665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim_14.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3261751232109385181</id><published>2007-09-13T19:23:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T03:29:15.318-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Lebih Enak Bercinta Saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan petaka sayang&lt;br /&gt;Cuma lem melekat ketulusan&lt;br /&gt;Ada nenek yang minta dihamili anak negeri&lt;br /&gt;Sudah gila dunia ini&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bencana sayang&lt;br /&gt;Cuma spidol tak berfungsi lagi&lt;br /&gt;Cuma kertas koran tak bertanggal lagi&lt;br /&gt;Cuma map hitam tak terbuka lagi&lt;br /&gt;Ada gunting dara merajam hati&lt;br /&gt;Memberikan janji pada semut-semut&lt;br /&gt;Memangnya negeri ini adalah negeri semut&lt;br /&gt;Hingga gula tinggi menjulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang,&lt;br /&gt;Lebih baik kita bercinta saja&lt;br /&gt;Tak usah pedulikan ini negeri&lt;br /&gt;Negeri sapi yang sering mati suri&lt;br /&gt;Karena rumput hijau sudah gundul di kebun sendiri&lt;br /&gt;Tetapi menghijau di kebun negeri asing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 13092007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3261751232109385181?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3261751232109385181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3261751232109385181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3261751232109385181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3261751232109385181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_5724.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6360396427564494490</id><published>2007-09-13T19:22:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T03:29:58.708-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Petuah Ramadan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anakku,&lt;br /&gt;Dengarkan petuahku yang bertali di hari ini&lt;br /&gt;Camkanlah dalam hati setiap berjanji&lt;br /&gt;Amalkanlah dalam gerak setiap bersiwak&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran pagi adalah ufuk yang memberi&lt;br /&gt;Pelajaran siang adalah kehidupan yang garang&lt;br /&gt;Pelajaran sore adalah senja hati yang berboreh&lt;br /&gt;Pelajaran malam adalah amalan yang disulam&lt;br /&gt;Pelajaran tengah malam adalah hati yang merekah&lt;br /&gt;Pelajaran larut malam adalah jiwa yang melaut&lt;br /&gt;Pelajaran teja merah adalah resahku yang bersahaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggulah aku di sana&lt;br /&gt;Aku akan jadi anak bayi lagi&lt;br /&gt;Dalam momongan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 13092007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6360396427564494490?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6360396427564494490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=6360396427564494490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6360396427564494490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6360396427564494490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_9164.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4465392093308435445</id><published>2007-09-13T19:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-21T03:30:54.238-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Ramadan Tiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecinta menjadi gila semakin gila&lt;br /&gt;Ketika ramadan tiba&lt;br /&gt;Peluh dan keringat menjadi mati suri&lt;br /&gt;Tiada terkirakan&lt;br /&gt;Mengalir di jantung hati&lt;br /&gt;Dalam lafalan zikir semakin membumi&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hari adalah sebuah penantian&lt;br /&gt;Sekian detak jam memutari diri tak berhenti&lt;br /&gt;Ada sebongkah kasih merindu&lt;br /&gt;Melingkari jari-jari jiwa di celah hujan siang hari&lt;br /&gt;Menyegarkan jiwa-jiwa beku&lt;br /&gt;Dalam tarian tarawih soko-soko guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pecinta menjadi gila semakin gila&lt;br /&gt;Ketika ramadan menjelangkan ajal menyapa&lt;br /&gt;Kutuliskan sair di buku tak bertanda&lt;br /&gt;Tiada kata hanya doa semata&lt;br /&gt;Dalam nisan bernapaskan dendang desa&lt;br /&gt;Ada kemurnian dan alamiah merekam nada&lt;br /&gt;Nada cintaku yang habis digiling keranda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 13092007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4465392093308435445?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4465392093308435445/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4465392093308435445' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4465392093308435445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4465392093308435445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_13.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3865117448812211311</id><published>2007-09-12T18:58:00.002-07:00</published><updated>2007-09-12T19:00:20.606-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Ramadan 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diikhlaskannya diri dari pagi sampai petang&lt;br /&gt;Demi menggapai cintamu yang suci&lt;br /&gt;Dihilangkannya angkuh dan amarah&lt;br /&gt;Demi mendapatkan kesabaranmu yang kukuh&lt;br /&gt;Disalatkannya jasad dan ruh &lt;br /&gt;Demi mendapatkan hidayahmu yang pesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadan&lt;br /&gt;Jangan kamu tinggalkan musafir hina dina ini&lt;br /&gt;Di setiap tarikan napasnya&lt;br /&gt;Tuntunlah dia ke jalan maha sempurna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadan&lt;br /&gt;Bentuklah musafir hina dina ini&lt;br /&gt;Meramadankanmu dalam setiap bulan&lt;br /&gt;Dengan tak mengenal iklim dan cuaca buruk&lt;br /&gt;Menghampirinya pagi dan petang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 13092007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3865117448812211311?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3865117448812211311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3865117448812211311' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3865117448812211311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3865117448812211311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_3256.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1495069002218644638</id><published>2007-09-12T18:58:00.001-07:00</published><updated>2007-09-12T18:58:42.632-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Ramadan 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerminmu halus lembut tak bernoda&lt;br /&gt;Mengaca kerinduan-kerinduan bergemuruh&lt;br /&gt;Seperti gelombang tsunami terlewatkan&lt;br /&gt;Beberapa detik yang lalu&lt;br /&gt;Menggetarkan kecintaan yang merekah &lt;br /&gt;Seperti gempa bengkulu yang melanda&lt;br /&gt;Hari ini&lt;br /&gt;Dengan kekuatan 7,9 skala richter&lt;br /&gt;Menyungkupi seluruh insan &lt;br /&gt;Yang mengaku dia pencinta tuhan&lt;br /&gt;Untuk menarik hatimu agar berpaling pada kami&lt;br /&gt;Berucap syukur seluas samudera jaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 13092007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1495069002218644638?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1495069002218644638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1495069002218644638' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1495069002218644638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1495069002218644638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_28.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8168195775436788119</id><published>2007-09-12T18:56:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T18:57:36.129-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Ramadan 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa hati di tengah telaga tujuh warna&lt;br /&gt;Serasa perasaan bercinta dengan tujuh bidadari surgaloka&lt;br /&gt;Serasa seluruh tubuh bersalat di langit ketujuh&lt;br /&gt;Serasa nyawa tak kenal hari minggu&lt;br /&gt;Merengkuh harimu nan suci &lt;br /&gt;Oh, Ramadan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 130929007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8168195775436788119?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8168195775436788119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8168195775436788119' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8168195775436788119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8168195775436788119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_12.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6021576897078756697</id><published>2007-09-10T21:56:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T21:58:01.251-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Judul : Harta Karun&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lirih berucap.&lt;br /&gt;“Mengapa kau datang meminta perlindungan padaku. Kamukan tahu bahwa aku adalah orang yang jelek, penyakitan, dan kata orang-orang aku adalah mahluk yang sombong. Kamu akan menyesal meminta perlindungan padaku.”&lt;br /&gt;“Kamu jangan merendah. Di situlah letak kelebihanmu. Kamu dapat dipercaya, jujur, dan selalu mengagungkan cinta di atas segala. Aku percaya kamu bisa melindungiku.” Tandasnya ia menjawab omonganku.&lt;br /&gt;Ia membuka sebuah peta jiwa. Dalam peta itu tertera letak-letak daerah yang menyimpan  sebuah harta karun. Aku menyipit memandang letak peta tersebut. &lt;br /&gt;Ia akan memintaku agar melindungi dirinya ketika serangan asing datang padanya selama perjalanan dalam mengambil harta karun itu. Ia ingin sekali memiliki harta karun itu.&lt;br /&gt;“Kamu bisakan membantuku?”&lt;br /&gt;Sejenak aku terdiam. Letak daerah di peta itu sulit dijangkau. Karena daerah itu adalah daerah kemisteriusan. Daerah itu selalu asing bagi pendatang. Daerah tertutup. Karena daerah itu pintu awal menuju kematian.&lt;br /&gt;“Bagaimana teman, bisakan?” tegaskannya sekali lagi.&lt;br /&gt;“Teman, aku mohon jangan kecewakan aku.”&lt;br /&gt;Selintas burung merpati melintasi kami. Ia bersenandung.&lt;br /&gt;“Harta karun itu selamanya tidak akan pernah kalian temukan dan dapatkan. Karena harta karun itu ada pada sifatku. Kalau mau harta karun itu kejarlah aku dan ambil sifatku dulu.” &lt;br /&gt;Merpati itu terbang menjauh dari kami.&lt;br /&gt;“Merpati, tunggu kami,” kata kami serempak&lt;br /&gt;[Pontianak, 10092007 (16.55)]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6021576897078756697?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6021576897078756697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=6021576897078756697' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6021576897078756697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6021576897078756697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim_10.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-7155754950419704932</id><published>2007-09-09T18:00:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T13:59:03.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Judul : Merdeka&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa musti aku ada di sini? Padahal aku tidak menginginkannya. Di ramainya pengunjung musik dangdut malam ini. Di liukan gemulai sang penyanyi.&lt;span class="fullpost"&gt; Kepulan asap jiwa-jiwa terbang dari para penonton yang bersorak-sorak kegirangan. Seketika perang badai melanda. Badai yang bertiup dari arah timur dan barat. Menghancurkan hati-hati yang tersimpan rapi dalam lemari malam. Berserakan. Seorang penyanyi dangdut yang masuk undian ketujuh belas meneriakan yel-yel.&lt;br /&gt;“Merdeka! Merdeka! ”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-7155754950419704932?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/7155754950419704932/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=7155754950419704932' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7155754950419704932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7155754950419704932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim_1171.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6053591534685887511</id><published>2007-09-09T17:58:00.000-07:00</published><updated>2007-09-10T13:59:50.071-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Judul : Ular&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil berkerumun. Meneriakan ular yang masuk ke dalam kutang seorang ibu. Ia bertelur. Melahirkan silikon. Silikon itu melarikan diri masuk kolong rumah Bu Ayu. Menjelma jadi ular yang panjang dan besar. Mendesis-desiskan lidahnya. Memangsa seekor raong.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Keributan itu mengundang orang tua untuk melihatnya. Jadilah penampakan ular itu menjadi tontonan. Orang banyak berteriak. &lt;br /&gt;“Bunuh! Bunuh!”&lt;br /&gt;Aceng dengan serampangnya telah menikam ular itu. Lalu ditariknya keluar dari kolong rumah. Malang nasib ular itu. Di luar ia dibantai habis-habisan. Napasnya kabur menuju awan. Tapi buntutnya masih menunjukkan kehidupannya.&lt;br /&gt;“Hidup! Hidup!”&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6053591534685887511?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6053591534685887511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=6053591534685887511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6053591534685887511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6053591534685887511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim_5796.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-989527034656001974</id><published>2007-09-09T17:55:00.000-07:00</published><updated>2007-09-09T17:57:16.708-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Judul : Gila&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Gila! Tiada biasanya anjing menyalak rembulan malam. Bergemuruh. Mendebarkan perasaan takut merajam hatiku. Apakah akan ada tamu tak diundang yang datang? Ya. Penciuman anjingkan lebih tajam dari penciuman manusia. Ataukah yang datang adalah malaikat kematian? Semakin gila. Gila saja pengembaraan imajiku ini. Gila anjing menyalak. Tetapi sebentar. Set... Desiran angin beranjak dengan kesenangannya. Menghampiriku. Membawakan kesunyian adalah ibadah. Aku pun jadi tersenyum.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-989527034656001974?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/989527034656001974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=989527034656001974' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/989527034656001974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/989527034656001974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim_09.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3507999393129859329</id><published>2007-09-09T17:52:00.000-07:00</published><updated>2007-09-09T17:55:22.331-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><title type='text'>Embrio 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>Judul : Blog&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;Aku membuat blog. Senandung senang menggelitik pendengaranku. Nyamuk marah kepada tikus televisi yang memakinya tak karuan. Blog yang kubuat bergetar. Dia marah. &lt;br /&gt;“Bangsat!” &lt;br /&gt;Ia memakiku. Sebenarnya apa salahku padanya. Aku hanya menciptakan sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;Peduli setan. Setan saja malah gentayangan di bahu kiriku. Penat sudah. &lt;br /&gt;“Matilah kamu!” Aku balik memakinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3507999393129859329?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3507999393129859329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3507999393129859329' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3507999393129859329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3507999393129859329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/embrio-2007-m-saifun-salakim.html' title='Embrio 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1671827756347734290</id><published>2007-09-09T17:37:00.000-07:00</published><updated>2007-09-09T17:39:24.737-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Sajak Kasih Sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih&lt;br /&gt;lirih merekah dalam cinta sunyi&lt;br /&gt;Menumpahkan hasrat sebakul nasi kelaparan&lt;br /&gt;Menggeluti kuah-kuah mimpi yang belum kesampaian&lt;br /&gt;Tambahkan saja sedikit ketulusan&lt;br /&gt;Agar manis senyumnya bukan sekadar lauk pauk&lt;br /&gt;Pengganjal perut di saat kelaparan&lt;br /&gt;Tetapi pemberi semangat ketika cahaya pelita meredup&lt;br /&gt;Dilindungi tabir-tabir kesamaran jiwa kecoklatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Sunyi (Balber), 28072007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1671827756347734290?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1671827756347734290/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1671827756347734290' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1671827756347734290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1671827756347734290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim_09.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3815204214124987277</id><published>2007-09-09T17:33:00.000-07:00</published><updated>2007-09-09T17:37:43.019-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi 2007 M.Saifun salakim'/><title type='text'>Puisi 2007 M. Saifun salakim</title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Senandung Kemerdekaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang obor bercinta di hati pejalan kaki&lt;br /&gt;Setia menikmati keceriaannya &lt;br /&gt;Menyambut kemerdekaan yang masih tidur&lt;br /&gt;Di gunung menjulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senandung kemesraan menghantarkannya&lt;br /&gt;Menggeluti arti-arti hidupnya yang masih kelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Kom (Balber), 17082007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3815204214124987277?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3815204214124987277/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3815204214124987277' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3815204214124987277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3815204214124987277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/09/puisi-2007-m-saifun-salakim.html' title='Puisi 2007 M. Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-7754667217750453332</id><published>2007-08-18T00:44:00.001-07:00</published><updated>2007-08-18T01:02:37.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Dialog Kepala</title><content type='html'>by &lt;a href="http://wisnupamungkas.blogspot.com"&gt;Wisnu Pamungkas&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kepala bertanya kepada kepala lainnya ketika mereka sama-sama sedang terbang malam.&lt;br /&gt;“Hai kawan, apakah kau tak pernah memikirkan tubuhmu yang gendut itu?”&lt;br /&gt;“Huss! Kalau bicara sopanlah sedikit kawan!? Bukankah sejak sebulan lalu kau copot dirimu dan diam-diam hinggap di tubuh punyaku yang kau bilang gendut itu.”&lt;br /&gt;“He..he.., maaflah kawan…, sejak tubuhku yang kurus kerepeng dan tengik itu dipenjara, aku jadi tak punya pusara untuk sekadar istirah. Jadi aku pinjam body-mu dulu, sebulan saja ya…sampai kutemukan tubuh yang baru sebagai pasangan. Kau kan ada si Indon itu, tempat kamu selalu pulang. Jadi TST (Tahu Sama Tahu)-lah ya kawan? Lagi pula mereka kan cuma badan, bukan kepala seperti kita yang memang ditakdirkan untuk berfikir. Jadi suka-suka kita lah kan?”&lt;br /&gt; Menjelang pagi, di sebuah rumah petak, sosok raga tanpa kepala tengah mengintai di balik pintu, dengan karung goni di tangan.&lt;br /&gt;“Tunggu pembalasanku kepala sialan! Akan kujual engkau ke pasar loak,” makinya dalam hati. Ya, mengapa tidak? Orang di negeri ini sudah terbiasa menjual kucing dalam karung, nah kali ini pasti seru karena ia bisa menjual kepala dalam karung.&lt;br /&gt; Sebenarnya sudah lama ia merencanakan balas dendam. Sejak mengetahui kalau dua kepala yang sangat dikenalnya itu sering sama-sama terbang malam saat pulang.&lt;br /&gt;Untung lah, kedua kepala tengik tersebut tak sadar kalau sedang terperangkap dalam sebuah permaianan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purnama 02, 16 Agustus 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-7754667217750453332?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/7754667217750453332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=7754667217750453332' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7754667217750453332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7754667217750453332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/08/dialog-kepala_18.html' title='Dialog Kepala'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4329031643845289920</id><published>2007-08-16T11:28:00.001-07:00</published><updated>2007-08-17T08:02:46.008-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI PRADONO'/><title type='text'>MERDEKA</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: PRADONO&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Merdeka adalah burung burung terbang tinggi&lt;br /&gt;Merdeka adalah kicau satwa di hutan rindang&lt;br /&gt;Merdeka adalah gemericik air mengalir&lt;br /&gt;Merdeka adalah bocah manis pipis di ranjang&lt;br /&gt;Merdeka adalah .................................................. &lt;br /&gt;terangkat bongkah dari dada Bilal bin Rabbah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka adalah bebas lepas dan bahagia&lt;br /&gt;Merdeka adalah milik sekalian makhluk&lt;br /&gt;Merdeka adalah milik semua negeri&lt;br /&gt;Merdeka adalah milik segala bangsa&lt;br /&gt;Merdeka adalah hak asasi manusia&lt;br /&gt;Merdeka untuk berkata dan bicara&lt;br /&gt;Merdeka untuk berbuat dan bertanggung jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad-abad negeri ini menanggung beban yang berat&lt;br /&gt;menabur benih demi perut si tuan gendut&lt;br /&gt;memetik pala demi kehangatan penyembah berhala&lt;br /&gt;negeri ini mendaki dengan susah payah&lt;br /&gt;demi selembar merah putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bicara tentang merdeka&lt;br /&gt;semua menuntut kemerdekaan&lt;br /&gt;negeri ini menuntut kemerdekaan&lt;br /&gt;kemerdekaan yang terang benderang&lt;br /&gt;kemerdekaan yang terjepit di batu karang penjajahan&lt;br /&gt;kemerdekaan yang tertindas cadas keserakahan&lt;br /&gt;kemerdekaan yang berderak di ketiak para perompak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini menuntut kemerdekaan&lt;br /&gt;kemerdekaan yang disekap para penjilat&lt;br /&gt;kemerdekaan yang didekap para kolonial berambut gelap&lt;br /&gt;kaum kerabat berjiwa khianat sanak saudara bermuka dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka adalah kebebasan negeri ini&lt;br /&gt;dari belenggu penjajah serakah&lt;br /&gt;merdeka adalah kepuasan tiada tara&lt;br /&gt;sorak sorai para jelata pekik bahagia para nestapa&lt;br /&gt;merdeka adalah gegap gempita persada nusantara&lt;br /&gt;merdeka adalah tembok kokoh bergeming&lt;br /&gt;merdeka adalah kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah anak anak merdeka&lt;br /&gt;yang terlahir tanpa dosa&lt;br /&gt;yang bergulir tanpa paksa&lt;br /&gt;yang berpikir tanpa merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bicara tentang merdeka&lt;br /&gt;semua ingin hidup merdeka&lt;br /&gt;bebas bercerita kepada sesama&lt;br /&gt;bebas melangkah ke segala arah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka adalah desah napas tanpa lelah&lt;br /&gt;merdeka adalah kebebasan keluar masuk markas&lt;br /&gt;para pemeras dan penguras&lt;br /&gt;merdeka adalah kebebasan menumpuk dasi&lt;br /&gt;sementara para jelata kehilangan nasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka adalah denting piring di gubuk miring&lt;br /&gt;merdeka adalah tumpukan daging di tanah genting&lt;br /&gt;merdeka adalah paduan suara melengking nyaring&lt;br /&gt;Kemerdekaan adalah keletihan yang berkepanjangan&lt;br /&gt;kemerdekaan tak lebih dari menunggu waktu kematian&lt;br /&gt;kemerdekaan adalah kerelaan diam seribu bahasa&lt;br /&gt;demi senyum para penguasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita adalah anak anak merdeka&lt;br /&gt;anak anak pelaku zaman&lt;br /&gt;anak anak yang terancam kematian&lt;br /&gt;anak anak yang menjadi maling budiman&lt;br /&gt;anak anak yang menguras tuntas rumah mewah penjajah serakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka adalah kepuasan tiada tara&lt;br /&gt;merdeka adalah tonggak kebenaran tanpa bayang bayang penjara&lt;br /&gt;merdeka adalah tanggung jawab yang tersangga di pundak manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka bukanlah kuda liar tanpa dokar&lt;br /&gt;merdeka bukanlah perahu tanpa teraju&lt;br /&gt;merdeka bukanlah kerja tanpa lelah&lt;br /&gt;merdeka adalah titipan kehidupan dari Allah&lt;br /&gt;merdeka adalah rahmat dari Allah&lt;br /&gt;Merdeka dari segala merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini telah merdeka&lt;br /&gt;terbebas dari napsu angkara murka&lt;br /&gt;terlepas dari sanak saudara bermuka dua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah merdeka&lt;br /&gt;kita bebas bersuara lepas tawa dalam cengkrama&lt;br /&gt;tawa renyah bocah bocah dekap sayang ibu dan ayah&lt;br /&gt;merdeka adalah cinta kasih umat manusia&lt;br /&gt;merdeka adalah bahagia tanpa kata kata&lt;br /&gt;bahagia berkat rahmat sang maha pencipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka menghantar negeri ini menjadi bangsa yang mandiri&lt;br /&gt;bebas mengatur rumah sendiri&lt;br /&gt;rumah yang telah dirampok para pendatang berhati binatang&lt;br /&gt;rumah yang dulu dihisap para benalu&lt;br /&gt;rumah yang padat para penjilat dan saudara berjiwa khianat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah merdeka&lt;br /&gt;negeri ini telah merdeka&lt;br /&gt;merdeka negeri ini dengan merdeka atau mati&lt;br /&gt;merdeka negeri ini dengan proklamasi&lt;br /&gt;proklamasi yang menggugah diri untuk bercermin kembali&lt;br /&gt;bahwa negeri ini berdiri di atas persatuan dan kesatuan&lt;br /&gt;proklamasi sebagai pernyataan kemerdekaan yang dituntut&lt;br /&gt;kemerdekaan yang menjadi hak semua negeri segala bangsa&lt;br /&gt;kemerdekaan yang menjadi hak asasi manusia&lt;br /&gt;hak untuk menjadi tuan di negeri sendiri&lt;br /&gt;hak untuk hidup di tanah sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merdeka dari segala merdeka&lt;br /&gt;adalah Allahu Akbar                                                 &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;ptk, 15885&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4329031643845289920?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4329031643845289920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4329031643845289920' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4329031643845289920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4329031643845289920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/08/merdeka.html' title='MERDEKA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5147868817334987421</id><published>2007-08-08T07:58:00.000-07:00</published><updated>2007-08-17T08:04:17.254-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah KIPRAH Pradono'/><title type='text'>LINTAS SEJARAH SANGGAR KIPRAH</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahtera KIPRAH meluncur pada &lt;b&gt;27 Agustus 1987&lt;/b&gt;, ketika beberapa mahasiswa baru FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak menyatukan minat, bakat dan potensi seni mereka melalui aktivitas OPSPEK Berkelanjutan selama dua semester.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PARA NAKHODA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dalam rentang dua dekade hingga 2007, para nakhoda silih berganti memegang kemudi, yaitu: Uray Evianto (1987-1988), Asmayadi (1998-1999), Pradono (1989-1992), G. Hasmy Cipto G. (1992-1993), Eusabinus Bunau (1993-1994), Mustafa (1994); karena yang bersangkutan berhalangan maka kemudi diserahkan kepada Yufita (1994-1995). Selanjutnya Syamsul Bahar (1996-1997), Deki Triadi (1998-1999), Saripudin (1999-2000), M. Ridwan (2001-2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah periode ini, kepengurusan mengalami kevakuman selama tiga periode (2002-2004). Di awal 2005, beberapa pendiri dan mantan ketua berembuk demi eksistensi Sanggar KIPRAH di ‘Kampus Oren’ FKIP. Maka diambillah keputusan untuk menunjuk Firmansyah (bukan Abang Firmansyah) sebagai &lt;i&gt;caretaker&lt;/i&gt; sampai terpilihnya ketua baru Dian Tri Lestari (2005-2006). Dan terakhir yang menjadi ketua adalah Abang Firmansyah (2006-2007). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nakhoda KIPRAH beserta seluruh ABK-nya yang setia dengan pilihannya telah mengarungi samudera dan singgah di pulau-pulau seni menancapkan prasasti prestasi setelah melalui berbagai macam ombak dan badai. (&lt;i&gt;&lt;b&gt;to be continued….&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5147868817334987421?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5147868817334987421/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5147868817334987421' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5147868817334987421'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5147868817334987421'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/08/lintas-sejarah-sanggar-kiprah.html' title='LINTAS SEJARAH SANGGAR KIPRAH'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-9032687907898240920</id><published>2007-07-28T05:35:00.001-07:00</published><updated>2007-08-17T08:05:39.128-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN Pradono'/><title type='text'>Kisah Tak Berujung</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Merah Putih tercabik-cabik di Bumi Kopyang&lt;br /&gt;Lambangkan perilaku jahiliyah tak terhalang&lt;br /&gt;Atas para syuhada yang rebah bersimbah darah&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terfitnah mendurhaka Jepang si penjajah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merah Putih tercabik-cabik tercabik-cabik&lt;br /&gt;Luluh lantak tercabik-cabik&lt;br /&gt;Sementara tiap jiwa setiap masa diam tak berkutik&lt;br /&gt;Entahkah kesedihan dan keperihan menitik&lt;br /&gt;Ataukah bisu seribu bahasa sejuta muslihat dan taktik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah balas jasa anak bangsa yang meraup jaya&lt;br /&gt;Atas nama para syuhada tak berdaya&lt;br /&gt;Ya, apatah mereka tak berdaya&lt;br /&gt;Di selaput pandang mata tak bermata&lt;br /&gt;Di gumpal hati mati tak bernyawa&lt;br /&gt;Di lubuk kalbu tak bermalu para pendurhakanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandor, kausingkap kedurhakaan anak bangsamu&lt;br /&gt;Kaulah tragedi setiap generasi sepanjang waktu&lt;br /&gt;Kaulah kisah tak berujung para anak cucu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apatah para syuhada harus bicara&lt;br /&gt;Atas angkara yang merobek Merah Putihnya&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;       DI SEBUAH KAWASAN. HAMPARAN LUAS PASIR PUTIH. LUBANG-LUBANG MENYERUPAI DANAU TERSEBAR DI BEBERAPA TEMPAT. DI KAWASAN ITU PULA, LEBIH DARI DUA BUAH MESIN-MESIN PENAMBANG EMAS TANPA IZIN SEDANG BEROPERASI. TERLIHAT BEBERAPA ORANG PEKERJANYA SEDANG SIBUK MENGAMATI HASIL GALIAN MESIN TERSEBUT. TANPA SEPENGETAHUAN PARA PEKERJANYA, BEBERAPA TOKOH YANG ENTAH DATANG DAN BERASAL DARI MANA, TAMPAK SEDANG BERDEBAT. ENTAH APAPULA TEMA DAN TOPIKNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Apa yang dapat ditinggalkan bagi anak cucu ketika permukaan mayapada hanya hamparan kegersangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Ah. Kau hanya berfilsafat dengan retorika murahan. Apa kau tak punya nalar yang lebih berbobot dan realistis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Ingat, kawan! Kita menginjak bumi kasat mata. Kita berdiri di atas hamparan realita. Aktifkanlah sinyal pancainderamu. Bukalah telinga, dengarkan gemuruh masa depan lewat mesin-mesin pencipta lembar-lembar kekuasaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Apakah tak kaurasakan di seluruh urat nadi mereka mengalir denyut-denyut masa depan? Apakah tak kaudengarkan gemerincing kemilau kemakmuran? Ah, kawan. Engkau terlalu sentimentil. Apalah artinya retorika tanpa masa depan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Apakah aku tidak sedang bermimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Kawan. Sudah aku katakan kita berdiri di atas hamparan realita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Jadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Kawan. Engkau telah mempertontonkan kebodohanmu sendiri. Bagaimana engkau sanggup berjuang dan memperjuangkan. Bisamu hanya berpatah-patah kata. Membuka cerita tanpa alur dan kesimpulan. Apa? Apa! Jadi? Hanya itu yang kaubisa katakan. Ah. Jenis sepertimu inilah makanan empuk para nafsu berkuasa. Engkau tak lebih seekor lalat comberan yang sekali jentik, .... plek, plek, plek ... mampus! Jadi, aku tak salah. Engkau hanya menjual retorika murahan ...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Rupanya sang dewa realita telah turun dengan wejangan-wejangan agungnya. Rasa ingin tahuku semakin menggebu-gebu, gerangan apa yang telah terjadi. Apakah aku telah kehilangan tema. Boleh aku nimbrung dalam majelis agung ini .... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Dengan penuh ketulusan. Siapapun berhak berada di sini. Inilah ruang tanpa kelas dan status. Ruang bagi setiap jiwa yang hidup. Ruang tanpa prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Terima kasih, kawan-kawan. Tampaknya realita telah pula menjelma menjadi dewa yang begitu mudahnya masuk ke segenap ruang jiwa. Jiwa yang hampa seperti kawan kita yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Realita menurut kawan kita ini adalah realita itu sendiri. Tak perlu diperdebatkan lagi keberadaannya, tapi cukup disaksikan saja sehingga tak lagi nyata di selaput pandang mata tak bermata. Tak lagi bermakna di gumpal hati mati tak bernyawa. Tak lagi bercahaya di lubuk kalbu tak bermalu. Apakah lagi ketika meluncur dari suara bijak sang dewa realita kita ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Apa!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ah, ke mana arah pembicaraan ini. Kudengar tadi katanya kita ini berada di ruang tanpa prasangka, tapi rupanya kalian semakin jelas dan tegas berpijak pada dua kutub yang berbeda. Rupanya aku telah ketinggalan orientasi. Baiklah, ada yang ingin menjelaskan....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Awalnya, adalah soal manusia dan alam lingkungannya. Pencipta mereka telah memberikan anugerah hidup dan kehidupan bagi keduanya. Kedua pihak ini masing-masing diberikan amanah, hak dan kewajiban. Tentu dengan konsekuensi masing-masing pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Jelas maksudnya. Siapa berbuat dialah yang memetik hasilnya. Itulah yang disebut realita oleh kawan kita ini. Jadi, menurutku tinggal bagaimana manusia itu sendiri bisa memisahkan mana yang benar dan tak benar. Mana yang haknya dan mana yang hak pihak lain. Bumi dan segala isinya telah disediakan oleh Sang Maha Pencipta sebagai sumber rezeki. Tinggal bagaimana manusia memanfaatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Ya. Realita adalah realita yang sudah semestinya bermakna hasil yang dipetik. Pihak manusialah yang paling bertanggung jawab atas segalanya karena merekalah yang dibalut oleh keinginan dan nafsu. Sedangkan alam sekalipun juga bernama makhluk, agaknya lebih berada pada posisi pasif dan pasrah. Mereka ibarat barang-barang stok dan pelayan sekaligus. Itulah realita. Lagi-lagi ... re-a-li-ta. Lalu, apa yang mesti kita perdebatkan lagi. Semua telah berjalan sesuai dengan amanah yang diberikan oleh Penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Sekeliling kita berdiri ini hanya hamparan pasir putih. Lubang kawah di mana-mana. Deru suara mesin-mesin itu kedengarannya semakin bernafsu menyedot kemilau isi bumi: masa depan dan kemakmuran menurutmu, bukan? Pohon-pohon yang berdiri itu kelihatannya takkan bisa lebih lama lagi mempertahankan dirinya dan segera rebah. Akhirnya, takkan lebih lama pula para manusia dan nafsunya akan memetik hasil perbuatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi mana yang kita pijak ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Mereka menyebutnya Mandor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        Mandor ... Mandor ... Mandor. Rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu. Man-dor! Ya. Mandor! Apakah yang kaumaksudkan Mandor itu adalah ladang pembantaian satu generasi Negeri Khatulistiwa bernama Kalimantan Barat yang dilakukan oleh fasis Dai Nippon itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Tepat sekali! Tapi rakyat negeri ini lebih mudah menyebut fasis itu dengan penjajah Jepang. Menurut sejarah negeri ini, penjajah inilah yang telah membantai satu generasi dari berbagai kalangan, status dan profesi sebagai tokoh-tokoh unggulan rakyat negeri ini, yang mereka anggap telah mendurhaka kepada Dai Nippon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Apakah ini alasan realistis para fasis itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Maksudmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Ya. Apakah tidak lebih realistis bahwa fasis itu sesungguhnya mengincar kandungan isi bumi negeri ini, yang Anda sendiri menyebutnya sumber kemakmuran dan masa depan itu? Mereka adalah penjajah! Bukankah mereka ketika itu sedang berperang? Mereka adalah musuh bagi musuh yang lain! Bukankah mereka perlu modal dan sekaligus masa depan untuk dibawa pulang ke negeri asal mereka setelah perang berakhir? Boleh jadi mereka telah mendengar bahwa isi perut bumi Mandor ini berkemilau emas. Ah, Anda seperti tak paham saja tabiat para penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Ya. Kukira ada benarnya juga. Mereka mungkin terlalu percaya diri bahwa merekalah sang pemenang. Ternyata sejarah berbicara sebaliknya. Pembantaian rakyat negeri ini adalah realita yang lain lagi. Mereka anggap inilah alasan realistis atas realita yang lain. Sebut saja suatu ketakutan dari terbongkarnya sebuah skenario besar atas niat sesungguhnya Dai Nippon menguras isi perut Mandor sehingga dengan berbagai tipu muslihat mengajak para petinggi negeri ini dengan alasan bermusyawarah untuk memikirkan nasib dan masa depan negeri ini karena akan dijajah oleh bangsa lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Padahal sesungguhnya pihak Dai Nippon itu telah kalah karena negeri asal mereka telah dibumihanguskan oleh tentara Sekutu, musuh yang lain bagi mereka. Jadi, mereka membantai para tokoh unggulan dan puluhan ribu nyawa yang lain itu agar tidak memberontak karena mereka telah kehilangan kekuatan. Begitu maksud Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Ya! Begitu kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Lalu, kesan apa yang kalian tangkap?!&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;+ Rupanya ada juga retorika murahan andalanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Apa peduliku! Kau sendiri mengatakan bahwa ini adalah ruang bagi setiap jiwa yang hidup. Tidakkah kausaksikan bahwa generasi berikut negeri ini lebih bernafsu menggali isi perut buminya dibandingkan menggali kebenaran sejarah yang menimpa para patriot pendahulunya. Apakah ini bukan kelanjutan propaganda skenario Dai Nippon itu? Apakah ini bukan perlambang bahwa perilaku jahiliyah tetap akan abadi dan tak terhalang? Padahal para syuhada mereka rela rebah bersimbah darah demi mempertahankan setiap jengkal milik mereka. Nama apa yang pantas kausandangkan atas perilaku generasi penerus mereka ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Baik. Lalu apa semestinya yang dilakukan generasi penerus para syuhada negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       - Seperti katamu, retorikaku murahan. Aku tak ingin menggurui mereka apa yang semestinya mereka perbuat. Mereka adalah generasi para cerdik cendekia negeri ini. Mereka seharusnya sudah mengerti apa yang seharusnya. Bukankah mereka telah diajarkan lewat sebuah adagium bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa pahlawannya”? Bukankah itu sudah cukup menjadi pedoman bagi mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       Begini saja, kawan-kawan. Rakyat negeri ini adalah generasi para pejuang. Biarkan mereka terus memperjuangkan kehormatan negerinya. Para pendahulu mereka telah rela mengorbankan jiwa raga demi Ibu Pertiwi-nya. Tentu saja, di antara mereka ada yang hidup hanya demi memenuhi keinginan nafsu mereka. Untuk itu mereka disebut para pengkhianat bangsa sendiri. Menurutku, di atas bumi yang kita injak ini tengah berproses apa yang kusebut neokolonialisme. Mungkin kalian lebih suka menyebutnya neoimperialisme. Atau apalah namanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       + Ironis, memang. Bangsa yang katanya telah merdeka ini ternyata dijajah dan dikuras kembali oleh saudara sebangsanya. Mungkin sebutan yang tepat bagi mereka ini adalah kolonial berambut gelap. (&lt;i&gt;Mandor, 9 Mei 2004&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-9032687907898240920?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/9032687907898240920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=9032687907898240920' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/9032687907898240920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/9032687907898240920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/kisah-tak-berujung.html' title='Kisah Tak Berujung'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3797807610849348605</id><published>2007-07-26T22:11:00.000-07:00</published><updated>2007-08-17T08:11:30.250-07:00</updated><title type='text'>SURAT UNTUK SARIFUDIN</title><content type='html'>by : deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti ceritamu malam ini&lt;br /&gt;aku juga ingin berbagi&lt;br /&gt;mungkin kau sangsi tadi siang aku melewati kamu &lt;br /&gt;melemparkan kesombongan lama yang tak pernah terlepas&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;sejak dulu lagi sampai pada titik kulminasi keangkuhan yang mendera&lt;br /&gt;dikisikisi hari terus berlari berlomba mencari yang terbaik diantara kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seharusnya kau tetap disini&lt;br /&gt;menemani pertapa tua yang setia menunggu embun atau hujan&lt;br /&gt;menjadi permandian kita ketika ditarik ke rawa dan paya yang melintas diotak gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti ceritamu malam ini&lt;br /&gt;aku ingin berbagi&lt;br /&gt;kesangsian melintas lagi &lt;br /&gt;dibawa gagak melepaskan sayapnya ketika menarik kamu yang setia&lt;br /&gt;menemani malam disuguhkan cerita sama dari bibir mungil terselip sebatang rokok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti ceritamu malam ini&lt;br /&gt;aku berbagi&lt;br /&gt;bahwa kamu mulai mengukur resah yang meluap melebihi banjir&lt;br /&gt;pernah kita nyatakan disepanjang kapuas berenang gadis muda&lt;br /&gt;membelai malam seperti ular  yang setia menunggu  adam dan hawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mungkin kita tak usah berbagi, &lt;br /&gt; katakanlah malam ini kita tak pernah bertemu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak 25 September 2001&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3797807610849348605?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3797807610849348605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3797807610849348605' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3797807610849348605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3797807610849348605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/surat-untuk-sarifudin.html' title='SURAT UNTUK SARIFUDIN'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6014840930293156539</id><published>2007-07-26T22:10:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T22:11:09.546-07:00</updated><title type='text'>BISU</title><content type='html'>by : deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semuanya memudar kini&lt;br /&gt;tak ada lagi kata sepakat&lt;br /&gt;lalu satu persatu lari&lt;br /&gt;: menghilang atau menyusun strategi&lt;br /&gt;kebisuan adalah tanda terindah&lt;br /&gt;mungkin kita berdiam sebentar&lt;br /&gt;lalu ngoceh, ngoceh, dan ngoceh&lt;br /&gt;sampai kering air dibakbak sampah&lt;br /&gt;dan pada kuburan semakin sepi&lt;br /&gt;: memang sejak dulu peziarah &lt;br /&gt;  takut melewati rumah abadi ini&lt;br /&gt;bila nurani yang kita tanya telah melewati jam malam&lt;br /&gt;bagi seorang gadis yang belajar berjalan lalu terjatuh &lt;br /&gt;ketika tersandung sampah dan batubatu&lt;br /&gt;apakah harus kita bimbing kembali?&lt;br /&gt;: mungkin kita perlu merenungi diatas kuburan bahwa kebisuan&lt;br /&gt;  adalah tanda tanya terindah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6014840930293156539?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6014840930293156539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=6014840930293156539' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6014840930293156539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6014840930293156539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/bisu.html' title='BISU'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8124181854992006009</id><published>2007-07-26T22:09:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T22:10:02.114-07:00</updated><title type='text'>LORONG GELAP</title><content type='html'>by : deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyusuri lorong gelap ini&lt;br /&gt;ramarama berlomba mengejar lampu merkuri&lt;br /&gt;: ayo bang, singgah sebentar jak&lt;br /&gt;  tadak mahal be, cume dua puluh ribu&lt;br /&gt;asap rokok&lt;br /&gt;bibir mungil&lt;br /&gt;sudut kumuh&lt;br /&gt;ranjang lusuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditengah birahi yang memuncak&lt;br /&gt;dua wanita menarik mimpi tentang&lt;br /&gt;adzan sore tadi yang bercanda didada&lt;br /&gt;ibu yang berpesan &lt;br /&gt;: nak, jangan na’ maen ke tempat tu ye&lt;br /&gt;  banyak ular tedong. bahaye&lt;br /&gt;pacar yang ditinggalkan&lt;br /&gt;: yang, telpon kamek malam ni ye! awas kalau tadak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;segelas kopi telah bermain diotak &lt;br /&gt;suarasuara terus merangsang naluri hewan &lt;br /&gt;(alangkah indahnya ibu, adzan, atau menelpon malam ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar tengah, Januari 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8124181854992006009?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8124181854992006009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8124181854992006009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8124181854992006009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8124181854992006009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/lorong-gelap.html' title='LORONG GELAP'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3667826164075497413</id><published>2007-07-26T22:08:00.001-07:00</published><updated>2007-07-26T22:08:45.620-07:00</updated><title type='text'>RAJA MIDAS</title><content type='html'>by: deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;negeri ini telah melahirkan moyangku&lt;br /&gt;:gemah ripah lohjinawi&lt;br /&gt;kakekku&lt;br /&gt;bapakku&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;sentuhan midas telah merambah kota dan desa &lt;br /&gt;hingga&lt;br /&gt;air yang ada rabuk menggerogoti sendi &lt;br /&gt;memporakporandakan  tenaga ketika seorang kuli pelabuhan&lt;br /&gt;datang lagi dalam botol aqua&lt;br /&gt;maka tak ada lagi embun pagi menjadi jampi&lt;br /&gt;menarik kita keperadaban masa lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Januari 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3667826164075497413?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3667826164075497413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3667826164075497413' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3667826164075497413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3667826164075497413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/raja-midas.html' title='RAJA MIDAS'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5084940491164433822</id><published>2007-07-26T22:00:00.000-07:00</published><updated>2007-07-26T22:06:58.762-07:00</updated><title type='text'>MEMORABILIA</title><content type='html'>by ; deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada bayangmu dipekat ini&lt;br /&gt;malam berkeluh kesah&lt;br /&gt;pada bangunan usang dan bangkai tua&lt;br /&gt;: dibatas kaki langit ini&lt;br /&gt;  waktu kita ukir tak pernah berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 151001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5084940491164433822?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5084940491164433822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5084940491164433822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5084940491164433822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5084940491164433822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/memorabilia.html' title='MEMORABILIA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4879802436163608149</id><published>2007-07-24T09:39:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T09:40:43.875-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>F e n o m e n a l&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita mau kemana, Ndi?”&lt;br /&gt;“Tenang saja, Far. Kamu jangan khawatir. Kita akan ke tempat yang indah. Tempat yang tak pernah terpikirkan dalam benakmu.”&lt;br /&gt;“Busyet. Jauh sekali tempat itu,” umpatku.&lt;br /&gt;“Jangan-jangan kamu membawaku ke tempat yang tak benar.”&lt;br /&gt;“Tak mungkinlah, Far. Aku akan menjerumuskanmu. Kita kan sudah berteman lama sekali. Masak aku tegaan padamu. Tak mungkinlah. Percayalah padaku, Far,” yakinkan temanku. Layaknya seorang jurkam meyakinkan publiknya.&lt;br /&gt;“Percaya aku memang  percaya. Tapi……. Kamu kadang-kadang punya niat menjahili juga.”&lt;br /&gt;“Ini tidak. Aku serius kali ini. Aku ingin menunjukkan padamu sebuah realita kehidupan yang menarik. Yang selalu disisihkan. Untuk itu, kamu ikut sajalah. Ini cocok sekali untuk bahan analisis tesis otakmu. Akukan tahu kamu suka tantangan. Pasti yang kutunjuki ini dapat menyenangkanmu. Menyenangkan kajian logikamu.”&lt;br /&gt;“Tahu saja kamu, Ndi kegemaranku,” cerocosku.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dihempaskan pada realita ini. Realita kehidupan di Rangga Sentap. Sudah camuh. &lt;br /&gt;Malam ini hingar bingar musik sejenis disko menikam jantung. Terbelalak. Hilir mudik burung-burung liar mengundang hasrat. Burung-burung liar yang selalu terbang di malam hari dengan memamerkan kemolekan tubuhnya. Dari kepala sampai kakinya. Mengajak siapa saja yang ada di situ untuk berbuai kasih demi sesuap nasi, katanya. Atau bisa jadi demi untuk menikmati kenikmatan semu yang fantastis. &lt;br /&gt;Bau minuman beraroma kelas tinggi menyengat hidungku. Yang duduk bersama teman. Di salah satu warung remang-remang Rangga Sentap. Warung yang satu ini tergolong sedikit bersih dari kecamuhan. Yang letaknya tidak jauh dari bibir sungai Pawan. Karena di warung ini tidak memberikan ruangan untuk fly, geliat malam, dan sejenis kenikmatan semu lainnya.&lt;br /&gt;Burung-burung liar itu asyik bertengger di sepanjang warung remang-remang Rangga Sentap. Dengan penuh rupa dan warna yang menarik dan memukai rasa. Pamer sensasi semuanya. Dalam rangka mengikat pelanggan. Orang-orang yang berkantong tebal. Biar dapat menciptakan terjadinya adu kekuatan tenaga dalam demi mengeluarkan keringat berkuah-kuah. Mencari siapa pemenangnya dari pertarungan tersebut. Seperti pertandingan tinju, sepak bola saja he… he…&lt;br /&gt;Mengapa realita seperti ini harus ada? Padahalkan segala minuman keras, prostitusi, sudah dilarang pemerintah. Mengapa di sini masih ada prostitusi dan minuman keras? Apakah daerah ini tidak pernah dibersihkan dari kecamuhan? &lt;br /&gt;Sebenarnya sudah ada. Tapi kekuatan sopoilah yang membuat mereka masih betah bertahan. Mengapa bisa jadi begini? Tidak bisakah kebersihan hadir di sini? Apakah selamanya daerah ini menjadi lingkaran dua sisi mata uang yang berbeda? Di satu sisi bernapaskan kebenaran dan satu sisinya lagi beraromakan kepalsuan. Apakah selamanya daerah ini pada waktu malam harinya menjadi dunia geliat malam tanah Kayong? Apakah? Mengapa? Apakah? Mengapa? Apakahhhhhhhhh?????&lt;br /&gt;~~~oOo~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndi, itu betulkah surau?” tunjukku pada sebuah surau yang terpandang tajam oleh mataku. Letaknya dekat bibir sungai Pawan. Tidak jauh dari warung tempat kami mangkal. &lt;br /&gt;Suraunya terbuat dari dinding semen dan berlantaikan semen. Puncaknya membentuk kubah. Berdiri megah di antara kecamuhan. Ukuran bangunan surau itu kurang lebih 6 X 6 meter.&lt;br /&gt;“Betul sekali. Memangnya ada apa kamu menanyakan hal itu? Apa ada yang unik? Aku lihat bentuknya sama dengan surau yang lain. Apa uniknya? Dasar writer, selalu ada saja yang diamatinya,” jawab Andi sambil sedikit mencolek pinggangku.&lt;br /&gt;“Uh… Yang begini ni jadi fenomenal,” gumamku sembari menghindari colekan Andi.&lt;br /&gt; “Sorry… colekannya meleset. Habis bukan penembak jitu sih,” kelakarku.&lt;br /&gt;“Mau ditembak yang lebih jitu ya?” ujar Andi yang sudah siap melakukan tembakan tangannya. Tangannya terlihat terkembang padaku. Dengan tangan terkembang begitukan akan memudahkannya menuju tembakannya ke sasaran urat geliku. Tak bisa menghindar. Karena ruang penghindaran diblokir. Jalan satu-satunya adalah…&lt;br /&gt;“Tidak mau ah!” tahanku. Karena aku rasakan cukup kelakar ini.&lt;br /&gt;“Far, tadi kamu bilang bahwa surau itu menjadi fenomenal. Betulkah itu? Apa maksudnya?” tanya Andi ingin tahu dan penasaran. Mukanya beralih menatapku serius. Betul-betul ingin mendengar penjelasanku. &lt;br /&gt;Mengapa surau itu begitu fenomenal di daerah kecamuhan ini? Mengapa surau itu begitu unik dalam kaca mata pandanganku? Apa keunikkannya? Padahalkan bentuknya sama dengan bentuk surau yang lain. Berbentuk bangunan luas yang mendalam dan ada kubah di puncaknya. Dari sudut mana aku menilai surau itu menjadi fenomenal? Itulah yang ingin diketahui Andi. Karena selama ini belum ada yang mengatakan itu. Ia saja yang sudah sering mangkal dan bertemu surau itu seribu bahkan sejuta kali, tak pernah menemukan kefenomenalannya. Aku yang baru saja bertemu puluhan menit sudah bisa menemukannya. Apa ia tidak penasaran.&lt;br /&gt;“Ndi, cobalah kamu pikirkan. Surau ini begitu megahnya berdiri di daerah ini. Daerah yang penuh kecamuhan. Kamukan tahu bahwa surau adalah tempat muslim melakukan ibadahnya. Bisakah khusyuk orang-orang yang beribadah di antara kebisingan musik yang hingar bingar, kegaduhan manusia bercinta malam, dan kesenangan virus-virus kemiangan merusak kulit keimanan.”&lt;br /&gt;“Ya sih, Far. Tapi… Saat orang-orang di sini akan melaksanakan ibadahnya, semua musik dan kegaduhan dihentikan sementara. Itu peraturan di sini yang tak pernah dibantah. Setelah itu baru dilanjutkan lagi.”&lt;br /&gt;“Baguslah kalau memang begitu adanya. Ada toleransinya. Tetapi tetap saja ada kecenderungan negatifnya. Tak bisa menghapus image yang jelek dari lapisan masyarakat di sekitar ini. Jangan-jangan orang-orang yang ada di sini dalam melakukan kebaikan dan beribadah hanya sebagai tameng keburukan. Apa tak menyakitkan. Itulah yang aku anggap fenomenal. Selain itu, kefenomenalan lain adalah mengenai keberadaan surau ini yang yang sebenarnya bisa dijadikan sebagai media dakwah bagi orang-orang yang mau berpikir dakwah. Untuk menyadarkan orang-orang di sini yang terjebak dalam kenikmatan semu agar bisa kembali pada jalan yang benar dan bisa menikmati kenikmatan hakiki, yaitu tulus dan sejuknya untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Tenang dalam setiap aktivitas ibadah. Selalu akan berusaha mencari rezeki yang halal. Terus akan selalu menyukuri nikmat Tuhan dengan ceria dan lapang dada. Hingga hidup akan kita rasakan tidak terlunta-lunta. Karena kebahagiaan sejati telah hadir dalam  hati kita. Kalau hati sudah bahagia dalam segala pernak-pernik hidup maka jiwa pun juga akan merasakan kebahagiaan. Memang agak berat untuk menjalankannya. Tapi kalau kita ingin mencoba dan berusaha serta tidak lupa berdoa memohon rida-Nya. Insya allah, semua itu akan terlaksana. Asalkan hal itu dilakukan dengan sabar. Belum sampai pada tujuan belum berhenti.”&lt;br /&gt;“Betul juga katamu, Far. Baru kali ini aku mengerti kefenomenalan surau ini. Mengapa tak sedari dulu ketemukan hal itu ya?”&lt;br /&gt;“Dasar lamber. Selalu telmi saja kerjaanmu, Ndi,” sentilku dengan senyuman ramah. Sedikit tertawa. Tawa terkulum.&lt;br /&gt;“Lamber-lamber sedikit tak apalah. Asal tak bermulut ember sepertimu. Telmi-telmi sedikit ada untungnya karena saat ini perutku sudah keriting. Aku mau kamu jamin aku makan indomie. Perutku lapar nih,” cengir Andi.&lt;br /&gt;“Huh…. Dasar kucing batu. Kerjaannya hanya makan melulu,” kataku.&lt;br /&gt;Andi hanya terkekeh-kekeh. Ia tertawa riang.&lt;br /&gt;“Tak berpengaruh. Yang pentingkan aku tak mati kelaparan. Bisa sial jadinya kalau aku mati kelaparan. Kalau kamu terserah…..”&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam aku mangkal di daerah Rangga Sentap. Dunia malam Kota Kayong. Tentu aku mangkal di warung biasanya, warung Pak Sukir. Warung yang bersih dari geliat malam dan kecamuhan. &lt;br /&gt;Aku ingin mengetahui lebih jauh lagi kefenomenalannya yang ada. Selain pasar tradisional yang beralih fungsi menjadi pasar desah-desah, mabuk-mabukkan, judi, dan disko-diskoan, dan suraunya yang megah berdiri kokoh di atas tanah kecamuhan. Sungguh krusial untuk dipikirkan logika otak.&lt;br /&gt;Malam ini aku sedikit beruntung. Aku ditemani Vita, salah satu burung liar Kota Kayong. Aku cuma minta dia menemaniku ngobrol. Berapa tarif ngobrolnya akan kubayar kontan. Dia menyanggupinya. Malam ini dia mengkhususkan untuk free dari kerjanya. Aku ngobrolkan tentang profesinya. Walau demi semua aku harus mentraktirnya habis-habisan. Aku tak perduli. Terpenting informasi penting akan kudapatkan. Tapi dalam hati aku sedikit kesal. Karena dari pembicaraan dengannya aku tidak mendapatkan apa yang ingin kudapatkan. Walau begitu aku berusaha tak menampakkan kekecewaan itu. &lt;br /&gt;Yang membuat aku tertarik. Dia menceritakan padaku bahwa dia mempunyai seorang teman. Temannya adalah anak orang kaya tetapi terjebak dalam lingkaran setan ini. Padahal kalau ingin mengejar kekayaan. Sudah dia miliki. Sebenarnya dia mengejar apa? Kepuasan. Mungkin… pradugaku sementara. Ini menarik sekali. Temannya Vita juga seorang writer, berprofesi sama seperti diriku. Ini lebih menarik lagi. Sebenarnya apa yang dia inginkan ya?&lt;br /&gt;“Kalau Bung Safar mau jumpa dia. Aku siap melobikannya  untuk Bung. Mau Bung Safar?” kata Vita.&lt;br /&gt;“Boleh. Aku sangat mau. Katakan padanya. Aku berharap sekali bisa jumpa dengannya,” jawabku. &lt;br /&gt;“Akan aku usahakan Bung. Mudah-mudahan saja dia mau. Tetapi tarifnya sangat mahal Bung.  Tujuh juta lima ratus ribu. Siap Bung?”&lt;br /&gt;“Masalah uang bukan persoalan bagiku, yang penting dia bisa kuboking. Aku siap membayarnya kontan,” tegasku.&lt;br /&gt;“Okelah kalau begitu, Bung Safar. Nanti  besok malam tunggu saja dia di sini kalau dia sudi menemui Bung Safar. Kalau dia tak sudi, Bung Safar jangan berkecil hati,” kata Vita memberikan kepastian. Aku merasa lega. Aku berdoa semoga saja dia sudi menemuiku. Aku mulai menerawangkan pikiran sebentar. &lt;br /&gt;Tuhan, temukanlah aku dengannya. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Dialah yang sungguh kurasakan memiliki fenomenal lebih di antara semuanya. Fenomenal daerah Rangga Sentap.&lt;br /&gt;~~oOo~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa dia keluar dari surau? Apakah dia burung liar Kota Kayong yang sudah insaf?” desahku. &lt;br /&gt;Mataku tak luput memperhatikannya. Karena rugi kalau kulepaskan keanehan ini. Keunikan yang semantis. Tak terasa dia telah berdiri di depanku. Aku kaget luar biasa. Dia adalah orang yang pernah kukenal dua tahun yang silam. Memori masa lalu terfilmkan lagi dalam benakku. Bagaimana keindahan dan kedamaian pernah kami rasakan berdua. &lt;br /&gt;Keindahan baru terasa hambar ketika kami berpisah untuk menuntut ilmu. Dia yang pergi jauh meninggalkanku. Ke negeri seberang. Beberapa kali kami masih sempat berkirim surat dan berbagi cerita manis. Namun setelah surat yang kedua puluh tujuh, tak ada lagi surat yang berikutnya. Aku mulai cemas. Mungkihkah kamu sudah melupakanku? Atau sibukkah kamu dengan kuliahmu? Atau kamu sudah punya kekasih baru? Aku tak bisa menerkanya. Walau rindu masih mengental. Aku mencoba berusaha menepis bayanganmu. Agar aku tidak terlalu menyesak dalam kerinduan. Tapi aku tak bisa. Karena kamu sungguh berarti bagiku. Kadang aku mengeluh pada Tuhan, semoga kamu melayangkan kabar lagi dari sekian ribuan komunikasi yang terputus ini. Tapi apa yang kuharapkan tak kunjung datang juga… Aku hanya bisa memendam rindu. Berapa lama aku mampu bertahan?&lt;br /&gt;“Ninik….,” seruku tergeragap. Terputus rasa suara di tenggorokkan. Ada rasa sedih bercampur senang menghantam karang hatiku. Sedih karena kamu terjebak dalam lingkaran setan seperti apa yang dikatakan Vita. Senang karena aku bertemu denganmu. Sekian waktu selalu kurindukan. Jika sekiranya kamu akan kembali kepadaku. Mampukah jiwaku menerimamu… &lt;br /&gt;Ah, aku belum bisa memutuskannya.&lt;br /&gt;Hi… hi… Ninikku tertawa kecil. Dia menertawakan apa. Menertawakan kelucuanku. Kelucuan apa? Aku berpikir, aku tak lucu. Apanya yang lucu? &lt;br /&gt;Aku masih senang melihat tawamu. Tawamu masih riang seperti dulu. Tawa kecilnya tak pernah berubah. Cuma… hatiku mulai kebat-kebit.&lt;br /&gt;“Safar, jangan kaget begitu dong. Masak jumpa doi yang sudah lama dirindukan kaget drastis begitu. Biasa saja. Silakan duduk. Aku tak ingin kekasihku mati berdiri karena kelamaan jadi robot,” katanya mempersilakanku. &lt;br /&gt;Seharusnya akulah yang mempersilakannya duduk. Ini malahan sebaliknya. Tak wajarkan tamu mempersilakan tuan rumah duduk. Sudahlah. Hal itu tak perlu digubris.&lt;br /&gt;Aku duduk di sebelah Ninik yang telah duduk duluan. Duduknya begitu manisnya. Kami saling berhadapan. Mata beradu pandang. Menelisik kedalaman hati masing-masing. Masih adakah gelora rindu itu di dada?&lt;br /&gt;“Kamu, betulkah Ninik yang kukenal dulu?” sergahku untuk memastikan.&lt;br /&gt;“Iyalah. Memangnya aku hantu. Aku masih Ninik kekasih hatimu,” jawabnya masih menyunggingkan senyuman termanis dan terindah. Aku membalasnya.&lt;br /&gt;“Nik, aku bingung dengan kamu saat ini. Bisanya kamu terjerumus ke lingkaran setan ini dan menjadi burung liar pencari kenikmatan semu. Padahalkan kamu selalu alergi dengan hal ini. Itu ucapan yang pernah kamu ucapkan padaku waktu kita masih bersama dulu.”&lt;br /&gt;“Ya, aku tahu itu. Aku tak menyalahkanmu mengatakan dan berpikiran seperti itu. Karena kamu telah mengetahuinya dari Vita. Wajar saja kamu menduga seperti itu. Syukurlah Vita telah melakukan tugasnya dengan baik. Kalau kamu ingin kejelasannya. Inilah kebenarannya. Semua yang dikatakan Vita mengenaiku adalah suruhanku. Itu kulakukan hanya ingin mengetahui sejauhmana reaksimu padaku, yang sudah hampir tiga tahun tak berjumpa. Kamu masihkah perhatian padaku? Rupanya kamu masih memilliki itu. Aku sungguh beruntung. Tak sia-sia juga aku setia padamu. Sebenarnya Far, kamulah yang telah terjebak olehku?”&lt;br /&gt;“Bukan aku yang telah terjebak oleh ucapan Vita, tapi kamulah yang terjebak ke lembah nista?”&lt;br /&gt;“Far, aku tak pernah akan terjebak ke lembah nista. Aku tak akan pernah jadi burung liar mengejar kenikmatan semu. Aku memasuki lingkaran kehidupan mereka karena aku hanya ingin tahu jauh tentang mereka. Bagaimana mereka menjalani kehidupannya dan seluk-beluk lain yang sering menyakitkan dan memojokkan mereka. Aku hanya mengumpulkan bahan untuk tulisanku sama seperti yang kamu lakukan saat ini,” jelasnya begitu gamblang. &lt;br /&gt;Aku hanya terdiam. Hanya otakku saja yang terus berputar, tiada berhenti. Benarkah yang dia katakan itu atau suatu alasan untuk menutupi keburukan perilakunya?&lt;br /&gt;“Far, aku tegaskan padamu bahwa aku bukanlah manusia bodoh yang rela menceburkan diri ke lembah nista. Otakku belum sinting, Far. Satu hal yang harus kamu ketahui bahwa sampai saat ini aku masih menyintai dan menyayangimu. Semua yang kulakukan ini agar aku selalu bertemu dan ingin bersamamu sampai kapanpun.” &lt;br /&gt;Mantap sekali hal itu diutarakannya dengan ekspresi tenang, murah senyum, dan sederhana. &lt;br /&gt;Ah, aku tambah bingung. &lt;br /&gt;Rupanya Ninik sungguh menyayangiku. Mengapa tak sedari dulu sayang ini dia utarakan? Betulkah ini sayangnya? Sekian lama menghilang dariku tanpa pesan. Sekian lama membuatku perih dan mulas menanggung sayang padanya. Sekian lama membuatku menjadi gila karena rindu berat padanya. Itukah sayang?&lt;br /&gt;Rangga Sentap? Mengapa semuanya menjadi fenomenal? &lt;br /&gt;Pasarmu. Suraumu. Ninikku. &lt;br /&gt;Burung liar pencari kenikmatan semukah dia? Atau dia adalah Ninikku yang dulu penuh dengan keasliannya? Betulkah dia menyayangiku setulus hatinya ataukah dia hanya berpura-pura?&lt;br /&gt;Diriku? Mengapa kamu buat dalam fenomenal juga?&lt;br /&gt;Dihempas oleh keragu-raguan. Dihempas oleh ketidakmengertian. Dihempas…&lt;br /&gt;Teman-teman setiaku berikanlah aku sebuah solusimu. Bagaimana aku harus berbuat dan bertindak menghadapi fenomenal ini? Kirimkan saja solusimu ke emailku : Udhien_78@yahoo. Com……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 23 September 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4879802436163608149?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4879802436163608149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4879802436163608149' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4879802436163608149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4879802436163608149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/f-e-n-o-m-e-n-l-oleh-m.html' title=''/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-2203771174841763569</id><published>2007-07-24T09:37:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T09:38:45.264-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Bercinta dengan Laut&lt;br /&gt;Oleh: M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh baru saja usai di ranting waktu. Deritan senyumannya mendorong tanganku melipat sajadah yang bergambar masjid coklat. Yang kugunakan dalam salat subuh barusan. Sajadah itu kuletakkan di meja belajar dengan penuh kerapian. Seterusnya kutinggalkan kebisuan kamar. Tak ingin sedetik pun tertinggal untuk menikmati lautan.&lt;br /&gt;Derap langkahku yang kasar terbaca oleh ibu. Sama. Sudah selesai juga melaksanakan salat subuh. Agar tidak kepergoknya kutambah kecepatan langkah ini.&lt;br /&gt;Aku tak ingin ibu bertanya macam-macam. Mengapa subuh ini aku keluar? Apa yang kucari di subuh ini? Mengapa aku tidak membantunya bekerja di dapur? Menyiapkan peralatan untuk membuat kue yang akan dititipkan di kantin Ibu Makrifah. Menambah penghasilan setiap harinya. Tak ingin.... capek aku menjawabnya. Nantinya.... &lt;br /&gt;Aku juga heran pada diriku sendiri. Mengapa subuh ini aku bersemangat untuk pergi ke lautan. Ingin melihatnya. Ingin memandangnya. Seakan jiwaku dituntun oleh kekuatan tak terlihat. Kekuatan apa ya? Kekuatan siluman atau kekuatan malaikat? Sepertinya aku ceria saja menuju ke sana. Seakan tidak ada beban penderitaan yang kubawa. Seakan-akan aku juga akan mendapati kekasihku yang lama kunantikan dalam seribu kerinduan. Kerinduan untuk menyatukan perasaan yang sudah lama membeku biar mencair lagi.&lt;br /&gt;Subuh ini. Sungguh. Aku tak pernah bisa memahami maknanya. Aku diikat rasa indah mendalam. Dengan menyaksikan riak air lautan yang tenang tak beriak mendayung bahteranya dengan damai ke pantai. Memerciknya pelan-pelan. Seperti jatuhnya butiran embun di dedaunan hijau pagi hari. Ia membongkar muatannya berupa kedamaian dan kesegaran meruakkan jiwa ke langit kayangan. Aku semakin terhanyut dibuai perasaan damai. Apalagi senandung angin bernyanyi dengan merdunya. Mengajakku untuk bernyanyi. Aku mengikutinya tanpa protes apapun. Tanpa aku ketahui bahwa waktu terus saja dimakan peredarannya. Sehingga ia mulai pamit diri. Ia ingin istirahat sebentar di peraduannya. Melemaskan sendi-sendi tubuh yang pegal linu biar pulih kembali seperti apa adanya.&lt;br /&gt;Aku merasa kecewa. Sungguh kecewa. Karena terlalu singkat subuh indah ini berlalu dari kenanganku. Coba saja tiap daur yang ada selalu menampilkan subuh indah begini dengan suasana panorama lautan juga seperti ini. Sudah dipastikan aku tak akan kemana-mana. Aku akan terus berdiam diri di sini. Berkeluarga. Beranak pinak.&lt;br /&gt;Padahal sebenarnya sebelum aku berjumpa panorama lautan yang begitu indah di subuh ini. Aku paling membencinya. Aku paling alergi dengannya. Aku mual dan muak setiap kali teman-temanku menceritakan keindahannya. Karena pemikiranku waktu itu bahwa lautan tak pernah memberi kenikmatan apa-apa padaku. Lebih enaknya aku menikmati daratan dan menaklukan keperkasaannya yang selalu menantang adrenalinku, terbangkitkan. Menggelutinya. Sampai ia menyatakan menyerah setelah kutaklukan. Karena aku lebih perkasa darinya.&lt;br /&gt;Kalau teman-temanku ingin mengajakku rekreasi laut atau rekreasi untuk menikmati keindahan pantai, aku selalu menolaknya secara tegas. Aku sungguh membencinya. Sampai mati pun aku tak akan mau sudi menikmatinya. Mengapa aku terlalu membencinya? Mungkin jawaban yang dapat kuberikan adalah lautan bagiku begitu angkuh dengan keluasannya. Lautan terlalu rakus dengan kedalamannya. Lautan terlalu beringas dengan kekuasaannya. Secara otoriter memaksa manusia untuk mengidolakannya. Pokoknya lautan begitu terlalu.... Teman-temanku hanya mengurut dadanya dan memberikan aku sebuah gelar, manusia abnormal. Antipati pada keindahan lautan yang lebih yahut daripada daratan.&lt;br /&gt;Aku akan  marah kalau mereka berani membandingkan keindahan lautan dengan keindahan daratan. Apalagi menjelek-jelekkan daratan yang selalu kupuja-puja seperti pangeran yang selalu memuja-muja putri nirwana.&lt;br /&gt;Teman-temanku memintaku berpikiran bijaksana. Jangan terlalu fanatik buta. Dengan hanya mengidolakan keindahan daratan. Teman-temanku memberikan argumennya bahwa keindahan di dunia ini terdiri dari dua keindahan, yaitu keindahan lautan dan keindahan daratan. Dua keindahan itu selalu berjalan beriringan tapi tak pernah bertemu. Kapan ya dua keindahan itu akan bertemu?&lt;br /&gt;Karena tak bisa meruntuhkan keteguhan imanku yang selalu setia memegang prinsipku yang hanya mengidolakan keindahan daratan. Akhirnya mereka mencapku manusia mati suri. Badanku yang sebelahnya mati. Badanku yang sebelahnya lagi hidup. Seharusnya, dua badan itu selalu hidup dan terus hidup. Baru dikatakan normal atau wajar. Aku tak pernah mau ambil peduli dengan gelar baruku itu. Karena hanya aku yang mengetahui badanku sendiri. Aku tetap manusia normal. Pedulikah dengan gelar macam itu. &lt;br /&gt;~~oOo~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu memperhatikannya. Dua minggu ini. Pemuda setia yang setiap subuh selalu duduk antik di batu dengan tenangnya. Sejuknya batu yang didudukinya menghangati suasana hatinya bertambah damai. Dia selalu memperhatikan keadaanku. Tak jemu-jemunya. Tak bosan-bosannya. Saat seperti inilah membuat hatiku berdebar-debar. Ada gemuruh rindu di dada kalau sekali saja tak melihat pemuda itu. Ada getar asing bercokol di perasaan kalau setiap saat memandangnya. Membawakan imajinasiku ingin selalu bersamanya. Menyatu dengannya, bila perlu. Mungkinkah yang kualami ini yang dinamakan orang dengan jatuh cinta pada pandangan mata... entahlah, aku tak bisa menerka sejauh itu. Apakah aku betul-betul jatuh cinta atau tidak? Yang terpenting suasana perasaan seperti ini harus tetap selalu kunikmati.&lt;br /&gt;Semakin sering aku menikmati suasana perasaan itu. Semakin aku dihantam perasaan ganjil yang setiap kala menghantuiku. Membayang-bayangi hidupku. Apakah pemuda itu benar bayangan hidupku untuk masa depan? &lt;br /&gt;Ah... aku selalu membayangkan wajahnya yang begitu senangnya melihat penampilanku. Setianya setiap subuh berlalu. Mengeraskan perasaan ganjil semakin kuat memberontak dari dalam tubuhku. Menyuruhku untuk menjumpainya. Tapi aku masih berusaha untuk meredamnya. Agar aku tak menjumpainya. Akan naif sekali kalau aku menjumpainya. Murahan. Seberapa lama aku akan mampu membendung perasaan ganjil ini? Setiap detik. Setiap menit. Setiap jam terus merajam-rajam tubuhku habis-habisan. Agar aku menjumpainya dan menghilangkan kenaifan itu. &lt;br /&gt;Hingga akhirnya aku tak mampu membendung lagi serbuan perasaan ganjil itu yang begitu gencarnya dan bertubi-tubinya menghantam kekokohan hatiku. Dinding pertahanan hatiku jebol dihancurkannya. Serpihan-serpihannya berserakan berkeping-keping terlampar sepanjang aliran darahku. Menimbulkan sebuah keberanian padaku untuk menyambanginya. Menyapanya dan ingin bersenda gurau setiap kala menghabiskan masa yang terus bergulir menurut perputaran nasibnya.&lt;br /&gt;Aku berjalan anggun menuju ke arahnya. Menebarkan pesona yang kumiliki. Mendekati dia yang masih setia duduk tenang dan manis di sebuah batu datar di subuh ini. Riakku yang berirama menembangkan nyanyian suling anak gembala. Mendayu-dayu menusuk kalbu. Ikut terbawa alunan suka padamu. Pakaianku yang sederhana hijau berlumut kukibarkan sepanjang mungkin. Agar dia dapat melihatku secepatnya. Mataku yang biru seperti mata orang barat, kupamerkan padanya. Agar dia bisa melihat dengan jelas dari mataku bahwa saat ini aku sangat senang. Sehelai selendang melingkari leher jenjangku. Luas membentang sepanjang aliran pantai. Aku akan mengenalkan namaku yang  pertama sebelum dia menanyakannya. &lt;br /&gt;Namaku Ami yang diikuti panggilan kekerabatan Tsuna. Kalau digabungkan namaku menjadi Tsunami. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kedua orang tuaku tak kuketahui siapa mereka. Karena saat aku muncul, aku sudah tak pernah melihat mereka. Kami hanya diasuh samudera hijau sehingga tumbuh dewasa seperti ini. Aku memiliki dua kakak lagi.&lt;br /&gt;Kakakku yang pertama atau tertua namanya Longnami. Orangnya penyabar dan berpembawaan tenang. Dialah yang sering menjadi kepala keluarga dari kami bertiga. Dia jarang memunculkan dirinya ke permukaan bumi. Sebab dia lebih suka menyucikan dirinya. Dia lebih menyenangi dunia spritualis. Karena dia ingin jadi katarsis. Kalis dan suci tak beralis. Bersih dari noda dan dosa. Dia ingin dengan dunianya itu, dia dapat mencapai kebahagiaan hidup sejati. Kebahagiaan hidup sejati yang selalu damai dan penuh kesejahteraan. Tak ada percekcokan. Semua berjalan sesuai dengan kodratnya. Karena semuanya memiliki kesucian hati masing-masing.&lt;br /&gt;Kakakku yang kedua, Ngahnami namanya. Dia lain dengan kakakku yang pertama. Kakakku yang kedua ini lebih suka berdakwah dan mengajak orang-orang untuk menuju jalan kebenaran dan kebaikan melalui fatwa yang diberikannya. Dia pintar berdakwah. Sehingga pengikutnya banyak. Lumut, karang, terumbu, ikan, kepiting, dan hewan laut yang sejenisnya adalah pengikut setianya. Pengikutnya yang selalu tak bosan-bosan mendengarkannya. Walaupun ada yang tak mengindahkannya. Mereka tetap asyik saja mendengarkan fatwa kakakku. Katanya suara kakakku yang memberi fatwa sungguh sejuk mengalir dalam jiwa. Mendamaikan perasaan yang ada. Sehingga pengikutnya begitu akrabnya menjalin persahabatan dan kesatuan antarsesama mereka. Damai. Tenang. Tak lupa mereka beramai-ramai mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;Cuma aku saja yang bergerak bebas. Bebas bergerak kemana-mana. Sesuka hatiku. Karena aku tidak mau terikat seperti kedua kakakku oleh aturan keinginan mereka. Karena sejujurnya, aku memang suka bebas. Selain bebas, aku orangnya pemanas. Jujur saja itu kukatakan pada kalian. Agar kalian bisa mempertimbangkannya. Jangan sampai membuat aku sampai manas. Jangan sampai membuat aku terusik. Karena kalau aku sudah terusik dan manas. Semua orang akan kulabrak. Kutendang. Kuterajang. Kutinju. Bahkan kubonyokan biar jadi tape sekalian. Walaupun orang itu besar atau kecil, aku tak peduli. Aku akan puas kalau dia sudah kumatikan. Lemas napasnya. &lt;br /&gt;Sejak memandang pemuda yang begitu sabar, telaten, dan bersahaja itu, aku jadi banyak merenung. Seakan-akan magnet matanya menyuruh aku melakukan perenungan. Padahal alam perenungan adalah hal yang paling kubenci. Mengapa aku harus melakukannya? Kenapa aku malahan sungguh tertarik untuk melakukan perenungan itu? Apakah urat takutku sudah putus? Entahlah aku tak bisa menjawabnya. Yang kutahu pandangan pemuda itulah yang telah memotivasiku untuk melakukan perenungan. Aku mulai memahami bahwa dalam kehidupan juga diperlukan kesabaran untuk memuluskan jalan dalam menjalaninya. Ketelatenan harus juga ada. Kebersahajaan juga harus dimiliki. Tak lupa, aku juga memikirkannya. Sungguh sabar, telaten, dan bersahajanya pemuda itu duduk manis di atas batu memperhatikanku. Sebenarnya mengapa pemuda itu sendirian? Apakah yang dicarinya di sini? Apakah yang diinginkannya dariku? Mengapa pemuda itu selalu ceria setiap memandangku? Mungkinkah pemuda itu betul-betul mencari dan ingin memiliku? Ah… hingga…&lt;br /&gt;Pemuda kesepian, aku siap menjadi teman sepimu dan mungkin lebih jauh lagi aku siap menjadi kekasih hatimu. &lt;br /&gt;~~oOo~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak dari keceriaanku. Karena ada seorang bidadari mendatangiku. Mengapa kukatakan bidadari? Karena kecantikannya setara dengan bidadari walau gambaran bidadari hanya kudapatkan dari membaca buku. Aku seketika ingin berlari atau menjauh darinya. Bila perlu aku menghilang seketika dengan jurus sulap sim salabim. Tapi ternyata itu tak sanggup aku lakukan. Kakiku tak mau beranjak dari dudukku yang rapi. Mungkinkah dia menebarkan lem pada seluruh tubuhku sehingga aku tak bisa bergerak. Aku hanya bisa menatapnya saja. Bidadari itu terus mendekat. Aku semakin gemetar. Gemetar yang menggigilkan seluruh tubuhku. Bukan karena demam tetapi lebih banyak disebabkan keterkejutanku dapat bertemu seorang bidadari dalam wujud yang nyata, bukan dalam dunia angan-angan. Bidadari itu sudah tepat di depan mataku. Dia mulai menyapaku.&lt;br /&gt;“Jangan takut. Aku bukan hantu.” Suaranya merdu mengalun. Menepis keraguan dalam hatiku kalau dia bukan jelmaan hantu. Memupus kegemetaranku.&lt;br /&gt;“Kalau kamu bukan hantu, lantas kamu siapa?” tanyaku masih tergeragap. &lt;br /&gt;Sebentar kesadaranku mulai pulih. Tapi aku bicara masih saja terbata-bata. Maklum baru kali ini aku menjumpai gadis seperti bidadari. Pendaran keringat tubuhku turun ke pasir. Meniris pelan-pelan seperti tetesan hujan melumat air. Keringatku hilang tak berbekas. &lt;br /&gt;Bidadari itu tersenyum. Senyumannya indah membuat aku terpesona. Sebab aku melihat lengkungan pelangi yang muncul dari dalam bola matanya. Indah.&lt;br /&gt;“Aku, Tsunami,” katanya mengenalkan namanya. Tanpa kaku. Lancar saja ia bicara. Penuh keramahan. &lt;br /&gt;Semulanya aku tak ingin mengenalkan namaku. Tapi hatiku menyuruhku agar segera mengenalkan namaku juga. Akhirnya bibirku tak bisa diajak kompromi lagi. Secara refleks dia mengenalkan namaku. &lt;br /&gt;“Tirta.”&lt;br /&gt;Selanjutnya keakraban terjalin. Keramahtamahan menyatukan kami. Aku merasa damai di sampingnya. Kedamaian yang alamiah. &lt;br /&gt;Setiap subuh aku sering menemuinya. Menghabiskan sari hidup dengannya. Mereguk kedamaian lewat kesenangan yang dipampangkannya. Di atas bening-bening bulir tubuhnya yang mulus, tak ada cela sedikit pun. Di genggaman erat cintanya yang hangat dan mesra. Selalu diberikannya padaku. Seakan tak pernah habis-habisnya. Menghadirkan surga dalam hatiku saat ini. Penuh gumpalan kenikmatan yang tak akan pudar untuk selama-lamanya. Tanpa aku memahaminya bahwa aku telah mendalam melakukan percintaan dengannya. Berulang-ulang kali setiap subuh yang kulalui. Tak pernah bosan-bosannya. Dengan pasir dan pantai jadi saksinya dan pengawal pribadi kami. Menjaga kami setiap saat dari gangguan-gangguan yang dilancarkan oleh orang-orang yang iri dengan kebahagiaan kami.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tirta, kenapa kamu selalu menghindar dariku? Padahalkan kamu telah berjanji akan menjagaku selamanya. Sekarang mana janjimu itu,” depak Virna. &lt;br /&gt;Virna adalah orang yang pernah menciptakan pelangi dalam hatiku. Orang yang sering menghiasi jantungku dengan senjanya yang alamiah dan indah. Orang yang pernah menjadikan sanubariku sebuah taman bunga beraneka warna. Yang bunga-bunga tersebut tak pernah layu dan terus memekar sepanjang masa yang selalu menebarkan keharuman. Orang yang pernah membuat aku merasakan betul-betul menjadi manusia. Orang yang mampu membuatku bahagia. Hal itu terjadi saat aku belum mengenal Tsunami. Kini hal itu tak ada lagi. Hilang tak berbekas. Sirna entah kemana. Yang ada hanyalah Tsunami. Wajar saja Virna menagih janjinya. Karena gelagatku telah menunjukkan perubahan yang signifikan, tak mau berdekatan dengan Virna. Membuat Virna harus bersikap tegas dalam meminta ketegasanku.  &lt;br /&gt;“Virna, janji itu sudah tak ada lagi dalam hatiku. Janji itu telah kubuang jauh-jauh. Sekarang janji itu sudah kikis bersih dalam hatiku bahkan dalam memori otakku. Untuk itulah, aku tak bisa memberikan janji itu. Karena barang itu sudah tak ada lagi dalam diriku. Sekarang pun aku ingin berterus padamu bahwa aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Jadi maafkan aku, Vir,” tandasku.&lt;br /&gt;Virna kaget. Dia tak menyangka bahwa aku bisa berbicara semacam itu. &lt;br /&gt;Dimanakah kasih sayangku selama ini padanya? Betulkah cintaku sudah pupus seperti apa yang telah aku ucapkan. Betulkah aku menyirna dalam jiwanya. Pengaruh apa yang telah mampu menghilangkan rasa cintaku padanya. Aku menatap matanya mencari kebenaran itu. Karena aku tahu dari ibuku bahwa indera mata jarang berbohong. Walaupun berbohong, hal itu dilakukan mata karena terpaksa.&lt;br /&gt;“Apa maksud ucapanmu barusan. Bagaimana dengan cinta kita, Tirta?”&lt;br /&gt;“Vir, aku tak bisa lagi mendampingimu. Aku tak bisa lagi sebagai teman seperjalananmu untuk merengkuh bahagia. Sebab jujur kukatakan padamu. Aku berubah saat ini karena aku sudah menemukan orang yang betul klop denganku. Ialah yang telah merubah aku seperti ini. Tapi aku senang. Karena dalam penampilan dan gayaku sekarang, aku merasa manusia yang betul-betul menikmati kehidupan. Aku betul-betul manusia yang mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan yang tiada terkirakan. Vir, maafkanku. Hubungan cinta kita berakhir cukup sampai di sini.”&lt;br /&gt;“Semudah itukah kamu melupakanku. Orang yang banyak menorehkan kenangan manis padamu. Orang yang banyak membantumu hingga dapat menikmati manisnya kehidupan, dulunya.”&lt;br /&gt;“Ya. Sebab aku sudah tak punya cinta lagi dengamu. Mengapa musti aku paksakan lagi. Dulu memang cinta itu terus tumbuh dalam hatiku. Tapi sekarang cinta itu bukannya tumbuh malahan semakin mekar dalam diriku. Tapi cinta itu bukan untukmu, melainkan untuk orang yang kucintai saat ini. Yang muncul saat subuh menjelang. Aku doakan kamu mendapatkan orang yang lebih baik dariku,” kata Tirta melangkah menjauh dari Virna. Langkahnya dimulai dari santai kemudian mulai melaju. Virna berusaha mencegat langkah itu. &lt;br /&gt;“Tirta……..”&lt;br /&gt;“Maaf Vir, aku harus pergi…” Makin laju ia meninggalkan Virna.&lt;br /&gt;“Tirta, kamu kejam. Munafik. Bangsat. Aku tak menyangka kamu bisa berbuat sekejam ini padaku,” Virna mengguguk. Hujan badai dari matanya mulai menjelas membentuk butiran bening yang tumpah ruah. Membanjiri halaman tempat ia terguguk dan terduduk lemas. &lt;br /&gt;Ia tak menyangka begini akhir dari percintaannya dengan Tirta. Tirta yang dulunya dikenal santun. Selalu dikhayalkannya. Menjadi penjaga hatinya. Pemberi cahaya penerangan dalam kegelapannya. Tapi ternyata… semuanya amblas dimakan waktu. Keropos.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak-bapak lepaskanlah aku. Izinkanlah aku menemuinya. Perkenankanlah aku untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang kulakukan padanya. Agar ia tak berpikiran yang bukan-bukan terhadapku dan akan berimbas kepada kalian. Perkenankanlah aku menemuinya untuk mempertanggungjawabkan perbuatanku yang telah menghamilinya.”&lt;br /&gt;“Tidak bisa. Kamu harus dihukum pasung. Karena kamu telah melanggar pantangan desa.”&lt;br /&gt;“Jangan bapak-bapak. Aku jangan dipasung. Bu, tolonglah anakmu ini. Berikanlah pengertian pada mereka bahwa perbuatan yang mereka lakukan padaku adalah salah. Bu, bantulah aku dengan sekuat tenaga dan daya upayamu,” pinta Tirta pada ibunya. Ibunya yang selalu bijaksana dalam menangani segala persoalan. Mungkinkah saat ini ibunya masih bertindak bijaksana. Setelah mengetahui anaknya telah melakukan perbuatan besar yang telah mendatangkan bencana atau malapetaka bagi seluruh masyarakat kampung juga termasuk dirinya.&lt;br /&gt;Tirta kelihatannya meronta-ronta. Ia berusaha melepaskan cekalan warga yang akan memasungnya. Ibunya tak bergeming sedikit pun. Seakan ibunya sangat marah padanya. Sesekali kening ibunya berkerenyat-kerenyit. Sepertinya ia melawan marahnya. Akhirnya pertimbangannya kabur berganti kemarahannya mencapai puncaknya. Hawa amarah lebih dominan menguasai diri ibunya.&lt;br /&gt;“Anak keparat! Sialan! Mengapa kamu selalu tak mengindahkan nasihat ibu. Bahwa ibu sudah melarang jangan melihat lautan di saat subuh hari. Itu adalah pantangan desa. Sampai sekarang tidak ada yang melanggarnya. Kamu saja yang keras kepala. Karena kalau dilanggar maka akan datang malapetaka dari laut akan menimpa seluruh penduduk kampung. Gara-gara perbuatanmu seluruh masyarakat kampung mendapatkan imbasnya. Perbuatanmu dinilai sudah kelewat batas dan terlalu besar. Untuk itu, ibu tak bisa memaafkan kesalahanmu. Dan mulai detik ini juga ibu berkata bahwa kamu bukan anakku lagi. Kamu adalah anak pembawa sial. Pembuat malapetaka. Pasunglah ia. Buatlah ia menderita untuk penebus kesalahannya. Bawalah ia menjauh dariku. Aku tak sudi lagi melihat wajahnya,” perintah ibuku.&lt;br /&gt;“Ibu….. Ibu …...” gapai tanganku memanggil ibuku dari gelandangan penduduk kampung menuju pemasungan.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong…. Tolong…… Ada Tsunami,” pekik penduduk Kampung Laut berusaha menyelamatkan diri ke Kampung Darat. Dari anak kecil sampai yang tua meneriakkan kata-kata itu. Mereka terus berlari mencari tempat selamat dari amukan Tsunami. Tsunami tak peduli dengan semua itu. Tujuannya hanyalah ingin menemukan Tirta. Tirta yang telah mengkhianati cintanya. Tirta yang tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah menghamilinya. Tsunami terus berteriak marah.&lt;br /&gt;“Mana Tirta? Ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.”&lt;br /&gt;Penduduk Kampung Laut mana ada yang bisa memahami apa yang diucapkannya. Terdengar oleh mereka, hanyalah dengusan suara hidungnya yang bergemuruh garang. Penduduk Kampung Laut terus menjerit histeris. Kegaduhan menjadi-jadi dan ramai. Jeritan dan tangisan kecil maupun besar bercampur aduk ketika tubuh mereka ditinju dan diterjang oleh Tsunami. Terlempar jauh. Bahkan ada yang mati seketika. Karena tenaga yang digunakan Tsunami melebihi dari yang standar. Tenaga yang dikeluarkan Tsunami, yaitu 19,4 skala richter. Suatu nilai kekuatan tenaga tubuh yang begitu besar. &lt;br /&gt;Pekikan penduduk Kampung Laut tak henti-hentinya. Kebisingan menderu-deru berbunyi nyaring senyaring drum kosong yang dipukul dengan besi. Jalanan membanjir dan terus menghajar siapa saja yang berani menghalangi langkahnya. Menyapa awan-awan sedang bersantai di angkasa biru. Dengan cat warna-warninya yang begitu cerah.&lt;br /&gt;Tsunami tak peduli. Beribu-ribu bahkan berjutaan penduduk kampung terkapar karena ulahnya. Ia terus saja berjalan gagahnya menuju Kampung Darat. Ia harus cepat menemukan Tirta. Biar cepat ia membuat perhitungan dengan Tirta.&lt;br /&gt;Walau melakukan perjalanan yang cukup jauh juga. Berkil0-kilo meter bahkan beratus-ratus kilometer, ia dapat menemukan Tirta yang dipasung penduduk Kampung Darat. &lt;br /&gt;Sebelum Tsunami datang, penduduk Kampung Darat yang memasung Tirta telah kabur duluan. Mereka takut dilibas tak berdaya oleh Tsunami.&lt;br /&gt;“Tsunami, aku senang kamu yang datang,” kata Tirta gembira. Ia menemukan lagi keceriaannya yang hampir punah tadi. Ia telah berjumpa dengan kekasihnya. Ia berharap kekasihnya Tsunami bisa melepaskannya dari pasungan. Tsunami belum bergeming sedikit pun. Tirta mulai menegur kekasihnya.&lt;br /&gt;“Tsunami, lepaskan kekasihmu ini dari pasungan ini. Lepaskanlah kekasihmu dari derita ini. Aku merindukanmu. Aku akan bertanggung jawab atas kehamilan itu. Aku akan mengawinimu. Tapi lepaskan aku dulu!”&lt;br /&gt;Tsunami masih belum beranjak. Ia masih berpikir. &lt;br /&gt;“Tsunami kekasihku, cepatlah! Aku sudah tak tahan lagi menangung derita pasungan ini. Lepaskanlah secepatnya aku dari derita ini.”&lt;br /&gt;“Baiklah, Tirta. Aku akan melepaskan deritamu untuk selama-lamanya. Karena kamu tak pantas lagi menjadi kekasihku. Aku sudah kepalang tanggung terluka olehmu. Lukanya sangat pedih. Biarlah benih hasil cinta dan kasih sayang kita, aku yang menjaganya. Tirta keparat, bersiaplah kamu kulepaskan dari derita ini untuk selama-lamanya.”&lt;br /&gt;Tersentak aku mendengar suaranya yang garang. Belum pernah kulihat Tsunami semarah ini. Apakah tadi aku telah berbicara yang salah padanya? Memintanya dengan tak sabaran agar melepaskanku dari pasungan? Benarkah hanya alasan itu. Ah, tak perlu jauh aku berpikir. Tapi apa maksudnya, akan melepaskan aku selama-lamanya dari derita pasungan ini.&lt;br /&gt;Belum lagi aku memahami ucapannya. Tsunami telah menghajarku. Menamparku. Meninjuku. Menendangku. Memukulku. Hingga aku hanya mengaduh kesakitan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 1 Juli 2006&lt;br /&gt;~oOo~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-2203771174841763569?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/2203771174841763569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=2203771174841763569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2203771174841763569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2203771174841763569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/bercinta-dengan-laut-oleh-m.html' title=''/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3476317271007751064</id><published>2007-07-24T08:12:00.000-07:00</published><updated>2007-07-24T08:15:34.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN Pradono'/><title type='text'>Kamar 9 B</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang memulai. Lima kepala telah mengambil posisi. Satu persatu mulai menyatakan diri. Seorang darinya mengangkangi logika-logika. Seorang lainnya melepaskan embel-embel konvensi. Setiap diri beranjak memproklamirkan identitas. Semuanya mengukuhkan diri sebagai kepala berwatak pendobrak di tengah-tengah keramaian normatika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua percaya pada visi masing-masing. Setiap mereka percaya bahwa pendobrakan hari ini akan sanggup menjebol benteng kemapanan kemarin. Mereka yakin bahwa masa depan akan tergenggam di telapak tangan keteguhan. Setiap diri yakin seyakin-yakinnya bahwa dengan menjebol dinding kiri konvensi berarti meruntuhkan dinding kanannya sekaligus. Sejak itu, merdekalah segalanya dari segala kemerdekaan yang terbelenggu kemapanan kulit kacang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmosfir Kamar 9 B berkepulan asap sigaret berbagai merk ini tak mampu lagi membendung tiap maksud dan segala sesuatu yang berseliweran. Segala realita singgah di pelupuk mata. Terhenti sekejap. Saling menatap. Sunyi. Senyap. Pengap. Tiba-tiba segalanya terungkap. Kepala demi kepalapun membentangwujudkan jatidiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak ingin jadi epigon sebab aku lebih mulia daripada bebek-bebek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekepul asap dari sebatang kretek melesat dengan penuh keyakinan. Mengalahkan tebalnya empat kali empat meter dinding bujur sangkar yang melingkupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada reaksi perlawanan. Hening. Bisu. Sebisu angin malam di luar jendela. Cahaya bulan-setengah tampak malu-malu menempel di bingkai-bingkai kaca empat perseginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam otak matematisku, tersembul digit-digit kepastian. Satu langkah sama dengan sekian kali sekian. Perlawanan mesti dimulai dan harus berjalan dengan konsisten menuju puncaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar dingin. Sedingin dinding-dindingnya yang dimesrai embun malam yang merayap menyapa dinihari. Lingkar cahaya bulan semakin menepi mengikut hasrat rotasi mengecup bibir cakrawala. Asap makin menyesak paru-paru, legam dilumuti kental nikotin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inspirasiku yang tergantung di awang-awang melambai-lambai mesra. Tak hendak berhenti. Selalu menggebu-gebu ingin disetubuhi. Jari-jemari tinggal memetik satu demi satu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepenatan yang terangkum dalam perjalanan satu hari ini terlemparkan ke atas ranjang. Biarlah ia terbuai bersama sekeringnya keringat di sekujur tubuh. Berbaurnya antara kepenatan dan kebuaian mesra itu. Tak pula ternafikan menegangnya persendian dan sekumpulan urat-urat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliaran imaji itu tertangkap juga. Keliaran imajinasi selalu minta dilayani begitu anak kunci orgasmenya memutar mencari wadah pelampiasan. Akumulasi segala yang terlintas dan terlisankan telah terjinakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar-lembar waktu berlalu tak dihasrati hanya berisi kekosongan. Betapa kesedihan diri ketika terbentur pada kekosongan. Kehampaan di tengah-tengah riuh rendah keramaian. Betapa berharganya sekelumit imaji. Sangat tak sebanding dengan perlakuan angkuh yang menyelimuti diri. Ruang gerak imajinasi mesti diberikan keleluasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hasil adalah masa depan. Karya adalah bayi manis yang mungil atas setiap eksistensi. Bukan eksistensi yang utopis yang merangkak pada ketinggian yang ujung-ujungnya bermuara takut digumpal kecemasan paling cemas akan kejatuhan. Eksistensi utopis berwajah retorik tak lebih abadi daripada selembar kekenyangan seekor nyamuk rakus, menghisap darah mangsanya, buncit, sayappun lunglai dan jatuh bergedebung pada sekotak lantai tegel putih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepenatan yang terangkum dalam perjalanan satu hari ini kian terasa menuju kelegaan. Keringnya keringat di sekujur tubuh kian terasa bermakna. Ketegangan persendian bergulir melancarkan arus relaksasi. Hanya kepulan asap yang enggan meninggalkan ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehilangan kecerdasan memulai kalimat pertama adalah malapetaka besar bagi kelanggengan eksistensi. Setelah itu, jangan bermimpi mendaki gunung. Jangan berkhayal merekamkan kalimat abadi. Jangan mengigau bahwa besok pagi tersembul matahari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, malapetaka itu adalah malapetaka bersama. Malapetaka bagi yang berniat jadi pengabdi dan pelaksana kata-kata. Malapetaka bagi pengabadi sejarah. Malapetaka bagi malapetaka negeri yang mengabaikan kata-kata. Malapetaka bagi malapetaka bagi rakyat dan pemimpinnya yang mengabaikan sejarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita harus mendobrak dinding kebekuan. Negeri ini harus melek dari segala huruf. Segala kata-kata. Segala sejarah. Kita harus lebih gencar mencanangkan aksi pembacaan. Harus memelekkan diri dari segala keterpurukan di depan mata. Harus memelekkan hati bahwa belajar dari kesalahan adalah lebih mulia daripada masuk ke lubang dua kali bagai keledai tanpa kendali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulan asap ternyata semakin berkontribusi memicu metabolisme adrenalin lima kepala di kamar empat persegi itu. Seorang demi seorang kian mengurai logika dan retorika. Tergambar upaya melepas diri dari keterkungkungan masing-masing ego-diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah konsekuensi eksistensi. Konsekuensi untuk memberikan kontribusi tanpa pamrih. Pamrih epigonis. Pamrih utopis. Pamrih oportunis. Koreksi atas kesalahan pemahaman dan faham mesti dilancarkan.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah siapa yang memulai mengakhiri perbincangan. Tak ada negosiasi. Tak ada reaksi perlawanan. Hening. Bisu. Tetap sebisu angin malam di luar jendela. Setemaram cahaya bulan-setengah yang masih tampak malu-malu dilingkup awan mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya atmosfir Kamar 9 B berkepulan asap sigaret berbagai merk yang kini sedikit merasa lega. Kamar bujur sangkar ini kini baru mulai sempat menghirup keleluasaan dan kelegaan. Bendungan tiap maksud dari lima kepala itu kini perlahan-lahan merembeskan udara segar senapas dengan antiklimaks adrenalin mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini yang tinggal hanya Kamar 9B bertemankan keheningan. Kebisuan. Kesunyian. Dialah yang akan menjadi saksi perjalanan para pengabdi dan pelaksana kata-kata yang kini tengah asyik terbuai mimpinya sendiri-sendiri. Esok siang mereka akan menyaksikan mataharinya dan kembali bertarung dengan realitas di negeri setriliun janji dan retorika. Entah siapa yang memulai. Namun, konsekuensi harus dilancarkan. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3476317271007751064?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3476317271007751064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3476317271007751064' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3476317271007751064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3476317271007751064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/kamar-9-b.html' title='Kamar 9 B'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8291977744496282950</id><published>2007-07-21T00:17:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T00:19:16.186-07:00</updated><title type='text'>T A M A N</title><content type='html'>by : deki triadi&lt;br /&gt;         I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku menimbang suara adzan lagi&lt;br /&gt;malam ini di taman yang mulai jengah&lt;br /&gt;menawar kembangkembang muda yang berjejeran &lt;br /&gt;diantara  tiang listrik dan riap sungai kapuas&lt;br /&gt;seekor  ikan menggelapar di jala nelayan&lt;br /&gt;mendesah dicelah malam yang berkeluh kesah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;           II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jam sepuluh malam&lt;br /&gt;telah mampir embun disini&lt;br /&gt;bisikan adzan tadi semakin kentara &lt;br /&gt;tapi tertinggal dipintu kamar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;embun yang menyirami kembang mulai terjengkang&lt;br /&gt;: adzan lewat begitu saja&lt;br /&gt;  oplet tua telah lelah dalam kantuknya&lt;br /&gt;  malamku semakin beku&lt;br /&gt;tanpa tahu letak rumahMu&lt;br /&gt;tapi tetap saja kembangkembang berjejeran  menunggu gontai&lt;br /&gt;ojekan untuk pulang atau langsung di bentengbenteng rapuh&lt;br /&gt;: seorang anak, seorang ibu, seorang bapak&lt;br /&gt;  menangis dalam kelambu malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Januari 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8291977744496282950?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8291977744496282950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8291977744496282950' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8291977744496282950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8291977744496282950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/t-m-n.html' title='T A M A N'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5076881280211524345</id><published>2007-07-21T00:14:00.000-07:00</published><updated>2007-07-21T00:15:27.439-07:00</updated><title type='text'>KEMBANG</title><content type='html'>BY deki triadi&lt;br /&gt;kembangkembang baru bermekaran senja ini&lt;br /&gt;: angin terlalu pongah&lt;br /&gt;menerbangkan engkau di tamantaman gersang&lt;br /&gt;seekor kumbang bermanja lagi tertawa dan tertawa&lt;br /&gt;menanti madu yang telah dibidik sejak lama lagi&lt;br /&gt;: seorang ibu semakin resah menunggu embun membawa kembangku  &lt;br /&gt;  pulang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelabuhan Sintete (Pemangkat), Desember 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5076881280211524345?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5076881280211524345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5076881280211524345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5076881280211524345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5076881280211524345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/kembang.html' title='KEMBANG'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1597063663365852917</id><published>2007-07-20T19:27:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T19:29:06.423-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Kembalinya Tarian Sang Waktu&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu bergemerincing. Melangkah dengan gagah mengitari hatiku. Menelusupkan sebuah keinginan dan hasrat bahwa aku harus bergerak menuju masa itu. Masa berkepala mahkota daun-daun nipah yang hidup di pesisir pantai sanubari. Air lautan selalu mencium betisnya yang mulus dengan mesranya setiap ufuk merah berganti. Menggenangkan darah kesyahduan memuncak. Menimbulkan gelombang pasang yang membawa mineral-mineral dalam diri. Menisbahkan kepedulianku pada rimbunan daun-daun pohon yang berada di sekitar tepian pantai. Beragam jenis pohonnya. Menghantarkan saatnya tiba. Penghabisan roda bermanja berhenti detak jarum jamnya. Sering melingkari kehidupan panjang antara kita.&lt;br /&gt;Kita sama-sama tak akan bisa melihat keindahan dunia. Sebab kita sudah tuna netra. Radiasi kekelaman yang membuat kita begini. Iritasinya cukup ganas menghitamkan kornea mata. Hanya kalbu yang terdalam sebagai penerangan rasa. Penunjuk arah tapak-tapak kita untuk melangkah berjauhan. Saling bertolak belakang. Aku ke timur, kamu ke barat.&lt;br /&gt;Aku menyisiri bukit berbukit terjal arah timur. Membuat jiwaku lelah. Karena kakiku sudah mengelupas pecah digerogoti taring jalanan yang begitu tajamnya. Mengoyaknya, merobeknya, dan mengeluarkan intisari dagingku. Aku tersenyum asam gandis.&lt;br /&gt;“Tuhan, inilah bagian jasad yang kuikhlaskan untuk-Mu.”&lt;br /&gt;Pendar-pendar cahaya merah yang keluar dari intisari daging tubuhku menjemput diriku. Mengubur dan memendam aku dalam risalah-risalah angin, yang seringkali dimainkan anak-anak kecil berseragam kantong plastik. Mereka menaikkan layang-layang jiwa terbang menuju angkasa raya. Menggapai harapan dan cita-citanya.&lt;br /&gt;Nampaknya mereka begitu senang memainkan risalah angin yang mengubur dan memendam diriku. Mereka menuntaskan kegembiraannya yang kadangkala dibelenggu di rumah. Karena orang tuanya tidak bisa memahami apa sebenarnya yang mereka inginkan. Kalau sebenarnya orang tua mereka bisa memahaminya maka mereka akan bahagia bermain dalam rumahnya. Rumah mereka adalah surga. Sebab dalam rumah mereka telah terjadi komunikasi interaktif dan mesra untuk saling memberikan kesenangan, kehangatan, dan kebahagiaan yang melimpah ruah. Kebahagiaan yang sungguh mereka harapkan. Kebahagiaan yang betul-betul murni. Alamiah. Tapi kenyataannya sedikit sekali mereka mendapatkan kebahagiaan itu di rumahnya. Akhirnya mereka mencarinya di luar rumah.&lt;br /&gt;Hari ini sungguh senang lantunan tembang kebahagiaan anak-anak itu memainkan risalah angin. Mataku yang semula memang untuk dipejamkan selama-lamanya malah terbuka nyalang. Karena mendengar tembang mereka yang menyentuh kalbu.&lt;br /&gt;“Sungguh bahagianya mereka. Mengapa aku tidak seperti mereka?”&lt;br /&gt;“Eh, jangan berisik!” marah risalah angin.&lt;br /&gt;Aku terdiam. &lt;br /&gt;Saking bahagianya, anak-anak yang berseragam kantong plastik itu berseru girangnya.&lt;br /&gt;“Surga hadir di hadapan kita!” teriaknya beramai-ramai.&lt;br /&gt;Aku kaget. &lt;br /&gt;Benarkah surga hadir di hadapan mereka?&lt;br /&gt;Aku ingin melihatnya. Tapi risalah angin menjauhkan aku dari surga yang dikatakan anak-anak berseragam kantong plastik.&lt;br /&gt;“Aku ingin melihat surga. Mengapa kamu bawa aku jauh darinya?” bentakku.&lt;br /&gt;“Karena kamu tidak boleh melihatnya.”&lt;br /&gt;“Mengapa aku tidak boleh melihatnya?”&lt;br /&gt;“Entahlah. Aku tidak tahu. Aku hanya menjalankan tugas.”&lt;br /&gt;“Tugas dari siapa?”&lt;br /&gt;Risalah angin tidak mau memberitahukan atau menyebutkan orang yang menyuruhnya. Dia terus saja menjauhkan aku dari surga yang dikatakan anak-anak berseragam kantong plastik. Aku berusaha melepaskan diri dari kungkungannya. Tapi aku tidak bisa. Kungkungannya sungguh kuat dan tidak bisa ditembus walau sampai mengeluarkan keringat terkentut-kentut.&lt;br /&gt;“Cepat katakan siapa yang memerintahmu?”&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa mengatakannya.”&lt;br /&gt;“Mengapa tidak bisa?”&lt;br /&gt;“Sebab....”.  Berhenti dia sejenak. Aku menunggunya dengan cemas dan jantungku berdegup keras.&lt;br /&gt;“Sudah! Diam !” kata risalah angin meradang. &lt;br /&gt;Aku hanya menggerutu kesal. Karena keinginanku untuk melihat surga tidak terpenuhi. Padahal seumur hidupku, hal itulah yang ingin kulihat. &lt;br /&gt;Beruntunglah anak-anak berseragam kantong plastik bisa melihat surga dalam alam nyata.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat sebelum ini terjadi pada kita. Sebelum aku digulung dan dipendam angin dalam risalahnya. Masa dimana mempertemukan kita untuk terakhir kalinya.&lt;br /&gt;Waktu datang dengan santainya menghampiri kita yang sedang berduaan di tepi lautan memanjang Tanjung Batu, Kendawangan. Aku duduk santai di batu menjulang tinggi hampir menjolok langit menatap gemerisik senandung ombak yang riuh rendah. Kamu juga sama. Kita berdiam diri. Menekuri wajah kita masing-masing. Mengukur perjalanan yang telah kita lalui. Masa ini menisbahkan kita untuk mengambil sebuah keputusan. Apakah kita akan bersama atau melangkah sendiri-sendiri?&lt;br /&gt;“Kalian harus mengambil sebuah keputusan final hari ini. Sebab aku sudah lelah menasihati kalian. Menyadarkan kalian. Dalam rangka mendamaikan kalian. Menenangkan ketenangan jiwa kalian. Tapi kalian egois. Tidak mengindahkannya. Sekarang ambillah keputusan sendiri untuk menentukan jalan kalian sendiri-sendiri,” kata waktu menunjukkan wajah kesalnya. Keningnya berkerut. Senyumnya kecut. Tatapan matanya cenderung menyiratkan sebuah pisau yang mengelupas buah anggur.&lt;br /&gt;Kita tak mengomentarinya. &lt;br /&gt;Kamu turun dari batu menjulang tinggi. Mendekati air lautan yang bernyanyi kecil. Seakan ingin mengajakmu berdendang, menyenangkan hati. Kamu menjamahkan kakimu pada kesejukan dendang air. Sekaligus kamu mengambil nyanyian kecil air lautan lalu kamu usapkan ke kepalamu agar kepanasan yang bercokol dalam kepala mencair dan mendingin. Adem.&lt;br /&gt;Aduh, mengapa kita saling bermusuhan padahal kita ingin bersatu? Wah, mengapa kita saling memandang lautan tapi tak pernah menatap daratan?&lt;br /&gt;Padahal kalau direalitakan pikiran. Daratan juga memiliki kemewahan dan keindahan dari lautan. Kalau lautan ada airnya, daratan juga punya airnya. Air yang tertampung dalam sebuah tempurung daratan yang indah. Kalau lautan punya pulau membentang, daratan punya hutan membentang. Kalau lautan punya taman laut yang indah, daratan punya taman darat yang menarik. Pokoknya, antara lautan dan daratan memiliki potensi yang sungguh menarik untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai tempat hiburan, pelepas dahaga rasa.&lt;br /&gt;Seharusnya kita berdua saling mengerti. Seharusnya kita berdua saling hormat-menghormati antara satu dengan yang lain. Seharusnya kita berdua mampu membahasakan jiwa kita masing-masing. Dalam memberikan kepercayaan penuh pada diri kita masing-masing agar rasa egois itu tak pernah singgah di dermaga senja, teratak panjang menuju ke tengah lautan permai. Kita habiskan kuncup-kuncup kembang senjanya dengan segarnya. Sungguh manisnya.&lt;br /&gt;Dermaga itu pernah menjadi pengikat pertalian erat jiwa kita. Mempertautkan pusar kebersamaan. Ketika waktu kita mengerjakan proyek besar bersama, yaitu memisahkan air garam dari lautan agar menjadi garam seutuhnya. Garam yang menjadi saus penikmat bumbu makanan kehidupan.&lt;br /&gt;“Nikmatnya makanan ini kalau dicampur dengan garam seutuhnya ya?” katamu gemes.&lt;br /&gt;“Betul sekali, Dik. Nikmatnya!” sahutku mantap. &lt;br /&gt;Menyatukan kegemesanmu dengan keceriaanku hingga erat memuntalkan ikatan pembuluhnya. Kerucut.&lt;br /&gt;Pernah pula. Masih di dermaga itu. Kita menjalin untaian teja cemerawut yang melajur emas di langit merah dadu. Teja itu kita kalungkan di bukit-bukit dan gunung-gunung kejenjangan leher kita, menjulang gagahnya. Sungguh indahnya. Bahkan keindahan yang tercipta itu dapat dijadikan objek wisata terkenal. Banyak dikunjungi turis atau pelancong baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Keindahan alamiah. Devisa diri kita makin menjadi gunung keemasan. Kita menjadi kaya.&lt;br /&gt;“Sungguh indah hasil karya naturalis yang tercipta ini?”&lt;br /&gt;“Betul kawan. Betul indah. Tidak pernah aku melihat keindahan yang begitu mempesona seumur hidupku.”&lt;br /&gt;“Ini benar-benar alami.”&lt;br /&gt;“Betul kawan. Ingin rasanya aku berdiam diri selamanya di tempat ini.”&lt;br /&gt;“Jangan. Seindah-indahnya keindahan yang ada di daerah orang lain, masih indah keindahan di daerah kita. Biarpun bagaimana parahnya daerah kita, kita harus merasa bangga. Karena daerah itu adalah daerah kita.”&lt;br /&gt;“Betul katamu kawan. Syukurlah kamu mengingatkanku. Terima kasih banyak kawan.”&lt;br /&gt;Mendengar percakapan itu kita tersenyum bangga. Satu rasa satu wadah. Sama-sama berusaha menciptakan pelangi-pelangi di tengah nusa.&lt;br /&gt;Kita mulai melakukannya. Hanya hitungan sedetik napas merenung dan mengeluarkan image tercanggih yang kita miliki. Pelangi-pelangi yang kita inginkan terciptalah.&lt;br /&gt;Pelangi yang kuciptakan lebih bagus darimu. Pelangi yang berbentuk keindahan manusia dengan berjambul kuda. Kepalanya menyentuh langit. Kakinya menghirup air lautan begitu banyaknya dan selalu memancarkan kemilaunya lebih terang dari pelangimu. Sedangkan pelangi yang kamu ciptakan berbentuk kupu-kupu  dengan berbadan burung merak berbulu kusam. Matanya redup tidak ada sinar. Kakinya sedikit bengkok sehingga tidak banyak menghirup air lautan untuk menggemilangkan seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;“Abang curang. Abang culas. Abang pasti memasukkan unsur lain. Abang telah melakukan tindak kepalsuan. Abang tidak murni membuat pelangi ini. Abang tidak jujur. Aku benci abang!” katanya seraya berlari karena marah. &lt;br /&gt;Ia tidak berani mengakui kekalahannya dalam bersaing denganku.&lt;br /&gt;“Tunggu dulu, Dik!” seruku mengejarnya.&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tidak mau bertemu dengan abang lagi!” pekiknya menghilang.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa perjalananmu ke barat. Kamu menemukan gubuk tua.&lt;br /&gt;“Kebetulan sekali,” katamu.&lt;br /&gt;Sebab saat ini kamu sudah berjalan jauh. Tubuhmu sudah mulai merasa kepenatan. Kamu mulai beristirahat. Kamu mendekati gubuk tua. Kamu mulai mengetuk pintu gubuk dan mengucapkan salam. Tapi tidak ada sahutan. Akhirnya kamu memutuskan untuk beristirahat di depannya saja.&lt;br /&gt;“Maaf ya Tuan Gubuk, permisi aku numpang beristirahat di depan karena tubuhku sungguh penat,” katamu lirih sembari melunjurkan kakimu. Sekali-kali kamu lemaskan otot-ototmu yang sudah pegal semua agar kembali segar. Ketika itulah ada suara menegurmu.&lt;br /&gt;“Nak, tak usah kamu beristirahat di depan. Lebih baik kamu beristirahat di dalam.”&lt;br /&gt;“Terima kasih Tuan Gubuk. Disini saja lebih nyaman,” sahutmu.&lt;br /&gt;“Jangan, Nak. Disitu berdebu. Di dalam saja Nak karena lebih bersih. Silakan masuk, Nak,” ajak Tuan Gubuk dengan ramahnya. &lt;br /&gt;Kamu tidak bisa menolak lagi keinginannya. Kamu menuruti kemauanya. Masuk dalam gubuknya.&lt;br /&gt;Dalam gubuknya, kamu dibuat kaget. Karena lantainya betul bersih terbuat dari keramik putih. Dinding semuanya licin seperti istana kaca saja. Kamu tidak menyangka dalam gubuk ini seperti apa yang kamu lihat, sungguh indah. Kenyamanan mulai kamu rasakan. Kepenatan mulai mengabur dari jiwamu. Sebentar kamu teringat dengan suara Tuan Gubuk. Kamu juga ingin melihat sosok Tuan Gubuk seperti apa.&lt;br /&gt;“Tuan Gubuk, kamu dimana?” tanyamu.&lt;br /&gt;“Aku disini Nak,” sahut Tuan Gubuk lantang sehingga kamu bisa menerka arah suaranya. Kamu melihat Tuan Gubuk berupa pelita.&lt;br /&gt;“Ah……,” kagetmu.&lt;br /&gt;“Jangan kaget, Nak. Memang beginilah wujudku. Kini aku beruntung. Karena aku sudah menjumpai orang yang kutunggu beberapa dasawindu waktu. Orangnya adalah kamu. Berarti setelah berjumpa denganmu, aku harus pergi untuk selamanya. Terima kasih Nak, kamu telah meluruskan jalanku menuju Cahaya Maha Cahaya. Selamat tinggal Nak. Semoga kamu menemukan kembali hatimu yang separuhnya hilang dan bersatu kembali dengan dia,” kata Tuan Gubuk.&lt;br /&gt;“Tunggu dulu Tuan Gubuk!” cegahmu.&lt;br /&gt;Tapi sudah terlambat. Karena Tuan Gubuk yang berbentuk pelita sudah menghilang wujudnya di ujung senja yang kamu ciptakan.&lt;br /&gt;Kamu tafakur sejenak. Merenungi semua kejadian yang telah kamu alami. Setelah puas bertafakur. Kamu mulai mengangkat mukamu. Saat itulah matamu melihat gundukan ketinggian parafin keputihan melekat dengan lantai keramik yang kamu duduki, tempatmu berpijak dalam kehidupan ini. Hingga terlihat dengan jelas di bawah kakimu muncul sebuah rembulan. Kamu ambil dia dengan kepastian. Tidak segan-segan kamu makan dia layak makanan yang enak. Kamu meleleh. Lelehanmu itu dibawa rembulan dalam tubuhmu ke langit maha luas.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Risalah angin mencampakkanku ke matahari. Sinar garang matahari melumerkanku. Hilang ragaku tak bertanda dan tak bernisan. Hanya jiwaku yang masih tersisa berupa butiran ozon sebagai persaksian pasti bahwa aku adalah sunyi dalam ketenangan senyap.&lt;br /&gt;“Ah, semoga saja jiwa ini abadi. Semoga jiwa ini lestari di sukma yang kumiliki.”&lt;br /&gt;Ketika ini. Aku mulai merindukanmu. Dimana kamu berada ya? Apakah kamu juga sama gosong seperti diriku? Atau sebaliknya kamu menemukan kehidupan barumu yang lebih indah? Aku tak tahu………&lt;br /&gt;Walau seperti begini wujudku. Aku masih mampu bersyukur pada Allah. Karena aku masih diberikan jiwa dalam sukma. Walau yang lainnya sudah hangus.&lt;br /&gt;Di antara kerjipan bintang yang berwarna-warni aku melihat kamu. Kamu sama juga melihatku. Kita saling tersenyum. Kemudian kita berusaha menghayati kedalaman kerjipan bintang. Alhamdulillah. Kita sukses memahaminya.&lt;br /&gt;“Terima kasih Allah. Kamu pertemukan kami lagi walau dalam wujud yang berbeda,” ujar lirih hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam Kelam (Balber), 06062005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Harian Borneo Tribune, 1 Juli 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita Yang Ingin Memiliki Mentari&lt;br /&gt;Oleh : M. Saifun Salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita yang ingin memiliki mentari berlari kencang menerobos halimun di gerbang perbatasan kota. Kerintikkan deraian tangisan hujan menyentuh dingin sekujur tubuhnya. Ia terus berlari diantara denyutan napasnya berdoa semoga dia sampai kesana.&lt;br /&gt;Di telaga bening saputan bulan merah jambu berkembang mekar. Duduk santai sesosok  wajah berkemeja kekuning-kuningan, berambut lurus-kaku menjolok langit, dan bermata bening labu air. Berkulit kuning langsat dan mempunyai perawakan tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk  Ia asyik memainkan air telaga, sumber kehidupan manusia.&lt;br /&gt;Sejenak ia berhenti beraktivitas. Kala telinganya merekam pergesekan tapak dengan tanah. Ia menoleh kearah datangnya suara. &lt;br /&gt;“Ada apa kamu mencariku? Perlu apa?” &lt;br /&gt;“Aku butuh teman curhat,” kata orang yang barusan datang.&lt;br /&gt;Dia adalah wanita yang ingin memiliki mentari. &lt;br /&gt;“Kok mencari di sini. Kok aku, kan banyak temanmu yang lain lebih dariku.” &lt;br /&gt;“Memang, tapi mereka tidak sama seperti kamu. Kamu lebih menghargai dan mengertiku,” tegasnya.&lt;br /&gt; “Oke, kalau itu alasanmu. Biar enak ngomongnya. Kita ke taman saja,” ajakku padanya. &lt;br /&gt;Lalu menunjuk sebuah taman yang lengkap dengan kursinya. Wanita itu setuju. Ia mengikuti langkahku. Kami duduk di taman itu. Seperti sepasang bendera.&lt;br /&gt;“Apa sebenarnya permasalahanmu?” selidikku.&lt;br /&gt;“Aku butuh doa agar cepat mati. Ajarkanlah aku doa itu!”&lt;br /&gt;Wah, dia punya problem besar.&lt;br /&gt;”Maaf sobat, aku tidak punya doa seperti itu. Lagi pula tidak baik kamu berpikiran begitu. Karena hal begitu adalah ciri orang pesimis terhadap kehidupan,” kataku mengingatkannya dari langkah yang salah. &lt;br /&gt;“Habis mau melakukan itu salah. Melakukan begini salah, melakukan begitu salah. Begini dosa begitu dosa. Lebih baik aku menyembah berhala saja.” &lt;br /&gt;“Eit, stop!” cegahku. &lt;br /&gt;“Tidak baik kamu berbicara begitu. Sirkubillah. Syirik pada Allah. Itu dosanya besar, yang tidak mungkin diampuni Allah. Aku tahu kamu punya masalah rumit. Tapi tidak baik berbicara begitu. Aku tahu kamu masih belum bisa menenangkan hatimu hari ini. Sabarlah!” &lt;br /&gt;“Sabar! Sudah puas aku bersabar. Tapi mengapa badai ujian itu selalu datang mendera karang hatiku. Rasanya aku tak sanggup lagi. Lebih baik aku mati saja.”Iia berdesis. &lt;br /&gt;Badannya melemas seakan tidak ada energi. &lt;br /&gt;“Jangan bicara begitu dong. Tenanglah. Kendalikan dulu emosimu. Coba belajar optimis!” &lt;br /&gt;Seketika ia mengguguk, cairan bening merembes pelan dari kelopak matanya. &lt;br /&gt;“Kok malah menangis! Salahkah aku berbicara tadi?” Aku merasa bersalah karena membuatnya sedih. &lt;br /&gt;“Tidak. Kamu tidak salah kok,” ujarnya menyeka bulir bening di sudut matanya. &lt;br /&gt;“Jadi?” &lt;br /&gt;“Sorry. Aku terlalu romantis,” lembut katanya masih dalam kesenduan.&lt;br /&gt;“Oke, kalau begitu. Sebenarnya masalahmu itu apa?” &lt;br /&gt;Ditatanya dulu hatinya yang sempat kacau agar menjadi tenang. Setelah tenang barulah ia mengutarakan masalahnya.&lt;br /&gt;Ada dua mentari yang hadir dalam hatinya. Mentari satu selalu dikejarnya. Namun, mentari itu selalu cuek dan tidak menghiraukannya. Tidak mau ambil peduli, padahal ia benar-benar ingin memilikinya. Ingin disimpan terus dalam jantungnya agar jantungnya terang benderang. Atau mentari satu menguji ia agar bisa lebih tabah menghadapi ujian meniti rel kehidupan? Ia tidak tahu, mana bisa ia menebak. Yang dirasakannya hanya suasana perasaan yang lain. Hanyalah resah dan kecewa berpadu. Sedangkan di sini mentari kedua selalu mengubernya, agar minta tempat juga di jantungnya, mau menolak mentari kedua, ia tidak bisa. Sebab ibunya meminta ia menjadi teman keduanya. Ia takut durhaka. Ia ingin berbakti. Akhirnya ia bingung menentukan pilihannya. &lt;br /&gt;Apakah ia akan mengejar cintanya? Tapi di sisi lain ia ingin membahagiakan orang tuanya. Kini hatinya tersiksa.&lt;br /&gt;Maka ia pun datang padaku.&lt;br /&gt;“Sobat, kamu sudah kena dilema!” &lt;br /&gt;“Dilema?” kagetnya.&lt;br /&gt;“Jangan kaget. Tenang saja. Tidak hanya kamu yang mengalami seperti itu. Semua jiwa yang berwujud manusia pernah merasakannya.”&lt;br /&gt;“Begitu rupanya. Jadi bagaimana solusinya? &lt;br /&gt;“Susah juga urusannya ya?” &lt;br /&gt;“Jadi kamu tidak bisa memberikan solusi dilemaku ini?” Ia terbelalak.&lt;br /&gt;“Tenang sobat. Tunggu sebentar. Izinkan aku merenung sebentar saja untuk mencarikan solusi dilemamu itu. Mudah-mudahan ilham dari Maha kuasa mendatangiku.”&lt;br /&gt;“Silakan,” katanya sambil menunggu.&lt;br /&gt;Aku mulai memasukkan pikiranku pada dunia mikrokosmos. Menganalisis masalahnya. Petunjuk pun datang. Alhamdulillah. Aku sudah menemukan jalan keluarnya.&lt;br /&gt;“Begini ya sobat, solusinya. Kalau bisa kamu harus membujuk ibumu agar dapat meluluskan keinginan hatimu untuk memiliki mentari satu. Betul-betul orang yang kamu cintai. Tapi kalau ibumu tidak mau. Kamu harus memenuhi keinginan hati orang tuamu. Untuk memilih mentari kedua. Sebab orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia. Bisa jadi yang dipilihkannya itu cocok untukmu. Walau rasanya begitu sakit untuk menerima hal tersebut. Kita harus dapat berlapang dada dan berbesar hati. Mungkin saja di balik semua ini ada hikmahnya. Jangan lupa kuatkan penerimaanmu dengan memohon keridhoan dari Allah.”&lt;br /&gt;Itulah penjelasan yang dapat kuberikan padanya. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;“Terima kasih ya sobat atas sarannya. Insya allah akan kucoba.”&lt;br /&gt;Angin lirih berhembus ketika itu. Aku cuma mengangguk, ikut merasakan kegundahannya. &lt;br /&gt;Wanita yang ingin memiliki mentari sudah ceria lagi. tidak mendung dan kelam seperti hari-hari yang lalu. Sempat aku bertanya padanya.&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan dilemanya? Sudah diselesaikan?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, teman. Sudah bisa diatasi,” sahutnya begitu riangnya.&lt;br /&gt;Syukurlah, pujiku dalam hati.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pojok ruangan segi empat rembulan. Ia duduk termenung. Wajahnya sangat kusut. Senyumnya kecut. Cantik kalau ia sedang begini. Cantik yang pahit. Teman-temannya berusaha menghiburnya. Tapi hiburan itu tak pernah singgah dalam jiwanya. Teman-temannya tetap saja menghiburnya agar ia dapat tersenyum dan tertawa. Ianya tetap saja kusut dan kecut. Beginilah kalau ia punya masalah. Labil lagi. Uring-uringan. &lt;br /&gt;“Aduh, mengapa jadi begini lagi?” Ia mengome sendiri. &lt;br /&gt;“Sudahlah teman, masih banyak teman seperti dia,” kata Mawar. &lt;br /&gt;“Tapi War, dia begitu akrab denganku. Kok bisa teganya dia bermulut ember. Membocorkan masalahku. Sehingga teman-teman yang lain tahu semuanya. Aku jadi malu. Padahal aku percaya pada dia, bisa menjaga amanah ini. Nyatanya, begini jadinya. Aku sungguh kecewa. Kok bisa-bisanya dia berbuat begitu.”&lt;br /&gt;“Itulah manusia, teman!”&lt;br /&gt;“Kok kamu bisa bilang begitu?”&lt;br /&gt;“Karena semua manusia memiliki karakter masing-masing. Ada yang jujur, amanah, dan dapat dipercaya. Ada yang bermulut ember, ada yang suka usilan. Bermacam-macam, karakter beragam. Untuk itu sebelum kita memberikan amanah kepada orang lain, dianjurkan terlebih dahulu kita mengujinya. Apakah dia orang yang bisa menjaga amanah kita atau tidak? Apakah ia orang jujur atau tidak? Apakah dia orang beragama teguh atau tidak? Kalau dia memilikinya barulah kita memberikan amanah itu. Kalau tidak, kita cari saja teman yang lain yang bisa memenuhi kriteria itu.” &lt;br /&gt;Wanita yang ingin memiliki mentari terdiam sejenak. Ia tercenung mendengar penjelasan yang disampaikan Mawar. Ada benarnya juga. Mungkin temanku yang satu memang jujur.&lt;br /&gt;“Sudahlah teman, mari kita hibur diri ini selagi masih muda,” ujar Mawar seketika. &lt;br /&gt;Mawar menarik wanita yang ingin memiliki mentari itu. Mereka menyenangkan hati. Tidak terasa wanita yang ingin memiliki mentari sudah melupakan kegundahgulanaan dan kekesalannya. Mawar memang teman yang bisa menghibur teman di saat duka. Memang teman yang patut dibanggakan. &lt;br /&gt;Septi adalah teman wanita yang ingin memiliki mentari yang paling dekat. Karena rumah mereka tidak berjauhan dan dia yang menjadi tempat pengaduannya kalau ada masalah. Namun, Septi itu belum dikategorikan dewasa walaupun usianya sudah tergolong dewasa, 17 tahun. Namun Septi belum bisa membedakan yang mana harus dijaga dan disimpan erat dan yang mana harus dibicarakannya. Semuanya dipukulnya rata. &lt;br /&gt;Selain itu dia terkenal suka gosip. Karena itulah, hari ini, wanita yang ingin memiliki mentari kecewa padanya. Kesal, gara-gara ulah Septi yang membocorkan rahasianya sehingga teman-temannya tahu masalah yang dihadapinya. &lt;br /&gt;Untunglah Mawar bisa mengobati kekesalan wanita itu. Sehingga, dia menyadari suatu hal bahwa kita harus bisa menentukan teman yang bisa menjaga amanah yang diberikan padanya dengan kategori dia haruslah orang jujur, dapat dipercaya, dan taat beribadat pada Allah.&lt;br /&gt;Ketika di sudut bibir senyumannya terkembang aku berjumpa lagi dengan wanita yang ingin memiliki mentari. Dia mengajakku duduk di pojok ruang rembulan di halaman taman Pendidikan Atas. Aku menurut saja. Dia terlihat bahagia.&lt;br /&gt;“Sobat, terima kasih atas saranmu bahwa kini aku sudah memiliki mentari,” katanya.&lt;br /&gt;“Syukurlah,” kataku dalam hati. &lt;br /&gt;Ikut juga merasakan kebahagiannya.&lt;br /&gt;“Mentari satu atau mentari dua?”&lt;br /&gt;“Tidak dua-duanya.”&lt;br /&gt;“Kok, bisa begitu?”&lt;br /&gt;“Bisalah sobat. Karena aku tidak ingin mengecewakan dan menyenangkan antara satu dari kami. Dengan keputusan bulat aku mengambil jalan tengahnya. Biarlah aku memilih mentari yang lain saja. Dengan begitu sama-sama adil. Masing-masing tidak ada dikecewakan dan tidak ada yang diuntungkan. “&lt;br /&gt;“Bagus sekali tindakan yang kamu lakukan. Jadi mentari mana yang kamu pilih?”&lt;br /&gt; “Mentari yang berada di langit nurani dan tepat berada di lubuk rembulan ketujuh satelit keabadian. Dialah selama ini selalu rela berkorban untukku dan tabah menantiku. Walaupun dia seringkali terbakar oleh pengorbanannya.” katanya lebih segar tersenyum memandangku. &lt;br /&gt;Ia tersenyum, menyimpan sesuatu.&lt;br /&gt;Aku terdiam dan tak bisa lagi berbicara. Lidahku kelu.&lt;br /&gt;Karena akulah mentari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balber, 24 Juni 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Harian Borneo Tribune, 27 Mei 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1597063663365852917?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1597063663365852917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1597063663365852917' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1597063663365852917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1597063663365852917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/kembalinya-tarian-sang-waktu-oleh-m.html' title=''/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5455092283393004620</id><published>2007-07-19T01:12:00.000-07:00</published><updated>2007-07-19T01:14:50.033-07:00</updated><title type='text'>LINGKARAN ISENG WAJAH BULAN</title><content type='html'>(EPISODE PROLOG)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam lingkaran iseng ini, wajah bulan sumringah&lt;br /&gt;anakanak tertawa lagi mainan lama tetap kangenkan tembangtembang yang hilang digedung mulai menjulang&lt;br /&gt;buruh, buruk, kurus, wajah bopeng dan topeng&lt;br /&gt;melewatkan angin diporipori&lt;br /&gt;tak meneteskan keringat lagi&lt;br /&gt;karena telah lama kita bercanda dalam lingkaran ini&lt;br /&gt;disaksikan bulan tertawa menguping lagu kita yang dinyanyikan&lt;br /&gt;ketika jemari di kunci g dan suara di kunci f&lt;br /&gt;tak ada kesinambungan semua berempati pada nol keisengan kita lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam lingkaran keisengan, langkah kita menembus kelam&lt;br /&gt;diantara ngiau kucing dan gonggong anjing disaksikan bulan tertawa&lt;br /&gt;nguping rayuan basi di dalam lemari kaca tanpa dapat menembus benak berempati lagi pada nol dan kita berhitung dari lima sampai sepuluh wajah bulan kehilangan empat dan satu yang tertawatawa dalam lingkaran keisengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Maret 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5455092283393004620?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5455092283393004620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5455092283393004620' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5455092283393004620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5455092283393004620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/lingkaran-iseng-wajah-bulan.html' title='LINGKARAN ISENG WAJAH BULAN'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-7818917681940393980</id><published>2007-07-19T01:08:00.000-07:00</published><updated>2007-07-19T01:09:28.497-07:00</updated><title type='text'>ROMANTIS</title><content type='html'>(LONTEKU  I )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sejak dulu kita begini&lt;br /&gt;terkapar dan pergi&lt;br /&gt;setelah perjalanan panjang &lt;br /&gt;hanya menyisakan peluh dirahimmu&lt;br /&gt;lalu hilang dipagi buta&lt;br /&gt;hanya ranjang berserakan &lt;br /&gt;dan selembar  dosa tertinggal&lt;br /&gt;sebagai kenangan bukan yang terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 28 – 02 – ’02&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-7818917681940393980?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/7818917681940393980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=7818917681940393980' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7818917681940393980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7818917681940393980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/romantis.html' title='ROMANTIS'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5933407846084853402</id><published>2007-07-19T01:01:00.000-07:00</published><updated>2007-07-19T01:07:03.481-07:00</updated><title type='text'>ROMAN PICISAN (LONTE KU II)</title><content type='html'>by deki triadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam yang berkeluh kesah&lt;br /&gt;telah menarikku keranjang lusuh&lt;br /&gt;lalu aku lepas kembali kelopak-kelopak indah&lt;br /&gt;racun dan dosa&lt;br /&gt;: wanita sama adalah kau!&lt;br /&gt;diranjang lusuh yang menyisakan keringat kita &lt;br /&gt;tak pernah kering dari nafsu gila&lt;br /&gt;berlayar dan berlayar &lt;br /&gt;membelah dosa semakin meruap ke jalan raya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah lama lagi kita tak berbagi&lt;br /&gt;tentang keringat di rahim kini bersemi&lt;br /&gt;tek mengenal dosa dan cerita kita &lt;br /&gt;kini kutanam kembali  dirahimmu&lt;br /&gt;sebatang padi untuk nanti&lt;br /&gt;bila waktu yang terlepas di dinding lapuk&lt;br /&gt;dapat berhenti&lt;br /&gt;maka kita tetap membelai malam&lt;br /&gt;dalam zinah dan minuman &lt;br /&gt;malam ini di malam lusuh&lt;br /&gt;maka dosa adalah kedahagaan kita&lt;br /&gt;pada dzikir yang telah lama ditidurkan&lt;br /&gt;di ranjang lusuh&lt;br /&gt;begitu kental akan aroma tubuh ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 28 – 02 - 02&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5933407846084853402?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5933407846084853402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5933407846084853402' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5933407846084853402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5933407846084853402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/roman-picisan-lonte-ku-ii.html' title='ROMAN PICISAN (LONTE KU II)'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-9130094313590592750</id><published>2007-07-19T01:00:00.001-07:00</published><updated>2007-07-19T01:00:43.255-07:00</updated><title type='text'>MELUKIS HUJAN</title><content type='html'>melukis wajahmu malam ini&lt;br /&gt;hujan lewat begitu saja menari didalam kelam&lt;br /&gt;yang berkeluh kesah mencintai. lagu kita telah berganti &lt;br /&gt;irama&lt;br /&gt;wajahmu semakin pias diantara dua mata air&lt;br /&gt;yang mengalirkan ego ini tentang seekor enggang bercanda &lt;br /&gt;lagi&lt;br /&gt;: tahukah kau tentang dara nandung&lt;br /&gt;   tak ingin aku menjadi bujang nadi&lt;br /&gt;   mencintai diri di dalam mimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Januari 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-9130094313590592750?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/9130094313590592750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=9130094313590592750' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/9130094313590592750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/9130094313590592750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/melukis-hujan.html' title='MELUKIS HUJAN'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1615855712019126966</id><published>2007-07-19T00:56:00.000-07:00</published><updated>2007-07-19T00:59:54.992-07:00</updated><title type='text'>SURAT UNTUK AFRIZAL MALNA</title><content type='html'>sungguh aku ingin mengenalmu&lt;br /&gt;seperti aku kenal ibu bapakku sejak dalam rahim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;angin yang membelai diri terlalu sombong menerbangkan aku&lt;br /&gt;ke singgasanamu&lt;br /&gt;tak kuasa matahari ini mencairkan aku yang telah membeku&lt;br /&gt;tergantung didaun tua yang telah lama tersimpan dipeti &lt;br /&gt;berkarat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;peradaban lama yang silih berganti sejak marah rusli &lt;br /&gt;hingga isbedy stiawan&lt;br /&gt;tak kuasa menarikku &amp;#8216;tuk menghapuskan pikiranpikiran &lt;br /&gt;purba&lt;br /&gt;tentang katakata berlumut dilembaran lumus&lt;br /&gt;mungkin aku yang tak mengenal diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 1 Oktober 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1615855712019126966?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1615855712019126966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1615855712019126966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1615855712019126966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1615855712019126966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/surat-untuk-afrizal-malna.html' title='SURAT UNTUK AFRIZAL MALNA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3322883872215152037</id><published>2007-07-18T10:32:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T10:33:28.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ESAI PRADONO'/><title type='text'>Bohong Seniman Tak Perlu Duit</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mengada-ada bila dinyatakan bahwa sudah saatnya kita menyadari bahwa seniman juga manusia biasa, bukan malaikat apalagi dewa. Hidup mereka wajar-wajar saja sebagaimana layaknya orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat memahami eksistensi seniman dengan terbiasa dan berani mengatakan dan menerima pernyataan: “Bohong seniman tak perlu duit! Pernyataan ini menanggapi ungkapan yang lentur di lidah dan begitu saja meluncur, “Ah, seniman tak dibayarpun tidak apa-apa, mereka kan hanya mencari kepuasan batin!” Akhirnya, karya seni menjadi tidak berharga dan bernilai karena seniman dianggap sasaran empuk ‘proyek thank you’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konkretnya, apa pelukis tidak perlu duit untuk membeli kanvas, kuas, cat, figura, dan sebagainya. Apa koreografer dan penari tidak perlu berbusana saat menari. Apa sastrawan tidak perlu alat tulis dan kertas untuk berkarya. Apa musisi tak perlu alat musik. Apa kelompok teater tak perlu biaya untuk pementasannya. Dan seterusnya. Apa seniman hanya sim salabim. Hup! Jadi! Dan tak usah dibayar dan dihargai karya-karyanya? Apalagi tak perlu digubris soal hak ciptanya? Betapa dahsyatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What? “Apa kata dunia!” kata si Naga Bonar. Lalu diapun berseru, “Wahai dunia, seniman juga perlu duit untuk beli beras, ongkos naik oplet, membeli buku untuk menambah wawasan, perlu tabungan untuk membiayai keluarganya, perlu membayar pajak sebagai ketaatannya kepada negara, perlu menyumbang rumah ibadah sebagai ketakwaannya kepada Tuhannya, dan seterusnya, dan sebagainya.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, seniman bukanlah sesosok manusia yang hidup tanpa makan, tanpa keinginan dan mimpi hidup layak sebagaimana manusia yang lain. Jadi, seniman sama dengan manusia yang lain. Seniman adalah sesosok figur di tengah suatu masyarakat, yang karena motivasi eksistensinya pro-perdamaian, pro-peradaban, dan pro-rakyat mampu bersikap kritis sekalipun dalam krisis dan berani mengatakan: Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman (dalam makna sesungguhnya) berdiri di barisan golongan masyarakat yang memperjuangkan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan. Kelebihan seniman, begitu orang lain menganggapnya, hanya diberikan kesanggupan untuk mampu ‘berbeda’ dalam mengekspresikan jiwa dan eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks ini hanya sekadar meluruskan persepsi segolongan masyarakat bahwa mereka selama ini sesungguhnya telah terjebak dan tersempitkan wawasannya oleh imej yang memandang seniman dari wujud lahiriah (personal)-nya semata. Pandangan ini sesungguhnya salah, keliru dan akhirnya sekian lama menjadi virus yang menyesatkan. Virus ini telah mematikan daya kritis masyarakat sendiri sebagai gambaran pembentukan karakter bangsa alias character building yang gagal sehingga memandang sesuatu secara tidak bijak dan sekadar berapriori dengan kacamata retak yang buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala wujud lahiriah personal itu sesungguhnya hanyalah ekspresi individual seniman tertentu, tetapi telanjur menjadi tafsir bebas untuk mengidentifikasikan sosok seniman secara generalisasi. Akibatnya, tampakan fisik itupun tak jarang menjadi alamat negatif yang dilekatkan pada seniman. Rambut gondrong merupakan idiom dan simbol yang paling populer, lengkap dengan segala definisinya yang cenderung negatif. Padahal, kalau mau jujur dan meluaskan pandangan, ada barisan panjang seniman yang berpenampilan parlente, necis, rapi, sopan, dan sebagainya bahkan tidak sedikit yang eksis dengan kepala plontos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bukan mengada-ada bila sekarang saatnya semua menyadari bahwa seniman secara personal juga manusia biasa, bukan malaikat apalagi dewa. Hidup mereka wajar-wajar saja sebagaimana layaknya orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada salahnya mulai mengubur dalam-dalam virus yang telah mematikan daya kritis kita dan menyingkirkan kacamata retak yang buram. Dengan demikian, akhirnya dapat bergandengan dengan seniman membangun peradaban. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah Ketua Ikatan Pencinta Sastra Kota Hantu (IPSKH) Pontianak dan Sekretaris Dewan Kesenian Kalimantan Barat.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3322883872215152037?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3322883872215152037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3322883872215152037' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3322883872215152037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3322883872215152037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/bohong-seniman-tak-perlu-duit.html' title='Bohong Seniman Tak Perlu Duit'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5354016815280154972</id><published>2007-07-18T10:31:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T10:32:06.779-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI ADI MOCHTAR'/><title type='text'>malam terasa malam</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: adi mochtar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dingin&lt;br /&gt;di teras rumah&lt;br /&gt;hadapan air mengalir deras&lt;br /&gt;maklum separo hari turun hujan&lt;br /&gt;sekarang saja tidak&lt;br /&gt;malam terasa malam&lt;br /&gt;apalagi keramaian telah menipis&lt;br /&gt;padahal baru seminggu fitri dijalani&lt;br /&gt;entahlah&lt;br /&gt;sebab esok akan kutinggalkan kampungku&lt;br /&gt;kembali arungi persaingan hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;kampong dagang, sambas, sambil ngopi dan merokok,&lt;br /&gt;20 nov 2004, 20:22:44 wib&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5354016815280154972?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5354016815280154972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5354016815280154972' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5354016815280154972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5354016815280154972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/malam-terasa-malam.html' title='malam terasa malam'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-2960281458049826625</id><published>2007-07-18T10:30:00.001-07:00</published><updated>2007-07-18T10:30:56.241-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI deki triadi'/><title type='text'>KENUDISAN DOSA DAN SUARA ADZAN</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: deki triadi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;waktu kau bernyanyi dengan suara sumbang kedua telingaku terkunci lagu dari mikrofonmikrofon usang kau banggakan seperti kau banggakan kemaluanmu malam itu diranjang yang kita bereskan bersama dalam sehelai celana dalam. memang kita tidak dalam kenudisan karena kenudisan hanya ada dirumah tuhan bukan diadzan mahgrib atau adzan subuh begitu sulit membuka mata ketika lelah membalut ranjang kita dalam sehelai celana dalam berserakan sedikit behamu yang tertinggal dan sehelai kaos singlet yang memisahkan kita dalam kenudisan dosa membangunkan suara adzan yang tenggelam digelasgelas kotor anggur yang merencanakan setan segera masuk dihati kita. kau atau aku bersama setan malam ini menuntaskan perjanjian lama yang diikrarkan ketika dosa diketik satusatu oleh adam dan hawa berzinah kembali melupakan suara adzan saat iga kehilangan buah kuldi. dan perjanjian itu telah sampai ditelinga kita yang terpisahkan behamu dan kaos singlet ini. dalam kenudisan dosa kita lupakan adzan sekejab saja asyikan nafsunafsu tua yang tersekat ditenggorokan untuk memuntahkan perjanjian yang menyisakan beha dan kaos singlet dalam kemaluanmu dan kemaluanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pontianak 1 Mei 2002&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-2960281458049826625?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/2960281458049826625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=2960281458049826625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2960281458049826625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/2960281458049826625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/kenudisan-dosa-dan-suara-adzan.html' title='KENUDISAN DOSA DAN SUARA ADZAN'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6451772259057565556</id><published>2007-07-18T10:27:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T10:29:45.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI deki triadi'/><title type='text'>SEORANG BOCAH, WANITA MALAM, ORANG GILA, DAN AKU</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: deki triadi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senggang waktu diantara iseng langkahku bersenggama lagi bersama bocah dan wanita malam. aku tetap ditrotoar ini mengumpulkan debudebu menjadi orang gila setelah lama bersenggama diayunayun angin melepaskan sejenak siapa tuhan? engkau berbisik kembali kepada tuhanmu dan bukan tuhanku yang menjadi tuhan bagi orangorang kaya bukan yang dirawarawa&lt;br /&gt;seekor rayap mulai merayap setelah sayapnya jatuh dibelantarabelantara lebat dosa dan dosa dalam senggama ini kau tetap mencari tuhanmu.&lt;br /&gt;ah! terlalu kekal wajahmu dalam benaman nafsuku diantara bocah, wanita malam, orang gila, dan aku sendiri mengalirkan luka yang tak berdarah disemua benua mencari tuhan yang telah menitipkan dosa ini berkumandangkan suarasuara surgawi hanya janji belaka&lt;br /&gt;senggang waktu terus berlari diantara iseng yang menuntaskan senggama diliangliang lahat berkafankan bayangmu dalam nafsuku semakin menanjak. adakah kau sama seperti aku diantara nafsu, bocah, wanita malam, orang gila, dan nafsu diwarung kopi atau diembun tua sekali sejak tuhan menitipkan dosa disaku baju.&lt;br /&gt;sejenak isengku tandas dalam anginangin surgawi yang berjanji siapa hati kita diantara bocah, wanita malam, orang gila dan aku sendiri bingung menentukan dimana kita membuang dosa kemaren sore tak pasti dihamparan kaki lima atau tong sampah disamping mesjid yang telah mati karena lakilaki khalifah sebenar terlalu asyik bermain remi diwarungwarung yang mengumandangkan adzan untuk tidur sejenak memeluk minuman lalu mengucup bibirbibir indah bersama iler telah melebar ke rumah tuhan. senggang iseng waktu mampir sebentar dimesjid kehilangan lakilaki menumpuk seorang bocah, wanita malam, orang gila, dan aku sendiri tidak lagi menggunakan topeng karena dosa telah meluap kejalan raya yang mengekalkan lakilaki khalifah sebenarnya dalam goyangan asyik menegangkan kemaluan yang beradu diranjangranjang melupakan&lt;br /&gt;tuhanmu sebenarnya. dalam iseng ini seekor rayap memandikan cahaya yang kehilangan tinta karena lakilaki sebenarnya telah terperosok kerawarawa berlari mengejar ularular betina dalam dongeng tentang seorang bocah, wanita malam, orang gila dan aku kehilangan tuhan!&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pontianak, 27 Mei 2002&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6451772259057565556?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6451772259057565556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=6451772259057565556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6451772259057565556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/6451772259057565556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/seorang-bocah-wanita-malam-orang-gila.html' title='SEORANG BOCAH, WANITA MALAM, ORANG GILA, DAN AKU'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-9169669421996071164</id><published>2007-07-18T10:24:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T10:27:08.713-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI deki triadi'/><title type='text'>SEMUSIM</title><content type='html'>&lt;i&gt;: yati&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;by: deki triadi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan hujan ini turun lagi&lt;br /&gt;seirama titik air mata jatuh kebumi &lt;br /&gt;membasahi hati yang luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada pergantian musim&lt;br /&gt;membawa hati untuk kembali, bersatu dalam bencana &lt;br /&gt;berpisah dalam bahagia&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hanya satu untuk menghapus lara yang menjadi perkasihan semusim&lt;br /&gt;tapi kenangankenangan yang menggantung dipohon tua&lt;br /&gt;ketika ketika beromansa tak jua beranjak dalam otakotak gelisah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada pergantian musim yang dapat membahagiakan hati&lt;br /&gt;karena terlena janji, bersatu kembali&lt;br /&gt;tapi, kekuatan benci tak mengubah hati ‘tuk kembali&lt;br /&gt;diperkasihan semusim ini kutunggu dikau ‘tuk kembali &lt;br /&gt;walau hanya seperempat pasti dari setengah harap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Korpri, 20-6-1998&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-9169669421996071164?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/9169669421996071164/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=9169669421996071164' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/9169669421996071164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/9169669421996071164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/semusim.html' title='SEMUSIM'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1873063235902914037</id><published>2007-07-18T05:33:00.001-07:00</published><updated>2007-07-18T05:33:55.940-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Setetes Dawat Buat Odhy’s&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kubaca lembaran pertama surat kabar Pontianak Post tertanggal 8 Mei 2005 tidak tertulis namamu. Lalu yang terbaca dan terpandangku hanya cerpen Agus Wahyuni, Nurhalimah Usman, dan Sajak Fantasi Helai Daun 1,2, dan 3 karya Pradono Yanku.&lt;br /&gt;Pradono Yanku termasuk salah satu senior pembimbingku dalam menapaki kegemilangan dunia sastra. Seringkali aku berkonsultasi dan minta pendapat padanya. Setiap kala dalam hitungan waktu bernyanyi. Saat kuinjakkan langkahku di tanah dia berada, kota hantunya. Sekarang tempat tinggalnya lebih dikenal dengan sebutan Bumi Khatulistiwa atau Pontianak City. &lt;br /&gt;Bang Dono, sapaan hangat, kupanggil namanya setiap putaran detik berlalu. Ketika kami habiskan hari memakan butiran-butiran kesegaran sastra dbalik menempelnya embun malam yang bergantungan dilapaz cinta rumput bersujud simpuh pada Allah. Sehingga badan tetap menyegar, meninggalkan rasa kantuk yang mendera. Yang ada hanyalah kenikmatan saja. Itu kulakukan agar segala hasil karya yang kuciptakan bisa bernilai tinggi di mata orang-orang pecinta sastra. Mungkin saja dapat bersarang telak di otak masyarakat Bumi Khatulistiwa saat ini, yang masih rendah menghargai karya sastra penyairnya.&lt;br /&gt;Karena menyukai hal-hal yang berbau kesusasteraan, maka pecahan-pecahan cerpen dan sajak di surat kabar itu kusimpan dalam lemari, tempat kumenyimpan buku-buku pelajaran dan bacaanku. Rencananya serpihan surat kabar itu akan kukliping sebagai penambah wawasan dan khasanah perbendaharaan kesusasteraanku.&lt;br /&gt;Entah mengapa di hari Jumat ini. Hari yang penuh kemuliaan dan barokah ini. Kutergiur untuk menelan berita-berita yang lain dari surat kabar itu, yang disimpan temanku Tito di bawah meja ruang tamu. Kuraih surat kabar itu dengan kebanggaan. AKu pun mulai menelaah isinya satu per satu. Terbacalah olehku sekilas berita tentangmu di pojok kolom surat kabar itu yang ditulis sahabatku, Dedy Ari Asfar. Semasa sama-sama satu kampus. Sama-sama berjuang dahulu sekuat tenaga untuk meraih cita-cita dan harapan. Yang memang telah diplaning dalam benak untuk direalitakan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Alhamdulillah. Sahabatku itu terkena nasib mujur atau dapat dikatakan untung dua belas kali. Ia bisa berkenalan akrab dengan doktor ahli bahasa dan sastra. Doktor ahli bahasa dan sastra yang sudah dikenal banyak masyarakat bumi Khatulistiwa, Dr. Chairil Effendy. Lewat tangan dingin beliau itulah, sahabatku bisa meneruskan studi S2nya ke Malaysia.&lt;br /&gt;Sejak saat itu kontak hubungan menghilang antara kami. Sebab kami sudah sama-sama mencari hakikat kehidupan masing-masing. Walaupun kadangkala kumasih merindukan memori itu. Ingin berbagi cerita masa lalu yang mungkin masih ngeres untuk diceritakan ulang. Atau sebaliknya cerita masa sekarang yang enak untuk diperdengarkan.&lt;br /&gt;Ya. Benar sekali. Sungguh kebetulan. Sungguh kontras. Kagetku jadi beralasan. Ketika pijaran mata ini membaca tulisan sahabatku mengenaimu bahwa kamu sudah pergi ke negeri surgawi, menghadap Rabbmu. Rasanya aku belum percaya? Betulkah berita ini? atau hanya kebohongan saja? Berita pamer sensasikah? Tidak tahulah……………&lt;br /&gt;Ketidakpercayaanku juga beralasan mengenai berita tentangmu. Sebab belum lama kita berpisah kala itu. &lt;br /&gt;Bunga di taman kebersamaan kita masih meneriakkan keharuman dalam jiwa. Hembusan angin masih harum memenuhi rongga udara. Menembus jantung dan paru-paru kehidupan yang terdapat dalam kenikmatan terdalam. Segarnya. Apalagi kamu masih selalu mengumbarkan senyuman bak kilauan intan permata dengan disertai mulutmu berucap memberikan wejangan sastra padaku. Kumenyerapnya dengan baik bahkan wejanganmu masih kuingat sampai sekarang.&lt;br /&gt;Wejanganmu, yaitu kalau ingin jadi sastrawan andalan, hendaknya kamu mengerjakan tiga hal pokok ini. Pertama, rajinlah membaca hasil karya sastra orang lain. Dalam artian untuk menambah wawasan dan mempelajari cara-cara orang membuat karya sastra. Kedua, rajinlah berkarya. Jangan sampai berhenti atau putus di tengah jalan. Terus dan terus dengan tiada hentinya. Ketiga, berkonsultasilah pada orang yang sudah pakar dalam bidang sastra, agar hasil karya yang kamu ciptakan mendapatkan masukan atau kritikan membangun. Yang sungguh berharga sebagai langkah perbaikanmu dalam berkarya untuk mengantarkan hasil karyamu ke gerbang yang berkualitas tinggi atau yang terbaik.&lt;br /&gt;Selain itu, jiwa teduhmu selalui menaungi kepanasan hatiku. Tutur bahasamu yang lembut dan penuh keramahtamahan selalu kujadikan panutan. Kalau Allah memperkenankan ingin rasanya aku memiliki kelebihan seperti dirimu. Hingga wajarlah bila kamu kuanggap adalah guru pembimbing sastraku yang paling baik, selain sahabatmu yang lain.&lt;br /&gt;Sebelum berpisah ketika itu. Kamu tengah merampungkan pengumpulan hasil karya sastra para penyair Kalimantan Barat untuk dibukukan bersama dengan penyair Kalimantan yang lainnya, seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Antologi Penyair Kalimantan. Termasuklah salah satu penyair yang masuk kategorimu penyair Kalimantan Barat adalah aku. Yang proyek pembukuan itu dikerjakan oleh penyair Korrie Layun Rampan, penyair Kalimantan Timur. Katamu juga.&lt;br /&gt;“Kalau bukunya sudah jadi maka para penyair yang hasil karyanya termuat dalam antologi itu akan diundang membacakan hasil karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kita yang dari Kalimantan Barat akan sama-sama mencari dananya. Kita akan sama-sama pergi ke Jakarta dengan membawa panji penyair Kalimantan barat.”&lt;br /&gt;Tidak lupa kamu juga memberikan aku sebuah buku essaimu yang sudah diterbitkan yang berjudul ”Nasib Mendu; dan Sejumlah Renungan Sufistik Anak Melayu” yang penuh berisi ajaran kesufistikanmu untuk pengasah nalar dan iman agar menjadi mantap dan lebih baik. Buku itu juga adalah buku pemberi motivasiku untuk mengikuti jejak kesufistikan seperti dirimu. Lebih kental mengenal Allah.&lt;br /&gt;Oh ya, Bang Odhy’s, panggilanku padamu.&lt;br /&gt;“Terima kasih banyak atas oleh-oleh ini,” ujarku.&lt;br /&gt;Kamu hanya tersenyum. Senyum kebahagiaan. Sebentar kamu berujar.&lt;br /&gt;“Saifun, kalau puisi sufistikku sudah diterbitkan oleh penerbit dari Bandung. Akan kusisihkan untuk ente satu buah.”&lt;br /&gt;Sungguh perhatian dia denganku.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah,” jawabku sederhana.&lt;br /&gt;Mengenai puisi kesufistikannya itu sudah siap terbit. Mungkin dalam waktu satu bulan dan kurang dari dua bulan puisi itu sudah dirampungkan. Penulisnya yaitu Bang Odhy’s akan diberikan sepuluh buah buku sekaligus honorarium awal yang dibayar dengan sistem royalti dari penerbit. Sepuluh dari satu buah buku itulah, rencanaya akan diberikannya padaku.&lt;br /&gt;Percakapan hangat antara kita waktu itu terus berlanjut sampai menjelang Magrib. Azan pun mengusik kehangatan itu. Menyuruh kita untuk melaksanakan kewajiban ibadah pada Allah. Kita pun sama-sama shalat berjamaah ke masjid Nursalim, yang tidak jauh dari rumahmu. Sampai menghabiskan shalat Isya sekalian. Kita masih sama-sama tunduk bersimpuh di masjid itu menghaturkan bakti pada Allah. Selesai shalat kita pulang ke rumahmu. Masih sempat kita mengobrol sebentar.&lt;br /&gt;“Bang, kalau ada perkembangan sastra disini beritahu saya ya?” kataku.&lt;br /&gt;“Insya Allah, Saifun. Saya akan memberitahukannya padamu. Masih nomor telepon yang lamakan?”&lt;br /&gt;“Ya, Bang. Tidak berubah. Masih tetap yang lama.”&lt;br /&gt;“Baiklah, kalau begitu Saifun. Oke deh.”&lt;br /&gt;Kamu mengangguk-angguk tanda mengerti. Sebentar kemudian aku pamit pulang. Kamu melepaskanku dengan kehangatan jiwa seorang bapak dan guru yang dihormati anak muridnya. Itulah penggalan memori yang kurasa masih menghangat.&lt;br /&gt;Tapi, aduh! Warta yang kubaca ini masih membuatku bimbang. Antara menerima atau tidak. Benarkah itu terjadi? Tapi, tidak mungkinlah sahabatku yang menulis warta ini berbohong. Karena sahabatku, kukenal konsisten dengan kejujurannya.&lt;br /&gt;Subhanallah. Innalillahi wa innalillahi rojiun, kuucapkan kalimat itu dengan getaran sendu, sesendu jiwaku yang merasa kehilanganmu.&lt;br /&gt;Tapi, aku sadar. &lt;br /&gt;Ajal datang tidak pernah dapat diraba dan dia datang setiap saat sesuai dengan kehendak Allah. Mungkin Allah sudah punya ketentuan padamu bahwa umurmu cukup sampai disitu saja.&lt;br /&gt;Kutata hatiku supaya bisa kokoh dan kuat bersabar. Walau serpihan sedih masih bersisa di aliran darahku. Aku harus bisa menerimanya. Walaupun kusungguh merasa kehilangan. Sebab belum tuntas rasanya kumenimba ilmu sastra denganmu sebanyak-banyaknya agar kubisa merasai kenikmatan air lautan cahaya. Biar aku sampai mabuk atau teler. Hingga rasa air lautan cahaya itu bisa kukecapi. Yang rasanya manis, tawar, pedas, asin, hambar, dan asam. Bila perlu juga, aku akan mendapatkan mutiara di dalam lautan itu yang selalu kudambakan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Bang Odhy’s, di tempatku bertugas, yang jauh ini. Sungguh miris untuk menjengukmu. Membawakan kuntum kesturi dari keharuman taman hati untuk disemaikan di peristirahatanmu yang indah. Hal itu tidak bisa kulakukan waktu ini. Habis, jalan yang menghubungkan tempatku bertugas dengan kotamu, rusak berat dan berlubang sungguh dalam. Lubang itu membentuk danau buatan yang dalamnya mencapai empat sampai enam meter. Sulit untuk dilalui kendaraan bis. Apalagi akhir-akhir ini, musim penghujan sudah jadi sebuah langganan. Makanan setiap hari ke hari. Makin memperparah keadaan jalan penghubung itu.&lt;br /&gt;Walaupun begitu, kumasih dapat tersenyum. Kumasih dapat bersyukur. Kenangan manis kita itu, sebelum kepulanganmu menuju rumah Allah tetap akan kuabadikan sepanjang zaman. Kamu tetap kukenang sampai kapanpun.&lt;br /&gt;Sebagai ungkapan ketundukharuanku atas kepulanganmu ke negeri damai. Kuhanya dapat mengirimkan basah-basah doa di celah ranting-ranting pohon ketapang kering di sudut hatiku. Agar kamu bahagia di sana, bertemu dengan Allah. Selain itu, kuhanya dapat menitipkan selansir bait-bait olah pikirku untukmu. Agar kamu lebih tersenyum segar di sana.&lt;br /&gt;Maaf ya, kuhanya dapat menyempalkan bait-bait terakhirnya. Karena kupikir bait-bait itu sudah mewakili apa yang kumaksud. &lt;br /&gt;Bang Odhy,s, inilah oleh-oleh untukmu itu:&lt;br /&gt;……….&lt;br /&gt;Lalu bersamaan keharuman ini dari jauh&lt;br /&gt;Yang masih membekas di taman kewangian memori&lt;br /&gt;Kupetik setangkai doa angin yang penuh buah keikhlasan&lt;br /&gt;Kutancapkan di kelambu-kelambu indah peraduanmu&lt;br /&gt;Yang gembiranya bercengkerama bersama Tuhan&lt;br /&gt;Dengan menyisakan efoni yang masih segar&lt;br /&gt;; engkau adalah sahabat dan guruku yang paling baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balber, Medio mei 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipublikasikan di Pontianak Post, 17 Juli 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1873063235902914037?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1873063235902914037/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1873063235902914037' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1873063235902914037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1873063235902914037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/setetes-dawat-buat-odhys-oleh-m.html' title=''/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-7024221012693183424</id><published>2007-07-18T04:31:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T04:44:22.908-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen M.Saifun salakim'/><title type='text'>Cerpen M.Saifun salakim</title><content type='html'>White Cat&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas sedang menumpahkan amarahnya. Merah padam. Jalanan lekang tersenyum, tertawa, bahkan berteriak seperti orang gila. Amin menenteng map berisi lamaran kerja. Cari pekerjaan tetapi belum berhasil dengan sukses. Keringat sudah memandikan badannya. Untung saja dia pakai pewangi badan sehingga bau badannya nggak berceceran kemana-mana. Kontras tercium begitu. Pengap.&lt;br /&gt;Ujungnya dapat juga dia memasukan lamaran kerjanya di sebuah perusahaan atau instansi yang memang membutuhkan pekerja atau pegawai baru. Gembira rasanya dia mendapatkan hal itu. Walaupun dia baru lulus seleksi dari personalia. Yang masuk seleksi dua orang saja. Dia sama dengan seorang wanita yang juga melamar bersamanya. Kini tinggal menunggu putusan dari direktur utama. Siapa yang layak menerima pekerjaan itu, diakah atau wanita tersebut?&lt;br /&gt;Dia berdua bersama wanita itu lalu disuruh menghadap pimpinan untuk menentukan siapa yang berhak menduduki kursi jabatan yang dilamarnya itu. Rupanya Amin ditolak. Apa nggak dia berang? Ingin rasanya dia marah, karena pemilihan itu dinilainya nggak logis. Ujungnya Amin mengalah . Setelah dia menyadari suatu hal bahwa untuk mendapatkan kerja sekarang ini tidak bisa bermodalkan dengkul belaka, tetapi harus dilandasi dengan koneksi, seksi, dan amplop berisi. &lt;br /&gt;Bukan sekedar dengan lantunan puisi memukau rasa, tidak laku! &lt;br /&gt;Bukan sekedar jas berdasi biar parlente dan terlihat rapi menarik serta elegan, tidak laku! &lt;br /&gt;Busyettt……&lt;br /&gt;Amin dengan wajah mendungnya bergelayut di awan biru keluar dari kantor itu. Langkahnya gontai satu per satu. Map di tangan kanannya semakin kusam dan kumal, seperti kumal wajahnya baru saja dikalahkan oleh peradaban yang memukulnya jadi babak belur. Bonyok dan benyai… Membuat semangatnya lunglai…. &lt;br /&gt;Sejenak dilepaskannya letih di pelataran kantor itu untuk menghirup udara segar yang lama menjauh darinya. Sekali teguk, dua kali teguk, barulah sedikit rasa plong memenuhi rongga pernapasannya.&lt;br /&gt;Mau kemana aku? Pikirnya sejenak. Hampir sudah puluhan kantor aku masukkan lamaran kerja. Tak ada yang sangkut menerimaku. Baru saja ingin mendapatkan sinar rembulan di kantor ini, aku dikandaskan lagi. Aku ditolak lagi. Aku tak boleh patah semangat. Lamaran ini harus aku masukkan terus ke perusahaan atau instansi yang membutuhkan pegawai baru, sampai aku mendapatkan pekerjaan. Aku harus bisa … Akan aku coba sampai bisa…. Harus !&lt;br /&gt;Angin bergelora menyejukkan jiwa. Tanah terpampang coklat oleh kotoran timbunan peradaban semakin maju. Sampah-sampah berserakan. Bau busuk selalu berseliweran. Polusi udara semakin menggila. Oh ya, kendaraan terlihat bernyanyi dengan riangnya. Kadangkala menyentakkan Amin dengan ringkikan klakson menulikan telinga. Mengagetkannya yang enak bersantai, melepaskan kepenatan mencari penghidupan yang selalu kandas. &lt;br /&gt;“Lagaknya!” geramnya kasar.&lt;br /&gt;Ia ingin beranjak pergi, tak perlu lama disini. Ia ternganga seperti menyaksikan pemandangan yang mengasyikan. Ia melihat sekilas sosok putih di tengah jalan. &lt;br /&gt;“Ini berbahaya sekali ! Bisa mati dia !”. &lt;br /&gt;Ia berlari cepat didorong oleh rasa kemanusiaan dan kesayangan untuk menolong sesama manusia ciptaan Allah. Dia tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi, terpenting dia bisa menyelamatkan mahluk putih itu yang akan dilibas kendaraan hilir mudik. Disambarnya sosok putih itu yang hampir diberangus Corolla yang mengerang marah meninggalkan debu-debu berlepotan, menempel di wajahnya. Walaupun badannya terasa sakit ia masih tersenyum. &lt;br /&gt;Di tempat aman dilepaskannya sosok putih yang tidak lain adalah seekor kucing putih berbulu putih mulus penuh  klimis, tiada bercela noda sedikit pun. Lalu disuruhnya pergi. Namun si kucing tidak beranjak dari tempatnya. Malahan si kucing tersenyum dengan memberikan isyarat dengan gerakan misainya yang menari-nari lincah menawan. Seakan kalo dia bisa berbicara. &lt;br /&gt;“ Terima kasih ya atas pertolongan yang diberikan. Aku selalu ingin bersamamu.” &lt;br /&gt;Si kucing mendirikan kaki depannya untuk dijadikan sebagai tangan. Ingin bersalaman dengan Amin sebagai penolongnya. Memperhatikan hal tersebut, mau tak mau Amin pun mengulurkan tangannya menjabat tangan si kucing. Tangan Amin pun dijilatinya dengan penuh kasih sayang tanda persahabatan yang mendalam dan ucapan terima kasih. Amin mengangguk.&lt;br /&gt;“ Pergilah ! Aku sudah mengerti. Kini kamu sudah bebas. Kamu sudah selamat.”&lt;br /&gt;Si Amin jadi heran karena kucing itu nggak mau beranjak pergi juga. Sepertinya ia pilu untuk berpisah. Si kucing malah meringkuk sendu. Kepalanya nampak tertunduk sayu. Amin jadi kasihan. Kayak manusia saja, berat untuk berpisah.&lt;br /&gt;“ Baiklah kalo begitu, kamu ikut aku saja,” tawar Amin. Senangnya si kucing mendengarkan kata-kata yang ditunggu-tunggunya itu. Kesenduannya berganti dengan keceriannya. Dia mengeong-ngeong tanda bahagia. Seakan dia mengerti apa yang diucapkan si Amin.&lt;br /&gt;“ Kucing cerdik,” gumam si Amin merasa senang dan plong. Bisa membuat sesuatu bahagia walaupun hanya seekor binatang. Kucing.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Wahai tuan Amin, kemuliaan apa yang Anda peroleh hingga rumah Anda berkerlap-kerlip penuh cahaya?” tanya Burhan, salah satu dari penduduk desa yang penasaran ingin mengetahui keajaiban yang dimiliki si Amin. Diikuti oleh para penduduk desa yang ikut mengiyakan. &lt;br /&gt;“ Betul !” seru mereka serentak. Melakukan koor ya. Sebab mereka juga ngiri melihat rumah Amin sungguh indah di pandangan mata mereka. Sejuk. Damai. Tenang. Membuat mereka ingin lama-lama disitu. Hingga sesak menyempallah.&lt;br /&gt;Kalo sekiranya rumah Amin adalah masjid, tempat peribadatan mereka dalam menunaikan kewajibannya siang malam, lima waktu, tentu tiap waktu mereka mendekam disana. Menghirup kedamaian setiap angin berhembus. Menelan ketenangan setiap buliran air diturunkan oleh hujan musim semi.&lt;br /&gt;Rumah Amin tetaplah rumah Amin. Hingga mereka harus tau diri. Bagaimana caranya mengatur bertamu di rumah Amin, walaupun rasa kehausan mereka akan ketenangan itu belum terpenuhi juga. Untuk itulah, mereka membulatkan tekad, mereka juga menginginkan rumah mereka seperti rumah Amin. Agar kehausan yang mereka pendam jadi meledak. Berhamburan. Mereka ramai dan riuh meminta resep pada Amin agar rumahnya bisa juga bercahaya, bisa berikan kesejukan. Kedamaian. Ketenangan. Bagi penghuninya.&lt;br /&gt;“ Dialah penyebabnya,” tunjuk Amin pada kucing putihnya yang berbulu mulus yang berada di samping kanannya. Si kucing mengangguk dan senyumannya mengembang lengkungan sinar bianglala. &lt;br /&gt;“ Ah, kamu jangan bergurau Min. Masach kucing ini bisa berikan kemuliaanmu memancar. Kami saja yang punya kucing putih seperti ini lebih dari satu tidak menunjukan reaksi apa-apa. Min, janganlah medit ! Beritahulah kami hal yang sebenarnya. Biar kami juga betah di rumah seperti kamu. Karena rumah kami kan bercahaya dengan memberikan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian. Kalo sudah begitu. Kita semua kan bangga. Karena kampung kita akan menjadi kampung cahaya.”&lt;br /&gt;“ Betul Min.” koor penduduk, githu riuh rendahnya.&lt;br /&gt;“ Aku tidak bergurau saudaraku semuanya. Dialah membuatku jadi begini. Karena dia mengajariku tentang kesejukan, kemuliaan, ketenangan, dan kedamaian itu. Selain dia, aku tidak punya apa-apa lagi. Demi Allah kukatakan ini adalah kebenaran. Dia adalah kucing putih hoki. Jadi kalo kusarankan, sebaiknya kalian carilah kucing putih berbulu mulus seperti kucing ini, dalam mencarinya penuh ketelitian dan kesabaran. Jangan grasa-grusu, dan cepat puasan. Karena banyak kucing putih yang serupa tapi tak sama. Untuk itu betul-betullah mendapatkannya. Kalo sudah dapat. Belajarlah hal yang baik darinya. Insya Allah dengan perkenan-Nya apa yang kalian inginkan akan terwujud,” kata Amin menjelaskan dengan ramah dan tamah. &lt;br /&gt;“ Eddddaaaannnnn !”&lt;br /&gt;“ Gila Min itu namanya !”&lt;br /&gt;“ Tidak gila saudaraku. Coba saja kalo kamu ingin. Hanya itu yang bisa kuberikan.”&lt;br /&gt;Kerumunan itu pun bubar dengan bawaan mereka masing-masing. Ada yang bersungut-sungut kesal. Tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Ada juga yang mempertimbangkan saran Amin. Mungkin juga ada benarnya. Selebihnya hanya diam. No comment. &lt;br /&gt;Setelah melihat keberhasilan teman-temannya yang mengikuti saran Amin, akhirnya yang no comment dan bersungut-sungut juga mengikuti saran Amin. Hingga mereka berhasil semuanya. Ujungnya semua rumah di kampung itu penuh cahaya yang masing-masing  memberikan kesejukan, ketenangan, dan kedamaian bagi penghuninya. Selain itu, dalam kegelapan mereka nggak perlu penerangan lagi, karena rumah mereka sudah jadi penerangan.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lacur bagi Amin. Hubungannya dengan kekasihnya, Sutera jadi renggang. Sebab Sutera sangat antipati dengan hewan kucing. Apalagi Sutera menyaksikan sendiri Amin memelihara kucing. Rasa muak mengumpal, walaupun di sisi lain dia masih sayang dengan Amin. Pernah dia meminta Amin untuk tidak memelihara kucing, namun Amin menolaknya dengan halus. Makin membuat Sutera tambah kesal dan kecewa. &lt;br /&gt;Sebenarnya Sutera benci dengan hewan kucing ada alasannya. Hewan kucing baginya adalah hewan penyebab kemandulan. Karena faktor itulah, dia sangat menjauhi hewan kucing. Sebab kalo dia jadi dengan Amin, kemandulan menghampirinya disebabkan hewan kucing itu, apalah rasanya kehidupan ini. Hambar khan ? &lt;br /&gt;Sekali lagi Sutera membujuk Amin untuk membuang kucingnya atas nama cinta. Namun Amin tetap berpendirian teguh. Nggak mau menuruti kehendak itu.&lt;br /&gt;“ Tera, maaf ya aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk membuang kucing putih ini, karena dia sudah jadi sahabat sejatiku bahkan dia guruku.”&lt;br /&gt;“ Apa ? Tidak salahkah telingaku mendengarnya !”&lt;br /&gt;“ Tidak salah, Tera. Memang itulah kebenarannya.”&lt;br /&gt;“ Kamu ini semakin aneh saja. Masach kucing bisa jadi gurumu. Lucu sekali. Apakah tidak ada lagi manusia yang pantas menjadi gurumu sehingga kamu berguru dengan kucing. Aku tak habis pikir, Min.”&lt;br /&gt;“ Terserahlah apa katamu, Tera. Terpenting dia adalah tetap sahabat sejati sekaligus guru yang paling baik bagiku. Jadi maaf aku menolak keinginanmu.”&lt;br /&gt;“ Jadi itukah akhir keputusanmu?”&lt;br /&gt;“ Ya…..!” sahut Amin dengan mantap.&lt;br /&gt;“ Kalo begithu hubungan kita tidak boleh dilanjutkan lagi…. Sampai disini aja!” kata Tera yang sudah tidak bisa membendung hatinya lagi, karena Amin tidak bisa dibujuknya lagi.&lt;br /&gt;“ Terserahlah apa maumu. Kalo memang itu yang terbaik bagimu,” jawab Amin dengan ekpresi santai dan segar. Menangislah Sutera dengarkan kata keputusan itu. Kekecewaannya pun meruak lalu dibawanya lari bermaraton menempuh bukit dan lurah yang melandai serta gunung menjulang, menyampaikannya ke finish dalam penumpahan kekesalannya. Dialah yang menentukannya.&lt;br /&gt;Bukan berarti dengan putus hubungan, maka rengganglah hubungan sahabat, tidak begitu ! Hubungan sahabat tetap berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;Bertemu dengan Sutera, Amin tetap berbaikan. Amin masih senang pula menjemput Sutera di rumah sakit. Karena Sutera khan perawat man. Walaupun Sutera menolak diajak pulang bareng.  Amin tidak kecewa. Dia tetap seperti biasa dan apa adanya. Pertengkaran dan perselisihan sebelumnya dianggapnya adalah kesalahpahaman saja. Bisa diperbaiki.&lt;br /&gt;Ujungnya Sutera mengerti juga kesalahan yang dilakukannya, setelah dinasihati ayahnya dengan arif dan bijaksana bahwa Amin tidak bersalah, dialah yang terlalu egois. Dia akan berusaha menyukai hal yang dibencinya, yang disukai pasangannya. Dia pun ingin rujuk kembali dengan Amin yang terlalu baik baginya.&lt;br /&gt;Sore yang penuh gemerlap keindahan itu di hamparan lautan teduh, Sutera dengan suka rela diajak Amin pulang bareng. Amin pun merasa senang. Mobil mereka menderu menuju daerah penuh beribu-ribu kumpulan keranjang bunga bertaburan harum kelopak mentari. Tempat mereka mengukir memori indah di masa lalu. Di situ juga mereka dipertemukan hingga bisa seintim begini. Mereka kesana untuk menelan lagi memori baru dari memori lama yang masih tersisa di sejuknya embun menempel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Juli 2004&lt;br /&gt;~~~&amp;&amp;&amp;~~~&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Pontianak Post, Minggu, 22 Mei 2005)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Baik Hati&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokternya ada?” itulah kata-kata yang seringkali ditanyakan pasien pada tetangga dokter. Habis rumah dokternya tertutup selalu. &lt;br /&gt;“Dokternya belum pulang,” jawaban yang dapat diberikan oleh tetangganya dokter. &lt;br /&gt;“Terima kasih, Pak!” sahut pasien tersebut lalu ngeloyor pergi.&lt;br /&gt;Tetangga dokter itu adalah cikgu, yang mengajar di SMA Pertalian Kasih. Mereka adalah Tanto, Sahid, dan Iman. Tanto spesifiknya mengajar Kimia dan Biologi. Sahid spesifiknya mengajar Bahasa Indonesia. Iman spesifiknya mengajar Bahasa Inggris. Mereka tuh berasal dari kota yang berbeda. Tanto pendatang dari Jawa. Sahid pendatang dari Kayong City. Iman pendatang dari Pemangkat (Sambas). Mereka bisa bersatu dalam satu naungan. Satu rumah lagi. Asyikkan! Akur dan damai selalu. Semuanyakan, berkat adanya semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA. Mereka adalah teman-teman dokter yang begitu dekat. Tetangga dekat. Yang sering ngumpul bareng sama dokter, berkelakar, bercanda, dan berbagi cerita-cerita. Pokoknya dekatlah.&lt;br /&gt;Di hari berikut dan seterusnya. Begitulah komunikasi yang terjadi antara pasien yang ingin berobat pada dokter dengan tetangga dokter tersebut. Menunggu kehadiran dokter yang juga belum memunculkan wajahnya atau batang hidungnya. &lt;br /&gt;Mengapa mereka tetap ingin berobat dengan dokter Haris? Dokter yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya. Padahalkan, banyak juru rawat atau dokter yang lain, mungkin lebih profesional lagi dari dokter Haris! Mereka punya alasan tersendiri. Sebagian alasan itu adalah dokter Haris orangnya baik hati dan ramah pada siapa saja. Dalam menangani penyakit dokter Haris terkenal sabar, telaten, dan teliti serta tidak sembrono. Sehingga tidak menimbulkan malapraktik, yang banyak dihebohkan sekarang ini. Pelayanan dokter seperti itu membuat pasien merasa puas. &lt;br /&gt;Dalam berobat dokter Haris juga tidak menentukan seberapa besar biaya  pengobatan itu, pembayarannya seikhlas pasien memberi. Asalkan sudah mencukupi harga obat yang diberikan pada pasiennya. Selain itu, dokter Haris juga meyakinkan pada pasiennya bahwa yang menyembuhkan penyakit, bukanlah dirinya tetapi Tuhan Yang Maha Esa yang diyakini agama si pasiennya. Dirinya hanyalah sebagai perantara saja. Hakikatnya bahwa kesembuhan itu datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa. Untuk itu pasien harus yakin bahwa Tuhanlah penyembuh segala penyakitnya. Sugesti yang diberikan dokter Haris dibenarkan juga oleh logika mereka dan makin menambahkan ketebalan dan kemantapan mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang mereka sembah. Setiap tarikan napas. Karena itulah mereka menyenangi dokter Haris.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya susah juga dokter Haris menarik simpati pasiennya untuk berobat. Awalnya dia datang ke desa itu, pasiennya terkenal cuek dan antipati serta alergi dengan yang namanya dokter. Mereka lebih suka berobat ke dukun. Dengan cara pengobatan sesuai dengan keahlian dukun. Walaupun untuk perabah pengobatannya lebih besar. Mereka tetap memenuhinya. Begitulah adat turun temurun mereka. Masih mereka pegang teguh dan kuat-kuat. Sehingga ruang praktik dokter selalu sepi-sepi ayam. Karena tidak ada pasien yang mengunjunginya. Abis kalo sakit, masyarakat desa selalu datang ke dukun bukan ke dokter. Yang masyarakat yakini bisa menyembuhkan segala penyakit. Dokter tidak bisa.&lt;br /&gt;Siang nan cerah ini. Mentari menyalangkan matanya besar-besar. Dipelototkannya. Menyapukan pandangan ke seluruh jagat bumi di bawahnya. Dokter Haris lagi duduk santai di ruang kerjanya. Seketika dia tersentak mendengar keributan riuh di luar.&lt;br /&gt;“Gerangan apa yang telah terjadi?”&lt;br /&gt;Dia melihat banyak orang mendatanginya.&lt;br /&gt;“Wah, ada apa ini? Koq, mereka berdemonstrasi ke sini. Apakah ini pengusiran besar-besaran terhadap saya? Tanda protes atas kejengkelan mereka atau tanda kemauan mereka menolak atau tidak menerima kehadiran saya di sini?” Dokter Haris coba tenangkan jiwanya. Suara ribut di luar semakin gaduh dan ramai.&lt;br /&gt;“Dokter, keluaaarrrrr! Cepat kesiniiiiiiiiiiiiiii!”&lt;br /&gt;Gelombang derap berladam gaduh semakin mendekat. Bismillahirrahmanirrahiim. Dimantapkanya juga kakinya melangkah menyongsong dan menyambut masyarakat yang ramai mendatangi. Karena tidak biasanya hal itu terjadi seperti ini. Baru kali ini. Apa nggak dokter Haris merasa tercekat.&lt;br /&gt;“Ada apa kalian ramai-ramai datang ke sini?” tanya dokter Haris dengan hati-hati. Takut salah ucap. Bisa fatal urusannya.&lt;br /&gt;“Kami minta dokter menyembuhkan penyakitnya,” ujar salah satu juru bicara masyarakat. Lalu dia menunjuk orang tua yang terbujur lemas, tidak punya tenaga atau bertenaga. Digotong oleh empat orang pengiringnya dengan menggunakan tandu. Dia sering mengeluarkan darah dari mulutnya. Darah itu membasahi jenggotnya yang meranggas seperti pepohonan kekurangan nutrisi makanan dan air. Wajahnya sungguh pucat, sepucat mayat. Sepertinya cukup banyak dia mengeluarkan darah, sebelum diantar masyarakat ke ruang praktik dokter Haris. &lt;br /&gt;“Maaf ya saudara-saudara. Saya tidak mau melangkahi adat disini. Biasanya kalo sakit dibawa ke rumah dukun bukan ke sini dulu. Untuk itu, lebih baik orang sakit ini saudara-saudara bawa saja ke rumah dukun, minta obati sama dukun dulu,” jawab dokter Haris dengan tenang.&lt;br /&gt;“Mau dibawa ke dukun yang mana lagi dokter, sedangkan yang sakitnya adalah dukunnya sendiri,” kata juru bicara tersebut.&lt;br /&gt;“Ah, dukunnya sendiri,” kaget dokter Haris seketika. &lt;br /&gt;Pantesan, gumamnya dalam hati.&lt;br /&gt;“Oh, yang sakit ini dukunnya?”&lt;br /&gt;“Betul dokter. Kalo sudah tau. Cepatlah dokter! Sembuhkan dia, keburu dianya parah nanti lalu mati. Kalo dia mati sebelum mendapat pengobatan dari dokter. Tidak tanggung-tanggung dokter juga akan kami buat mampus,” ancam juru bicara masyarakat.&lt;br /&gt;“Tenang saudara-saudara. Sabarkan emosi anda,” peringatkan dokter Haris mendinginkan emosi masyarakat yang memanas itu.&lt;br /&gt;“Kami sudah tidak bisa tenang lagi dokter. Apalagi melihat penderitaannya yang sungguh menyedihkan ini. Apalagi melihat darahnya terus keluar. Rasanya kami ingin sekali membunuh orang yang telah mencelakainya.”&lt;br /&gt;“Oh begitu. Sebenarnya dukun kalian ini terkena apa?”&lt;br /&gt;“Katanya, dokter! Dia terkena racun angin. Dikirim seseorang yang tidak  suka dengan dia melalui perantaraan angin. Racun keji yang bisa mematikan. Kalo tidak mendapatkan pengobatannya yang tepat. Dia bisa mati. Tepat kenanya tengah malam tadi, dokter.”&lt;br /&gt;“Oh begitu,” lirih suara dokter Haris.&lt;br /&gt;“Oh begitu. Oh begitu terus! Kapan dokter mau mengobatinya? Kalo memang dokter tidak sanggup mengobatinya, bilang dari tadi. Jangan membuat kami lama menunggu. Biar urusannya cepat selesai. Menamatkan riwayat dokter duluan. Karena percuma saja anda seorang dokter, yang kami anggap setaraf dukun yang sakit ini, tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa mengobati penyakit. Lebih baik kami tidak memiliki anda. Habisi dia sekarang juga!” gelegar juru bicara masyarakat memberikan komandonya. Seseorang dari keramaian masyarakat yang berjejer itu maju ke depan, mendekati dokter Haris. Siap menghabiskan riwayat kehidupan dokter Haris. &lt;br /&gt;Walaupun dokter Haris merasa tersinggung dengan kata-kata pedas juru bicara masyarakat, namun dia masih bisa bersabar. Segala persoalan harus dihadapi dengan ketenangan dan kesabaran. Biar pikiran kita dapat berpikir jernih dan jelas untuk mencarikan solusi persoalan tersebut. Walau di sisi lain harga dirinya seorang dokter merasa dijatuhkan, namun dokter Haris masih bisa tersenyum. Dokter Haris mengangkat tangannya tanda mencegah perbuatan itu.&lt;br /&gt;“Tunggu dulu saudara-saudara. Baiklah saya akan berusaha mengobatinya. Moga saja dengan perkenan Allah, dukun kalian bisa disembuhkan lagi seperti semula. Bawalah dia ke ruang praktik saya, agar saya bisa memeriksanya. Sebenarnya dia sakit apa? Kalo sudah tau sakitnya. Insya Allah, barulah saya berusaha mengobatinya,” ujar dokter Haris masuk duluan. Diikuti oleh empat orang yang menggotong si sakit. Selebihnya menunggu di ruang depan.&lt;br /&gt;Si orang tua itu rupanya terkena paru-paru, bukan terkena racun angin, seperti disangkakan masyarakat desa dan dukun itu sendiri. Paru-parunya mengalami kebocoran. Untuk itu perlu ditambal agar sehat seperti semula. Penambalannya bukan dengan obat-obatan batuk, pilek, jantung atau obat dengan cara tempong tawar atau jampi-jampian, namun penambalannya tentu dengan obat-obatan paru-paru dan perawatan intensif. Dengan penambalan yang baik dan perawatan intensif dari dokter Haris, orang tua itu dapat pulih seperti biasanya. Maka sejak itu masyarakat mulai mempercayai keampuhan pengobatan dokter. Mereka mulai mau berobat ke dokter. Mereka mulai menyadari juga bahwa dokter bisa menyembuhkan penyakit. &lt;br /&gt;Sedikit pengertian ya, bahwa sebenarnya yang menyembuhkan penyakit bukanlah dokter tetapi Allah.&lt;br /&gt;Pandangan masyarakat yang keliru itu juga akan diluruskan dokter Haris. Dokter Haris adalah seorang hamba Allah saja. Perantara saja. Tetapi yang memberikan kesembuhan penyakit adalah Allah. Itu baru benar kerangka berpikirnya.&lt;br /&gt;Dokter Haris yang baik hati tidak mau menjatuhkan privacy pak dukun itu. Dia mengambil jalan terbaiknya, yaitu dengan jalan menjalin kerjasama pengobatan dengan pak dukun itu. Jika masalah sakitnya bisa ditangani dukun, maka dukunlah yang akan menangani atau mengobatinya. Jika sakitnya yang berkenaan dengan dokter, maka dokterlah yang akan menanganinya. Sehingga pengobatan yang mereka jalankan tetap berjalan sesuai relnya. Tidak ada yang saling sabotase atau mencuri lahan pekerjaan orang..&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat dokter Haris kaget. Rumahnya dikunjungi seekor ular yang kepayahan. Dokter Haris mencoba mengusirnya berulang kali. Namun ular itu tidak beranjak dari tempat semula. Dokter Haris cape sendirian. Sejenak di aturnya pernapasan biar lancar lagi mengalir, abis keletihan. Naluri kedokterannya mulai bekerja. Mungkin saja ular ini butuh pertolongan.&lt;br /&gt;“Kamu butuh pertolonngan?” tanya dokter Haris. Ular itu menganggukkan kepalanya. Dokter Haris tersenyum cerah dan berlega hati. Dia lalu memberikan pertolongan pada ular itu hingga ular itu sembuh dari penyakitnya. Ular itu menjadi girang gembira. Dengan lidahnya yang basah dijilatinya tangan dokter Haris sebagai ungkapan pernyataan terima kasih atas pertolongan itu.&lt;br /&gt;Dokter Haris, pasienmu sungguh banyak. Tidak hanya manusia. Sebangsa binatang pun juga pasienmu, seperti spesies ular, kalajengking, tikus, semut rangrang, kaki seribu, dan masih banyak lagi. Semuanya kamu layani dengan baik. Alhamdulillah, atas perkenan Allah semua penyakit diobatimu dapat sembuh semua. Dari itu tidak mengherankan kedatangannya dari bepergian ke luar kota ditunggu-tunggu oleh banyak pasiennya.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dokter mau kemana? Mengapa cepat tinggalkan kami? Kami masih membutuhkan sentuhan lembut tangan dokter,” seru mereka yang berusaha menahan kepergian dokter Haris. Yang setelah datang dari bepergian cukup lama. Hanya untuk sebuah urusan kepindahan saja. Apa tidak masyarakat menjadi terkejut? Apa tidak masyarakat merasa kehilangan sosok figur dirinya? Sudah melekat di hati masyarakat semua. Sudah terpatri di denyutan darah masyarakat semua. Dokter yang sungguh baik hatinya. Datang sebentar hanya untuk berpamitan.&lt;br /&gt;“Maafkan saya, saudara-saudara saya semuanya. Semua ini sudah kehendak-Nya. Saya harus pindah tugas,” ujar dokter Haris melunakkan hati masyarakat yang merasa bersedih.&lt;br /&gt;“Dokter tidak boleh pergi dari sini. Dokter masih kami butuhkan di sini. Coba lihat dokter, masih banyak paisen yang ingin perawatan dari dokter,” protes juru bicara masyarakat. &lt;br /&gt;“Saya tau itu. Tapi saya pun tidak bisa menolak keputusan dari atasan saya. Kalo saya menolak, pembangkangan namanya. Bisa-bisa saya akan dinonaktifkan dari tugas ini. Saya tidak ingin kehilangan jabatan ini. Cobalah saudara-saudara mengerti saya juga,” kata dokter Haris.&lt;br /&gt;“Kami semua sudah mengerti dokter. Kalo begitu kami akan demo saja. Mendemo atasan anda supaya membatalkan pemindahan anda ke tempat lain. Kami berusaha dalam pendemoan ini tidak dilakukan dengan tindakan keras, namun dilakukan secara damai serta kami akan berusaha sekuat mungkin tidak meniadakan jabatan dokter, gara-gara demo yang kami lakukan. Kami hanya memberikan pengertian atasan anda supaya mereka bisa lagi mempertimbang-kan dan memenuhi keluhan dan aduan kami. Sebab dokter masih sangat-sangat kami butuhkan,” kata juru masyarakat lagi. Masyarakat pun mendukung usulan itu. Yel-yel menahan kepindahan dokter Haris berdendang riuh rendah. Gendang dan musiknya masih terdengar hingar bingar.&lt;br /&gt;“Saudara-saudara saya, saya hargai antusias kalian semua. Namun pernahkah kalian berpikir, kalian ke sana mau pakai apa? Sedangkan jarak dari desa ini dengan kantor atasan saya sungguh jauh. Bukan saya bermaksud melemahkan semangat kalian semua. Coba memberi pengertian saja. Selain itu terpikirkan oleh kalian semua, suara kalian mungkinkah didengar oleh mereka? Ingat! Mereka juga punya prinsip. Apa yang sudah mereka putuskan atau tetapkan tidak mungkin ditarik kembali. Kalo itu mereka lakukan. Sama saja mereka membuat malu diri sendiri dan mengingkari kekonsistenan mereka. Ini saya utarakan agar kalian semua bisa memahaminya. Sebaiknya saran saya, urungkan saja keinginan kalian semua untuk datang ke sana. Tidak ada gunanya. Sia-sia saja. Lebih baik kini, kalian semua doakan saya supaya keberangkatan saya sampai ke tempat tugas baru dengan selamat. Belajarlah untuk berlapang dada dan menerima sesuatu dengan ikhlas. Mungkin ini aluran kehendak-Nya. Oh ya, saya doakan pula semoga saja kalian semua dengan cepat dapatkan dokter pengganti saya yang baru. Selamat tinggal saudara-saudara saya semuanya,” ujar dokter Haris. Lalu dia memasuki mobil yang sudah siap menunggunya sedari tadi. Siap membawa dirinya ke tempat tugas yang baru. Masyarakat pun terjaga. Tersadarlah logikanya untuk membenarkan apa yang barusan dikatakan dokter Haris. Sebetulnya kalo mau jujur, masyarakat menahan dokter Haris pergi hanya karena dorongan rasa kasih sayang.&lt;br /&gt;“Dokter, jangan pergi! Kami masih sangat membutuhkan dokter!”&lt;br /&gt;Gema suara masyarakat bergelombang tinggi nian. Berpacu dia dengan kepulan asap dan debu beterbangan, yang disisakan oleh mobil yang membawa dokter Haris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Berkuak, akhir september 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~~~&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;~~~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; CATATAN :&lt;br /&gt; Perabah : peralatan atau perlengkapan digunakan dalam pengobatan&lt;br /&gt; Tempong tawar : tepung beras yang bercampur dengan air hingga kelihatan putih yang dipercikan pada orang dengan menggunakan daun andong&lt;br /&gt; Jampi-jampian : sejenis mantra yang dibacakan dukun untuk mengobati pasiennya&lt;br /&gt; Cerpen ini dibuat untuk mengingat kenangan manis bersama dr. Herman Basuki. WE MISS YOU AND DON’T FORGET OUR.(Your Friend : Triyono, Isjuandi, Sarifudin, Taslim/istri, Arif Rahman/istri, Cinong dan Dhani mungil, Itam Hamid/ Istri, dan yang lainnya).    &lt;br /&gt; (Dipublikasikan di Pontianak Post, 13 Maret 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kidung Kampung Berdebu&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kidung putih abu-abu sungguh merdu mengalun. Menegur sapa embun masih enak meringkuk dalam selimut tebalnya yang hangat.&lt;br /&gt;“Hust, mengusik saja. Menganggu keenakan dan kesenangan saja.”&lt;br /&gt;Menegur ramah sekawanan binatang langit yang berburu makanannya untuk kehidupan. Hidung pun ditutup pakai sapu tangan atau handuk kecil ketika truk angkutan penumpang atau truk angkutan kayu segi/log melintasinya, agar debu beracun yang disebarkannya tidak terhirup.&lt;br /&gt;Jalanan masih mengepulkan uap dan debu beracun, seperti tanakan nasi yang mendidih. Tapi langkah dan kidung merdu itu tetap bergema. Menuju tempat penimbaan dan penggalian ilmu. Sungguh antusias. Sungguh semangat. Optimis !!!&lt;br /&gt;Sekolah. Tempat cikal bakal mereka untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat dan berdaya guna tinggi. Tempat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya dari guru, untuk diaplikasikan dalam kehidupan ini demi merangkul bidadari idaman dalam pelukan sanubari dan hati. Selalu melekat ! Tidak mungkin tandas lagi. Kebahagiaan hakiki. Kedamaian sejati. Kesejahteraan yang abadi.  Pasti !!!!!!!&lt;br /&gt;Jarak yang begitu jauh ditempuh untuk mendapatkan ilmu tersebut, bukanlah suatu penghalang.  Walaupun setiap kali melintas, harus menantang kepulan asap dan debu beracun, bukanlah suatu penghambat. Walaupun ada yang sampai dua kilometer perjalanannya. Bahkan ada sampai tiga kilometer atau lima kilometer perjalanannya. Bukanlah hal itu dapat menyurutkan langkah mereka. Mereka tetap teguh berkidung ria. Tegar mengalun penuh dengan wajah-wajah segar menyongsong semuanya. Merengkuh rembulan di terik mentari panas bersatu. Menyatu. Sungguh pencari ilmu pengetahuan yang tangguh dan gigih. Salut deh untuk kalian semua !!!&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat keputusan  dibuka. Tangan bergetar. Lutut melemas. Saya ditempatkan di kampung berdebu. Sanggupkah diri saya? Yang saya dengar kabarnya bahwa kampung tersebut penuh asap dan debu beracun. Bisa menghadirkan penyakit. Saya, orangnya rentan penyakit lagi. bisa-bisa saya terkubur disana. Timbullah rasa sesal menghantui. Rasa jengkel memanas, meradang, lalu merejang.&lt;br /&gt;“Sialan. Kurang ajar.”&lt;br /&gt;Segala umpatan terlontarkan. Caci maki juga begitu. Bersuara dalam hati. Mengutuk orang-orang yang telah menempatkan saya ke tempat itu. Bahkan menyumpahinya agar cepat mampus sekalian. Kebimbangan pun menggelora sanubari, menerimakah atau  tidak?&lt;br /&gt;Sejenak saya tenangkan jiwa. Di keramaian teman-teman saya yang bersuka ria. Ditempatkan di tempat yang dekat. Bisa pulang kampung setiap saat. Tidak terlalu jauh, jika libur menyapa. Bisa berkumpul bersama-sama dengan keluarga. Mengungkapkan kebahagiaan bersama dengan tawa dan canda &lt;br /&gt;“Sudahlah Ibnu ! Ambil sajalah. Yakinlah Allah sudah mengatur semuanya,” kata suara lembut memberikan strong power pada saya untuk mengambil keputusan, karena kebimbangan. Menyatakan ya atau tidak. Mengingatkan saya pada kemahabesaran-Nya. Tadi sempat saya lupakan.&lt;br /&gt;Yaa Allah. Maafkanlah kekhilafan saya barusan, melupakan-Mu yang sungguh besar kekuasaan-Nya.&lt;br /&gt;Mungkin dia benar. Ini sebuah perjalanan  yang sudah diatur-Nya untuk saya, agar dari perjalanan ini saya dapat mengambil hikmahnya.&lt;br /&gt;Yaa Allah, semuanya adalah kehendak-Mu. &lt;br /&gt;Barulah saya sadari hal itu. Setelah rasa keimanan saya disadarkannya. Mungkin ini adalah iktibar buat saya.&lt;br /&gt;Saya cari dan temukan suara halus lembut yang telah menggugah saya. Memantapkan keputusan saya untuk memilih. Rupanya dia berada di depan saya. Wajahnya kelihatan segar dan tersenyum. Di genggaman tangannya tertenteng map surat keputusan. Rupanya dia yang pernah duduk satu bangku di depan saya. Waktu sama-sama menunggu pembagian surat keputusan penempatan mengabdi. Dari awal acara sampai acara inti, yaitu pembagian surat keputusan ditempatkan untuk mengabdi dinanti-nantikan semua orang, dia tetap fresh. Yang namanya mendung tidak menghiasi rona langit wajahnya yang segar. Dia sepertinya sudah siap ditempatkan dimana saja. Sudah siap segala-galanya. Saat menerima surat keputusan penempatan itu dan membukanya, dia tidak gemetar bahkan dia tetap tenang seperti biasanya. Wah, benar-benar sudah siap, tabah, dan tenang dirinya.&lt;br /&gt;“Ah, rupanya kamu, Qori ! Makasih banyak atas nasihatnya ya,” kata saya. Lalu duduk di dekatnya.&lt;br /&gt;“Nggak perlu terima kasih segala, Ibnu. Sudah sepantasnyalah sesama muslim kita saling mengingatkan dan menguatkan antara satu dengan yang lain. Biar tetap terbina rasa ukhuwah islamiyah. Biar tetap terjaga rapi tali persaudaraan kita sesama muslim. Bukankah begitu Ibnu?” sahutmu.&lt;br /&gt;“Betul Qori. Betul sekali katamu,” kata saya mengiyakan. Karena pendapatnya benar sih.&lt;br /&gt;“Qori, kamu kena tugaskan dimana?” tanya saya ingin tau.&lt;br /&gt;“Tugas di Bentang !” jawabmu tandas. &lt;br /&gt;Kaget saya mendengar nama daerah itu. Tidak jauh berbeda dengan daerah yang saya datangi. Mungkin daerahnya lebih parah lagi dari saya Tapi dianya tetap tenang. Sungguh penghayatan kesabaran yang luar biasa.&lt;br /&gt;“Qori, bukankah Bentang. Kalo ditilik dari segi namanya adalah nama rumah khas suku Dayak. Dari nama itu, menandakan mayoritas warga yang menghuni daerah itu adalah orang Dayak.”&lt;br /&gt;“Betul sekali Ibnu. Begitulah kabar burung yang saya dengar.”&lt;br /&gt;“Kalo kamu sudah tau kabarnya begitu. Mengapa kamu tidak membatalkannya? Apalagi kamu seorang wanita. Bisakah kamu hidup disana berdampingan dengan mereka? Kamu khan muslimah sedangkan mereka tidak?”&lt;br /&gt;“Insya Allah, Ibnu. Selagi saya masih yakin bahwa Allah selalu mengikuti hamba-Nya. Saya yakin. Ainul yaqin. Saya akan bisa.”&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan Qori. Saya semakin salut dengan keyakinamu yang mantap kepada Allah. Tapi, apakah tidak terpikir oleh akalmu tentang kemungkinan yang akan terjadi bila kamu tugas disana? Seandainya mereka menolak kehadiranmu? Atau sebaliknya mereka menganiayamu?” balik saya memberikan pertimbangan dan penjelasan padanya.&lt;br /&gt;“Saya tidak berpikir sampai kesitu Ibnu. Karena hal itu akan melemahkan kemantapan saya. Saya sudah bulatkan dan ikhlaskan untuk tetap menerima keputusan-Nya lewat perantaraan ini. Maaf ya Ibnu sedikit saya meralat katamu yang pakai “Seandainya”. Yang benarnya kita jangan selalu suka mengandai-andai. Tapi langsung saja melakukannya dengan kenyataan yang ada. Mantap khan!”&lt;br /&gt;“Betul juga katamu, Qori.”&lt;br /&gt;“Tapi Qori. Kamu tidak takut dengan hukum adat mereka? Kadang kala mengekang kebebasan kita yang hidup di bumi Indonesia, yang berlandaskan hukum negara. Karena Qori, mereka setiap menyelesaikan segala masalah selalu menggunakan hukum adat bukan hukum negara. Padahal mereka hidup di bumi Indonesia. Seharusnya mereka menggunakan hukum negara. Lagian Qori, mereka juga sangat fanatik dengan hukum itu. Hukum adat mereka.”&lt;br /&gt;“Tidak takut Ibnu. Untuk apa musti takut dengan mereka. Karena mereka juga mahluk Allah. Mengapa saya musti takut dengan mahluk Allah? Sebenarnya Ibnu, yang musti saya takutkan hanya satu, yaitu Allah. Dialah Sang Maha Pencipta. Karena Dialah yang mengatur kehidupan saya.”&lt;br /&gt;“Okelah Qori, kalo itu memang katamu. Kalo begitu memang keyakinanmu. Sudah mantap, tidak lonjong dan gepeng lagi. Saya hanya dapat mengiringi kamu dengan doa. Moga saja kamu sukses selalu. Selamat jalan!”&lt;br /&gt;“Sama juga Ibnu. Saya hanya dapat memberikan doa padamu. Moga juga kamu sukses dalam pengabdianmu dan tugasmu serta selamat jalan juga,” sahutnya membalas ucapan saya. Terakhir kali untuk berpisah.&lt;br /&gt;Di tempat baru. Terasa agungnya. Penyambutan saya oleh penduduk setempat. Terasa hangat dan akrab. Bersahabat. Serasa saya teman jauh yang baru bersua. Mementahkan imajinasi dan khayalan saya yang bukan-bukan tentang kampung tersebut. Selain itu, syahdunya kidung putih abu-abu bergema. Sungguh betul-betul ingin memperoleh ilmu dari saya, menantang hasrat. Untuk memberikan yang terbaik buat mereka sesuai kemampuan yang ada. Demi cita-cita mereka agar berhasil dengan baik. Merangkum bulan dalam pelukan dan menjadikannya sebuket keranjang yang menaburkan keharuman sepanjang masa.&lt;br /&gt;Tak terasa semakin senang saya hayati kidung-kidung mereka. Kidung sufi. Kidung Haddad Alwi. Kidung irama gambus atau kidung perjalanan musafir padang pasir. Kidung bernuansa seni tinggi. Rasukkan perasaan bahagia terdalam. Walau untuk itu harus menentang asap dan debu beracun setiap hari. Tidak perduli !. Bersama-sama dengan mereka yang sudah terbiasa. Walau harus menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan dan handuk kecil, menghindari penyakit yang bertebaran. Tidak perduli !. Walau harus musim panas, kepanasan dan kelelahan cucuran keringat yang banyak menggenang di sungai baju dan tubuh. Tidak perduli !. Walau harus musim hujan, kehujanan dan kebecekan menghiasi pakaian yang dipakai. Tidak perduli !. Asalkan kidung mereka bisa meresap dalam hati dan sanubari serta bisa mendarah daging. Asalkan mereka tetap berkidung ria dengan semangat senang dan gembiranya penuh pesona.&lt;br /&gt;Lumayan. Dengan teliti dan telaten. Betul-betul saya hapal dengan kidung mereka. Waktu tidur, ketika bangun pagi, ketika kerja, ketika shalat setiap waktu sehari semalam (Shalat lima waktu), dan dalam tarikan napas ini. Setiap kali menghirup udara bersih untuk kelangsungan kehidupan di jagat raya ini. Kadang-kadang juga saya kidungkan sendiri. Kidung yang sungguh berjiwa seni tinggi. Dengan not-notnya teratur rapi. Rimanya tersusun manis. Iramanya tertata sedap. Mendayukan rasa rindu berbuku-buku pada siapapun. Walaupun kidung itu dikidungkan di kepulan asap dan debu beracun meresak. Tetapi tetap bergema lantang membelah angkasa. Menjagakan penghuninya untuk ikut meresapi dan menghayatinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJU… MAJU… MAJU… TERUS MAJU…&lt;br /&gt;PANTANG MUNDUR&lt;br /&gt;MENGAMBIL ILMU&lt;br /&gt;DI TEMPAT SUCIMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJU… MAJU… MAJU… TERUS MAJU…&lt;br /&gt;DEMI ILMU…&lt;br /&gt;KAMI TENTANG ASAP DEBU DAN HUJAN BATU&lt;br /&gt;WALAU KAMI PUN JADI BANGKU-BANGKU&lt;br /&gt;UNTUK KAMU&lt;br /&gt;ILMU… ILMU… ILMU…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ILMU… ILMU… ILMU…&lt;br /&gt;KAMULAH ROH KAMI DALAM SATU &lt;br /&gt;UNTUK BERMUTU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kidung ini bila saya kidungkan sendirian. Dengan penuh penghayatan rohani dalam nurani. Merindukan saya pada sosok Qori. Sekian waktu berlalu tidak bersua. Meninggalkan sayup-sayup berdesir halus lembut.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Balai Berkuak, Medio September 2004&lt;br /&gt;~~~~&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;~~~~~&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Equator, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Peramal&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NALO… NALO… NALO…&lt;br /&gt;Syair keemasan yang sudah hilang dari peredarannya. Sudah terkubur rapat-rapat. Sudah terkunci begitu kejangnya dan membeku di gembok sejuta kenangan tandas. Begitu juga teman kentalnya si SDSB. Tak jauh berbeda nasibnya. Sama-sama menjadi makanan rayap di gudang. Menjadi santapan tikus di kardus-kardus bekas tumpukan makanan indomie yang tersisa. Menjadi gelojohan lezat api yang membara di tempat pembuangan akhir. Hanya menyisakan debu yang menyatu dengan tanah. Sungguh malang nasibmu kawan!&lt;br /&gt;Wah, hilangnya engkau, bukan berarti hilang segala-galanya. Malahan kini muncul kembaran engkau dengan tampilan baru. Lebih necis dan lebih keren. Berpenampilan seronok dan memicingkan mata serta melototkan keinginan untuk menggelutimu lebih dalam lagi. &lt;br /&gt;Kembaranmu itu adalah kupon putih atau togel. Kadang-kadang diperdagangkan orang-orang secara sembunyi, takut diketahui aparat bisa kapiran urusannya. Kalau diketahui dan ditangkap, bisa-bisa menghuni rumah prodeo. Rumah pesakitan. Layaknya permainan perdagangan tersebut seperti tikus dan kucing. Kalau kucing lengah, maka tikus pun beraksi dengan sigapnya. Tapi kalau kucing sigap, tikus pun menyembunyikan diri tidak menampakkan batang hidungnya. Takut diberangus kucing habis-habisan. Matilah dirinya. &lt;br /&gt;Tapi ada juga sebagian orang-orang yang berani menjual barang tersebut secara terang-terangan. Tidak takut ditangkap aparat. Karena dia sudah mempunyai beking yang kuat. Kalaupun ditangkap, tidak punya pengaruh apa-apa . Karena dia akan dilepaskan atau dibebaskan dari perangkap tersebut. Dilepaskan sahabat atau kaum kerabatnya yang ada bekerja di penangkapan tersebut. &lt;br /&gt;Harap dimaklumi saja. Sudah tidak perlu dipelototi lagi. Biarkanlah nanti ada yang memantatinya. Membuat dia malu sendiri. Lalu mendekam erat di karatan timbangan berat peti kemas melarat, yaitu ajal menjerat lehernya kemudian mengkerat napasnya tinggalkan penyesalan.&lt;br /&gt;Togel ini pun banyak disenangi dan digemari masyarakat, yang ingin cepat kaya dengan jalan pintas. Potong kompas. Hingga membuat tukang sinji laku keras.  Tukang ramalan juga tak ketinggalan pula. Jadi incaran para pemasang. Mereka minta diramalkan agar mendapatkan nomor yang tepat. Sungguh pemikiran yang tidak sehat lagi!&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dor, tak disangka si Bujin kaya mendadak,” kata Kora bersemangat. &lt;br /&gt;“Eh, beruntung sekali nasibnya. Tapi Kor, dia kaya oleh apaan? Padahal dia kan orang termiskin sedunia,”sahut Pendor. &lt;br /&gt;“Dia kena togel Dor. Lima ratus juta rupiah. Bayangkan?”&lt;br /&gt;“Kena togel. Pasti dia dapat nomor yang jitu hingga bisa memperoleh uang sebesar itu.”&lt;br /&gt;“Betul Dor. Begitu yang saya dengar. Konon nomor jitu yang Bujin dapat dari peramal Bango.”&lt;br /&gt;“Hebat juga peramal Bango. Bisa meramal setepat itu.”&lt;br /&gt;“Ya, Dor. Saya pun juga tertarik untuk mendatangi peramal Bango. Biar cepat kaya juga seperti Bujin. Siapa sih yang tidak mau kaya?”&lt;br /&gt;“Betul Kor. Kalau begitu saya juga mau ikut. Sama-sama punya keinginan seperti kamu, mau ingin kaya juga. Habis saya sudah letih dan penat hidup melarat seperti sekarang ini.”&lt;br /&gt;“Betul Dor. Kalau begitu, mari kita cepat-cepat kesana. Sebelum keburu orang lain meramaikannya,”ajak Kora.&lt;br /&gt;“Marilah,”sahut Pendor mengikuti langkah kaki Kora.&lt;br /&gt;Tidak hanya Kora dan Pendor saja yang ke rumah Bango. Penduduk lain sudah kesana saat mereka mendengar Bujin kaya mendadak karena kena togel, yang nomor jitunya diberi oleh peramal Bango, hingga tembus dengan tepat. &lt;br /&gt;Siapa sih yang tidak ingin kaya? Semua orang ingin kaya. Malahan ada yang sudah cukup kebutuhannya masih ingin kaya. Itulah manusia selalu tidak mengenal kata puas. Pengejaran yang mereka lakukan ini juga mengisyarakatkan bahwa mereka lebih mementingkan mengejar harta duniawi daripada mengejar dan mendapatkan tujuan pokok mereka, yaitu beribadah kepada Allah. Berarti ini menunjukkan adanya pergeseran nilai pikiran dan akhlak dari mereka. Masya allah.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Bango terletak di Kampung Bunga. Dengan bentuk rumahnya sungguh sederhana, beratap daun nipah, berdindingkan daun nipah juga, dan berlantaikan kulit kayu medang yang keras. Rumah sederhana ini dihuni oleh tiga orang manusia. Bango, istrinya si Remah, dan anak sulungnya si Badung yang masih duduk di bangku enam Sekolah Dasar. &lt;br /&gt;Bango dalam dunia keperamalan terkenal menggunakan kartu bridge yang berisi As sampai dengan King. Kartu remi orang menamainya. Keahlian si Bango hanya dikhususkannya untuk meramal nomor togel, nomor keberuntungan, dan hitungan mendapatkan jodoh. Yang semua diramalkannya jarang meleset. Kalaupun meleset, itu tidak terlalu jauh. Kalau dihitung hanya sepuluh persen dari seratus persen hal sebenarnya.&lt;br /&gt;Remah, istrinya juga ahli meramal. Dia ahli menafsirkan guratan-guratan yang ada di telapak tangan manusia yang disebut Rajah Tangan. Yang dapat dijelaskannya dari rajah tangan ini mengenai lamanya percintaan yang dilakukan, jalan memperoleh rezeki, dan pertemuan dengan orang yang diincarnya. &lt;br /&gt;Pernah dia meramalkan Desta. Katanya, Desta hanya melakukan percintaan sekali saja, pendek bukan? Desta akan mendapatkan rezeki yang melimpah ruah. Sebab Desta akan mendapatkan pendamping hidup seorang pengusaha muda yang sukses. Tentu saja kehidupan mewahnya dari calon pendamping hidupnya. Ramalannya pun jadi cespleng. Desta mendapatkan apa yang diinginkannya sesuai apa yang diramalkannya. Senangnya Desta. Sebagai ungkapan terima kasihnya, Desta memberikan imbalan yang cukup berlebihan untuk Remah. Itulah jerih payahnya. Karena kepiawaiannya dan sudah terbukti manjur maka Remah diserbu banyak gadis-gadis muda untuk minta diramalkan. Biar mendapatkan jodoh secepatnya dan kaya raya. Remah pun dikenal dengan sebutan Ratu Rajah Gemilang. &lt;br /&gt;Mereka tidak tahu bahwa jodoh itu berada di tangan Tuhan. Yang terjadi pada Desta hanya kebetulan saja, bukan kebenaran.&lt;br /&gt;Badung, anaknya yang baru menginjak kelas 6 SD juga banyak didatangi orang-orang. Karena dia juga ahli dalam meramal. Meramalkan tentang perjalanan cinta yang dilakukan seseorang, ketertarikan seseorang pada orang lain, dan kiat untuk melanggengkan tali ikatan cinta. Apa yang diramalkannya tembus benar. Tepat mengena pada sasarannya. Tidak pernah meleset. Hingga penduduk meyakini keluarga tersebut adalah keluarga orang kebenaran. Hingga tidak mengherankan setiap hari rumah Bango selalu padat, sesak, dan pengap oleh manusia yang minta diramalkan. Layaknya pasar saja, seperti pasar ayam, pasar baju, pasar penjualan emas dan intan belian serta lain sebagainya. Selalu riuh rendah dengan kumpulan manusia. Tidak berhenti sedetikpun, sunyi oleh kerumunan manusia. Yang bermacam-macamlah mengadukan perihal mereka untuk diramalkan sesuai dengan profesi dan bidang kerja mereka masing-masing yang minta tolong atau petunjuk bagaimana caranya melangkah ke depan dalam kehidupan selanjutnya. &lt;br /&gt;Pergeseran akidah telah mengembang dan menjamur di lingkaran kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Di sana-sini yang terdengar hanya obrolan mengenai keluarga Bango. Tidak hanya di pasar, biskota, rumah makan bahkan di segala tempat aktivitas masyarakat. Jadilah Bango dan keluarganya mahaguru yang tenar. Dipuja-puja banyak orang dalam setiap waktu dan tarikan jengkalan napas.&lt;br /&gt;Keluarga Bango jadi makmur. Sebab mereka sangat besar mendapatkan keuntungan dari uang ramalan. Keuntungan yang diperolehnya tergantung besar kecil masalah yang diramalkan. Kalo kecil upahnya kecil dan kalo besar upahnya juga besar. Lalu memantapkan keyakinan mereka untuk menggeluti bidang itu sampai tua. Dengan kerja sedikit dapat uang seamplop. Wah, sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;Angin keberuntungan atau kemakmuran dari orang-orang yang diramalkan keluarga Bango, tidak hanya berkisar dalam negeri tetapi juga luar negeri. Jadi kalo ditilik bahwa pasiennya tidak hanya domestic but foreign country. Sungguh hebat. Jadilah keluarganya, keluarga peramal ulung sedunia. &lt;br /&gt;Imbas pengaruh yang disebarkannya juga menyusup di relung jiwa jamaah Baitussalam. Pada mereka yang telalu rapuh bertahan Terlalu memandang senang pada kenikmatan semu sebagai tujuan. Mereka ingin juga berhasil seperti orang-orang yang telah berhasil mendapatkan harta buanyak. Walau mereka harus melalaikan kewajiban wajibnya. Membuat ustad Ghafur harap-harap cemas. Menyesalkan pula pada jamaahnya yang telah terjerumus oleh intrik-intrik yang direkayasa setan. Halusinasi semu. Sebab pertimbangan batin sudah kabur dilibas pertimbangan nafsi.&lt;br /&gt;Ceramah penanaman akidah sedang berlangsung. Disampaikan ustad Ghafur di depan jamaahnya. Beliau tidak lupa menyinggung mengenai ramalan di mata Islam. Ramalan tidak  boleh dipercayai dan harus dihindari jauh-jauh. Karena mempercayai ramalan sama saja kita melakukan tindakan keliru, mempercayai hal selain Allah. Karena kita sudah menyakini ketentuan yang datangnya dari luar Allah. Kamu tahu khan, perbuatan itu sama juga menyekutukan Allah. Tergolong perbuatan sirkubillah.&lt;br /&gt;Honsu datang agak telat. Dia menyusup di bagian belakang. Sambil mendengarkan ceramah, dia juga membisikkan sesuatu pada teman yang di dekatnya, Rakal. Rakal memberikan lagi informasi itu pada temannya. Terjadilah komunikasi berantai. Sedikit demi sedikit mereka yang mendapatkan informasi itu mengundurkan dirinya. Berkuranglah jumlah jamaah itu. Melihat gelagat itu, ustad Ghafur menyudahi ceramahnya. Beliau juga ingin mengetahui informasi penting apa yang sungguh besar menarik perhatian jamaahnya untuk meninggalkan majelis taklim. &lt;br /&gt;Masya allah, rupanya Bango akan mengumumkan bahwa adanya hari keberuntungan. Siapa saja yang mendengarkan apa yang disampaikannya, nantinya akan memperoleh keberuntungan. Kapan hari itu akan terjadi? Itulah yang akan diketahui masyarakat, yang sudah yakin dengan ramalan Bango. Hal ini mereka yakini sebagai kebenaran yang betul terjadi. Mereka pun tahu bahwa hari keberuntungan itu akan turun hari jumat depan tepat pukul satu, saat matahari berdiri tepat menghunjam ubun-ubun kepala tanggal tujuh belas. Turunnya diperkirakan di daerah sekitar rumah Bango.&lt;br /&gt;Di hari keberuntungan itu adalah hari kemakbulan. Segala permintaan yang disampaikan akan dikabulkan dan jadi kenyataan, tapi masing-masing orang hanya bisa menyampaikan satu permintaan saja. Masyarakat pun mulai merancang dan mempersiapkan permintaan apa yang akan mereka sampaikan pada hari keberuntungan itu.&lt;br /&gt;Ustad Ghafur bertandang ke rumah Bango. Dia diterima tuan rumah dengan baik dan sedikit ada rasa aneh. Abis, masach seorang ustad mau datang ke rumah peramal, yang sungguh harus dijauhinya. Tiada biasanya juga ustad Ghafur datang ke rumahnya &lt;br /&gt;Pasti dia ada keperluan, kaji Bango dalam hatinya. &lt;br /&gt;Memang ustad Ghafur ada keperluan. Keperluannya adalah minta diramalkan.&lt;br /&gt;“Apa ini tidak salah, Ustad?”tanya Bango dalam ketidakmengertiannya. Masak seorang ustad menyukai ramalan.&lt;br /&gt;“Tidak salah Bango. Memang saya ingin minta diramalkan. Saya ingin mendengar ramalanmu yang jitu itu. Saya minta diramalkan bukan untuk diri saya, namun untuk orang lain. Boleh kan?”kata ustad Ghafur santai dan tenang. &lt;br /&gt;“Oh begitu, ustad. Tapi ustad..?”ujar Bango tersendat-sendat.  Saat dia melihat arlojinya menunjukkan pukul satu kurang dua puluh menit. Waktunya turun hari keberuntungan. Dia bersama masyarakat akan menggapainya.&lt;br /&gt;Di halaman rumahnya. Masyarakat sudah berkumpul ramai. Sesak memadati tanah pekarangannya. Menantikan hari keberuntungan itu dengan harap-harap cemas. Kalo ditaksir jumlah masyarakat ratusan juta milyar, abis tidak bisa menghitungnya. Main terkaan saja. Dalam batok masyarakat sudah menyiapkan satu permintaan yang akan mereka sampaikan.&lt;br /&gt;“Saya tahu keberatanmu, Bango. Kamu kan pukul satu akan bersama-sama masyarakat menyambut datangnya hari keberuntungan.”&lt;br /&gt;“Betul ustad.”&lt;br /&gt;“Tapi Bango, tidak baik juga kan kamu menolak permintaan orang yang betul-betul membutuhkan pertolonganmu. Kalau kamu mau, ramalan untuk orang ini, tidak terlalu lama. Insya allah, paling lama hanya menghabiskan waktu sepuluh menit. Ramalan itu akan selesai dengan izin Allah. Jadi anda masih punya waktu sepuluh menit untuk mempersiapkan perlengkapanmu menemani masyarakat yang sudah menantikan kehadiran hari keberuntungan yang kamu ramalkan itu,” lanjut ucap ustad Ghafur. &lt;br /&gt;“Baiklah ustad. Kalau begitu maunya. Saya akan coba. Karena saya percaya kali sama pembicaraan ustad. Tidak mungkinlah ustad akan berbohong. Siapa sih orang yang ingin minta diramalkan itu, ustad?”kata Bango sudah siap-siap untuk meramal. Sebentar ustad Ghafur tersenyum.&lt;br /&gt;“Bango, masih ada yang belum saya sampaikan. Bahwa dia minta diramalkan anda sekeluarga.”&lt;br /&gt;“Begitu komplekskah masalahnya?”&lt;br /&gt;“Bisa jadi begitu, Bango!”&lt;br /&gt;“Tapi, ustad. Selama ini belum pernah kami melakukan ramalan bersama. Melakukan kolaborasi serentak begini. Sekeluarga lagi. Paling-paling kami meramal sesuai keahlian kami masing-masing.”&lt;br /&gt;“Coba saja Bango. Ini kan penemuan baru.”&lt;br /&gt;“Betul juga, ustad,” kata Bango menurut. Dia memanggil anak dan istrinya. Berkumpul jadi satu. Siap menunjukkan kebolehan mereka meramal di depan ustad Ghafur.&lt;br /&gt;“Kami sudah siap, ustad. Siapakah orang yang minta diramalkan itu, ustad?”tanya Bango mewakili istri dan anaknya.&lt;br /&gt;“Kalian sendiri!”&lt;br /&gt;“Apa ustad? Ustad jangan bergurau. Mana mungkin kami meramalkan diri sendiri. Itu belum pernah terjadi.”&lt;br /&gt;“Itulah kalian. Tahunya hanya dapat meramalkan orang lain. Masak meramalkan diri sendiri saja belum pernah dilakukan. Kalian keterlaluan. Hanya mau untungnya saja.”&lt;br /&gt;“Cukup ustad.”&lt;br /&gt;“Cukup apanya?”&lt;br /&gt;“Ustad sudah melampaui batas. Sudah merendahkan martabat kami.”&lt;br /&gt;“Tidak Bango. Saya tidak pernah merendahkan martabat kalian. Saya utarakan hal ini, karena itu adalah kewajaran dan realita. Kalau memang kalian peramal jitu, mengapa kalian tidak bisa meramalkan diri sendiri? Sedangkan meramalkan orang lain saja kalian bisa melakukannya. Itu keterlaluan. Seharusnya sebelum meramal orang lain, kita harus bisa meramal diri kita sendiri dulu. Barulah dinamakan wajar,”jelas ustad Ghafur.&lt;br /&gt;“Baiklah ustad. Akan kami lakukan bahwa kami juga bisa meramal diri kami sendiri. Akan kami ramalkan keberuntungan kami,”ketus Bango mendengus. Dia pun membuka lembaran kartu bridge. Mulailah dia meramalkan dirinya sendiri. Diambilnya selembar daun. Daun sepuluh hitam yang didapatnya. &lt;br /&gt;Hah, tidak mungkin, gumamnya dalam hati. &lt;br /&gt;Diulanginya lagi ramalannya sampai tujuh kali beturut-turut. Namun tetap saja daun bridge yang keluar adalah sepuluh hitam. Lemaslah sekujur tubuh Bango. Dia tidak bisa berkata-kata.&lt;br /&gt;“Ada apa Pak?”tanya istrinya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut suaminya. Hanya mata suaminya makin kuyu dan redup. Istrinya penasaran. Dia pun mengambil guratan tangan suaminya bagian kanan. Dia pun mulai juga meramalkan apa yang telah terjadi pada suaminya dengan keahlian rajah tangannya. &lt;br /&gt;Hah, hasilnya X. Tidak mungkin. Diulanginya juga sampai tujuh kali, hasilnya tetap X. Istrinya pun mulai mengguguk. Pak, tidak mungkin jadi begini, rangkul istrinya pada suaminya.&lt;br /&gt;Anaknya juga penasaran. Dia mengeluarkan keahliannya. Mengapa orang tuanya menangis setelah melakukan ramalan? Dia mulai menghitung. Dapatlah dia hitungan jumlahnya. Menunjukkan angka sepuluh terbalik yaitu angka satu. &lt;br /&gt;“Hah, ayah dan ibu. Tamatlah riwayat kita,”gerung Badung jatuh di pangkuan ayah dan ibunya, yang sudah duluan lesu darah. Mereka tidak bisa mengatakan hasil ramalan tentang mereka pada ustad Ghafur karena hasilnya terlalu jelek.&lt;br /&gt;Daun sepuluh hitam bermakna angka  keberuntungan mereka sudah tertutup atau habis. Tanda X bermakna perjalanan hidup yang mereka jalani sudah selesai. Kematian mereka sudah dekat di depan mata. Sedang hitungan dari nilai-nilai yang ada memberikan makna bahwa mereka tinggal menunggu hari keapesan itu pada pukul satu tepat.&lt;br /&gt;“Bango, ini uang ramalan atas jerih payah yang telah anda lakukan sekeluarga. Terima kasih ya atas ramalannya!”kata ustad Ghafur meletakkan tujuh ikat uang yang bernilai satu juta rupiah. Beliau pun pamit diri. &lt;br /&gt;Bango dan keluarganya masih terguguk dan menangis. Seketika mereka memburu ustad Ghafur yang barusan keluar rumahnya. Tidak diperdulikannya kerumunan masyarakat ramai yang menantikan dirinya untuk memimpin ritual memperoleh hari keberuntungan. &lt;br /&gt;Masyarakat pun jadi terkejut dan bingung, terpancarkan deras ke sungai Pawan menyaksikan Bango dan keluarganya telah rapuh dan renta hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Berkuak, Akhir Oktober 2004 &lt;br /&gt;~~~~~&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;~~~~~&lt;br /&gt;(Dipublikasikan di Equator, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepotong Cerita Tiga Sastrawan&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah terbayangkan oleh komputer pikiran saya. Tak pernah terpikirkan oleh logika saya. Tak pernah terencana oleh hati saya. &lt;br /&gt;Hari kamis ini, saya disirami kembang-kembang wangi pada sekujur tubuh saya oleh Sang Pencipta. Seperti siraman hujan terhadap bumi yang mengalami musim kemarau panjang atau tuarang jauh. Itu yang saya namakan hidayah illahi. &lt;br /&gt;Hari kamis ini saya dan teman saya bertemu dengan tiga sastrawan besar kota Pontianak, yang namanya telah mengharumkan nama kota Pontianak di mata kota-kota lainnya, Jakarta, bahkan Internasional. Semua orang terlalu ingin untuk mengenal beliau, namun orang-orang belum dapat bertemu dengan beliau. Mereka hanya tahu nama saja, sedangkan bentuk dan wajah beliau, orang-orang tersebut tak tahu sama sekali. Sungguh ironis bukan?  Sastrawan besar kota sendiri tak tahu, malahan orang-orang tersebut lebih mengenal sastrawan besar yang bukan dari lingkungannya sendiri. Memang tak  ada yang melarang kita mengetahui sastrawan besar dari kota lain, tetapi kita juga harus mengetahui sastrawan besar yang ada di kota sendiri supaya tak dikatakan “tahu lubuk dari pada tanjung”.&lt;br /&gt;Dalam satu hari ini, saya dan teman saya bertemu ketiga sastrawan besar Kota Pontianak. Yang rumah mereka berjauhan antara satu dengan yang lain. Tetapi selalu dekat di hati. &lt;br /&gt;Kami bertemu dengan Odhy’s. Ia adalah seorang sastrawan kawakan yang hasil karyanya sudah tersebar di media massa lokal maupun nasional. Odhy’s juga dikenal sebagai seorang kritikus, dan esais. Beliau sering memakai peci seperti kuali terbalik. Menyungkupi rambutnya yang ikal gimbal semerbak. Beliau juga senang memelihara jenggot. Sungguh artistik jika dilihat dari kaca mata seni.&lt;br /&gt;Beliau menyambut kami dengan ramah-tamah, kami di persilakan duduk di beranda rumah. Rumah sederhana dengan ornamen sederhana. Pot-pot bunga berjejer indah di beranda rumah. Teratur. Di pekarangan halaman. Dihiasi beraneka pohon-pohon turap yang berdaun lebar-lebar, bunga mekar, dan pohon melinjo. Kiri kanan rumah tanaman singkong dan tebu  tumbuh subur. Sungguh asri berkaca sealakadarnya. Dengan kesederhanaan dan keramahtamahan tuan rumah melambungkan pikiran ke alam nirwana. Sehingga saya dapat menyatakan sebuah kata yang cukup menarik, untuk dijadikan pedoman dalam hidup ini : &lt;br /&gt;“Kesederhanaan merupakan obat untuk memberantas kesombongan dan ketamakan akan harta duniawi yang merupakan harta titipan Allah semata”. &lt;br /&gt;Tuan rumah menyuguhkan segelas teh panas. Kami hirup dengan rasa segar. Cukup untuk menghilangkan kehausan yang melanda tenggorokan. Odhy’s banyak bercerita tentang seluk beluk dunia sastra. Membuat kami terlena dibuatnya. Saking berkesannya ia bercerita tak terasa waktu terus saja berputar pada porosnya. Kelelahan tak menginggapi kami saat mendengarkan petuahnya. Karena ingin menjumpai sastrawan berikutnya, maka kami pamit diri. Beliau melepaskan kami dengan perasaan hangat. Dari perbincangan dengannya ada beberapa ucapannya yang bisa diambil hikmahnya yaitu : &lt;br /&gt;“Kalau ingin jadi seorang penulis atau penyair terkenal, harus banyak membaca, banyak berkarya, dan banyak bertukar pikiran mengenai hasil karya yang ditulis dengan sastrawan yang sudah kawakan. Perkembangan dunia sastra terletak di tangan penyair atau penulis itu sendiri. Penyair atau penulis memiliki hak paten untuk mengembangkan peradaban manusia yang gilang gemilang.”&lt;br /&gt;Sebelum adzan magrib bergema, kami telah berada di rumah sastrawan besar lainnya. Bapak Yudiswara, seorang cerpenis, penyair, juga esais. Tuan rumah menyambut kami dengan ramah. Rumah beliau berada dekat masjid Nurul Jannah… Perbincangan hangat pun terjadi antara kami dengan beliau, tentu saja membicarakan dunia sastra yang ada di kota Pontianak, berikut dengan penyairnya. Saya dan teman saya memperkenalkan diri sebagai penyair muda kota Pontianak. Kebetulan sekali teman saya seorang penyair wanita bernama Shella. Dan kebetulan pula, bung Yudhis ingin mencari penyair wanita Pontianak yang dapat eksis sampai tua. Selama ini penyair wanita Pontianak selalu berhenti berkarya jika mereka memasuki jenjang berumah tangga. Sering kali bung Yudhis ditanyai oleh sastrawan kota lain, apakah kota Pontianak memiliki penyair wanita….? Bung Yudhis selalu menjawab, ada. Percakapan itu lebih menekankan pada pemberian motivasi pada Shella untuk terus berkarya nan berkarya, hingga eksis sampai tua, seperti N.H. Dini. Saya cuma mengiyakan saja.&lt;br /&gt;Waktu tak dapat diajak kompromi. Akhirnya kami pun undur diri. Beliau melepaskan kami dengan kehangatannya. Dari tatap muka dengan beliau adan beberapa coretan yang sungguh bagus untuk dilaksanakan dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;“Terus saja berkarya sampai tua. Jadikanlah dunia yang kamu geluti seperti makanan lezat sampai akhir hayatmu. Selain itu dengan adanya isu angkatan tua dan angkatan muda, itu sangat tak bagus. Pengklasifikasian itu dikarenakan adanya ketakutan pada sastrawan tua, yang merasa tersaingi oleh munculnya sastrawan-sastrawan muda yang banyak memiliki ide-ide cemerlang. Pengklasifikasian itu pula membuat sastrawan muda jadi minder karena mereka merasa tak yakin dengan apa yang mereka ciptakan. Seharusnya pengklasifikasian itu tak ada. Semua orang adalah egaliter. Kalo dihubungkan dengan dunia sastra bahwa antara angkatan tua dan angkatan muda adalah sama. Yang membedakannya bukanlah status atau pengklasifikasian itu melainkan hasil karya yang gemilang… dan jenius… Diharapkan sastrawan tua tak boleh mematikan kreativitas sastrawan muda…. Sebaliknya sastrawan tua harus mendukung penuh dan berusaha mengorbitkan sastrawan muda agar terkenal seperti mereka juga…”&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya menawarkan pada Shella untuk bersilaturahmi ke rumah Yusack Ananda dengan nama aslinya Urai Zubir Muchtar. Shella setuju dengan usulan saya. Maka saya melecutkan kendaraan ke rumah Yusack Ananda. Kami tiba ke rumah Yusack Ananda ketika malam mulai beranjak larut…. Saya memarkirkan kendaraan di depan rumahnya. Saya ketuk pintu rumah seraya mengucapkan, &lt;br /&gt;“Assalamualaikum….”&lt;br /&gt;“Waalaikumsalam….” Balas orang di dalam.&lt;br /&gt;Pintu rumah Yusack Ananda segera terbuka. Seraut wajah mungil muncul dari balik pintu.&lt;br /&gt;“Mencari siapa ya?”&lt;br /&gt;“Kami mencari Urai Zubir.”&lt;br /&gt;“Silakan masuk!”&lt;br /&gt;“Terima kasih.”&lt;br /&gt;Lalu saya dan Shella masuk dan duduk di ruang tamu. Wajah mungil beranjak ke belakang, memanggil Urai Zubir.&lt;br /&gt;Sosok wajah tua yang telah dimakan hari tampak keluar menyongsong kami yang duduk di ruang tamu.&lt;br /&gt;Ketika berada di antara kami, ia bertanya.&lt;br /&gt;“Ada apa adek-adek…?”&lt;br /&gt;“Silaturahmi, Pak!” saya menjawab.&lt;br /&gt;Lalu kami berjabatan tangan….&lt;br /&gt;“Adek-adek ini darimana?”&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mengawal percakapan hangat kami. Lalu kami menjelaskan siapa kami…. Yaitu mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia…. Kami juga merupakan penyair muda Kalimantan Barat. Mendengarkan penjelasan kami…. Bapak Yusack Ananda merasa takjub sekaligus juga bangga….&lt;br /&gt;Seiring melajunya malam, percakapan kami pun melaju…. Tanpa sungkan-sungkan Bapak Yusack Ananda menceritakan pengalaman hidupnya di dalam dunia sastra.&lt;br /&gt;Seorang sastrawan besar… Tragis…. Angkatan 66 yang telah ditelantarkan oleh pemerintah. Tak ada penghargaan dari pemerintah terhadap dirinya.&lt;br /&gt;Cerpenis besar…. Karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman dan juga bahasa Jepang…&lt;br /&gt;Di hari tua begini cukup memprihatinkan….&lt;br /&gt;Percakapan yang melaju seiring waktu yang berlalu telah menghantarkan kami pada beberapa kesimpulan yang terus membekas….&lt;br /&gt;“Berkaryalah terus sampai tua…. Jangan pantang menyerah! Ingatlah tentang masa tuamu selagi kamu masih muda…. Agar kamu dapat mempersiapkan bekal untuk masa tuamu….”&lt;br /&gt;Suatu kesimpulan yang begitu tragis jika berkaca pada kehidupan sastrawan terbesar yang dimiliki oleh Kalimantan Barat…. Juga Indonesia….&lt;br /&gt;Malam yang melaju seirama vega yang saya kendarai juga melaju….. Mengantarkan Shella ke istananya…. Kenangan indah tak pernah saya lupakan seumur hidup saya…. Dapat bertemu tiga sastrawan besar Kalimantan Barat…&lt;br /&gt;Dalam benak saya malam ini seiring angin malam yang melaju dibelah vega berjalan tertatih-tatih….. Saya berkhayal : Semoga saya dapat jadi besar seperti mereka. ©dins&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, Mei 2002&lt;br /&gt;~~~&amp;&amp;&amp;~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks : Odhys, Yudhis, Yusack&lt;br /&gt; (akoe deki yang telah memberikan masukan!!!)             &lt;br /&gt;(Dipublikasikan di WWW. Cybersastra. Net.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingkisan Kenangan&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rohim punya keinginan, punya kemauan ingin jadi cikgu. Ia pun berusaha untuk mewujudkan keinginannya. Walaupun jalan sampai kesana bukanlah semulus dari perkiraan dan khayalan. Ia tetap berjuang dengan gigih agar niatnya kesampaian. Ujungnya bisa juga ia menginjakkan kakinya kuliah untuk menghantarnya menjadi cikgu. Namun seringkali ia dengar selentingan angin berpuisi lirih bahwa yang masuk fakultas pencetak cikgu adalah orang buangan. Dilontarkan oleh orang-orang dari harum semerbak bunga yang tumbuh di fakultas lain. &lt;br /&gt;“Jadi cikgu tak akan kaya!” Salah satu tembang syahdu yang melemahkannya. &lt;br /&gt;Rohim tersenyum saja. Dalam kalbunya dibulatkannya tekad akan ditunjukkannya bahwa fakultas pencetak cikgu bukanlah orang buangan. Alhamdulillah dengan tekadnya yang bulat dan gigih serta kemauannya yang mantap, Rohim dapat menyelesaikan studinya dengan predikat terbaik.&lt;br /&gt;”Tak bodoh ama sih. Pintar kan?”&lt;br /&gt;Dengan ilmunya yang ada, ia pun mengaplikasikannya pada lingkungan masyarakat yang membutuhkannya demi memajukan dunia pendidikan. Kegunaan ilmunya semata-mata hanya untuk orang banyak dan bangsa serta negaranya, biar bersinar cemerlang sepanjang zaman yang terus berganti. Tak akan redup. Selalu terang… terang…. Seperti iklan lampu phillip.&lt;br /&gt;Sebagai cikgu, Pak Rohim disenangi anak didiknya. Dia adalah orang yang supel, ramah tamah, baik hati, humoris, dan suka bikin joke. Dalam mengajar pun dia berusaha menerapkan pola tiga es, yaitu serius, santai, dan selesai. Ada masanya dalam belajar penuh dengan keseriusan agar betul-betul belajar. Ada juga masanya di saat belajar ada santainya supaya anak didik tak terlalu tegang menerima pelajaran dan mudah menyerapnya. Dengan tujuan apa yang diberikan dapat diselesaikan. Metode mengajar seperti itu diperolehnya dari cikgu yang pernah membimbingnya dulu. Kini metode itu ditransfernya ulang pada anak didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ia mengajar, ada satu kelas yang memang menyenangkannya. Anak-anaknya punya antusias untuk belajar. Punya kemauan keras untuk berhasil dan sukses. Walaupun ada segelintir siswa yang masih lemah semangat. Tapi tetap dimotivasinya dan didorongnya supaya bisa berhasil dalam belajar. Lebih tinggi lagi berhasil dalam kehidupan. Karena kebahagiaan terbesar yang dimilikinya atau yang akan dirasakannya adalah kalau dirinya melihat anak didiknya berhasil dan menjadi orang sukses semua dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Harum yang memiliki wajah yang caem, periang, dan memiliki sikap sopan santun, memang menonjol dalam pelajaran. Hingga Pak Rohim memperhatikannya lebih dari yang lain. Bukan berarti Pak Rohim membedakannya dengan siswa/siswi lainnya. Bukan juga berarti Pak Rohim menganakemaskannya. Semuanya sama . Cuma karena ia sering tampil bisa dan aktif bertanya jawab serta memberikan komentar dan mau disuruh. Paling menonjollah. Kadangkala itu dikatakan anak-anak bahwa Pak Rohim pilih kasih, padahal tak begitu. Pak Rohim sudah sesuai menempatkan dirinya dengan porsinya. Sesuai kadar kemampuan masing-masing. Memang ia lebih Pak Rohim cermati, karena Pak Rohim lihat dia punya kemauan belajar yang tinggi dan gigih untuk mencapai cita-citanya. Hingga sebuah kata harus dinyanyikan atau disenandungkan dalam jiwa. &lt;br /&gt;Dia memang anak yang cerdas. Perlu aku bimbing betul-betul dalam belajar. Akan aku arahkan belajarnya dengan baik agar dia mencapai prestasi yang maksimal.&lt;br /&gt;Kadangkala Pak Rohim juga merasa aneh melihat perkembangan si Harum. Bukan perkembangan belajarnya yang menurun? Bukan sikap baiknya jadi merosot? Bukan keceriaannya tambah menghilang? Bukan. Bukan itu yang Pak Rohim maksudkan. Masalahnya adalah Harum sering keringatan berlebihan membanjiri mukanya. Keringatan yang bukan sewajarnya. Keringatan yang mengalirnya abnormal. Boleh dibilang keringat penyakit. Prediksi sementara yang dilakukan oleh Pak Rohim.  Di saat dingin menusuk keringatnya berhujanan menangisi putaran jam, berdentang terus tak pernah capeknya. Apalagi kalau panas atau kegerahan malahan keringatnya sudah seperti air lautan yang pasang menuju muaranya. Sadarkah dia dengan keringat berlebihan itu atau tahukah dia dengan keringat penyakit yang dideritanya? &lt;br /&gt;Aku tak bisa menduga lebih jauh, kenang Pak Rohim. Mungkin saja dia sudah tahu dengan keringat penyakitnya. Untuk itulah, dia mencoba sebisa mungkin untuk menutupinya atau tak menghiraukannya dengan keceriaan dan keperiangan yang ditampilkannya. Biar semua orang tak pernah menyangka ada hal sedih yang menginggapinya. Walaupun dia harus menahan deritanya. Dia tak ingin melibatkan orang lain merasakan deritanya. Biarlah dia sendiri saja yang menelannya. Semua itu terlihat dari arus air kesederhanaan dan kesopanannya.&lt;br /&gt;Sekali-kali ingin Pak Rohim menanyakan secara langsung ke Harum mengenai keringat penyakit itu. Memberikan saran supaya jangan dibiarkan terus menerus akan bertambah parah. Kalau sudah parah akan runyam urusannya. Hal itu tak pernah terwujudkan, terlupakan terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat ia mengajar. Ia dapati Harum tak ada di kursinya. Biasanya Harum sudah siap sebelum ia masuk. Harum sudah siap menerima pelajaran. Ceria selalu. Mengisyaratkan pelajaran itu sebuah makanan lezat untuk disantapnya. Enak .&lt;br /&gt; “Kemana ya si Harum? Apakah dia sakit? Mungkin saja….” Kuatkan Pak Rohim pada pradugaannya. Karena kalau tak sakit. Dia paling rajin masuk, tak pernah bolos. Apalagi mau membelit seperti yang dilakukan teman-temannya. Yang sekiranya sudah jenuh menerima pelajaran atau tak suka dengan pelajaran yang diterimanya. Itukan dilakukan demi menyenangkan hati muda bergejolak untuk melakukan kemauannya sendiri, sebebas dirinyalah. Malahan Harum kadangkala menasihati teman-temannya jangan melakukan hal tersebut, yang hanya merugikan diri sendiri. Malahan dia menganjurkan supaya mengisi masa muda ini dengan memperoleh ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin dengan kegiatan yang positif. Kegunaannya adalah sebagai bekal untuk persiapan di masa senja.&lt;br /&gt;Ya… Benar! Dugaan Pak Rohim mengenai Harum tak meleset. Ia benar-benar sakit. Setelah ia diberitahu oleh Pak Johan, sahabatnya sesama cikgu di situ.&lt;br /&gt;Sebenarnya sahabatku itu punya nama lengkap Johan Purwanto. Ia sahabatku yang baik. Kami pernah saling tukar pikir mengenai hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk memajukan dunia pendidikan ini, dan menemukan cara supaya anak didik bisa menyerap pelajaran dengan baik. Pokoknya, ia sahabatku yang sering aku ajak bercengkarama. Orangnya terbuka dan fleksibel. Oh ya, aku juga sering memanggilnya Mr. Jo. Abis dalam berbahasa Inggris, ia clever. Selain itu, panggilan seperti itu, suka-suka aku menyebutnya. Aku anggap sebagai pengakraban saja. Biar tambah dekat dan lengket dalam menjalin persahabatan. Biar selalu terkenang sepanjang hayat, yang masih suka mengendus bau keharuman. Dengan kewangiannya selalu menebarkan kesejukan di lingkaran permadani bumi. Ia juga tak marah aku panggil begituan. Sudah cocok kali….&lt;br /&gt;“Him, si Harum itu sakit sudah tujuh hari.”&lt;br /&gt;“Hah……,” kagetku. Sebentar aku sudah menguasai keadaan.&lt;br /&gt;“Mr. Jo, kamu tahu dia terkena penyakit apa?”&lt;br /&gt;“Tak tahu Him.”&lt;br /&gt;“Kalau tak tahu sudahlah. Gimana kalau sekarang kita besuk dia ke rumahnya! Sakit apa dia sebenarnya!” ajakku pada Johan.&lt;br /&gt;“Terlambat Him. Dia tak ada di rumahnya lagi. Dia sudah dibawa orang tuanya ke rumah sakit Kabupaten,” jelaskan Johan.&lt;br /&gt;“Oh ,” sahutku tanda mengerti.&lt;br /&gt;“Jadi gimana nih Mr. Jo cara kita jenguknya?”&lt;br /&gt;“Gini aja Him, kalau kita jenguknya sekalian aja. Bukankah kita ada pertemuan di kabupaten. Gimana kita sisihkan sedikit waktu untuk lihat keadannya.” Johan berikan sarannya. &lt;br /&gt;“Betul juga idemu, Mr. Jo. Ide yang bagus sekali,” jawabku mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harum sangat gelisah. Sekali-kali dia merintih. Dia mendekap dadanya. Dia dibawa kesini untuk check in. Apakah penyakitnya parah? Apakah dia hanya rawat jalan atau rawat inap? Bertepatan dengan itu juga dokternya sedang ada pertemuan. Mereka disuruh menunggu sebentar saja. Harum sudah tak sabaran. Dia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.&lt;br /&gt;“Yah, sudahlah! Lama sekali menunggunya. Aku tak apa-apa . Kita pulang saja,” rengek Harum memohon pada ayahnya.&lt;br /&gt;“Tenang! Tenang Nak! Sebentar lagi dokternya akan datang. Kamu sabar sedikit ya! Kamu harus dicheck in dulu untuk memastikan sakitmu parah atau tidak? Sabarlah dikit Nak!” tenangkan ayahnya. Dokter yang ditunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Kegelisahan Harum semakin menjadi-jadi. &lt;br /&gt;“Yah, sudah aku bilang bahwa aku tak sakit. Pulang yuk, Yah!” pinta Harum berkali-kali dengan polesan wajah yang memelas.&lt;br /&gt;“Kamu sakit Nak. Kalau pun kamu katakan kamu tak sakit untuk menutupinya. Ayah tahu, kamu sakit Nak. Bersabarlah sedikit. Dokternya tak lama lagi akan datang,” jawab ayahnya berusaha menenangkan kegelisahan Harum.&lt;br /&gt;“Sampai kapan kita menunggunya, Yah? Padahal aku sudah ketinggalan jauh pelajaran di sekolah, Yah!” Harum sangat sedih. Mengenang begitu jauh dia ketinggalan pelajaran di sekolah. Sudah terhitung tujuh hari sakitnya ditambah lagi satu hari check in ini genaplah delapan hari dia ketinggalan. Cukup banyak juga.&lt;br /&gt;Harum, luar biasa kamu! Dalam keadaan sakit begini kamu masih ingat pelajaran di sekolah. Memang betul kamu adalah orang yang ingin benar-benar dan serius untuk belajar dan menimba ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Jarang sekali dimiliki orang kebanyakan&lt;br /&gt;“Sebentar lagi, Nak. Ayah pikir, kalau kamu memang sakit para guru bisa memakluminya. Kepala Sekolah bisa mengerti. Terpenting, kamu harus sehat dulu. Kalau kamu sudah sehat, ketinggalan pelajaranmu di sekolah bisa kamu kejar,” jelas ayahnya dengan bijaksana dan lemah lembut hingga bisa dipahami Harum, anaknya itu. Sebelum Harum ingin angkat bicara lagi menimpali kata-kata ayahnya. Dokter yang ditunggu akhirnya datang juga.&lt;br /&gt;“Maaf ya Pak, agak lama menunggunya. Abis pertemuannya lama sekali,” ujar dokter itu.&lt;br /&gt;“Tak apa-apa, Dok!” jawab ayahnya Harum.&lt;br /&gt;“Kalau begitu, kita langsung saja ke ruang untuk check in anak Bapak,” kata dokter itu kemudian memasuki ruangan praktiknya.&lt;br /&gt;“Baik, Dok!” jawab ayahnya Harum menyusul bersama anaknya, dan keluarganya yang menghantarnya menuju ruang dokter.&lt;br /&gt;Check in dan diagnosa dilakukan dokter terhadap penyakitnya Harum. Dia terkena penyakit Diabetes Melithus. Tergolong parah. Karena sudah terjadinya pemecahan dan pembengkakan yang mengandung nanah. Pembengkakan dan penanahan sudah menjalar ganas ke bagian payudaranya. Untuk mengangkat nanah tersebut harus dilakukan operasi. Berarti adanya pembelahan di bagian payudaranya. Secara otomatis kamu dinyatakan dirawat inap. Membuat kamu jadi mendung terpancar. Bukan mendung karena penyakit dideritamu, tapi semakin dan terlalu lama kamu akan meninggalkan bangku belajarmu. &lt;br /&gt;Harum, dalam sakit seperti ini masih juga kamu teringat dengan pelajaranmu. Ah, tak terbayangkan sungguh cintanya kamu dengan belajar. SALLLLUUUUTTTTTTT…………!&lt;br /&gt;Operasi penyedotan nanah di payudaramu berjalan dengan lancar dan sukses. Berarti kamu sudah melakukan pengorbanan yang terbesar. Harus merelakan kehilangan payudara menonjol yang selalu diidamkan setiap wanita. Payudaramu akan rata dan datar. Itu bukanlah suatu masalah bagimu. Malahan kamu tegar menerimanya. Sungguh sabar, tenang, dan tabahnya kamu menjalani kehidupan ini, Walaupun begitu pahitnya bagi kebanyakan orang.&lt;br /&gt;Timbulnya keterenyuhan orang tuamu saat melihat penderitaanmu. Di saat adanya pergantian perban baru pada bekas operasi. Kamu menjerit kesakitan dan meraung. Namun bibir mungilmu tetap tersenyum. Mengontraskan antara kerutan kesakitan dan senyuman ketabahan. Kamu tetaplah harum mewangi. Kini perawatanmu sudah mencapai tahap pemulihan. Masa kritis dan sakit menyiksa sudah kamu lewati. Masa kesakitan sudah kamu atasi dengan baik. Alhamdulillah. Kamu sudah mulai bergerak bebas. Walaupun baru hanya seputar ranjang empuk. Ciri khasmu yang periang dan ceria tertampilkan lagi lebih segarnya. Orang tuamu sudah mulai merasa tenang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derap langkah kaki halus memasuki arah menuju ruanganmu. Langkah kaki Pak Rohim dan Pak Johan, datang untuk membesukmu. Pak Johan bertanya pada perawat tunggu depan.&lt;br /&gt;“Bu, betulkah ini ruang VIP?”&lt;br /&gt;“Betul Pak. Bapak mencari siapa? Bapak ingin membesuk siapa?” tanya si perawat.&lt;br /&gt;“Harum…… Bu!”&lt;br /&gt;“Harum siapa nama lengkapnya, Pak?”&lt;br /&gt;“Harum apa ya Rohim?” tanya Johan pada Rohim. Ia sedikit kelupaan juga dengan nama lengkap anak didiknya itu.&lt;br /&gt;“Harum Puspasari, Mr. Jo…” jawab Pak Rohim.&lt;br /&gt;“Harum Puspasari, Bu !” ujar Pak Johan.&lt;br /&gt;“Sebentar ya, Pak.” Si perawat mulai mengecek semua nama yang menghuni di ruang VIP satu per satu. Dengan abjad H. Sebentar dia sudah menemukannya.&lt;br /&gt;“Di ruang nomor lima, Pak. Dari sini langkah saja terus ke depan, nanti di pintu ada nomornya,” kata si perawat memberitahukan.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Bu. Permisi dulu…”&lt;br /&gt;“Mari! Silakan!” sahut perawat. &lt;br /&gt;Pak Rohim dan Pak Johan menuju ruang nomor lima. Mereka pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Salam mereka dijawab oleh orang di dalam dan pintu pun terbuka lebar. Rupanya ayahmu yang membukakan pintu. Melihat siapa yang datang, wajahmu riang seketika.&lt;br /&gt;“Eih, Bapak….” Serumu bangkit berdiri. Menyalami tangan gurumu yang datang. Tanda kehormatanmu padanya. Kamu juga mempersilakan mereka duduk. &lt;br /&gt;“Gimana kesehatanmu sekarang, Rum?” tanya beliau.&lt;br /&gt;“Alhamdulilah Pak, sudah agak baikan,” jawabmu.&lt;br /&gt;“Sudah agak lumayan juga, Pak. Masa kritisnya sudah berlalu,” tambahkan oleh ayahmu.&lt;br /&gt;“Oh begitu, syukurlah !” kata Pak Rohim. &lt;br /&gt;Kami pun saling berkenalan dengan orang tuamu dan sanak keluarga yang menjagamu saat ini. Kami juga terlibat percakapan hangat dengan orang tuamu mengenaimu dan penyakitmu. Orang tuamu sungguh ramah dan pengobrol. Orang yang cepat mengakrabkan suasana. Ujungnya kami pun tahu tentang penyakit sebenarnya yang kamu derita. Beban berat yang kamu pikul dari cobaan ini, cobaan kehidupan. Kamunya terlihat tenang, sabar, dan tabah saja untuk menjalaninya. Dengan tak melupakan ciri khasmu yang selalu periang dan selalu ceria nan menyegar. Selalu menampilkan senyumanmu yang mekar mewangi demi meraih masa depan yang cerah. Kadangkala kami juga ngobrol masalah lain dengan ayahmu yang memang enak diajak ngobrol dan ramah hingga tak terasa, kami harus undur diri, pamit pulang dengan menyisakan doa ”Moga saja kamu cepat sembuh. Bisa belajar lagi seperti semula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rum, kamu ada main ya dengan Pak Rohim?”&lt;br /&gt;“Gak. Gak ada kok . Main apaan yang kalian maksud?’ balik bertanya Harum dengan kebingungan.&lt;br /&gt;“Kedekatan dan keintiman dalam menjalin hubungan yang lebih dalam . Ngertikan kamu!” celoteh Melati.&lt;br /&gt;“Ngerti . Tapi swear. Aku tak ada apa-apa dengan Pak Rohim. Sebenarnya ada apa sih?” sahut Harum masih bingung dengan gurauan teman-temannya.&lt;br /&gt;“Aneh ya… kalau kamu tak ada hubungan apa-apa dengan Pak Rohim. Masak Pak Rohim mau kasik kamu hadiah sebelum dia pergi,” angguk-angguk Jantin.&lt;br /&gt;“Hadiah? Pak Rohim sudah pergi?”&lt;br /&gt;“Ya… Rum. Kamu sih ketinggalan berita. Sudahlah daripada kamu bingung terus. Ini ambillah hadiah dari Pak Rohim,” sodor Jantin memberikan hadiah tersebut. Dengan gemetar kamu menerimanya.&lt;br /&gt;“Jantin, Pak Rohim pergi kemana sih?”&lt;br /&gt;“Ke tempat tugasnya yang baru.”&lt;br /&gt;“Dimana?”&lt;br /&gt;“Di hulu kemere….” Lari Jantin sambil ngakak.&lt;br /&gt;“Sialan kamu, Tin,” omelmu. Karena Jantin tak memberikan jawaban yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada maksud apa ya Pak Rohim Kasik aku hadiah? Aneh sekali. Pak Rohim juga tak bilang bahwa dia akan pergi. Serba aneh saja Pak Rohim ini. &lt;br /&gt;Aku lihat dulu apa isinya. Kamu duduk di pojok ruangan yang tak kelihatan teman-temanmu. Takut diusili teman-temanmu lagi kalau ketahuan. Kamu mulai membuka hadiah itu dengan cepat-cepat. Karena keingintahuanmu sudah memuncak di ubun-ubun kepala. Isinya hanyalah sebuah karya ukiran seni kayu yang dipernis. Sungguh unik dan artistik yang bertuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GOOD LUCK IN YOUR STUDY ! GOOD SUCCES IN YOUR LIFE ! &lt;br /&gt;HARUM….. HARUM MEWANGI&lt;br /&gt;BLOSSOM UP YOUR FLOWER FOREVER THAT WAS GIVE SWEET DAN NICE DAY TO EARTH&lt;br /&gt;IN THE LIGHT MOON TO LAST TIME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Berkuak, 20 Maret 2004&lt;br /&gt;~~~~~&amp;&amp;&amp;&amp;&amp;~~~~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN :&lt;br /&gt;Cerpen ini dibuat untuk kenang-kenangan pada Jhoni Karyanto, Pak Ucup Supriatna, Pak Mansyur, Kartika Purwa Rahayu     (atas inspirasinya), Kru dan Cikgu SMAN 1 Sukadana, dan Kru dan Cikgu SMAN 1 Teluk Melano serta siswa/siswinya . Semuanya deh……. !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Target Merah&lt;br /&gt;Oleh : M.Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Teliksandi adalah pasukan khusus yang bertugas untuk mencari informasi mengenai hal penting. Juga bisa tentang hilangnya sebuah tongkat pada diri anak manusia di hamparan luasnya jenggot Pantai Pulau Datuk. &lt;br /&gt;Pantai Pulau Datuk terletak di kecamatan Sukadana. Tepatnya berbatasan dengan daerah Tanah Merah dan Pangkalan Buton. Pantai Pulau Datuk merupakan salah satu daerah objek wisata terkenal di daerah Kabupaten Ketapang. Oleh karena itu, hutan yang ada di kawasan daerah Pulau Datuk masih tanggungan Pemerintah Kabupaten Ketapang. Daerah hutan di sekitar Pulau Datuk menjadi hutan lindung, yang dijaga keberadaannya dan keasliannya. Biar tetap orisinil. Pulau Datuk sebagai objek wisata ramai dikunjungi orang-orang pada waktu pas lebaran puasa atau idul fitri dan lebaran haji atau idul adha. Bahkan yang membuatnya semakin semarak, dengan adanya hiburan rakyat selama tiga hari pertama… Wah, sungguh meriah ! Pantai Pulau Datuk tersenyum setiap saat. &lt;br /&gt;Oh ya, kehilangan tongkat yang jadi pedoman dalam kehidupan ini membuat kebutaan yang melanda bercokol erat disana. Mendekam dalam-dalam. Seakan betah berdiam disana. Kegelapan juga bersemayam dalam langit jiwa. Sebab orang-orang sudah terlena dibuai keindahan-keindahan semu. Selama ini mereka kejar. Mendewakan harta benda, menyamarkan materialistis dengan topeng kedermawanan dan kepemurahan. Meninggikan modernis yang salah, tanpa sadarnya telah terjadi dekadensi akidah dan keimanan. Katanya sih, jangan kolotlah. Inilah seni. Seni apaan? Seni keindahan. Wah, …. Sudahlah! Tidak kurang dari itu ambisi dan rasa ketidakpuasan membuat orang jadi lupa diri dan semakin jauh keluar dari rel keagamaannya. Karena yang mereka kejar bukan kebaikan diri tapi kehancuran akidah dan itu tanpa mereka sadari atau sebaliknya mereka menyadarinya. Tapi diabaikannya saja. Itulah kebutaan yang melanda. Boleh dibilang buta dilindungi oleh tirai kelam dan terang mendekam di balik itu. Mata mereka melihat tapi jiwa mereka adalah blindness. Oleh karena itu, diperlukan penerangan seperti sebuah pelita menerangi ruangan penuh kesunyian dan kesenyapan agar terang benderang.&lt;br /&gt;Pasukan Teliksandi tidak pernah mengenal kata menyerah. Walau medan yang diarungi serba sulit bahkan berlika-liku dan penuh dengan intaian maut. Setiap saat akan menggerogoti jiwa kalau tidak berhati-hati melangkah dan melaksanakan tugas tersebut. Kekuatan jiwa dan ketabahan hati sangat diperlukan. Semua itu adalah ujung tombak dalam bergerak dan mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang diperintahkan. Tugas tetap tugas. Harus diselesaikan dengan baik.&lt;br /&gt;Lagu maju tak gentar mengiringi derap  pasukan Teliksandi yang berjalan menyusuri keluasan jenggotnya Pantai Pulau Datuk dan keputihan pasir melambai-lambai setiap saat. Terjangan ombak juga diperhitungkan. Karena kalau terpeleset saja, akan menujukan nyawa ke daerah sukabumi, tidur untuk selama-lamanya. Namun mereka adalah pasukan yang sudah terlatih. Intuisi dan prediksi mereka sangat tajam. Jarang kali meleset atau malahan melenceng. Itu jarang terjadi.&lt;br /&gt;Dengan penuh semangat yang menggebu-gebu dan jiwa gelora badai berpadu, mereka terus meniti rel itu. Mengarungi air pasang, menataki langit mendung, meloncati batu yang satu dan yang lain dengan terjalan menukik. Mereka terus tegar bergerak dan melangkah menuju arah yang telah ditentukan. Tak perduli hujan panas membelai tubuh dan tak perduli topan badai menghadang jalan. Terpenting informasi yang mereka cari harus didapatkan. Karena informasi tersebut berkenaan dengan kemaslahan umat. Mereka memang pasukan yang paling setia. Tidak pernah mengingkari janji. Tidak pernah melalaikan tugas. Walau tugas yang diberikan dengan pengorbanan nyawa sekalipun, mereka tetap melaksanakannya.&lt;br /&gt;Hujan menangis berkuah-kuah membanjiri bumi. Menyirami tubuh pasukan Teliksandi yang terus bergerak. Makin memasuki hutan di tepian Pantai Pulau Datuk, yang katanya penuh dengan keangkeran. Hal tersebut tidak menyurutkan langkah mereka. Long march tetap menampilkan pelangi yang indah. Tujuan tetap harus diperoleh. Itulah tekad yang terpatri dalam sanubari pasukan itu. &lt;br /&gt;Gelombang begitu marahnya. Entah apa penyebabnya? Terlihat gulungannya yang begitu padat dan kental, terus berkesinambungan menghantam siapa saja yang ada di hadapannya. Angin melontarkan timah-timah panasnya berujud siurannya bergendang riuh. Seakan alam tak bersahabat dengan mereka. Atau inikah suatu pertanda? Pertanda jelek atau baikkah? Moga saja ini pertanda baik.&lt;br /&gt;Nampaknya perjalanan pasukan Teliksandi begitu lambannya. Habis angin, lautan, dan hujan menyerang mereka, seperti tembakan salvo dikeluarkan musuh. Terus beruntun mendera dan tak pernah berhenti menghajar. Dengan begitulah mereka berjalan lamban. Penuh kehati-hatian dan terus mencoba melawan kemarahan alam yang tidak bersahabat.&lt;br /&gt;Itu kalau dikiaskan dengan kehidupan ini. Bahwa kehidupan ini penuh terpaan yang menghalangi setiap langkah. Kita jangan gentar menghadapinya. Bisa juga terjalan hidup ini berupa cobaan hidup yang harus kita jalani penuh dengan hujan, gelombang, dan angin. Hujan bisa diartikan kesedihan yang menumpahkan air mata. Gelombang bisa diartikan arah langkah kita yang semakin tinggi akan semakin tinggi cobaan hidup yang dirasakan. Semuanya itu merupakan hal untuk dapat melatih ketahanan dan ketegaran jiwa kita. Angin bisa diartikan dengan cobaan yang datang tidak pernah kita ketahui besar dan kecilnya. Terpenting kita harus bisa berbuat sabar dan tegar menjalani kehidupan. Walau didera cobaan hidup yang datang silih berganti. Kita kembalikan segala persoalan kepada Allah SWT dan terus bersyukur atas anugerah-Nya. Bahwa Allah tidak akan menguji umatnya kalau dibatas kemampuan umatnya. Hikmahnya pasti ada dibalik kejadian ini. Tetap teguhkanlah iman dan bersyukurlah!!! Mungkin manis akan diperoleh.&lt;br /&gt;Di saat kelelapan mencengkeram. Barulah kemurkaan alam reda dan sirna tidak berbekas. Hari mulai tersenyum lagi. Mentari tertawa riang dengan penuh kebahagiaan. Seakan kecewa tidak pernah menyentuh mereka. Jenggotnya Pantai Pulau Datuk sudah jauh mereka tinggalkan. Sebab mereka sudah berada di tepian batuan yang menuju ke hutan. Disanalah dikabarkan bahwa informasi tongkat berbentuk intan mutiara putih akan mereka dapatkan untuk dibawa pulang. Diberikan pada atasan mereka untuk dijaga baik-baik. Agar suatu saat bila bencana akan menimpa kehancuran manusia menjelma. &lt;br /&gt;Disebabkan oleh suatu gerakan masa maha dahsyat berupa perubahan sikap dan tingkah laku manusia, akan saling berbunuhan dan saling menghancurkan. Masa itu hukum rimba berlaku lagi. Siapa yang kuat itulah menang! Manusia di masa itu sudah tidak memiliki hati nurani. Sudah buta sebuta-butanya. Yang terekam di komputer otak dan kalbu hanyalah kemewahan dan kejayaan. Siapa yang mewah dan jaya, dialah Sang Penguasa. Orang lain tunduk di bawah kakinya. Untuk itulah orang-orang akan berlomba-lomba menduduki kursi Sang Penguasa. Saling sikut menyikut akan terfilmkan. Saling bunuh dan menghilangkan nyawa akan terpampang nyata. Itulah tujuan pokok yang akan diraih. Terpenting kursi Sang Penguasa tetap mereka duduki. Masa itu lebih dikenal masa gila-gilaan. Jadi, menurut prakiraan dan tafsiran paranormal, ulama, kiai, orang warak, dan aulia bahwa masa itu akan bisa diatasi kalau disaat ini tongkat berbentuk intan mutiara putih yang mengandung keajaiban bisa ditemukan. Maka dengan bantuan tongkat itu kehancuran manusia akan dapat diselamatkan. Ketenangan dan kedamaian tetap terjaga dan tersimpan rapi dalam lemari kehidupan ini. Wah, sebuah penyelamatan yang bagus benar. Tepat sekali dan terbilang jenius.&lt;br /&gt;Sesudah rehat sebentar. Kepulihan sudah bersemi kembali. Kesegaran sudah terpancarkan lagi penuh pesona. Pasukan Teliksandi melanjutkan perjalanannya. Jalan setapak di depan mata mereka terobos dengan kebanggaan. Baru dua puluh meter menyusuri jalan setapak, terdengar jeritan lantang. &lt;br /&gt;Akkkkhhhhhhhhh… &lt;br /&gt;Pasukan Teliksandi bagian paling belakang tersungkur mencium tanah. Semua mata berbalik ke arah belakang. Ingin mengetahui apa yang telah terjadi pada kawan mereka. &lt;br /&gt;“Ahmad….,” desis mereka serentak. &lt;br /&gt;Mereka bergidik melihat matinya Ahmad dengan mata melotot. Salah satu dari pasukan Teliksandi coba memeriksanya untuk mengetahui sebab kematian. Nihil. Tanda kematiannya tidak ditemukan. &lt;br /&gt;Mereka jadi bingung dan bertanya-tanya.&lt;br /&gt;Siapa pembunuhnya? Kalau sekiranya ia mati dibunuh oleh seseorang dari jarak jauh, pasti ada penyebabnya. Bisa berupa luka, mulut biru, dan cacat tubuh. Tapi ini hanya mata melotot. Aneh…. Angker memang…. Apakah kematian Ahmad ada hubungannya dengan keangkeran pulau ini? Jawabannya tidak pernah didapatkan. &lt;br /&gt;Sebagian dari personil pasukan Teliksandi itu ada mulai ciut nyalinya. Keder hatinya. Patah semangat.&lt;br /&gt;“Ses, hutan ini memang tidak bisa diajak kompromi. Lebih baik kita batalkan misi ini. Baru masuk dua puluh meter saja sudah ada yang mati. Matinya tanpa sebab lagi,” komentar Parjan.&lt;br /&gt;“Betul kata Parjan, Ses. Hutan ini selamanya tetap misterius. Daripada jatuh korban lagi dengan kematian yang tidak jelas lebih baik kita pulang saja. Misi mencari informasi tongkat berbentuk intan mutiara putih itu dibatalkan. Atau bisa jadi informasi yang kita cari hanya omongan belaka. Tidak benar!!!” tambahkan Kanji.&lt;br /&gt;“Sudah….! Diam!!!!” teriak Ramses marah. &lt;br /&gt;Pekikannya membahana. Anak buahnya yang memberi usul diam seketika. Menunduk takut. Ramses terkenal cepat marahan. Tapi dia orangnya solider. Bisa menghargai orang lain. Namun dalam situasi genting seperti ini, apa dia tidak marah mendengarkan kata anak buahnya yang sudah lemah semangat. &lt;br /&gt;Baru melihat tontonan yang belum seberapa dahsyatnya. Mereka sudah lemoy, letoy… dan lesu darah. Padahal merekakan sudah digembleng ketahanan fisik dan ketahanan hati yang mantap. Namun gemblengan itu pudar hari ini. Dengan melihat kejadian di luar perhitungan mereka dan terkesan aneh penuh dengan kemisteriusan. Membuat otak jadi butek untuk mengungkapkan pangkal musababnya. Aneh di atas keanehan lagi, yang pernah mereka jumpai selama mengemban tugas. Ini dirasakan begitu beratnya. Hingga mereka meleleh nyali atau keberaniannya untuk menemukan pencarian tersebut. Menemukan tongkat berbentuk intan mutiara putih di ujung daerah yang bernama Mandi Bintang.&lt;br /&gt;Mandi Bintang adalah daerah  yang berupa sebuah padang ditumbuhi rumputan liar, seperti ilalang, pakis haji, simpor, rumput teki, cengkodok, dan tidak ada tumbuh pohon besar yang berupa kayu keras. Cuma ada tumbuh sebatang pokok kabu-kabu sudah lanjut di makan usia. Pokok itu tidak pernah menghasilkan kabu-kabu lagi untuk dibuat pengisi bantal biar jadi empuk. Tidur jadi enak. Daunnya pokok kabu-kabu tidak rindang dan rimbun seperti kebanyakan pohon yang biasanya. Dia malahan meranggas dengan berdaun jarang-jarang. Di tepi dekat mentari memunculkan wajahnya ada sebuah telaga berair jernih. Layaknya sebuah pemandian. Memang sebuah pemandian kok. Pemandian para bidadari yang turun dari galaksi di atas sana. Terutama bidadari yang berdiam diri di galaksi bintang dari bintang oreon, bintang venus, bintang kejora maupun bintang kartika. Kalau malam hari, ramailah daerah itu. Terdengar senda gurau yang begitu merdu dari para bidadari tersebut. Senang dan gembira. Kalau hampir subuh menjelang barulah mereka kembali ke peraduannya, yaitu bintang-bintang disana. Karena itu daerah tersebut dinamakan Mandi Bintang. Sampai sekarang daerah tersebut belum pernah dijamah orang. Karena mempunyai kemisteriusan yang tidak pernah diuraikan dengan logika bening. Atau dengan pikiran yang masuk akal. Ada orang yang pernah coba ingin kesana tapi dia ditemukan mati mengenaskan dengan segala keanehan, di bawah Mungguk menuju daerah Mandi Bintang. Atau bisa jadi orangnya raib tak bertanda. Konon kabarnya disanalah bersemayamnya tongkat berbentuk intan mutiara putih yang akan didapatkan Ramses dan pasukannya. Tongkat itu sebagai penyelamat umat dari kehancuran masa di kemudian hari.&lt;br /&gt;Ramses berusaha meredakan kemarahannya yang sudah tersalurkan dengan teriakan senyaring deburan ombak mengelus kemolekan pantai. Hingga sesaat keheningan yang hanya bicara. Anak buahnya yang lain tidak berani lagi bicara.  Semuanya tefekur dengan gelora batin masing-masing. Was-was menahan rasa takut dan mencoba memunculkan sebuah keberanian. Selama ini terus mereka senandungkan. Berusaha pula mereka membangkitkan lagu pantang menyerah agar menghidupkan jiwa melemah.&lt;br /&gt;“Kalau memang kalian tidak berani lagi, silakan pulang. Aku akan terus menjalankan tugas. Yang ikut denganku, kita teruskan misi ini sampai memperoleh hasil,” kata Ramses bersuara setelah dicekam kesunyian. &lt;br /&gt;Diberikan tawaran seperti itu ada tujuh orang langsung kabur meninggalkan daerah tersebut. Mereka tidak ingin mati. Tersisa tinggal empat orang bersama Ramses sebagai komandan pasukan. Berempat itu segera menguburkan jenazah Ahmad. Seterusnya mereka meneruskan misi tersebut.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan mereka mendengar bekakakan suara wanita. Terdengar empat penjuru angin. Sebentar suara itu membahana dan lebih keras terdengar. Suaranya sudah terpusat membulat semakin santer mengaung. Mereka berempat mengambil inisiatif. Masing-masing akan mengejar suara itu dengan sesuai arah mata angin. Bila sudah menemukan orangnya. Temannya harus memberikan panggilan pada teman-temannya. Kesepakatan diambil. Mereka menyebar ke arah masing-masing. Ramses menuju arah selatan, terus berkejar dengan kekuatannya penuh mengikuti suara itu. Hingga ia kelelahan dan suara itu menghilang. &lt;br /&gt;Dia celingak-celinguk mencari suara itu. &lt;br /&gt;Kemana ya?  Kok, bisa hilang tiba-tiba? Kemana lagi aku mencarinya? Ah, dia terkejut. Melihat sebuah rumah tidak berdinding. Ini mungkin sebuah jebakan. Aku harus berhati-hati. &lt;br /&gt;Ramses mencabut pistolnya kaliber 25. Dikokangnya sekali. Siap diletuskan kalau ada sasaran yang mencurigakan. &lt;br /&gt;Barulah dia melangkah penuh kehati-hatian. Dia tidak ingin dirinya terjebak oleh sebuah jebakan. Bisa membuat kefatalan dalam hidupnya. Mata siaga dan jiwa antisipasi sebelum terjadi sesuatu sudah dikeraskan Ramses. Dia mulai mendekati rumah tersebut. Lalu dikitarinya rumah itu. Tidak ada menunjukkan tanda-tanda mencurigakan. Dia pun memasukan senjatanya lagi. Karena dirasakannya sudah aman. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan dan membahayakan dirinya. Dia berehat sebentar di depan rumah itu. Kakinya dilunjurkan dan badannya bersandar ke tiang penyangga rumah. Angin sepoi-sepoi bercinta asmara, hampir membuatnya mengantuk dan hampir tertidur. Kalau tidak, suara teriakan anak buahnya dari arah lain mengagetkannya.&lt;br /&gt;Dia berpikir bahwa anak buahnya sudah menemukan pemilik suara itu. &lt;br /&gt;Dengan terigas dia menyusul kesana. Rasa letih dilupakannya seketika. Bukan kekaguman yang diperolehnya tapi keterkejutan. Anak buahnya mati dengan kepala putus dari badannya. Rupanya teriakan itu adalah teriakan kematian. Ramses mulai bergidik sebentar. Tapi kengerian itu hilang seketika. Waktu dalam hatinya menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Dia mencari badan anak buahnya yang hilang entah kemana. Badannya itu ditemukannya dekat pohon perdu dengan posisi sedang kencing. Terasa lucu namun terkesan aneh. Pembunuhan ini penuh dengan kemisteriusan. &lt;br /&gt;Aku harus dapat mengungkapkannya sekalian mendapatkan informasi tentang tongkat berbentuk intan mutiara putih itu. &lt;br /&gt;Belum habis Ramses berpikir jernih. Suara siulan senang dengan suara wanita serupa, betul, dan mirip suara wanita didengarnya pertama menuju arah barat. &lt;br /&gt;Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan anak buahku yang menuju ke arah sana. Aku harus kesana, kajinya sebrilian itu. &lt;br /&gt;Perkiraannya tidak meleset. Bahwa anak buahnya juga ditemukan mati. Matinya dengan bibir tersenyum. Tergantung di sebuah pohon Ketapang. Pohon itu hanya memiliki ranting sebatang dan punya daun selembar. &lt;br /&gt;Aneh lagi…! Kok, orang mati bisa tersenyum. Ini mati sedih atau mati bahagia? Semakin aneh saja. &lt;br /&gt;Ramses menurunkan jasad anak buahnya yang tergantung di pohon Ketapang. Diperiksanya seluruh tubuh itu, tidak tanda yang jelas menunjukkan kematiannya. Memang hal impossible. Sudahlah. Dikuburkannya jasad anak buahnya di tempat itu. Sejenak dia hanyut dalam suasana kesedihan. Mengenang anak buahnya. Semua yang mengikutinya mati tiada tersisa. Tinggal satu orang lagi yang berada di timur. &lt;br /&gt;Aku harus cepat kesana. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. &lt;br /&gt;Dia bergegas menuju ke arah timur. Walau rasa capek sudah memberat. Dia tidak perduli. Dia lebih mementingkan keselamatan anak buahnya yang hanya tinggal satu orang.&lt;br /&gt;Di timur dari kejauhan  dilihatnya anak buahnya bergumul melawan binatang berkepala manusia. &lt;br /&gt;Masya Allah, mahluk siluman rupanya, desis kalbu Ramses bergetar. &lt;br /&gt;Mardon, anak buahnya terus berusaha untuk terlepas dari cengkeraman mahluk tersebut. Seluruh tubuhnya penuh luka berjaluran. Tapi semangat kehidupannya terus membuat dia berjuang sekuat kemauan dan sekeras jiwa karangnya. Karena dia sudah digembleng teguh. Perjuangan harus sampai tetes darah penghabisan. &lt;br /&gt;Aku harus menolongnya. Kalau aku biarkan, bisa jadi dia juga akan meninggal. &lt;br /&gt;Ramses duduk bersila di rerumputan basah. Keheningan jiwa dipusatkannya pada Tuhan Yang Maha Esa. Dia menenangkan kalbunya minta bantuan pada-Nya. Karena kekuatan Tuhanlah di atas segalanya. Konsentrasi dibulatkannya dan dipadukannya dengan doa untuk mengusir mahluk yang saat ini bergumul dengan Mardon. &lt;br /&gt;Bismillahirrahmannirrahim…, serunya sembari tangannya teracung ke arah mahluk tersebut. &lt;br /&gt;Angin putih yang keluar dari tangan Ramses membuat mahluk tersebut menjerit garang. Cengkeramannya pada Mardon mulai mengendor, tapi matanya menatap garang. &lt;br /&gt;Kurang ajar! Akan kubunuh dia, geramnya beralih menuju Ramses yang duduk bersila di rerumputan basah. &lt;br /&gt;Dia akan membunuh Ramses. Namun tanpa diperhitungkannya dari tangan dan tubuh Ramses mengepulkan angin putih berputar ligat membentuk suatu bulatan. Lalu menghantam tubuh mahluk tersebut. Kali ini jeritannya melengking tinggi tiada kepalang tanggung nyaringnya. Sepertinya dia mengalami penderitaan yang begitu hebat. Penderitaan kematian yang menjemputnya. Jeritan kematian yang mengakhiri kehidupannya. Kemudian hanya kabut hitam terlihat menghilang. &lt;br /&gt;Alhamdulillah, kata Ramses membuka matanya. &lt;br /&gt;Mardon memulihkan semangatnya yang terkuras.&lt;br /&gt;“Terima kasih Ses, untung kamu datang secepatnya. Kalau tidak, aku sudah mati tinggal tulang,” kata Mardon disela keletihannya.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Don. Semua ini berkat keajaiban Tuhan Yang Maha Esa. Don, kita rehat saja disini. Nanti perjalanannya kita lanjutkan esok pagi. Berhubungan harinya sudah senja. Kita dirikan tenda disini.” Ramses berbicara lalu membuka perbekalan yang dibawanya. &lt;br /&gt;Dia mencari kayu untuk mendirikan tenda. Mardon membantunya. Dengan kecekatanan mereka, tenda bisa berdiri cepat. Mereka melepaskan letihnya.&lt;br /&gt;~oOo~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali suara binatang malam bersenandung. Kereyang dan jangkrik pamer suara. Kunang-kunang tidak mau ketinggalan. Walau mereka tidak bisa menyumbangkan suara merdu untuk mengisi kesunyian biar indah. Mereka menyumbangkan lampu disko dari tubuh mereka. Berikan keindahan malam ini. Apalagi di alam terbuka seperti ini. Bermalam akan memberikan ketenangan dan kedamaian dengan cara menghayati keheningan malam dan kebeningan kemahabesaran-Nya. Malam ini malam purnama lagi. Menaburkan wajah putihnya menghiasi keindahan bumi kelam. Menyapa tubuh letih Ramses dan Mardon jadi bersinaran. Semakin semarak saja malam ini.&lt;br /&gt;“Sungguh indah malam ini ya, Don?”&lt;br /&gt;“Ya, Ses.”&lt;br /&gt;“Megahnya keindahan ini kalau kita hayati dengan perasaan jiwa. Enak, untuk melupakan kepenatan dan keletihan yang dirasa.”&lt;br /&gt;“Betul kali, Ses.”&lt;br /&gt;“Oh ya Ses, kini kita tinggal berdua lagi. Semuanya sudah tiada. Supaya kita bisa mengantisipasi hal yang terjadi di antara kita, lebih baik kita berjalan jangan berpencar lagi. Kita berjalan beriringan saja. Kalau berduakan, kekuatan kita bisa lebih besar daripada sendirian.”&lt;br /&gt;“Benar juga katamu, Don. Aku setuju usulmu. Don, arah yang kita tuju adalah menaiki tanjakan Mungguk rendah itu,” tunjuk Ramses pada Mungguk itu. &lt;br /&gt;Mungguk itu terpampang dengan ketenangan. Mardon melihat arah yang ditunjukkan oleh Ramses. Mardon mengangguk-angguk kepalanya tanda mengiyakan apa yang dikatakan Ramses. Karena mata sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Akhirnya mereka berangkat ke alas tidur, mengejamkan mata. Tidur mereka pulas. &lt;br /&gt;Baru tersadar saat mentari ufuk timur dengan sinar garangnya membelai tubuh mereka. Serasa menghanguskan kulit saja. Panasnya minta ampun. Duluan bangun adalah Ramses. Dia lalu membangunkan Mardon.&lt;br /&gt;“Don, bangun sudah siang. Kita lanjutkan lagi perjalanannya.”&lt;br /&gt;Mardon bangun dengan terigas. Tenda digulung dimasukkan dalam ransel. Ransel ditangking Ramses di bahu. Perjalanan mereka lanjutkan lagi dengan berduaan saja. Jalanan setapak tetap mereka lalui. Sambil berjalan mereka melihat sinar terang di atas Mungguk.&lt;br /&gt;“Don, lihat itu. Lihat sinar terang itu. Itu pasti cahaya tongkat tersebut,” seru Ramses penuh kegirangan. &lt;br /&gt;“Betul, Ses. Syukurlah akhirnya kita menemukan juga. Tidak sia-sia pengorbanan kita. Walau hasilnya ini ditebus dengan kematian saudara kita ya, Ses?”&lt;br /&gt;“Betul katamu, Don. Mari kita cepat kesana!” &lt;br /&gt;Semangatnya mereka melangkah kesana. Sebentar, sudah sampai mereka di bawah Mungguk itu. Mereka tertegun. Apa yang mereka lihat dari kejauhan saat malam hari. Penglihatan sepintas bahwa Mungguk ini tidak susah didaki. Itu praduga dan prakiraan mereka. Ternyata dugaan mereka dienyahkan oleh kenyataan yang ada dipampang mata terbuka. Bahwa Mungguk itu sulit didaki. Karena penuh tanjakan. Setiap tanjakan hanya berupa batu bersusun yang saling menempel antara satu dengan yang lain. Tidak ada tanah sedikit pun. Seakan batu bersusun itu dilekatkan oleh lem yang keras. Lem batu. Sungguh ajaib. Setiap batu membentuk undakan menuju ke atas Mungguk, daerah Mandi Bintang. Mendaki batu bersusun itu harus berhati-hati. Kalau tergelincir nyawa taruhannya. Karena kita akan bergulingan menghantam batu di bawah, sudah siap menerkam dan melumat tubuh kita tinggal serpihan.&lt;br /&gt;Ramses mengeluarkan peralatan untuk mendaki. Mardon juga sama. Mereka mulailah mendaki hati-hati. Antara satu dengan yang lain saling mengawasi. Agar kalau terjadi kecelakaan mereka bisa saling menolong. Semangat jaya terus mengudara, tenaga kuat sudah mengental, berpadu jadi satu dalam gerakan pendakian Mungguk ini. &lt;br /&gt;Akhirnya mereka sudah mencapai tepian atas Mungguk. Sekali sentakan mereka sudah akan menginjak atas Mungguk yang berupa pedataran luas. Mereka kaget. Karena dibalik sinar itu berdiri seorang wanita tua. Masih berwajah cantik dengan pakaian kuning keemasan. Masing-masing serentak mencabut pistolnya yang mendekap di samping kiri pinggang. Mereka telah menginjak atas mungguk. Wanita tua sepertinya sedang merapal mantera. Lalu tangannya teracung ke arah Mardon.&lt;br /&gt;“Awas Don, tiarap!” seru Ramses tahu gelagat. &lt;br /&gt;“Ah…,” Mardon terkejut. &lt;br /&gt;Tapi terlambat gerakan yang dilakukannya. Terdengarlah jeritan Mardon menyayat kalbu memecahkan dinding langit, membuyarkan bisikan angin, melembutkan tatapan garang sang mentari. Jeritan mengakhiri kehidupannya.&lt;br /&gt;“Mardon. Tidak!!!” pekik Ramses garang. &lt;br /&gt;Tangannya tergapai untuk menangkap tangan Mardon yang terlempar ke bawah Mungguk. Tangan Ramses hanya menangkap angin kosong. Tubuh Mardon terus meluncur deras. &lt;br /&gt;Kile-Kile Jantung, desis Ramses bergumam.&lt;br /&gt; Ilmu ini adalah ilmu sangat langka. Hanya dimiliki oleh orang tua dari pedalaman. Ilmu ini membunuh orang dari jarak jauh tanpa bersuara. Hanya membaca rapalan lalu menunjuk orang yang diinginkan maka orang yang ditunjuk itu akan meninggal seketika. Karena jantungnya putus atau pecah. Jadi, ilmu ini menyerang organ bagian dalam.&lt;br /&gt;“Bangsat! Jahanam! Aku bunuh kamu! Matilah kamu!” seru Ramses memuntahkan peluru timah dari pistolnya. &lt;br /&gt;Mengarah pada wanita tua itu. Tapi dengan sebat wanita tua itu sudah menghilang. Hanya suara tertawanya saja yang terdengar. Sering berpindah-pindah tempat. Ramses terus mengamuk. Pistolnya terus bersenandung menuju wanita tua itu, seperti suara petasan bernyanyi. Hingga dia kecapaian, karena tembakan yang dilepaskannya. Tidak ada satu pun yang mengenai tubuh wanita itu. Kini wanita tua itu sudah di hadapannya. &lt;br /&gt;Tamatlah riwayatku, Ramses lirih berbicara.  &lt;br /&gt;Dilihatnya wanita tua itu sudah siap untuk membunuhnya. Tapi jadi batal. Setelah wanita tua itu melihat jelas wajah Ramses dalam jarak dekat begini.&lt;br /&gt;“Ah, dia! Tidak mungkin…! Tidak mungkin….!” Pekiknya keras. Lalu dia menangis mengguguk.&lt;br /&gt;“Aku telah bersalah padanya.”&lt;br /&gt;Inilah kesempatan buatku menghabisinya.&lt;br /&gt; Ramses mengumpulkan sedikit kekuatan tenaganya. Digunakan Ramses kelengahan sesaat wanita tua itu. Pistolnya pun berbicara pada si wanita tua.&lt;br /&gt;“Jangan Ramses, anakku! Hentikanlah!” serunya mencegah. &lt;br /&gt;Namun kecepatan peluru tidak bisa dicegah lagi. Dia terus melaju. Terdengarlah suara petasan Dor.&lt;br /&gt;“Akh… Teganya dirimu anakku!.” &lt;br /&gt;Hanya itu yang bisa keluar dari mulut si wanita tua bersama terlihat gapaian tangannya melejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balai Berkuak, 25 April 2004 &lt;br /&gt;~~~&amp;&amp;&amp;~~~ &lt;br /&gt;CATATAN :&lt;br /&gt;Cerpen ini dibuat untuk mengenang keindahan Pantai Pulau Datuk dan sekitarnya serta memori saya yang masih tertinggal di pasir putihnya disana…………!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-7024221012693183424?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/7024221012693183424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=7024221012693183424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7024221012693183424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/7024221012693183424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/cerpen-msaifun-salakim.html' title='Cerpen M.Saifun salakim'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-8683332845731500559</id><published>2007-07-18T04:17:00.001-07:00</published><updated>2007-07-18T04:19:18.445-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi M. Saifun salakim'/><title type='text'></title><content type='html'>M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Regukan Malam dalam Teh Susu dan Energen&lt;br /&gt;Buat Bang Wisnu Pamungkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam serasa mengekori cinta sinar detik ini&lt;br /&gt;Berpacu dengan napas dua orang pencinta setia&lt;br /&gt;Memampirkan jiwanya di warung emperan &lt;br /&gt;Tak pernah sepi dengan wajah tak dikenal&lt;br /&gt;Hanya menampilkan senyuman sebagai tanda persahabatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regukan teh susu dan energen&lt;br /&gt;Menambah suasana semakin hangat &lt;br /&gt;Dalam pergulatan pikiran-pikiran membuncah&lt;br /&gt;Beradu kata-kata berliuran makna&lt;br /&gt;Membengkas masa yang terlalu angkuh bertahta&lt;br /&gt;Di singggasana cintanya yang kelam membiru&lt;br /&gt;Mengekang napsu dan harapan kita saat ini&lt;br /&gt;Agar dapat menuruti keinginannya &lt;br /&gt;Yang sudah terlalu letih menapakkan jalannya&lt;br /&gt;Lalu kita dipojokkannya&lt;br /&gt;Di sudut ruangan sepi tanpa sinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dua orang pencinta setia masih tetap setia&lt;br /&gt;Membelasah kenangannya dalam kesenyapan malam&lt;br /&gt;Mengguratkan nada-nadi tangannya&lt;br /&gt;Membentuk sketsa-sketsa diri &lt;br /&gt;Yang memanjang menjangkau suatu akhir perjuangan&lt;br /&gt;Dalam pergumulan nasib yang telah ditakdirkan illahi&lt;br /&gt;Sepanjang sungai perjalanan yang telah beku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia masih mampu berzikir&lt;br /&gt;Walau jerat kembali padanya &lt;br /&gt;Telah melampau batas jiwa&lt;br /&gt;Sudah mengajaknya pergi&lt;br /&gt;Pergi untuk meraih kecintaan yang meluber&lt;br /&gt;Di regukan terakhir teh susu dan energen yang kosong &lt;br /&gt;Berjendelakan sedikit butiran keruh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warkopad (Imbon-PTK), 15072007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Saifun salakim&lt;br /&gt;Mengingat Cengkrama denganmu&lt;br /&gt;Buat Bang Wisnu Pamungkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengkrama ini terus saja menulisi hari-hari &lt;br /&gt;Dalam cerita sejarah untuk menciptakan pedoman yang baik&lt;br /&gt;Walau kepekatan hari terlalu garang menghapus memori arti&lt;br /&gt;Mengabaikan kenyataan yang enak -enak&lt;br /&gt;Diungkapkan dalam denyar-denyar pergulatan otak&lt;br /&gt;Terus bergerak seputaran jarum jam menikam jantung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busa demi busa obrolan mengalir sederas air&lt;br /&gt;Selalu kita reguk dengan tak bosan-bosannya&lt;br /&gt;Walau saat ini sedang terjadi kemarau panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping sebelah kita rumah makan berteriak menyapa&lt;br /&gt;“Makanlah aku. Sudahi kelaparanmu dengan kekenyangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengkrama ini masih saja menanamkan urat akarnya&lt;br /&gt;Menjalari tanah-tanah kelembutan sepasang nada-nadi&lt;br /&gt;Bernama merkuri dan lampu jalanan yang condong ke kanan&lt;br /&gt;Dengan masih menyisakan sebuah kenangan&lt;br /&gt;Untuk disimpan dalam serabutan memori sejengkal mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini dan seterusnya kita berikrar dalam diri&lt;br /&gt;Kita harus menjadi orang terkenal di lapisana bumi mana saja&lt;br /&gt;Lewat perkenalan bait-bait kita yang bertebaran&lt;br /&gt;Menembus awan, langit, sungai, samudera&lt;br /&gt;Bahkan menjamah angin yang tak menampakkan wajahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Sendiri (PTK), 17072007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-8683332845731500559?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/8683332845731500559/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=8683332845731500559' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8683332845731500559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/8683332845731500559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/m.html' title=''/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-3640131878254644271</id><published>2007-07-18T03:41:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T03:44:05.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN'/><title type='text'>NEGERI MIMPI</title><content type='html'>Cerpen: Wisnu pamungkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, mimpi adalah sebuah kemewahan! Tak banyak yang mampu membelinya kecuali presiden, menteri, para konglomerat hitam dan orang kaya yang punya timbunan duit segudang. Jangan harap orang kecil seperti aku bisa menikmati mimpi yang hebat. Asal tahu saja sekeping mimpi besar di sini harganya sama dengan dua kilogram uranium.&lt;br /&gt;Tapi memanglah tidak begitu menjadi soal bagi seorang pemindai mimpi seperti aku. Meskipun tentu saja masih memiliki mimpi-mimpiku sendiri, tetapi sejak bekerja sebagai pencatat mimpi di sebuah lembaga riset dan pengembangan mimpi—mirif laboratorium—swasta Negeri Mimpi ini, aku merasa tak kekurangan apa-apa. Dalam 24 jam sehari, ketika memelototi komputer untuk memeriksa semua e-mail yang masuk ke situs kantorku, aku dapat menikmati bermacam-macam mimpi yang dikirim oleh komputer dan situs rumah tangga dari semua penjuru negeri ini. Mimpi-mimpi itu aku periksa satu-satu sebelum diberi indeks sesuai dengan klasifikasinya masing-masing. Dengan demikian aku bisa menghemat mimpi-mimpiku sendiri, bukan?!&lt;br /&gt;Karena aku bukan seorang ahli komputer, jangan tanya padaku bagaimana mimpi orang-orang di negeri ini bisa ditransfer ke sebuah sofware komputer. Kemudian terkirim secara atomatis dari komputer-komputer rumah tangga warga Negeri Mimpi ke alamat e-mail atau home page perusahaan tempat aku bekerja. Namun demikian terkadang aku juga sering mencuri-curi tahu bagaimana mimpi-mimpi itu dikumpulkan sebelum dicetak menjadi sebuah chipsebesar pentul korek api dan siap dipasarkan. &lt;br /&gt;Sebenarnya ratusan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa ini juga berbakat untuk bermimpi, sejak mereka dilahirkan. Namun di suatu saat yang entah kapan, Negeri Mimpi pernah mengalami sejarah hitam dimana sebuah rezim yang sangat lalim dan kejam telah merampok dan merampas akal budi mereka habis-habisan. Tak ada yang tersisa walau hanya sekedar sebuah kecerdasan untuk melahirkan selarik mimpi saja. Mereka menguras hati, dada dan isi kepala orang-orang yang hidup seperti memerah susu sapi hingga keropos, kecuali darah dan otak yang gersang. &lt;br /&gt;Karenanya bila di negeri ini ada di antara penduduknya yang masih bisa bermimpi, ia pasti akan menjadi milyuner. Pemerintah Negeri Mimpi pasti akan melindunginya lebih dari menjaga sebuah dokumen negera. Sebab hanya dengan bermimpilah di kota tempat aku bekerja ini pabrik-pabrik masih bisa mengepulkan asap.&lt;br /&gt;Yang merana tentu saja orang-orang kecil serta rakyat jelata. Mereka nyaris tak punya apa-apa lagi untuk mempertahankan hidup. Untuk bernafas saja tak jarang mereka terpaksa harus membajak mimpi orang lain seperti membajak kaset. Atau membuat chip mimpi imitasi dengan cara mendulang serbuk impian dari tempat pembuangan limbah pabrik yang kemudian diolah dengan program komputer. Tapi belakangan tak banyak yang mau mengambil resiko itu atau membeli mimpi di pasar illegal. Karena bila digunakan dan ditanam dalam jaringan otak, mimpi semacam ini hanya akan menyebabkan rasa sakit kepala yang luar biasa. Sangat sedikit sekali orang yang mau memakai mimpi bajakan atau hasil cetak rompak para hackher yang dijual di pasar gelap Negeri Mimpi, kecuali memang sudah benar-benar sekarat. Karena seperti halnya VCD bajakan yang banyak dijual di kaki lima, chip mimpi palsu justru hanya akan menghancurkan otak dan tubuh sebagai media player-nya. Padahal untuk memiliki jiwa-raga yang sehat, seseorang memerlukan mimpi yang orginal dan tentu ada garansi dari pabrik, minimal 1 tahun. Demikian rekomendasi seorang dokter di Negeri Mimpi! &lt;br /&gt;Di negeri ini, mimpi adalah sebuah kemewahan! Tapi aku tetap saja hanyalah seorang pemindai sekaligus pencatat mimpi yang kesepian. Kecuali komputer, sederetan e-mail, foto kekasih di dinding apartertemen, aku memang nyaris tidak punya siapa-siapa di negeri ini. Begitulah barangkali setiap orang harus hidup kesepian di negeri yang hampir-hapir tanpa sebuah pilihan ini. Di sebuah negeri dimana dunia selalu berwarna kelabu, dingin, dan terselubung asap yang berasal dari cerobong-cerobong pabrik mimpi. Karenanya sejauh mata memandang di Negeri Mimpi yang terlihat hanya salju, debu dan bayang-bayang hitam pepohonan serta reruntuhan gedung tua yang sudah lama ditinggalkan. Matahari di Negeri Mimpi pun kabarnya hanya bisa terlihat setiap 5 tahun sekali, apabila suhu udara bisa mencapai 25 derajat celcius.&lt;br /&gt;Namun yang membuat bulu kudukku berdiri, ternyata di negeri yang hampir membeku ini banyak sekali perampok? Menurut seorang lelaki pemilik kedai makanan yang berada tak jauh dari kantor tempat aku bekerja, hampir separoh negeri di luar gerbang kota sana adalah milik para garong, bandit dan pencoleng. Karenanya aku hampir tak pernah berani berjalan lebih dari 500 meter dari kantor atau apartemenku yang terletak persis di jantung negeri. Orang asing yang pergi ke luar kota tanpa di kawal khusus, niscaya hanya akan pulang tinggal namanya. Pasti itulah sebabnya mengapa ketika aku tiba sekitar setahun yang lalu di negeri ini, sejak dari bandara dikawal ketat seperti pengawalan seorang wali kota.&lt;br /&gt;“Tapi anda jangan terlalu kuatir, mereka itu hanya merampok mimpi,” kata lelaki pemilik kedai itu menasehati. Semula aku memang tak mengerti bagaimana mimpi seseorang dapat dicapolok seperti merampas makanan? Sasaran perampokan pun, tambah lelaki itu lagi, hanya para konglomerat kota Negeri Mimpi, pekerja asing dan turis. Aku memang belum tahu ketika itu kalau di kota ini mimpi ternyata bisa diproduksi dan diperjualbelikan seperti perhiasan.&lt;br /&gt;“Tuan pastilah orang baru, tapi nanti juga tuan pasti mengerti,” ujar lelaki itu ramah. Matanya yang sipit di bawah siraman cahaya bohlam 5 watt di ruangan itu membuat ia tanpak seperti seseorang yang selalu tersenyum. Dari tampangnya aku hampir pasti ia bukanlah orang Negeri Mimpi. Barangkali adalah orang Cina perantauan, atau setidak-tidaknya berasal dari ras Asia. Sebab menurut literature yang pernah kubaca, di negeri mimpi sebagian besar rakyatnya sudah pernah menderita semacam penyakit aneh yang disebabkan radiasi limbah pabrik mimpi. Pada suatu masa yang lalu sebuah pabrik pernah meledak di Negeri Mimpi, semua serbuk mimpi dalam pabrik yang belum dijinakan menghambur ke udara kemudian ditiup angin dan menjadi wabah menakutkan diseluruh negeri hingga 200 tahun lamanya.&lt;br /&gt;Wajah dan seluruh tubuh penduduk ditumbuhi benjolan-benjolan mengerikan seperti sebuah kutukan. Walau demikin penyakit itu tidak menjangkiti orang sembarangan, tidak kepada orang asing atau mereka yang tak memiliki darah keturunan Negeri Mimpi. Bahkan warga negeri mimpi sendiri pun bisa terhindar bila saja masih memiliki sekedar sebuah karunia untuk bermimpi. Cara lainnya adalah dengan mengonsumsi mimpi dari pabrik. Masalahnya seberapa banyakah lagi orang kaya di Negeri Mimpi yang mampu membelinya sebulan sekali?&lt;br /&gt;Tapi itu bukanlah urusanku, tentu saja! Aku Cuma sedikit terganggu oleh selera dan kebiasan makanan orang di Negeri Mimpi. Selain daging dan kacang-kacangan, penduduk negeri mimpi ternyata Cuma makan ketang, telur dan mentega saja. Lalu bagaimana para penduduk Negeri mimpi bisa mempertahankan hidup sementara digegerogoti penyakit, dalam dingin yang membekukan dan selalu diintai perampok? Dari yang dapat kupahami mengenai penduduk negeri mimpi, mereka tak ubahnya dengan sebuah misteri. Orang-orang itu seakan-akan hanyalah sosok bayang-bayang kelabu yang bisa datang dan pergi tiba-tiba, kapan dan dimana saja ke balik kelam. &lt;br /&gt;Kabarnya sudah hampir 7 generasi ritual kehidupan semacam itu mereka jalani tanpa rumah dan warisan, tanpa mimpi dan harapan. Penduduk Negeri Mimpi berpakaian mirip gelandangan, mengenakan mantel bulu yang selalu tertutup penuh tambalan, layaknya para pengemis, menebarkan bau amis dengan wajah berlendir dilumuri nanah yang selalu meleleh dari benjolan yang mengerikan di sekujur tubuh mereka. Tapi aku kemudian melihat bahwa itu justru sebagai sebuah kearifan, sebuah kecerdasan untuk mendaur ulang penderitaan menjadi tenaga listrik kehidupan yang tak pernah redup hingga beratus-ratus tahun lamanya. Bersama keluarga, mereka hidup sembunyi-sembunyi kalau tak bisa dikatakan sebuah budaya. Mereka selalu bermigrasi dari lorong ke lorong atau dari gorong-gorong yang satu ke gorong-gorong berikutnya yang selalu basah, bacin di bawah tanah dalam kota, bersama tikus got, kecoak, ular dan kelelawar yang sekaligus menjadi makanan selingan mereka. Supaya tidak membeku, mereka membuat api unggun dengan membakar apa saja di liangnya, termasuk limbah mimpi yang sebenarnya menyebabkan tubuh mereka terinfeksi semakin parah.&lt;br /&gt;Jika suhu udara naik sedikit lebih panas, kadang-kadang ada diantara mereka yang pindah ke celah-celah reruntuhan bekas bangunan yang musnah akibat peperangan di masa lalu. Anak-anak sesekali tanpak bermain di tikungan-tikungan jalan yang juga kelabu, dan tiba-tiba menghilang ke dalam bongkahan salju bila ada orang asing yang kebetulan lewat. &lt;br /&gt;Konon kabarnya di masa lalu, Negeri Mimpi sebenarnya adalah sebuah negeri yang kaya, dimana pondasi perekonomiannya—yang juga sekali lagi kononnya—dibangun dari mimpi salah seorang konglomerat sekelas Soros. Namun belakangan, kota ini nyaris menjadi kota mati setelah dihantam badai resesi yang sangat dahsyat. Menyusul pemberontakan besar-besaran oleh rakyat negeri itu terhadap rezim seorang penguasa yang sangat lalim dan korup luar biasa. &lt;br /&gt;Sejak saat itu, yang tersisa di Negeri Mimpi hanyalah para perampok, para berandalan, kepulan asap dan debu dari cerobong pabrik mimpi yang mengalirkan limbahnya ke seluruh negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di negeri ini, mimpi tentu saja sebuah kemewahan! karenanya sebagai pencatat mimpi aku tidak berhak mengubah atau menambah ratusan risalah mimpi yang disodorkan orang-orang setiap hari kepadaku di kota ini. Tugasku hanya mencatat, memberi nomor pada file dan indeks pada semua folder mimpi itu setiap hari. Agar saat dibutuhkan, mimpi-mimpi itu dengan gampang ditemukan dan dikeluarkan kembali dari tempatnya. &lt;br /&gt;Kata bosku, bermimpi di negeri ini sama ruwetnya seperti ketika sebuah keluarga ingin melahirkan anak. Maka setiap hari, dari pagi hingga petang aku terpaksa menongkrongi internet dilayar monitor Komputer kantorku untuk memeriksa semua e-mail atau kriman slide mimpi yang masuk. Kemudian aku memasukannya ke dalam folder sementara sebelum dikirimkan ke folder khusus yang sudah terformat sesuai dengan klasifikasinya masing-masing. Mulai dari jenis, judul mimpi sesuai urutan abjad, durasi, tanggal mimpi itu dilahirkan, alamat lengkap dan biodata orang yang melahirkan mimpi tersebut dicatat dengan seksama. Bahkan status para pemimpi itu pun aku catat dengan cermat sehingga setelah setahun aku bekerja dengan mudah aku dapat membedakan mana mimpi wali kota atau mimpi seorang perampok. &lt;br /&gt;Bila tidak sedang bekerja, biasanya aku akan menghabiskan waktu duduk di dekat jendela apertemen, memandang ke luar sambil menatap seluruh kota yang putih keabu-abuan oleh hujan salju dan debu mimpi, seperti sebuah hamparan dari cairan timah beku yang baru saja dituangkan dari langit. Terkadang aku terpesona oleh keindahan kota Negeri Mimpi ini, walau sebenarnya juga menyisakan kengerian.&lt;br /&gt;Oleh perusahanku, aku diberi tempat tinggal istimewa, di lantai 4 gedung bekas musium yang memudahkanku menikmati semuanya itu. Tapi dipilihnya perpustakaan ini barangkali karena jaraknya yang tak terlalu jauh dan cuma 100 langkah saja dari bangunan tempat aku bekerja.&lt;br /&gt;Menurut cerita yang pernah kudengar dari Zulma—seorang pelayan perempuan berumur 40-an di apartementku— beratus-ratus tahun yang lalu, museum ini adalah tempat menyimpan semua harta budaya sejarah dan bukti kejayaan nenek moyang penduduk Negeri Mimpi. Tapi kini semuanya sudah ludes dijarah dan dijual penguasa zalim nan serakah yang pernah menguasai negeri. Tetapi fisik bangunannya masih tetap kokoh, dipelihara menjadi sebuah apartemen bagi orang asing seperti aku atau para pekerja sementara di Negeri Mimpi. &lt;br /&gt;Di luar jendela cuaca semakin gelap. Barangkali sebentar lagi akan ada badai salju. Semua jalur telekomunikasi dengan dunia luar, termasuk program siaran televise sudah 6 bulan terakhir tak berfungsi sama sekali karena dilanda cuaca buruk. Untuk menghalau dingin yang merembes masuk lewat celah-celah ventilasi kamar, aku menyalakan penghangat ruangan pada angka 30 derajat sambil mengunyah kentang dan meneguk segelas kopi hangat dekat jendela. Karena dari jendela itulah selama ini aku dapat menyaksikan bagaimana kehidupan di kota ini berjalan siang-malam. Tapi perlu kupertegas lagi bahwa siang dan malam di negeri mimpi sebenarnya nyaris tak ada batasan. Tiada tanda yang dapat membedakannya, kecuali jam tua yang tergantung di dinding kamarku yang warnanya sudah sangat kusam. Karena kota selalu kelihatan sama, sama-sama pucat, sama-sama kelabu dan sama-sama sendu. Pada siang hari pun kota tetap saja terselubung jerebu beraroma belerang yang dimuntahkan cerobong-cerobong raksasa pabrik yang mengepulkan asap sisa pembakaran materi mimpi sebelum di package dan di jual.&lt;br /&gt;Bulan-bulan pertama bekerja di negeri mimpi, aku mengira kota ini tak berpenghuni selain kami para pekerja asing. Dan setiap kali memandang keluar jendela, yang tanpak olehku hanyalah sosok menyerupai manusia yang bergerak tergesa-gesa. Barangkali lebih mirip sekelebatan bayangan, membentuk titik-titik hitam yang bisa tiba-tiba menghilang dalam sekelip mata, entah lah. Karenannya aku hampir tak percaya kalau separoh wilayah dari negeri mimpi ini sudah dikelilingi perampok juga masyarakat negeri mimpi sendiri yang teramat misterius. Tapi lagi-lagi aku tak begitu peduli, toh disini aku hanya bekerja dan kontraknya tinggal sebulan bulan lagi. Aku akan segera kembali ke bumi terkasih.&lt;br /&gt;Tetapi hidup dalam kesepian membuat aku kerap tergoda untuk mengetahui apa yang terjadi. Rasa penasaran yang mengalahkan ketakutan membuatku selalu ingin berjalan kaki sampai ke ujung alun-alun, dekat pintu gerbang yang memisahkan pusat kota dengan kawasan pemukiman. Apalagi meski hampir setahun di sini, belum sekalipun aku berhasil bercakap-cakap atau sekedar saling menyapa dengan penduduk Negeri Mimpi, kecuali dengan Zulma, wanita tinggi semampai yang tanpak masih cantik itu. &lt;br /&gt;Tapi tanpaknya ia sudah tidak lagi mirip dengan penduduk negeri mimpi yang kerap terlihat di luar sana. Ia sudah sangat terbiasa dengan minyak wangi, lipstick, anti biotic dan kerab bermain cinta dengan tamu-tamu asing yang menginap di apertemen, kecuali denganku tentu saja. Karena untuk urusan biologis seperti itu aku sudah bersumpah tidak akan melakukannya di negeri yang tak kukenal. &lt;br /&gt;Setiap kali berpas-pasan di jalan, penduduk Negeri Mimpi selalu menghindar, menghilang bak gerak seorang ninja. Tahu-tahu ia sudah menyelinap, hilang dalam bayang-bayang cuaca. Apalagi di negeri mimpi, banyak sekali puing bangunan yang kemudian membentuk lorong yang panjang diantara bongkahan salju dan terowongan-terowongan gelap yang entah menuju ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih terlalu pagi kukira. Gelombang udara dingin yang menusuk hingga ke sum-sum tulang, berkali-kali menghempaskan butiran-butiran salju di luar jendela hingga menjelma suara suitan-suitan panjang yang purba. Aku makin merapatkan selimut tanpa sedikit pun membuka mata, karena memang masih mengantuk. Tetapi ganjalan keras seperti logam dingin mendarat di jidatku membuat aku terpaksa memicingkan mata. Astaga! Aku terlonjak hendak melompat dari atas ranjang. Ternyata wanita pelayan apertemenku itu sudah mengangkang telanjang, berdiri di atas tubuhku sambil menodongkan senapan. &lt;br /&gt;“Bergerak, berarti setuju kutembak,” ujarnya menggertak. Dengan gerakan perlahan-lahan, perempuan itu berjongkok menindih perutku dengan pistol yang masih di tangan. Matanya bercahaya, menebar pesona maut yang mematikan. Serasa diantara sadar dan bermimpi, aku masih dapat melihat ia bergerak, mengokang senjata sebelum menenggelamkan moncong pistol itu ke mulutku, hingga jalan nafasku tersumbat. &lt;br /&gt;Hari masih terlalu pagi kukira. Tetapi pasti aku sudah tak ada waktu lagi, meskipun hanya untuk sekedar memanjatkan sepotong doa. Nyawaku sudah berada di beranda dunia orang mati!&lt;br /&gt;“Serahkan mimpi anda atau nyawa,” kata wanita itu yang entah berdesah atau berbisik. Tapi memang aku sudah kehabisan masa untuk menyadarinya. Tanganku hanya bisa menggelepar-gelepar di atas ranjang, mencoba menggapai sesuatu. Sebuah pukulan keras yang menghantam tengkorakku membuat dunia tiba-tiba menjadi redup. Kini aku seakan berada di sebuah benua yang seluruhnya terbuat dari lempengan mimpi. Sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, sayup-sayup masih kudengar mesin gergaji pemotong dinyalakan berbaur dengan cekikikan perempuan dan dengusan buas birahi seorang lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Memang, aku hanyalah seorang pemindai yang sepi, &lt;br /&gt;perampok abadi dari mimpi ke mimpi!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanggau, 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Diterbitkan di Majalah Jendela Sarawak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-3640131878254644271?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/3640131878254644271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=3640131878254644271' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3640131878254644271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/3640131878254644271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/negeri-mimpi.html' title='NEGERI MIMPI'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-4430197268438961786</id><published>2007-07-17T10:49:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T10:50:35.670-07:00</updated><title type='text'>SEPOTONG SENJA YANG ENTAH UNTUK APA</title><content type='html'>Cerpen: Wisnu Pamungkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu saja tentang sebuah senja, senja yang memerah, membiaskan cahaya alam dengan warna-warni yang berpedar di udara. Senja yang dihiasi mega-mega berarak, matahari sore dan kepak burung yang melintas di kejauhan, seperti sebuah mimpi yang teramat manis dikenang. Itulah senja Midesia, senja dekat gereja di sebuah hutan jati, di pinggir kota yang selalu membuatku ingin mengenangmu. Tetapi tentu saja tak persis sama, seperti senja di sebuah pantai yang pernah kuceritakan padamu dan senja yang selalu kau angan-angankan itu.&lt;br /&gt;Ini adalah senja yang nyata Midesia, ada dan betul-betul pernah ada. Aku dapat melihat dan merasakan dengan jelas setiap kali melintas di sana, bukan seperti senja-senja lain yang sengaja dihadirkan hanya untuk dijadikan sebuah kisah atau angan-angan belaka. Meski pun senja itu tidak terlalu istimewa buat kamu (bila engkau bandingkan dengan sepotong senja di sebuah pantai lengkap dengan warna lembayung, matahari memerah dan buih ombak yang lengket di pasir yang selalu basah). Tetapi ia tetap saja sebuah senja, senja yang juga bisa membuat setiap orang ingin merasa jatuh cinta. Karena di sana ada juga sepasang kursi malas, di bawah pohon jati yang selalu menghadap ke udara.&lt;br /&gt;Kamu bisa melamun sepanjang hari, membayangkan ranting-ranting merangas serta daun-daun yang berjatuhan diterpa angin sore-sore yang tentu saja nikmat Midesia (coba saja sendiri kalau nggak percaya…!). Kamu juga bisa merendam sepasang kakimu yang indah itu pada sebuah kolam yang sejuk dengan warnanya yang bening sambil menikmati segelas coca-cola dingin kegemaranmu. Atau iseng-iseng mengintip ikan-ikan mas yang berenang dengan bebas dan bahagia di sana. Entah sampai kapan mereka tidak merasa lelah Midesia? Kalau kamu ingin, kamu boleh menebarkan remah-remah roti di rerumputan hijau itu Midesia, karena merpati-merpati dan burung jalak di sana sangat bersahabat (meskipun mereka sering bertengkar dengan induk-induk mayar yang bulunya berwarna gelap, saat berebut makanan). &lt;br /&gt;Mungkin kamu juga bisa melihat burung-burung gereja yang sedang membuat sarangnya di semak-semak di seberang gereja. Sungguh Midesia!&lt;br /&gt;Dari kejauhan kamu pun masih bisa mendengarkan sisa-sisa nyanyian burung punai menembangkan lagu kemerdekaannya yang mungkin sebentar lagi tinggal dongengan. Kamu dapat sepuas-puasmu menghirup aroma tanah yang lembab dan harumnya daun-daun jati yang larah Midesia. Tetapi memang senja semacam itu akan tetap menjadi senja yang semu, senja yang hanya ada dalam angan-angan belaka karena kamu pasti takan mungkin pernah mau kuajak ke sana meski hanya sekejab saja, Midesia. Sudahlah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ketika enggkau menerima surat ini, mungkin aku sudah tiba di Lisabon, tanah leluhurku. Atau aku tidak akan pernah pulang sama sekali. Aku hanya ingat bahwa pekerjaanku di sini terlampau berat dan menyita hampir seluruh waktu hidup yang pernah kupunya. Aku terlalu sibuk membunuh musuh-musuhku, menghukum para penghianat yang telah memperjudikan harapan-harapan para pejuang, para ahli waris sah tanah ini di masa lalu.&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun aku hanya bisa membebaskan fikiran-fikiranku, menelantarkan kerinduanku dan menggelayuti diriku sendiri dengan lamunan-lamunan kosong tentang kamu.&lt;br /&gt;Aku tidak sempat pamit padamu (kurasa inilah cara yang paling baik untuk kita berpisah). Aku juga tidak sempat pamit kepada Julio, kepada Francissco, kepada Mama dan Papa Alfonzzo yang selalu dengan sabar dan penuh kasih merawat dan membesarkanku di Los-Palos. Hanya salam hormat dan kerinduan disertai kasihku saja yang masih bisa kukirimkan dari jauh untuk mereka. Untuk Bapa Josse, aku pun hanya bisa menitipkan terimakasih disertai maaf yang tak terhingga (sampai detik ini aku tidak pernah lupa mendoakannya sebagaimana beliau telah membibimbingku ke dalam kesabaran dan cinta di Lifau) karena keberangkatanku ini teramatlah rahasia. Aku pun minta maaf kepadamu bila kedatangan suratku—yang mungkin untuk terakhir-kalinya—ini ternyata hanya membuatmu merasa tidak begitu bahagia.&lt;br /&gt;Aku memang harus pergi seperti sepotong senja yang telah aku ceritakan padamu dalam surat ini. Aku harus pergi—meskipun bukan itu yang aku ingini—hanya itu yang kutahu kini! Sebab bertahun-tahun sudah lamanya aku mengembara. Menuruni ngarai dan mendaki bukit-bukit sejarah tanpa peduli. Aku sudah menempuh hujan dan badai. Aku pun sudah mengembara dari belentara ke belentara, berpindah-pindah dari gua ke gua, sebab hidup sudah tidak lagi cukup hanya mengandalkan kesabaran dan cinta. Rasanya aku tidak perlu lagi mengisahkan padamu bahwa selama perjalananku aku telah menyaksikan begitu banyak peristiwa.&lt;br /&gt;Telah banyak kusaksikan bagaimana kehidupan ini berjalan dalam bayang-bayang perang dan kematian.*) Perkawinan antar pasangan, kelahiran dan penguburan, semuanya berlangsung seperti sebuah keharusan ritual yang tak lagi memiliki kesakralan apa-apa, sebagaimana layaknya sebuah upacara. Tentu saat aku menulis surat ini untukmu, aku tengah terluka Midesia. Sebab engkau tak lagi bisa datang kepadaku karena sebuah takdir yang memaksa kita untuk berpisah jauh. Aku terluka Midesia, manakala kutahu bahwa kenyataaan telah merengut habis sisa-sisa kebahagianku dan impian-impian kita yang indah tentang sebuah musim, dimana senjanya tetap memerah. Senja bersama bayang-bayang memudar dalam sebuah silhuet memanjang yang abadi, membiaskan cahaya temaran di cakrawala, menyiram punggung gunung-gunung dan menyepuh pantai yang dirambati buih-buih ombak sepanjang masa.&lt;br /&gt;Aku sungguh-sungguh terluka Midesia, dan pedihnya melebihi rasa sakit bekas tutusukan sebuah bayonet. Tapi apakah itu masih ada artinya?&lt;br /&gt;Ketika engkau tengah membaca surat ini, aku pasti sudah beranjak meningalkamu terlalu jauh. Meninggalkan keping kebahagiaan, meninggalkan kisah manis yang pernah kita jalani bersama menjelang malam natal di Ramelau. Kau tentu masih ingat bagaimana malam itu kita telah terperangkap dan tidak bisa turun ke kota (saat itu kita dalam perjalanan dari Ambeno menuju Dili bersama Mingguel, Orlando, Evangelista, Dominggas dan Georgia orang Fatu Kiru itu). &lt;br /&gt;Sambil menyanyikan Malam Kudus, kita pergi ke atas bukit menanti cahaya roket yang berpedar dan tembakan-tembakan meriam dari kapal dengan perasaan seperti menunggu sebuah pesta kembang api**). Atau di saat-saat terakhir kita masih bersama di danau Lihumo. Kita diundang paman Costadio untuk merayakan paskah di Era Ulu’_dan bibi Antoneta berteriak-teriak memanggil kita supaya segera pulang, karena senja di danau sudah hampir berubah petang.&lt;br /&gt;Miuda, Namora-ku terkasih dan Medisiaku yang tercinta. Aku meninggalkan segenap kesanggupanku untuk melupakanmu atau apa saja yang masih mungkin untuk kukenang sepanjang hayat. Dan lihatlah, aku sudah pergi Midesia, agar rasa kasih dan kekagumanku padamu selama ini akan tetap utuh. Aku harus pergi karena rasa sayang dan kerinduanku terhadapmu saat ini sama dahsyatnya dengan keinginanku untuk membunuh. Karena perjuanganku, aku memutuskan untuk pergi. Bukan karena aku ingin menyia-nyiakan cintamu. Ini adalah semata-mata karena aku telah terlanjur setia pada rasa kasih dan takdir pengeharapanku akan masa depanmu. Setia kepada cita-cita dan juga untuk dan demi cinta kasih kita yang kudus.&lt;br /&gt;Seandainya aku tetap disini pun engkau tak akan pernah boleh tahu aku dimana. Yang pasti sebelum aku menuliskan surat ini pun kita sudah lama terpisah. Dan engkau takan mungkin bisa datang kepadaku karena dunia yang kudiami ini adalah dunia yang tak terjamah oleh perasaan cinta yang terdalam sekali pun: dunia dimana sejarah tidak pernah dimulai dan diakhiri, dunia dimana kesakitan, kesendirian dan derita menjadi abadi. Ya, dunia dimana kasih sayang manusia tidak lagi cukup hanya ditebus dengan air mata dan darah. Aku meninggalkanmu supaya dalam penderitaanku ini kau pun tidak akan pernah menyerah. Nah Midesia, dalam rindu, sejak semula aku telah menghindari semua sebab mengapa kita sudah dipertemukan, semua kekuatan dan asalan yang kemudian memungkinkan kita untuk berjumpa dan berpisah.&lt;br /&gt;Kubiarkan semuanya lewat Midesia, meninggalkan goresan demi goresan yang memahat, merobek-robek luka yang entah sudah sedalam apa (sedalam kesadaranku untuk tetap mengasihimukah?). Hari ini pun seandainya bisa kulukiskan, engkau pasti bisa merasakan betapa perihnya, betapa menyakitkannya sebuah pembelaan yang tulus terhadap kejujuran, terhadap kebenaran rasa kasih yang kudus.&lt;br /&gt;Aku sudah membayar lunas seluruhnya dengan penderitaan, dengan kesabaran dan doa. Dan cintamu pun pasti sudah tak sanggup lagi untuk menyilihnya sebagai penebus. Aku tahu ini tidak adil Midesia, terutama bagi diriku sendiri. Tapi aku sudah menerimanya sebagai suatu hadiah, sebagai suatu anugerah dan bencana sekaligus.&lt;br /&gt;Menerima rasa sakit demi rasa sakit ini dengan sumrigah dan cinta. Bukankah orang-orang di tanah ini juga memiliki muzijat yang sama, ketabahan yang sama untuk menjalani nubuat sang nasib. Diam-diam mereka juga sebenarnya butuh air mata, tetapi apa boleh buat kalau mereka sendiri juga sudah lupa bagaimana caranya menangis.&lt;br /&gt;Dan aku Midesia, aku…hanyalah salah seorang dari keluarga Sequeria yang pernah terdampar di sini karena masa lalu, karena sebuah sejarah yang telah terlanjur memahatkannya. Maka akupun tak mungkin bisa menolak untuk tidak menjadi bagian dari apa yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Yaitu orang-orang ini, yang kemudian menjadikan aku merasa cukup berarti dan memiliki cinta. Aku memang tidak pernah mencatatnya Midesia, karena aku sebenarnya tak memiliki cukup pengetahuan tentang tanah ini. Tentang engkau, tentang peperangan, tentang hutan dan persembunyian serta masa depan yang binasa. Tetapi aku bisa merasakannya sebagai sebuah kekuatan yang mampu membuatku berani mencintai perjuangan tanah tumpah darah ini dengan segenap pengorbanan yang tak pernah mempersoalkan nyawa.&lt;br /&gt;Untuk itu, aku sudah tidak ingat lagi berapa banyak sudah aku kehilangan. Dan rasanya aku pun sudah tak perlu lagi mengingat apakah yang benar-benar pernah aku dapat untuk bahagia.&lt;br /&gt;Akhirnya Midesia! Aku pun sudah tak lagi memiliki sekedar keinginan untuk menghitung apa yang sama sekali tidak pernah aku punya sebab yang masih tinggal pun—hanya penderitaan dan penderitaan senantiasa—tak pernah mampu mengingatkan aku kepada satu hal yang cukup berguna. Sesuatu yang mungkin dapat membuatku terus bertahan dalam penderitaan dan kesendirian di tanah tumpah darah ini yang teramat kucinta.&lt;br /&gt;Dengarlah Midesia. Sekali-kali jangalah engkau pernah memiliki harapan lagi terhadapku. Anggap saja aku sudah mati dan aku pergi karena tidak ada lagi lain pilihan. Karena tak ada lagi kebenaran yang lebih benar dari apa yang sudah dinubuatkan, harus dan akan kita genapi. Supaya kita tidak terlanjur banyak melakukan kesalahan dan menanggung dosa serta kemungkinan lain yang lebih buruk lagi dari apa yang sudah menimpa kita selama ini. &lt;br /&gt;Aku sudah menghitung dengan cermat bahwa dengan begini engkau akan lebih bahagia, dewasa dan mengerti tentang sebuah persoalan, pengorbanan dan sakit hati. Bagiku, kamu terlalu priyai untuk aku sakiti Midesia. Kamu terlalu lux untuk kuraih dan untuk aku bahagiakan.&lt;br /&gt;Pundakmu bukan dipersiapkan untuk memikul beban yang teramat berat ini Midesia. Aku terlalu mengasihi kamu untuk meninggalkanmu dengan sebuah cara, maka dengan segenap kesadaran, ketidakberdayaan dan kemiskinanku kutulis dan kukirimkan surat ini dengan pedih, kerinduan dendam dan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pontianak, 17 April 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) Dari salah satu Cerpen Seno Gumira Adjidharma dalam antologi Saksi Mata.&lt;br /&gt;**) Idem&lt;br /&gt;Matahari: Nama sebuah gedung di Dilli&lt;br /&gt;Miuda (bahasa Tetum) Namora (bahasa Portugis) artinya: Kekasihku&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-4430197268438961786?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/4430197268438961786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=4430197268438961786' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4430197268438961786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/4430197268438961786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/sepotong-senja-yang-entah-untuk-apa.html' title='SEPOTONG SENJA YANG ENTAH UNTUK APA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5074676415156813766</id><published>2007-07-17T10:43:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T10:49:44.779-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CERPEN Pradono'/><title type='text'>Wajah Depan Telaga</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Marwan diam. Benaknya bermain-main di permukaan telaga. Telaga yang juga diam itu memiliki banyak kesamaan dengan keadaan Marwan. Permukaannya tenang. Hanya sesekali airnya beriak halus. Perlahan disapu lembut selintas angin sementara mulut bulatnya tampak teduh dilingkupi helai-helai daun pisang yang menjuntai membayangi di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun pisang pun diam. Pelepah-pelepah lebar daunnya menyebabkan sedikitnya sinar matahari siang yang dapat menerobos. Suasana rindang di kawasan itu terasa sekali. Semilir angin yang mengepakkan helai dedaun menumbuhkan nuansa keteduhan. Telaga yang tenang semakin tampak sendu oleh keteduhannya. Tapi keteduhan itu amat berbeda dengan tarikan napas Marwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwan masih diam. Entah sudah berapa lama ia di sana. Ia bersandar di sebuah pohon pisang. Dagunya tersangga pada kedua lutut yang ditekukkannya. Kedua tangannya begitu erat memeluk kedua betisnya. Sedari tadi, bola-bola matanya hanya menatap permukaan telaga yang berjarak satu meter dari kedudukannya. Tatapan itu tiada bernada. Lurus. Kosong. Hampa. Tanpa penafsiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benak Marwan terusik ketika satu gemericik halus telah menyebabkan air permukaan telaga beriak lembut. Pola gerakan yang membentuk lingkaran obat nyamuk itu tak sempat terhitung oleh matanya. Entah sudah berapa kali riak-riak air telaga melingkar. Entah benda apapula yang menjatuhinya. Gerak riak air telaga menggugah Marwan bereaksi. Kepalanya terangkat sedikit, lurus ke arah lingkaran yang kian melebar ke bibir telaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwan tak lagi sediam tadi. Satu tarikan napas panjang dihembuskannya dengan panjang berdesah. Ia melepaskan pelukan pada kedua betisnya. Ia rebahkan ke tanah kedua telapak tangannya. Kedua kakinya dilunjurkannya. Telapak kaki bersandal jepit itu bergerak-gerak ke kanan ke kiri, perlahan, berulang-ulang. Seakan-akan melepaskan kepenatan yang merayap di sekujur persendiannya. Kini pandangannya telah beralih. Dalam posisi kepala menengadah, ia tatap pula lambaian ujung-ujung dedaun pisang yang disandarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kali pertama ada perubahan di wajahnya. Kelopak matanya menyipit. Perubahan itu teramat khas. Tak sama dengan ketika ia merespons gemericik permukaan air telaga, yang mengusik benaknya tadi. Tatapan itu mengandung ekspresi menyelidik. Entah kesan apa yang melekat di benaknya.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di benak Marwan, lambaian itu bukanlah sekadar daun pisang yang bergerak-gerak. Dedaun itu adalah wujud telapak tangan yang jari-jemarinya melambai-lambai ke arahnya. Lemah. Tak berdaya. Makin lama, lambaian itu semakin jelas dalam pandangan Marwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapannya tak ada lagi dedaun pisang. Di sekitarnya tak wujud lagi pohon-pohon pisang. Tiada pula telaga. Tiada lagi keteduhan sinar matahari di kawasan kebun pisang. Ketenangan dan kelengangan di sekitarnya telah berubah warna. Berubah nada. Berubah suasana. Berbeda rupa. Semua itu telah berganti nuansa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marwan,“ senada suara lembut menyeru kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Marwan masih saja diam. Tatapannya masih saja mengarah kepada lambaian tangan tak berdaya di pelupuk matanya. Lambaian itu makin lama semakin mendekat ke arahnya. Melayang-layang di awang-awang. Tak wujud sosok pemilik lambaian itu. Namun, ekspresi di wajah Marwan penuh makna menanggapinya. Tatapannya seakan-akan tak sedikitpun mau beralih dari lambaian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marwan, bangkitlah!” nada suara seruan itu tak selembut semula. Sedikit meninggi seolah-olah ingin menyadarkan Marwan mengalihkan tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwan tetap diam. Gerak kakinya telah lama terhenti, tapi gelombang-gelombang di dadanya justeru makin bergelora. Mendesak-desak paru-paru. Memompa kuat denyut jantungnya. Namun, terkesan perasaannya ingin tetap bertahan dalam kediamannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marwan, kemarilah!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata seruan itu ada hasilnya. Mata Marwan berkedip. Tak hanya sekali. Sejenak ia tercenung. Pandangan menyipitnya terhenti. Bukaan kelopak matanya melebar. Kedua bolanya bergerak. Melirik perlahan-lahan. Sesekali ke kanan. Sesekali ke kiri. Masih bernada menyelidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beginikah caramu menghadapi persoalan. Beginikah engkau menyelesaikan masalah. Menyendiri dalam kesunyian. Mengadu kepada telaga ini. Apakah menurutmu dengan begini persoalan akan selesai?” suara itu terekam jelas ke gendang telinga Marwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwan tersentak. Dengan jelas ia mendengar suara itu meski berat tersendat-sendat. Dengan mudah pula ia mengingat kalimat demi kalimat. Tiba-tiba ia berdiri. Langkahnya gontai. Perlahan-lahan surut ke belakang. Ia tampaknya berusaha menjauhi suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marwan, kenapa kau berlama-lama di sini. Jarum-jarum waktu terus berlalu. Hari demi hari berganti. Terus memacu tanpa mau menunggu. Apakah kesunyian telaga ini menjadi teman berkongsi perasaan denganmu? Pulanglah!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diamnya ia tampak mencoba menguasai deburan gelombang di dadanya sebelum mengeluarkan kata-kata. Namun, akhirnya ia berhasil mengatasi gejolak dan deburan itu. Ia tarik napas panjangnya. Meski perlahan dan dengan nada berat sepatah demi sepatah kata meluncuri bibirnya selepas ia mendesahkan sesak udara di rongga dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Mungkin aku telah mengambil keputusan seperti ini untuk menyelesaikan persoalan. Di tempat yang sunyi. Tak ada orang lain yang tahu. Tiada sesiapa yang perlu tahu tentang apa yang aku rasakan sekarang ini. Telaga ini mungkin mau menampung luahan perasaanku. Sekarang, biarkanlah aku sendiri di sini. Aku tak ingin pulang.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin engkau benar. Di tempat ini memang tak ada orang lain. Kau tak ingin orang lain tahu dan merasakan apa yang kaurasakan. Tapi, apakah dengan begitu engkau menganggap persoalan yang sebenarnya akan turut pula selesai bersama kesendirianmu ini? Benarkah tak ada yang lain yang tahu?“ suara itu seakan-akan mengingatkan Marwan pada sesuatu hakikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marwan kini terpaku. Ia mencoba memahami kata demi kata itu. Ada sesuatu yang seketika itu menggugah batinnya yang mengiring kalimat demi kalimat itu. “Tak ada yang lain ...?“ batinnya berucap mengulang-ulang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Marwan, pulanglah!“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rindang kawasan kebun pisang itu agaknya telah berpindah tempat. Begitu pun semilir angin yang mengepakkan helai dedaunnya. Juga telaga yang tenang kini tak lagi sesendu semula. Keteduhannya kini mewujudkan keteduhan tarikan napas Marwan. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5074676415156813766?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5074676415156813766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5074676415156813766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5074676415156813766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5074676415156813766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/wajah-depan-telaga.html' title='Wajah Depan Telaga'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1878942149337258625</id><published>2007-07-17T09:36:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T10:37:59.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI PRADONO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>SEBELUM LUPA</title><content type='html'>&lt;b&gt;by: Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lupa&lt;br /&gt;hingga hari hanya hampa&lt;br /&gt;terimalah kata kata:&lt;br /&gt;nista&lt;br /&gt;hina&lt;br /&gt;dosa&lt;br /&gt;duka&lt;br /&gt;dia&lt;br /&gt;Sebelum lupa&lt;br /&gt;ucapkan selamat tinggal&lt;br /&gt;gali kenangan kubangan dosa tanpa kata kata!&lt;br /&gt;Butakan mata&lt;br /&gt;Tulikan telinga&lt;br /&gt;Lumpuhkan raga&lt;br /&gt;Hilangkan rasa&lt;br /&gt;Matikan jiwa&lt;br /&gt;sebelum lupa&lt;br /&gt;apa&lt;br /&gt;di mana&lt;br /&gt;siapa&lt;br /&gt;ke mana&lt;br /&gt;tanpa kata kata&lt;br /&gt;tanpa jiwa&lt;br /&gt;tanpa dia;&lt;br /&gt;siapa&lt;br /&gt;di mana&lt;br /&gt;singkirkan tanya&lt;br /&gt;sebelum lupa&lt;br /&gt;lupa&lt;br /&gt;lupa&lt;br /&gt;lupa&lt;br /&gt;siapa luka&lt;br /&gt;siapa luka&lt;br /&gt;siapa duka&lt;br /&gt;siapa dosa&lt;br /&gt;tanya&lt;br /&gt;sebelum lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pontianak, 10/92&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1878942149337258625?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1878942149337258625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1878942149337258625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1878942149337258625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1878942149337258625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/sebelum-lupa.html' title='SEBELUM LUPA'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-637753900553088660</id><published>2007-07-17T09:31:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T10:37:59.335-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI PRADONO'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>BILA HATI  YANG BICARA</title><content type='html'>&lt;b&gt;by:Pradono&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Wahai Anak Negeri&lt;br /&gt;Tegarlah terus berkreasi&lt;br /&gt;Bangunkan bangsamu lewat seni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ia selalu tak peduli&lt;br /&gt;Walau ia sibuk menguras uang negeri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan jadikan dirimu kelinci percobaan&lt;br /&gt;Jangan harga dirimu kaugadaikan&lt;br /&gt;Masih banyak jalan untuk menjadi manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Anak Negeri&lt;br /&gt;Tekadkan jiwa kembali ke hati&lt;br /&gt;Demi eratkan jabat tangan&lt;br /&gt;Demi satukan persaudaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kata tanpa makna bila hati yang bicara&lt;br /&gt;Satukan langkah rapatkan barisan&lt;br /&gt;Padamkan dendam ulaskan senyuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Tuhan Maha Penyayang&lt;br /&gt;Kenapa nyawa harus melayang&lt;br /&gt;Sebab Tuhan Maha Penyabar&lt;br /&gt;Kenapa kita jadi gusar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar&lt;br /&gt;Selamatkan jiwa yang hanya selembar&lt;br /&gt;Siramlah amarah yang berkobar&lt;br /&gt;Padamkan dendam dengan cahaya sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rekatkan Indonesia, Damaikan Bumi Kalbar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Negeri&lt;br /&gt;Jangan cerai beraikan anakmu&lt;br /&gt;Dengan saling benci dan caci maki&lt;br /&gt;Wahai Pertiwi&lt;br /&gt;Jangan asahkan pedang dan belati&lt;br /&gt;Merampas hidup sesama kami&lt;br /&gt;Hingga jiwa tak berharga lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Indonesia&lt;br /&gt;Masih bisakah kita saling bicara&lt;br /&gt;Masih sanggupkah kita jadi manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran negeri ini milik kita&lt;br /&gt;Kenapa harus dihancurkan&lt;br /&gt;Ke mana lagi kaki berdiri&lt;br /&gt;Bila pijakan menjadi bara api&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai manusia yang bernama manusia&lt;br /&gt;Haruskah airmata tercurahkan&lt;br /&gt;Untuk sesuatu yang tak terpahamkan&lt;br /&gt;Sudah berhentikah manusia sebagai manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah arti kehidupan bila hati tak lagi manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Khatulistiwa&lt;br /&gt;Jalin kembali zamrud&lt;br /&gt;yang tercerabut dari leher Enggangmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Suarakanlah Merdu Etikamu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;tanah gambut,  27 maret 2001&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;*) Puisi ini dibacakan pertama kali sebagai "Orasi Kampanye Anti Kekerasan lewat Seni oleh SERAK (Seni Rakyat Anak Kapuas) Pontianak, di Auditorium Universitas Tanjungpura Pontianak, Sabtu, 31 Maret 2001.&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-637753900553088660?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/637753900553088660/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=637753900553088660' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/637753900553088660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/637753900553088660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/bila-hati-yang-bicara.html' title='&lt;b&gt;BILA HATI  YANG BICARA&lt;/b&gt;'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-689258381944117541</id><published>2007-07-16T10:34:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T10:42:23.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak Wisnu Pamungkas'/><title type='text'>Ular dan Mantra Penjinaknya</title><content type='html'>by Wisnu Pamungkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga  ekor ular berseloroh:&lt;br /&gt;“Kata ikan, kita akan diberi makan mentega! Kata Ikan kita akan makan saos campur kelapa! Kata Ikan kita akan jalan-jalan dengan kereta ke sebuah bandar yang di sebut Kuching! Kata ikan lagi kita akan  ke Kenny Roger, memesan makanan. Boleh tidak ya  ke  KFC, CFC,  atau  restro sambal belacan Melayu di sebelahnya?   &lt;br /&gt;Kuching sangat baik kata Ikan, karenanya ia kerab berendam di dekat Gambir Park, tebingan Sungai Sarawak. Tapi kata Ikan kita hanya boleh makan mentega, jus petai dan selembar daun seledri dicampur lada. &lt;br /&gt;Kata ikan, kita adalah tamu, karenanya Kucing memberi kita makan mentega dan air &lt;em&gt;bandong&lt;/em&gt;, berbual-bual tentang tanah air dan bahasa. Kata Ikan, kita harus belajar berenang untuk menjadi ular di M’Sia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang ke tanah air, barulah  ketiga ekor ular itu  sadar kalau mereka  adalah ular tanah, ular air dan ular udara.&lt;br /&gt;Untung kita kebal dari mantra penjinak ular, ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuching, 30 September 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-689258381944117541?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/689258381944117541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=689258381944117541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/689258381944117541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/689258381944117541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/ular-dan-mantara-penjinaknya.html' title='Ular dan Mantra Penjinaknya'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-1780073984789374839</id><published>2007-07-16T07:18:00.001-07:00</published><updated>2007-07-17T10:37:59.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi M. Saifun salakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Penantian untuk Sebuah Kepastian</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.bigoo.ws/14-Images.htm"&gt;&lt;img alt="Blue Fire Smoke Explosion Images" border="0" src="http://media.bigoo.ws/content/image/animation_miscellaneous/miscellaneous_25.gif"&gt;&lt;/a&gt;&lt;p style="margin-top: 0; margin-bottom: 0"&gt;&lt;a href="http://www.bigoo.ws/14-Images.htm"&gt;Blue Fire Smoke Explosion Images&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;by M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak akan pernah letih menunggui malam&lt;br /&gt;Yang turun dari setitik demi setitik butiran bening&lt;br /&gt;Mengalir dari atas cucuran atap kantor jiwa &lt;br /&gt;Lalu terus tembus mengalir ke sungai kedamaian&lt;br /&gt;Memuarakan sebuah keinginanku meluap-luap&lt;br /&gt;Memunculkan riak airnya bernapas segar&lt;br /&gt;Apakah hidupku hanya sebuah penantian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubiarkan jejak makna yang tertinggal di tanah hati&lt;br /&gt;Meruap dan kadang melembuti ari-ari panjang&lt;br /&gt;Tak pernah menemukan tempatnya bersemayam&lt;br /&gt;Menanamkah harapan dan kecintaannya yang resah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keresahan bergerak dengan cepatnya &lt;br /&gt;Dalam tulisan huruf wajahku kali ini&lt;br /&gt;Tanpa koma, tanpa titik, mengalir terus ke ujung jalanan itu&lt;br /&gt;Terangkai dalam artikulasi kata-kata yang luka merekah&lt;br /&gt;Menyemburkan darah yang menyebarkan bibit-bibit kenisbian diri&lt;br /&gt;Apakah penantianku sia-sia malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah letih menunggui malam&lt;br /&gt;Yang tak pernah tahu aku sudah lama menunggunya&lt;br /&gt;Sekian masa yang kulewati tanpa pernah menyapaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak peduli &lt;br /&gt;Aku akan terus menantinya&lt;br /&gt;Menantinya untuk sebuah kepastian&lt;br /&gt;Kepastian malam yang dapat membagi rindunya padaku&lt;br /&gt;Kepastian malam yang dapat membagi kenangannya padaku&lt;br /&gt;Kepastian malam yang dapat membagi keperihannya padaku&lt;br /&gt;Kepastian malam yang dapat membagi cinta dan kasih sayangnya&lt;br /&gt;Yang tulus murni dan rela menerimaku dengan segenap jiwanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Borneo Tribune (PTK), 14072007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-1780073984789374839?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/1780073984789374839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=1780073984789374839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1780073984789374839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/1780073984789374839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/penantian-untuk-sebuah-kepastian.html' title='Penantian untuk Sebuah Kepastian'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-5026606240464800662</id><published>2007-07-16T07:17:00.001-07:00</published><updated>2007-07-17T10:37:59.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi M. Saifun salakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Hanya Untukmu</title><content type='html'>by M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kueja ayatmu setiap hari&lt;br /&gt;Agar fasih lidahku bicara&lt;br /&gt;Tentang kepengasihanmu&lt;br /&gt;Dalam mengasihi hambamu yang lemah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayatmu selalu jadi pedoman hidupku dalam melangkah&lt;br /&gt;Memaknai hidup-hidupku di dunia fana ini&lt;br /&gt;Agar selalu berjalan di rel kebenaran&lt;br /&gt;Demi keinginanku untuk bertemumu&lt;br /&gt;Di hari kiamat nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah…&lt;br /&gt;Kuingatkan hatiku setiap saat&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan kewajibanmu&lt;br /&gt;Salat lima waktu sehari semalam&lt;br /&gt;Melaksanakan rukun iman&lt;br /&gt;Melaksanakan rukun islam&lt;br /&gt;Dalam aluran kehidupanku&lt;br /&gt;Agar mendapatkan ridamu yang tulus&lt;br /&gt;Untuk menjadi hambamu yang beriman dan bertakwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah…&lt;br /&gt;Kudorongkan jiwaku berbuat ikhlas dan tawakal&lt;br /&gt;Setiap masa yang terus berganti&lt;br /&gt;Dalam bermuamalah, bermuhasabah, berhabluminannas&lt;br /&gt;Di detik napasku yang selalu menyukuri kenikmatanmu&lt;br /&gt;Yang telah kau berikan padaku&lt;br /&gt;Agar mendapatkan perkenanmu yang baik&lt;br /&gt;Untuk menjadi hambamu yang sabar dan ikhlas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah…&lt;br /&gt;Semuanya ini hanya untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Padang (Ketapang), 05072007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-5026606240464800662?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/5026606240464800662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5381211170131967419&amp;postID=5026606240464800662' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5026606240464800662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5381211170131967419/posts/default/5026606240464800662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/2007/07/hanya-untukmu.html' title='Hanya Untukmu'/><author><name>SANGGAR KIPRAH</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12212997521183977877</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5381211170131967419.post-6755042920491578933</id><published>2007-07-16T07:16:00.000-07:00</published><updated>2007-07-17T10:37:59.336-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi M. Saifun salakim'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUISI'/><title type='text'>Kemahabesaranmu</title><content type='html'>by M. Saifun salakim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali aku selalu memfasihkan namamu&lt;br /&gt;Membuat debaran hati ini semakin dalam&lt;br /&gt;Semakin bersemangatnya aku menyenandungkan namamu&lt;br /&gt;Dengan kecintaanku yang meluap-luap&lt;br /&gt;Seperti luapan air menuju pantai&lt;br /&gt;Menghiasi jiwa ini&lt;br /&gt;Memenuhi rongga hati ini&lt;br /&gt;Kurasakan sendiri begitu segarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemahabesaranmu begitu banyaknya&lt;br /&gt;Selalu kamu berikan pada orang-orang yang beriman&lt;br /&gt;Pada orang-orang yang bertakwa&lt;br /&gt;Pada orang-orang yang selalu setia&lt;br /&gt;Memegang amanah dan janji-janjimu&lt;br /&gt;Yang telah terpatri pasti&lt;br /&gt;Dalam alquran, dalam hadist, dalam ijtihad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah…&lt;br /&gt;Aku tak akan berhenti memfasihkan namamu&lt;br /&gt;Sampai bibirku kelu tak bersuara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah…&lt;br /&gt;Kuingin jadi hambamu yang beriman dan bertakwa&lt;br /&gt;Selalu ada di hatimu selama-lamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung Padang (Ketapang), 05072007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5381211170131967419-6755042920491578933?l=sanggarkiprah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sanggarkiprah.blogspot.com/feeds/6755042920491578933/commen
